12/27/2013

Kewajiban Memberantas Kemungkaran

Dari Kitab Syarah Arba'in An-Nawawi,

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﻌِﻴْﺪ ﺍﻟْﺨُﺪْﺭِﻱ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ : ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳَﻘُﻮْﻝُ : ﻣَﻦْ ﺭَﺃَﻯ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻣُﻨْﻜَﺮﺍً ﻓَﻠْﻴُﻐَﻴِّﺮْﻩُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ، ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻊْ ﻓَﺒِﻠِﺴَﺎﻧِﻪِ ، ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻊْ ﻓَﺒِﻘَﻠْﺒِﻪِ ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺿْﻌَﻒُ ﺍْﻹِﻳْﻤَﺎﻥِ

Dari Abu Sa'id Al Khudri ra, ia berkata: "Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia ubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (ingkarilah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim)

Hadits ini berisi tingkatan-tingkatan pengingkaran terhadap kemungkaran. Barangsiapa yang mampu mengubah kemungkaran dengan tangannya, maka itulah yang harus dia lakukan. Namun ini dilakukan oleh penguasa dan bawahan-bawahannya di wilayah-wilayah masyarakat umum. Bisa pula dilakukan oleh kepala rumah tangga di dalam rumahnya, dalam wilayah terbatas. Melihat kemungkaran bisa berarti melihatnya dengan mata kepala, atau bisa pula berarti memandangnya dengan ilmu. Jika bukan termasuk orang yang mampu dengan tangan, maka hendaklah dia melakukannya dengan lisan, dimana dia mampu melakukannya. Jika tidak, maka pilihan terakhir adalah mengingkari dengan hati dan ini merupakan iman paling lemah. Mengingkari kemungkaran dengan hati adalah cara menbenci kemungkaran tersebut dan terdapat pengaruh terhadap hati karenanya. Perintah untuk mengingkari kemungkaran dalam hadits ini tidaklah bertentangan dengan firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al Maa'idah: 105)

Sesungguhnya makna ayat ini adalah jika kalian telah melaksanakan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar, maka kalian telah menunaikan apa yang dibebankan atas kalian. Setelah itu tidaklah memudharatkan kalian kesesatan orang yang tersesat setelah kalian mendapatkan hidayah.

Di antara kandungan hadits ini antara lain:
1. Kewajiban untuk amar ma'ruf nahi munkar, dengannya masyarakat dan negara akan menjadi lebih baik.
2. Mengubah kemungkaran memiliki beberapa tingkatan, siapa yang mampu melakukan salah satunya maka itulah kewajibannya.
3. Iman itu bertingkat-tingkat, ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang paling lemah.

Dinukil dari Fathul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba'in wa Tatimmatil Khamsin Lin Nawawi wa Ibni Rajab Rahimahullah karangan Syaikh 'Abdul Muhsin bin Hamd Al 'Abbad Al Badr (Ulama ahli hadits kota Madinah An Nabawiyah)

Nikmat Sehat & Nikmat Waktu Luang

Faedah Ceramah Singkat Ustadz Rajab
Kamis, 21-11-2013.
SD Labs. PGSD UNJ Setiabudi.

"Dua nikmat yg senantiasa manusia lalai dengannya: Nikmat Sehat dan Nikmat Waktu Luang"

1. Manusia tidak akan bisa menjadi pintar tanpa belajar.
2. Manfaatkanlah waktu di kala masih muda.
3. Salah satu untuk merubah perilaku manusia adalah dengan sholatnya, karena Alloh telah mewanti-wanti jika seseorang baik sholatnya, maka yang lainnya pun akan baik.
4. Jika seseorang sudah tidak lagi memperdulikan sholatnya, maka tunggulah waktu kehancurannya.
5. Baiknya suatu kaum, dilihat dari sholatnya.
6. Senantiasa kita harus selalu memperhatikan adab-adab tatkala sholat.
7. Sejarah telah membuktikan kekalahan umat Islam dalam peperngan, salah satu penyebabnya dikarenakan ada sebagian dari mereka yang melalaikan sholat malam (sholat sunnah). Lalu bagaimana jika yang dilalaikan itu sholat wajib?
8. Terkadang Alloh mengulurkan azab kepada suatu kaum, agar mereka bertobat terlebih dahulu, dan yg paling mengkhawatirkan, Alloh ulurkan azabnya karena Alloh inginkan azab yg begitu besar datang dgn skonyong-konyong.

Semoga Bermanfaat.

11/19/2013

Dosa-dosa besar dalam Quran & Hadits

Sebagai umat muslimin yang beriman kita wajib tahu dan selalu ingat akan dosa-dosa besar yang dapat menjerumuskan kita ke dalam NERAKA jahanam yang kekal! Apa sajakah itu?

