9/24/2017

Lisan adalah cermin agama seseorang

Al-Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busti berlata, “Lisannya orang yang berakal ada di belakang hatinya, setiap kali ingin mengatakan sesuatu, dia rujukkan kepada hatinya, jika pantas maka ia utarakan, jika tidak maka ia diam. Sedangkan hatinya orang yang jahil (bodoh) berada di ujung lisannya, apa saja yang sampai kepada lisannya maka langsung ia utarakan. Sungguh tidaklah paham agama orang yang tidak menjaga lisannya. (Roudhotul 'Uqola' wa Nuz-hatul Fudhola' hal. 49)

9/23/2017

JIKA INGIN HATIMU LEMBUT

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu :
"Bahwasanya ada seseorang pernah mengadukan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang kerasnya hatinya. Maka Beliau bersabda :

إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِيْنَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمِ اْلمـِسْكِيْنَ وَ امْسَحْ رَأْسَ اْليَتِيْمِ

“Jika kamu ingin melembutkan hatimu maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim." (HR Ahmad II : 263)

Dalam riwayat lain Beliau Shalallahu alaihi wasallam juga bersabda :

أَدْنِ اْليَتِيْمَ وَ امْسَحْ رَأْسَهُ وَ أَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنْ  قَلْبُكَ وَ تُقْدَرْ عَلَى حَاجَتِكَ

“Mendekatlah kepada anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu niscaya hatimu akan lembut dan terpenuhi segala kebutuhanmu." (HR. Ibnu Asakir)

Bagi seorang muslim yang menanggung dan menjamin kehidupan anak yatim dengan memberi makan, pakaian, pendidikan dan selainnya maka kelak ia berada di dalam surga dan tinggal berdampingan dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalamnya..

كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ

“Pemelihara anak yatim, baik dari kerabatnya atau orang lain, aku dan dia (kedudukannya) seperti dua jari ini di surga nanti.” (HR Muslim 2983)

أنا وَ كَافِلُ اليَتِيْمِ في الجَنَّةِ هكَذَا

“Aku dan pemelihara anak yatim di surga nanti, kedudukannya seperti (dua jari) ini”. Dan Beliau memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan memisahkan keduanya." (HR. Bukhori 5304)

Jadi saudaraku, Salah satu kutamaan yang sangat besar jika kita terus berusaha hingga akhir hayat sehingga kita termasuk orang-orang yang senantiasa membantu anak yatim dan fakir miskin..

مَنْ خُتِمَ لَهُ بِإِطْعَامِ مِسْكِيْنٍ مُحْتَسِبًا عَلَى اللهِ عز و جل دَخَلَ اْلجَنَّةَ

“Barangsiapa yang diakhir (hidupnya) dengan memberi makan kepada orang miskin dalam rangka mencari keridhoan Allah Azza wa Jalla maka ia akan masuk surga." (HR. Ahmad V/ 391)

Semoga kita termasuk orang-orang yang Allah mudahkan memiliki kelembutan hati, baik dalam memberi, maupun mensikapi..

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

"Sesungguhnya Allah Maha lemah lembut yang sangat cinta kelembutan dan memberi kepada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada sifat kasar." (HR. Bukhori dan Muslim)

عَلَيْكُمْ بِالرِّفْقِ إنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِي شَيْءٍ إلاَّ زَانَهُ وَلَا يَنْزِعُ عَنْ شَيْءٍ إلاَّ شَانَهُ

"Bersikaplah lemah lembut, sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan membuatnya indah dan tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu kecuali membuatnya rusak." (HR. Muslim 2594)

مَنْ يُحْرَمْ الرِّفْقَ يُحْرَمْ الْخَيْرَ كُلَّهُ

"Barangsiapa yang tidak diberi sifat kelembutan maka ia tidak memiliki kebaikan sama sekali." (HR. Muslim 2592)

___________________________

Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن سيتب)

Hakikat Mencintai Karena Allah

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri (161 H) berkata:

إذا أحب الرجل الرجل في الله ، ثم أحدث حدثا ؛ فلم يبغضه عليه ؛ فلم يحبه لله

“Jika seseorang mencintai orang lain karena Allah, kemudian orang yang dicintainya itu membikin bid'ah dalam beragama, lalu dia tidak membencinya maka sungguh dia tidak mencintainya karena Allah." (Riwayat Ibnu Abi Hatim dalam “Al-Jarh Wat Ta’dil” 1/52 sanadnya shahih)

Yakni membiarkan penyimpangannya, tidak menyampaikan nasehat kepadanya, maka pada hakikatnya dia mencintai saudaranya itu karena hawa nafsu.

