6/11/2009

Neoliberalism? or just Medio Conspiracy?

Milanisti diseluruh penjuru dunia pasti sangat terpukul dengan berita kepindahan Ricardo Izecson dos Santos Leite yang sudah kita kenal dengan panggilan Kaka dari AC Milan ke Real Madrid, seorang 'fantasista' yang juga merupakan pemain terbaik dunia tahun 2007 memberi elegitas sendiri dalam issue sepak bola pekan ini.

Kita semua tahu bahwa Kaka pemain langka dengan kepribadian santun religius yang sangat menonjol, hal yang sedikit sekali ditemui dalam sepak bola modern sekarang. Sehingga menjadikannya sangat dicintai para fans bahkan para rival dari fansnya. semua mencintai kaka.
Hal tersebut dibuktikannya pada bursa transfer pemain awal tahun ini, ketika menolak pinangan mega transfer dari Manchester City dengan gaji selangit. Presiden AC MIlan mengatakan "Kaka meletakkan cinta diatas tumpukan uang."
Hal inilah yang sekali lagi saya tegaskan mengapa pemain dengan ketulusan hati seperti dia begitu sangat dicintai, karena dia mencintai. dan dia mendapatkan cinta itu juga, dia menjadi dicintai. Ya! kata "cinta" inilah ingin saya tekankan disini.

Namun Kaka menjadi korban dari sebuah sistem neoliberalism, korban industry, korban uang!
Hati yang begitu tulus ingin terus bersama club yang telah membesarkan namanya AC Milan, terpaksa harus menerima kebijakan club, dengan alibi "kaka pergi karena ingin menolong milan yang sedang krisis financial."

sungguh saya sangat skeptis dengan alibi tersebut, sangat tidak masuk akal, klub sperti ac milan yang terkenal dengan belanja pemain sangat selektif, bahkan sering mendapatkan pemain2 dunia 'bekas pakai' dengan transfer gratis. beda sekali dengan rival tetangganya inter milan yang semua juga tahu sangat boros, tiap ada pemain bagus dikumpulin, belum tentu akan terpakai, tapi tidak ada krisis? masalah sponsor atau donatur? jelas2 dengan sokongan presidennya raja media merangkap perdana menteri italy dan sponsor yang sangat bonafit bwin juga sama yang dipakai real madrid, kurang duit darimana lagi coba? ac milan pun dalam satu dasawarsa terakhir selalu berada dalam level tertinggi liga champion yang notabenenya adalah ladang uang dari hak penyiaran, ticket, merhandise, bonus, dan lain2. Alasan yang dilontarkan klub juga tidak jelas krisis karena apa! pengeluaran dari sektor mana yang bocor juga tak dijelaskan!! apakah lagi2 karena masalah klasik yaitu korupsi? uang2 trsebut dimakan oleh perut2 serakah babi para petinggi klub? mana sih auditor indpenden klub ac milan? ingin tahu saya!

namun ada satu lagi pemikiran skenario sangat cerdas yang terselubung, bahwa sebenarnya kaka sejak dulu punya mimpi untuk bermain di real madrid suatu hari nanti, mimpi tersebut mungkin terealisasi paling tepat saat ini, karena madrid memiliki presiden baru dengan budget belanja naujubillah yang sanggup memboyong kaka dengan harga tertinggi, DAaaaN kaka juga yang sebenarnya memang sudah mendapatkan semuanya di AC Milan, juara liga champion, top skor liga champion, pemain terbaik dunia. apa lagi yang bisa dikejar? oleh karenanya dia ingin merasakan tantangan baru di dunia yang baru, level yang baru, tim yang baru. *disini ego seorang pemain muda yang butuh tantangan terlihat sangat mendominasi.

Dan karena presiden milan sivio berlusconi adalah seorang raja media yang juga telah belajar dari kasus sheva sebelumnya, beliau tidak ingin nama kaka tercoreng dimata pendukungnya, dia tahu
siapa yg menguasai media otomatis pula menguasai opini publik. jadi dikeluarkanlah pernyataan "Milan dibekap hutang dan penjualan kaka adalah solusinya." Milanisti pun terpecah dengan pendapat yang beragam, semakin beragam, hal ini menjadi semakin baik karena menekan resiko menjadi semakin kecil. Kartu AS nya pun akhirnya dikeluarkan "kaka terpaksa pergi karena ingin menyelamatkan milan." Berlusconi benar2 menerapkan filosofi ikannya diambil tanpa menjadikan kolamnya keruh. dan ini bisa menjadi semacam balas budi Berlusconi terhadap kaka yang sudah tak dapat disembunyikan lagi keinginannya untuk mencari tantangan lain.

Menarik bukan? bisa jadi semuanya tertipu oleh skenario ini.

menurut saya inti permasalahannya sekarang ada pada diri kaka sendiri yaitu loyalitas!
penghargaan tertinggi individu dalam sepak bola bukan hanya raihan semua gelar disapu bersih, namun ada satu yang luput dan sebenarnya yang paling abadi, yang tetap dikenang selamanya yaitu loyalitas kepada klub, dan inilah penghargaan tertinggi sebenarnya yang tak dimiliki oleh semua pemain sepak bola. contoh paling dekat adalah Paolo Maldini. Legenda hidup AC Milan & Italy yang juga menjadi panutan saya. tak ada kata2 lagi untuknya dari saya selain seorang juara.

3 komentar:

  1. gue milanisti! bukan kakanisti!

    terlepas dari sgala konspirasi internal yang terkesan ditutup2i itu.

    still.. milan adalah milan.

    BalasHapus
  2. duh?! kaka gak di milan lagi ya? mana maldini juga udah gak berkostum milan lagi.. berkurang deh pangeran2 ganteng nya milan. huhuhu

    BalasHapus
  3. tetep aja gue masih gak terima kepergian kaka!

    BalasHapus