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam kitabnya Al-Quran perihal 10 dosar besar, sebagai berikut;
1. Syirik,
2. Berputus asa dalam mendapat rahmat Allah,
3. Merasa aman dari ancaman Allah,
4. Durhaka kepada dua orang tua,
5. Membunuh,
6. Menuduh wanita baik2 membuat zina,
7. Memakan riba,
8. Berzina,
9. Memakan harta anak yatim,
10.Lari dari pertempuran perang.

Dalil pendukungnya:
- "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya". (An Nisaa: 48).
- "Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".(Yusuf: 87).
- "Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya". (An Nisaa: 93).
- "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la'nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar". (An Nuur: 23)
- "Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila". (Al Baqarah: 275)
- "Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya". (Al Anfaal: 16)
- "Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)". (An Nisaa: 10)
- "Barangsiapa yang melakukan demikian (zina) itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu". (Al Furqaan: 68-69)
-----------------------------------------------------------------------------
Demikian juga dalam sebuah majelis ilmunya, Rasulullah shollalahu 'alahi wa sallam bersabda, “Jauhilah 7 dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut?” Kemudian Beliau (Rasulullah) mengatakan;
1. Menyekutukan Allah,
2. Sihir,
3. Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan,
4. Memakan harta anak yatim,
5. Memakan riba,
6. Melarikan diri dari medan peperangan,
7. Menuduh wanita yang menjaga kehormatannya lagi (bahwa ia dituduh berzina).”
(HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)

11/13/2013

Renungan "Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita?"

Syarat diterimanya amal ibadah adalah ikhlas dan ittiba' yakni mengikuti apa yang dicontohkan oleh sang teladan, Nabi Muhammad Shollalahu'alaihi Wa Sallam. 
Para ulama terdahulu sangat khawatir jika amal shalihnya tak terterima.
Mereka begitu takut jika amal shalih yang mereka tanam, tak tumbuh bertunas, apalagi berbuah kelak. 
Padahal amal mereka jauh lebih baik daripada kita. Sementara kita tenang-tenang saja dengan amal ibadahh yang tak seberapa. 
Rasa takut tak terterimanya amal, boleh jadi itulah bagian dari taqwa. Adakah itu sudah ada pada diri kita?

Nasihat agar hati kuat dari cobaan & fitnah dunia

Catatan dari Kajian Ustadz Jazuli di Al-Fattah Ba'da Magrib 20 Sept'13.

Agar hati kuat dari cobaan & fitnah dunia:

1. Ikhlas, Allah menjamin hamba-Nya yang berusaha menjaga keikhlasan dalam hatinya agar terhindar dari godaan seperti yang menimpa Nabi Yusuf Alaihi Salam, agar ikhlash kita harus selalu berorientasi pada akhirat, agar bisa ikhlash dan berbahagia kita harus mempunyai hati yang bersyukur lisan yang berdzikir dan pendamping yang sholeh/sholehah.

2. Bertaqwa kepada Allah, selalu beribadah kepada Allah, jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jika kita menjaga agama Allah, kata ibnu rojab maka Allah akan menjaga kita, harta kita keluarga kita dan keturunan kita.

3. Bertauhid kepada Allah, karena tauhid adalah pengampunan dari Allah. Karena tauhid kepada Allah adalah surganya dunia, sejauh mana seorang bertauhid kepada Allah sebesar itulah kekuatan hatinya.

4. Banyak berdoa kepada Allah, karena Allah lah yang membolak balikkan hati, mintalah (doa) agar Allah menetapkan hati dijalan Allah dalam ketaatan.

5. Bersahabat orang2 yang sholeh / Sholeha, agar tertular & terpacu dengan semangat kesholehan mereka, maka yang pertama harus sholeh adalah pendamping kita (suami / istri).

6. Selalu mengingat kematian, karena mati itu pasti, namun seringkali dalam hidup kita mengejar hal yang tak pasti dan meninggalkan hal yang pasti. Orang yang mengingat mati dan mempersiapkannya maka ia akan berusaha menjaga dirinya mengerjakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.

Wallahu'alam Bisshowab. Wallahu Walliyut Taufiq Wal Hidayah..

Adab "Nongkrong" Bagi Seorang Muslim

Dituturkan dari Abu Sa'id Al Khudri RA, bahwa Rasulullah Shollahu'alaihi Wa Sallam bersabda:

"Jauhkan dirimu dari kebiasaan duduk (nongkrong) di jalan-jalan". Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, itu hanyalah bagian dari tempat duduk kami, di sana kami biasa berbincang-bincang". Beliau menjawab, "Jika kalian menolak (nasihat ini), berilah jalan haknya". Mereka bertanya, "Apakah haknya?" Beliau bersabda, "Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, memerintahkan kepada kebaikan, dan mencegah kemunkaran". (HR. Bukhari no. 6229 dan Muslim no. 3/1675-1676)

Ibroh:
Rasulullah menganjurkan kita untuk menjauhi nongkrong/duduk-duduk ngobrol. Tapi, andaikan kita mau nongkrong, diperbolehkan asal:
1. Menundukkan pandangan (nggak jelalatan ngeliat perempuan)
2. Tidak mengganggu (baik orang yang lewat maupun penduduk sekitar)
3. Menjawab salam
4. Memerintahkan kebaikan
5. Mencegah kemunkaran

Wallahu'alam Bisshowab,

11/12/2013

Prinsip Dasar Iman (Aqidah) "Bagaimana bersikap terhadap Al-Quran & As-Sunnah"

Bismillahirrohamnirrohim.. Assalamu'alaikum, ane mau sharing diskusi & kajian mengenai dasar iman (aqidah), yg ane dapati beberapa waktu lalu, semoga dapat menjadi ibroh untuk kita.

"Bagaimana kita bersikap terhadap Al-Quran dan As-Sunnah."

1. Urutan pikir kita terhadap Quran & Sunah sebagai referensi keimanan, perlu dibedakan dgn urutan berpikir terhadap kejadian2 yg belum tertera / dijelaskan pada keduanya.

2. Terhadap referensi keimanan tsb, sikap (approach) kita adalah : mengimani -> melaksanakan -> kemudian memikirkan & meriset hal2 yg terkait padanya. Bukan sebaliknya : memikirkan & meriset -> melaksanakan -> mengimani. hal kedua ini disebut metode sains.

3. Sikap utk mengimani lalu melaksanakan, menunjukkan pemahaman kita akan Al-Quran & As-Sunnah sebagai petunjuk, bukan hanya sekedar bahan pemikiran & peredebatan. Inilah yang membedakan umat islam terdahulu (awal) & setelahnya (sekarang).

4. Mari kita flashback sebentar, ketika Rasulullah Shallallahu'alaihi Wa Sallam berdakwah di Mekah, kemudian mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah, setiap perintah dan larangan yang datang selalu direspon umat di masa itu dengan menggunakan instrumen keimanan. Tidak peduli apakah itu, menguntungkan atau merugikan, mudah ataupun sulit. Semangat keimanan melahirkan ruh-ruh keta’atan. (Sami’na wa atho’na - kami dengar dan kami taati). 

5. Kemudian kepemimpinan didunia diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin, mereka adalah generasi terbaik yg memiliki kapasitas ijtihad (menetapkan hukum2 baru yg tak ada dalam Quran & Sunnah), dalam berijtihad ini dibutuhkan pemikiran yg matang dan pemahaman yg mendalam terhadap Risalah Nabi SAW, dan merekalah generasi terbaik yang paling pantas berijtihad karena mendapatkan bimbingan langsung dari Rasulullah SAW.

6. Setelah itu datang masa kekhalifahan (dinasti) Ummayah, Abbasiyah, Andalusia, Utsmaniyah, dll. dimulailah era riset, IPTEK berkembang! peradaban manusia di middle age (jaman pertengahan 800-1500 M) mencapai puncaknya! sejarawan mencatat peradaban inilah yang menjembatani majunya IPTEK yg sekarang kita nikmati. Para ilmuwan islam menguji, mempraktekkan, mengembangkan teori2 yang dulu pernah ada seperti dari yunani & mesopotamia, disertai sumber2 dalam Quran, Hadits, Ijtihad serta kondusifnya situasi masyarakat dibawah hukum syariat, yg sangat mendorong kemajuan ilmu. Lahirlah ide2 & penemuan baru. Tak banyak yg tahu barang yg kita nikmati sehari2 seperti kopi, gula, sabun, sampo, kaca mata, kamera, alat2 serta teknik pengobatan & pembedahan dlm kedokteran, sistem automisasi robot termasuk ddlmnya onderdil (crankshaft), hingga distilasi minyak yg dipakai dlm kendaraan & mesin2, juga pesawat terbang, dll. adalah buah karya mereka. Ilmuwan2 eropa pun tak segan mengakui mereka belajar dari peradaban maju ini, lahirnya renaissance & revolusi industri adalah estafet dari riset2 yg ilmuwan muslim lakukan, yang kini kita rasakan manfaatnya.

7. Begitulah gambaran umumnya bagaimana peradaban islam di bangun dimulai dari hal yg mendasar yakni iman. Pola pikir dan sikap tersebut yg perlu kita terapkan dalam meresponse Al-Quran, As-Sunnah & Ijtihad.

Wallahu'alam Bisshowab. Wallahu Walliyut Taufiq Wal Hidayah..