Bersahabatlah dengan orang-orang yang mencintai kita karena Allah, karena dia akan mengingatkan kita kepada Allah. Al-Imam Dzun Nun Al-Mishri (245 H) berkata, "Bila engkau lupa, dia akan mengingatkanmu. Jika engkau ingat (Allah) dia akan menolongmu." (Shifatus Shofwah 4/315)

https://t.me/manhajulhaq

8/29/2017

Indikasi hati rusak dan kiat memperbaikinya

اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ustadz, ana ingin bertanya.
Bagaimana indikasi hati yang rusak dan apa kiat-kiat untuk memperbaikinya?

Syukron, Ustadz.
Jazaakallahu khoiron wa baarakallaahu fiik.

(Suyono, Admin BiAS N06)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Sejatinya banyak tanda-tanda atau ciri dari hati yang mati, namun yang utama antara lain sebagai berikut:

Yang pertama adalah *mengutamakan syahwat dibanding taat*.
Orang berhati seperti ini akan susah mendapatkan nasihat, atau petunjuk kecuali karena hidayah dari Alloh.

Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an bahwasanya Alloh Ta’ala berfirman,

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً

_”Sudahkan engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?”_
(QS. Al-Furqan: 43)

Kedua, *terlalu cinta pada dunia*.
Senang tinggal di dunia, tidak merasa asing di dunia, dan tidak merasa rindu kepada akhirat
Alloh Ta’ala berfirman,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا * وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

_“Bahkan kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”_
(QS. Al-A’laa: 16-17)

Ketiga, *banyak berbuat hal yang sia-sia*, tidak bermanfaat darinya. Sebagaimana dalam hadits:
Tidak boleh menghabiskan waktu hanya untuk bercanda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

_“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan yang tidak bermanfaat baginya.”_
[HR. At-Tirmidzi 2317 dan Ibnu Majah 3976]

Keempat, *banyak tertawa*. Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ, فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

_“Janganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati”_
[HR. At-Tirmidzi no. 2305]

Adapun kiat-kiat memperbaikinya adalah sebaliknya, lawan dari apa yang menjadi sebab rusaknya hati di atas.

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

Tanya Jawab
Grup Admin Bimbingan Islam N06
Kamis, 2 Rajab 1438H / 30 Maret 2017M

TAK AKAN HILANG, DAN TAK AKAN TERLUPAKAN

Saudaraku...
Janganlah engkau pernah remehkan sekecil apapun bentuk kebaikan...
Dan janganlah pula engkau remehkan sekecil apapun dari bentuk keburukan ataupun kejelekan..

Semua hal tersebut akan terbalaskan tanpa ada suatu yang luput atau bahkan terabaikan tanpa hisab..

👤 Abu Darda' Radhiyallahu anhu berkata:

وَاعْلَمْ أَنَّ البِرَّ لاَ يَبْلَى وَأَنَّ الإِثْمَ لاَ يُنْسَى

"Dan ketahuilah, sesungguhnya kebaikan (seorang hamba) tidak pernah akan hilang, dan sesungguhnya dosa (seorang hamba) tidaklah akan dilupakan." (Tarikh Dimasyq, 47/167, karya Ibnu Asakir)

👤 Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:

‏غداً توفى النفوس ما كسبت ويحصد الزارعون ما زرعوا، إن أحسنوا أحسنوا لأنفسهم، وإن أساؤوا فبئس ما صنعوا

"Esok hari (kiamat) jiwa-jiwa akan disempurnakan balasan atas perbuatan mereka, orang-orang yang menanam akan memanen apa yang mereka tanam, jika mereka berbuat baik maka mereka telah berbuat baik untuk diri mereka sendiri, namun jika mereka berbuat buruk maka alangkah buruknya apa yang mereka perbuatan." (Lathaiful Ma'arif, jilid 1, halaman 232)

🔴 Allah Ta'ala berfirman :

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ  لِغَدٍ  ۚ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ  ؕ  اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (Qs. Al-Hasyr 18)

Maka hendaklah kita mohon ampun kepadaNya bila telah tergelincir dalam lubang dosa, dan teruslah meminta dan berharap taufiq dariNya agar tetap kuat istiqomah dalam amal dan ibadah kita...

_______________________
📜 Penyusun | Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

8/20/2017

Penghilang Rasa Sakit

"Jika ridha kepada ALLAH itu kuat, niscaya hilanglah semua rasa sakit."
(Ibnu Rojab, Jaami' 'Ulum wal Hikam 488)

Bukan kongkow,
Bukan sebatas curhat dengan makhluk,
Bukan obat penenang,
Namun ridha pada Sang Pencipta yang mentaqdirkan dengan penuh hikmah dan kasih sayang.

‏﴿٥٩﴾ وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا۟ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ سَيُؤْتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ وَرَسُولُهُۥٓ إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رٰغِبُونَ

(59) Kalau saja mereka sungguh-sungguh *ridha* dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami". *niscaya Allah akan memberikan karunia-Nya* dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah," (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).
(At Taubah: 59)

✏ Ust. Muhammad Nuzul Dzikri LC

8/16/2017

Akhlaq Antara Tabiat & Usaha

Nabi shollallahu 'alaihi wasallam berkata kepada salah seorang shohabatnya Asaj Abd Al-Qois:

إن فيك خصلتين يحبهما الله : الحلم و الأناة ، قال : يا رسول الله ، أهما خلقان تخلقت بهما أم جبلني الله عليهما ؟ قال : بل الله جبلك عليهما فقال : الحمد لله الذي جبلني على خلقين يحبهما الله ورسوله 

"Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah, yaitu al-hilm (menahan diri ketika marah) dan al-anah (tidak tergesa-gesa). Dia berkata, "Wahai Rosulullah, apakah dua perangai itu aku yang mengusahakannya ataukah Allah yang telah menjadikannya sebagai tabiat bagiku?" Beliau bersabda, "Allah yang menjadikannya sebagai tabiat bagimu." Dia berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan dua akhlaq yang dicintai Allah dan Rosul-Nya." (HR. Abu Dawud 5220 dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Syaikh Al-'Allamah Al-'Utsaimin berkata:

فهذا دليل على أن الأخلاق الحميدة الفاضلة تكون طبعا وتكون تطبُّعًا ، ولكن – بلا شك- الطبع أحسن من التطبع ، لأن الخلق الحسن إذا كان طبيعيا صار سجية للإنسان وطبيعة له ، لا يحتاج في ممارسته إلى تكلف، ولا يحتاج في استدعائه إلى عناء ومشقة ، ولكن هذا فضل الله يؤتيه من يشاء ، ومن حرم هذا – أي من حرم الخلق عن سبيل الطبع- فإنه يمكنه أن يناله عن السبيل التطبع 

"Ini adalah dalil bahwa akhlaq yang terpuji itu ada yang terlahir dari tabiat, ada yang karena usaha untuk memperolehnya. Akan tetapi, tidak diragukan lagi, bahwa akhlaq terpuji yang lahir dari tabiat tentu lebih baik dari akhlaq terpuji yang dicapai melalui usaha. Karena jika akhlaq itu lahir dari tabiat, maka ia telah menjadi watak dan karakter bagi dirinya, dia tidak butuh usaha untuk membiasakan diri dan melatihnya. Akan tetapi yang demikian itu adalah karunia yang Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang tidak diberi tabiat yang baik akhlaqnya, maka dia dapat memperolehnya melalui jalan usaha untuk membiasakan diri berakhlaq mulia." (Makarimul Akhlaq hal. 13)

Maka akhlaq yang baik adalah perangai yang dicintai oleh Allah dan Rosul-Nya. Karena itu Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam diutus di tengah-tengah manusia juga dalam misi menyempurnakan akhlaq yang mulia.

Lalu apa perbedaan akhlaq dan adab?

Akhlaq adalah watak seseorang, ada yang baik, ada yang tercela. Akhlaq ada yang bawaan atau tabiat, dan ada yang bentukan atau diusahakan untuk memperolehnya. Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas.

Sedangkan adab adalah perkataan dan perbuatan yang diajarkan oleh syariat, seperti adab terhadap Allah, Rosul-Nya shollallahu 'alaihi wasallam, adab bertanya, adab menjawab, adab penuntut ilmu, adab bermajelis, adab terhadap guru dan adab-adab yang lain.

Akhlaq dan adab memiliki hubungan yang erat, dan baiknya akhlaq menunjukkan kesempurnaan iman (aqidah) seseorang sebagaimana sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya." (HR. At-Tirmidzi 1162)

Fikri Abul Hasan

Telegram Channel
manhajulhaq