1/22/2016

HAL-HAL YANG MENGGUGURKAN AMALAN (BAG.1)

الســـلام عليــكم ورحــمة اﻟلّـہ وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَ نَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نَبِيَّ بَعْدَهُ

Para kesempatan yang berbahagia ini, diantara perkara penting yang perlu disampaikan adalah tentang "Bagaimana menjaga amalan kita agar tidak rusak dan gugur".

Sebagaimana perkataan Imām Ibnul Qayyim rahimahullāh:

◆ ليس الشأن في العمل، إنما الشأن في حفظ العمل مما يفسده و يحبطه

◆ Bukanlah perkara yang penting dengan banyaknya beramal.

Tetapi yang terpenting adalah menjaga amal kita agar tidak rusak dan tidak gugur.

Disana ada perkara-perkara yang hendaknya kita jauhi.

Karena perkara-perkara tersebut bisa merusak (menggugurkan) amalan kita, yaitu:

-1- KAFIR KEPADA ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA'ĀLA ATAU KELUAR DARI ISLAM

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam Al Qurān:

وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَـئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

"Barangsiapa yang murtad di antara kalian kemudian meninggal dalam keadaan kafir dari maka amalan-amalannya akan gugur dan baginya adzab yang pedih di neraka Jahannam."
(QS Al Baqarah: 217)

-2- BERBUAT SYIRIK

Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan syirik akbar kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla maka seluruh amalannya akan gugur.

Meskipun dia beribadah (misal) selama 60 tahun; berhaji, shalat, bersedekah dan banyak melakukan kebajikan.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَالِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

"Sesungguhnya barangsiapa yang berbuat kesyirikan, maka Allāh haramkan baginya surga dan tempat kembalinya ialah neraka Jahannam, dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat zhalim*."
(QS Al Maidah: 72)

* yaitu orang-orang yang berbuat kesyirikan.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla juga berfirman:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِّنَ الْخَاسِرِينَ

"Seandainya engkau (Muhammad) berbuat kesyirikan niscaya amalmu akan terhapus dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
(QS Az Zumar: 65)

⇒ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak akan berbuat kesyirikan, (akan tetapi) Allāh mengumpamakan dengan Muhammad yaitu makhluq (manusia) yang paling mulia di atas muka bumi ini.

Seandainya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam terjerumus dalam kesyirikan maka kata Allāh:

"Sungguh benar-benar akan gugur pula amalannya dan sungguh-sungguh benar akan termasuk orang yang merugi."

(Lalu) bagaimana lagi dengan orang-orang yang derajatnya jauh dibawah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam?

Apakah dia merasa aman jika dia berbuat kesyirikan?

Apakah dia merasa bahwasanya amalannya tidak akan digugurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla?

-3- RIYĀ

(Yaitu) beramal shalih dengan mengharapkan pujian dan penghormatan kepada manusia.

Oleh karenanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ الرِّياَءُ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian ialah syirik kecil.”
Mereka (para shahābat) bertanya: “Apakah syirik kecil tersebut wahai Rasūlullāh?” 
Jawab Beliau, “Riyā".
(HR Ahmad dengan sanad yang shahih)

Dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam juga bersabda:

أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟) قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ! قَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ إليه

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang perkara yang lebih aku khawatirkan menimpa kalian daripada fitnah Dajjāl?”
(Para shahabat) menjawab: “Tentu, wahai Rasūlullāh.”

Kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:
“Syirik kecil (tersembunyi), yaitu ketika ada seorang berdiri kemudian dia shalat kemudian dia bagus-baguskan shalatnya tatkala dia tahu ada orang yang melihatnya sedang shalat."
(HR Ahmad)

Orang ini menghiasi & memperpanjang ibadahnya serta mengindahkan lantunan bacaan Al Qurān nya bukan karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla, tetapi karena supaya dipuji oleh manusia.

Oleh karenanya sungguh menyedihkan kondisi orang yang riya', (yaitu) yang beramal shalih karena ingin dipuji oleh manusia:

• Dia lebih mendahulukan untuk memperoleh pujian manusia dan dia meninggalkan pujian Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

• Dia lebih mementingkan ganjaran dunia dan meninggalkan ganjaran akhirat.

