4/26/2020

Ramadhan Pembeda Langit dan Bumi

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, (beliau berkata),

كَانَ رَجُلَانِ مِنْ بَلِيٍّ حَيٌّ مِنْ قُضَاعَةَ أَسْلَمَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاسْتُشْهِدَ أَحَدُهُمَا، وَأُخِّرَ الْآخَرُ سَنَةً، قَالَ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ: فَأُرِيتُ الْجَنَّةَ، فَرَأَيْتُ الْمُؤَخَّرَ مِنْهُمَا، أُدْخِلَ قَبْلَ الشَّهِيدِ، فَتَعَجَّبْتُ لِذَلِكَ، فَأَصْبَحْتُ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَوْ ذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ألَيْسَ قَدْ صَامَ بَعْدَهُ رَمَضَانَ، وَصَلَّى سِتَّةَ آلَافِ رَكْعَةٍ، أَوْ كَذَا وَكَذَا رَكْعَةً صَلَاةَ السَّنَةِ؟

“Ada dua orang lelaki dari Baliy, sebuah perkampungan dari suku Qudhâ’ah. Keduanya ber-Islam bersama Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Salah seorang dari keduanya mati syahid, sedangkan seorang yang lain masih diakhirkan (hidup) hingga setahun (setelah itu). Thalhah bin ‘Ubaidullah berkata, ‘Surga diperlihatkan kepadaku (dalam mimpi), maka saya melihat bahwa orang yang terakhir (wafat) dari keduanya dimasukkan ke surga sebelum yang mati syahid. Saya sangat heran dengan hal tersebut. Pada pagi hari, saya menyebutkan hal tersebut kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, atau hal tersebut disebutkan kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bukankah dia telah berpuasa Ramadhan setelah (meninggalnya orang yang mati syahid tersebut)? Dan (bukankah) dia telah mengerjakan enam ribu rakaat atau sekian dan sekian rakaat shalat Sunnah?” [Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang hasan]

Dalam riwayat dari Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiyallâhu ‘anhu, Rasululllah shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

فَمَا بَيْنَهُمَا أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Maka antara keduanya (ada jarak) sejauh antara langit dan bumi.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany lantaran berbagai jalur riwayatnya dalam Ash-Shahîhah no. 2591]

Penjelasan

Termasuk nikmat yang sangat besar terhadap seorang hamba, Allah memberinya kesempatan dan umur panjang dalam ketaatan kepada Allah. Hal tersebut sebagaimana ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah manusia yang paling baik?”

Beliau menjawab,

مَنْ طَالَ عُمْرُهُ، وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Siapa saja yang panjang umurnya dan baik amalannya.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzy dari Abdullah bin Busr radhiyallâhu ‘anhu]

Kematian adalah gelas, semua orang akan meneguknya. Kuburan adalah pintu, seorang akan memasukinya. Kiamat adalah tempat berkumpul, semua orang akan menuai hisabnya. Ramadhan adalah kesempatan, pintu menuju surga, dan lahan berbagai amalan shalih yang tidak semua orang mendapatkannya.

Harus ada kesyukuran akan suatu nikmat agung.

Mesti terdapat kesungguhan dalam meraih pahala.

Janganlah menjadi orang lalai di tengah kesempatan, dan janganlah tergolong sebagai orang yang gersang dan kemarau dalam musim ketaatan.

Semoga Allah memanjangkan umur kita dalam ketaatan, dan menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang beruntung dengan kemenangan di bulan yang mulia ini.

Wallahu A’lam.

Faidah Hadits
1. Keutamaan puasa Ramadhan dalam memberatkan pahala kebaikan.
2. Keutamaan shalat lima waktu dan shalat sunnah dalam memberatkan pahala kebaikan.
3. Sebagian mimpi adalah benar.
4. Mimpi yang dipastikan benar adalah hal-hal yang telah disetujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
5. Keutamaan mati syahid.
6. Menanyakan hal yang kurang jelas kepada orang yang berilmu.
7. Keutamaan umur yang digunakan dalam ketaatan kepada Allah.
8. Amalan shalih adalah sebab yang memasukkan ke dalam surga.
9. Penetapan adanya balasan pada hari kiamat.
10. Setiap orang mendapat kebaikan sesuai dengan amalannya.
11. Bolehnya menceritakan mimpi kepada orang shalih yang paham agama
_______
dzulqarnain.net

4/15/2020

Berdoa dengan nama Allah yang paling Agung

Allah 'azza wa jalla memiliki nama yang paling agung. 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Ismullah al-A’dzam yang bisa menjadi pengantar kemujaraban doa. Dengan menyebut Ismullah al-A’dzam, segala bentuk doa dan permohonan menjadi lebih besar peluang untuk dikabulkan. Karena diantara bagian dari adab dalam berdoa adalah memperbanyak pujian sebelum menghaturkan doa. Nama-nama yang paling Agung tersebut adalah:
  • Al-Ahad [الأَحَدُ] Maha Esa
  • As-Shamad [الصَّمَدُ] Penguasa yang Maha Sempurna dan Bergantung kepada-Nya segala sesuatu
  • Al-Mannan [الْمَنَّانُ] Maha Pemberi
  • Al-Hayyu [الْحَيُّ] Maha Hidup dan Kekal
  • Al-Qoyyum [الْقَيُّومُ] Maha Mengatur dan Maha Berdiri Sendiri
  • Badii’us samaawaati wal ardh [بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ] Pencipta Langit dan Bumi
  • Yaa dzal jalali wal ikram [ذُو الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ] Pemilik Keagungan dan Kemuliaan 

Dalil:

1. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنِّى أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِى لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu karena aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Esa, yang menjadi tempat bergantung semua makhluk-Nya, tidak beranak dan tidak dilahirkan. Dan tidak ada seorangpun yang sepadan dengan-Nya."

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar ada orang yang membaca kalimat di atas. Kemudian beliau bersabda menyebutkan keutamaannya,

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh orang ini telah meminta kepada Allah dengan ismullah al-a’dzam (nama Allah yang paling agung), dimana, ketika seseorang berdoa dengan menyebut nama itu, maka doanya akan diijabahi. Dan apabila dia meminta kepada Allah dengan menyebut nama itu, maka dia akan diberi." (HR. Ahmad 23654, Abu Daud 1495, Turmudzi 3812,  dan disahihkan Syuaib al-Arnauth).

2. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu bahwa sesungguhnya segala pujian hanya milik-Mu, tiada sembahan yang benar kecuali Engkau, Yang Maha Pemberi karunia, Pencipta langit dan bumi, wahai Yang Maha Memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.”

Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh dia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang jika seseorang berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkannya, dan jika dia meminta kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan memenuhi permintaannya. (HR. Ahmad 12946, Abu Daud 1497, Nasai 1308, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

3. Dari Asma bintu Yazid, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya pada dua ayat ini, [اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ] dan ayat [الم اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ] terdapat Ismullah al-A’dzam." (HR. Ahmad 27611, ad-Darimi 3456 dan dihasankan al-Albani)

4. Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

"Ismullah al-A’dzam, apabila orang berdoa dengan menyebut namanya itu maka doanya akan dikabulkan, ada di tiga surat: Al-Baqarah, Ali imran, dan Thaha." (HR. Ibnu Majah 3988, dan dishahihkan al-Albani). Abu Abdurrahman al-Qosim pun mencarinya dalam al-Quran; 

1. Al-Baqarah ada di awal ayat kursi,

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

2. Ali Imran ada di ayat kedua,

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

3. Thaha ada di ayat 111:

وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ

(Silsilah as-Shahihah, 2/371).