• Dia tidak mengagungkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla tetapi dia mengagungkan manusia yang penuh dengan kehinaan.

• Dia berharap mendapatkan ganjaran di dunia dengan pujian dan meninggalkan ganjaran yang Allāh berikan di akhirat.

Maka diantara perkara yang membahayakan yang bisa menjerumuskan orang dalam riya' (ingin dipuji) yaitu:

"Perbuatan sebagian orang yang sering memposting atau menunjukkan amalan ibadah dia."

Tatkala dia berhaji, dia memfoto dirinya.
Tatkala dia di Ka'bah, dia memfoto dirinya.
Tatkala dia sedang berdo'a, dia foto dirinya.
Tatkala dia sedang membaca Al Qurān, dia foto dirinya.
Kemudian dia pajang di media-media sosial.

Seandainya niatnya untuk memotivasi, (maka) alhamdulillāh.
Tapi dikhawatirkan niatnya hanyalah untuk dipuji atau dikomentari, untuk memamerkan ibadah dia.

Sama seperti orang yang berhaji, kemudian hanya untuk dipanggil "Pak Haji", rugi!

Dia sudah mengeluarkan uang puluhan juta dan menanti masa penantian untuk bisa berangkat haji, lantas hanya ingin supaya bisa dikatakan "Pak Haji" supaya dihormati masyarakat.

Maka amalan dia tidak akan diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla karena dia melakukannya bukan ikhlas karena Allāh tetapi karena riyā.

Dan di akhirat kelak Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan menghinakan orang-orang yang riya'.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla kepada orang-orang yang riyā:

اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً.

"Pergilah (mintalah) pahala kepada orang-orang yang dahulu kamu harapkan pujiannya, apakah kalian akan mendapatkan balasan?"
(HR Ahmad)

⇒ Jawabannya, tentu tidak.

-4- PERGI KE DUKUN

Kata Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

“Barangsiapa yang pergi ke dukun (paranormal) kemudian bertanya sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.”
(HR Muslim)

Ini perkara yang sangat mengerikan tatkala kita melihat bagaimana dukun-dukun sangat laris di tanah air kita.

Hampir setiap kota, bahkan hampir setiap kecamatan, ada dukunnya.
Dukun sangat banyak dan orang-orang banyak percaya kepada dukun.
Padahal kita tahu seringnya dukun-dukun tersebut tidak berpendidikan.

Bagaimana tidak sedih ada seorang sarjana kemudian percaya kepada dukun yang tidak lulus SD?

Dimana akal mereka ?
Tidakkah mereka takut dengan sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ini?

Dan ini berlaku juga bagi orang-orang yang membaca ramalan-ramalan bintang.
Sesungguhnya ramalan-ramalan bintang adalah bentuk dari perdukunan.

Maka hati-hati jangan sampai kita membaca ramalan-ramalan bintang.

Apalagi (sampai) memasukkan buku-buku ramalan bintang atau majalah-majalah yang berisi ramalan bintang dalam rumah kita.

Tidak boleh kita baca sama sekali, karena ini adalah salah satu bentuk dari perdukunan.

Barangsiapa mempercayainya (membacanya) maka dikhawatirkan dia tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.

(Kalau) sekedar datang bertanya-tanya sudah tidak di terima shalatnya selama 40 hari, (apalagi) kalau percaya?

Maka lebih parah!

Kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun kemudian mempercayai apa yang dia kabarkan, maka dia sungguh telah kafir kepada (Al Qurān) yang diturunkan oleh Allāh kepada Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam."
(HR Ahmad no. 9171)

Bersambung ke bagian 2. 
______________________________

Materi Tematik
Ustadz Firanda Andirja, MA
Khutbah Jum'at | Hal-Hal Yang Menggugurkan Amalan (Bagian 1)
⬇ Download audio:
https://goo.gl/jDpofY
Sumber:
https://m.youtube.com/watch?v=PXr78wG_UZw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar