2/27/2014

Titik Buta (Blind Spot)

Dari Group Whatsapp,

Semua petinju profesional memiliki pelatih. Bahkan, petinju sehebat Mohammad Ali sekalipun juga memiliki pelatih. Padahal jika mereka berdua disuruh bertanding jelas Mohammad Ali-lah yang akan memenangkan pertandingan tersebut.

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa Mohammad Ali butuh pelatih kalau jelas-jelas dia akan menang melawan pelatihnya? Kita harus tahu bahwa Mohammad Ali butuh pelatih bukan karena pelatihnya lebih hebat, namun karena ia butuh seseorang untuk elihat hal-hal yang.. "TIDAK DAPAT D̲IA LIHAT SENDIRI"

Hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itulah yang disebut dengan "BLIND SPOT" atau "TITIK BUTA". Kita hanya bisa melihat "BLIND SPOT" tersebut dengan bantuan orang lain.

Dalam hidup, kita butuh seseorang untuk mengawal kehidupan kita, sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita mulai bergeser,
↣ Kita butuh orang lain
↣ Yang menasihati,
↣ Yang mengingatkan,
↣ Bahkan yang menegur jika kita mulai melakukan sesuatu yang keliru, yang bahkan kita tidak pernah menyadari.

KERENDAHAN HATI kita,
↷ Untuk menerima kritikan,
↷ Untuk menerima nasihat,
↷ Dan untuk menerima teguran itulah yang justru menyelamatkan kita.

Kita bukan manusia sempurna. Biarkan orang lain menjadi "Mata" kita di area 'Blind Spot' kita sehingga KITA BISA MELIHAT apa yang TIDAK BISA KITA LIHAT dengan pandangan diri kita sendiri..

Belajar dari Korek Api

Dari group whatsapp,

 Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api.

 Tapi satu batang korek api dapat membakar jutaan pohon..

 Jadi... Satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif.

 Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak.. Oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar.

 Kita mempunyai kepala, dan juga otak, jadi kita tidak perlu terbakar amarah hanya karena gesekan kecil.

 Ketika burung hidup, ia makan semut. Ketika burung mati, semut makan burung.

 Waktu terus berputar sepanjang zaman. Siklus kehidupan terus berlanjut.

 Jangan merendahkan siapapun dalam hidup, bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita.

 Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa daripada kita.

 Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita.

 Waktu kita sakit, kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi HARTA. .

 Ketika kita tua, kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan.

 Dan, setelah di ambang ajal, kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia.

 Hidup tidaklah lama, sudah saatnya kita bersama-sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA.

 Saling menghargai, Saling membantu dan memberi, juga saling mendukung. .

 Jadilah teman perjalanan hidup yg tanpa pamrih dan syarat.

 Believe in "Cause & Effect"

Apa yang ditabur, itulah yang akan kita tuai..

Do the best...
Be the best...
And for the best...

Dua singa dalam diri tiap manusia

Dari teman,

Seorang ayah menceritakan tentang peperangan dalam diri setiap orang. Ia mengibaratkan ada dua ekor singa yg bertarung dalam setiap orang.

Yang satu adalah Singa Jahat. Ia penuh amarah, rasa iri, dengki, sedih, sombong, egois, pembohong, tamak, penuh sesal dan tinggi hati.
Yang satu adalah Singa Baik. Ia penuh kebahagiaan, cinta, damai, rendah hati, pemurah, jujur, baik hati, berbaik sangka dan memahami org lain.

Sang anak mencerna perkataan ayahnya sebentar, kemudian bertanya, "Singa mana yg menang?"

Ayahnya menjawab singkat, "Yang selalu kamu beri makan."

"Dan adapun orang2 yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)."(QS AnNazia'at 40-41)

Hei, Kontrol Nafsu Perut Anda!

Pernah nonton film Omar? Salah satu scene menariknya yaitu,
Ketika Umar bin Khattab Radhiallahu 'anhu sedang berjalan dan bertemu seseorang laki-laki setengah tua dengan perut buncit nya, kemudian Umar bertanya,
“Hei, ada apa dengan perut mu ini?” *Sambil memegang perutnya yang besar
Laki-laki setengah tua berkata, “Ini tanda kemakmuran”
Lalu Umar memanggil kaumnya di sekitar situ dan berwasiat,
“Wahai umat manusia, janganlah makan terlalu banyak sehingga perut kalian seperti ini (sambil menunjukke perut pria itu), kalian akan sulit untuk beribadah, dan akan menimbulkan sifat boros.”

Riwayat & nasihat lain:
Ibnu Abi ad-dunya rahimahullah meriwayatkan dari Muhammad bin Wasi’ rahimahullah bahwa dia berkata, “Siapa yang sedikit makannya dia akan bisa memahami, membuat orang lain paham, bersih, dan lembut. Sungguh, banyak makan akan memberati seseorang dari hal-hal yang dia inginkan.”

Diriwayatkan dari Utsman bin Zaidah rahimahullah, dia berkata bahwa Sufyan ats- Tsauri rahimahullah mengirim surat kepadanya (di antara isinya), “Apabila engkau ingin tubuhmu sehat dan tidurmu sedikit, kurangilah makan.”

Diriwayatkan dari Ibrahim bin Adham rahimahullah, “Siapa yang menjaga perutnya, dia bisa menjaga agamanya. Siapa yang bisa menguasai rasa laparnya, dia akan menguasai akhlak yang terpuji. Sungguh, kemaksiatan akan jauh dari orang yang lapar, dekat dengan orang yang kenyang. Rasa kenyang akan mematikan hati. Akan muncul pula darinya rasa senang, sombong, dan tawa.”

Diriwayatkan dari Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah, “Jika jiwa merasakan lapar dan dahaga, kalbu akan bersih dan lembut. Jika jiwa merasakan kenyang dan puas minum, kalbu menjadi buta.”

Diriwayatkan pula dari asy-Syafi’i rahimahullah, "Rasa kenyang akan memberati badan, menghilangkan kewaspadaan, mendatangkan rasa kantuk, dan melemahkan pemiliknya dari beribadah.” (Jami’ al-Ulum wal Hikam, hlm. 576—577)

Akhwat jangan ke Ge-er-an doonk?! :)

Akhwat: Akh, boleh pinjem laptop? Ana mau bikin LPJ.
Ikhwan: Boleh, pakai saja.
Akhwat: Lho akh, kok di password. Passwordnya apa akh?
Ikhwan: Namamu..
Akhwat: *Tertegun, tersipu malu*.... Lho, kok ga bisa akh?
Ikhwan: Ooh, kecil semua ukhti.
Akhwat: Masih belum bisa akh? Harus lengkap ya? Nama ana kan 2 suku kata.
Ikhwan: *haiyaah GR ni anak* .... Tulis saja "namamu" itu passwordnya
Akhwat: *haaaaaaa.. Nangis nombay, tahan malu*

Menasihati istri dengan lembut

Dari Ust. Abu Sa'ad

Suatu hari seorang suami masuk ke ruang kerjanya yang ada di rumahnya, didapatinya ruang tersebut tampak kotor dan debu berserakan di atas meja kerja dan juga di layar monitor kamputernya.

Sebelum keluar dari ruang kerjanya, dia berfikir sejenak lalu dia tulis di atas debu tadi kalimat, kekasihku aku mencintaimu ! Kemudian terdiam dan berlalu, tidak keluar dari lisannya satu keluhan-pun kepada istrinya.

Ketika hendak berangkat kerja, sang suami berkata kepada istrinya, dek tolong ambilkan kunci motor di ruang kerjaku ! beranjaklah sang istri menuju ruang kerja suaminya dan didapatinya tulisan di atas meja dan layar monitor yang berdebu : kekasihku ! aku mencintaimu.

Tersenyumlah sang istri dan faham dengan apa yang dikehendaki suaminya.

Setelah mengambil kunci motor dan menyerahkannya kepada suaminya, sang istri-pun berkata : surat cinta-mu telah aku terima wahai kekasihku, semoga aku lebih perhatian dan tidak lalai lagi mengurusi rumah kita.

Hikmahnya :
Suami yang bijak dan cerdas selalu berusaha membahagiakan istrinya, baik dengan sikap yang bijak ataupun dengan ucapan yang santun, dan ketika menasehati istri-pun dengan cara halus dan cerdas, insya Allah semua diantara kita pasti menginginkan rumah tangganya bahagia dan tenteram, bukan tanpa masalah ! tapi setiap masalah bisa terselesaikan dengan baik tanpa melukai atau mengorbankan siapa-pun.

Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dengan istri-istrinya.

Demikian juga seorang istri yang baik, harus pandai menempatkan dirinya dan mengetahui kebutuhan suaminya, walaupun hanya dengan bahasa isyarat dan gerakan tubuh.

Mari kita bersama-sama membangun rumah kita dengan pikiran jernih, dada yang lapang dan saling pengertian diantara kita, semoga rumah kita menjadi syurga bagi kita semua, sebelum meraih syurga di akhirat kelak.

Kisah Pasangan Surgawi dari Ustadz Salim A Fillah

Kisah Paman kami KH AL-Ny. Hj. SNA, Kedunglumpang, Salaman, Magelang.

Dalam sebuah perjalanan kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta, tahun 1980-an; pemuda itu bersin di kursinya. Diapun bertahmid, "Alhamdulillah."

Dari seberang tempat duduknya terdengar suara lirih namun tegas, "Yarhamukallah."

Maka diapun menjawab, "Yahdikumullah, wa yushlihu baalakum", lalu menoleh. Yang dia lihat adalah jilbab putih, yang wajahnya menghadap ke jendela.

Ini tahun 1980-an. Jilbab adalah permata firdaus di gersangnya dakwah. Dan ucapan "Yarhamukallah" adalah ilmu yang langka. Keduanya terasa surgawi.

Maka bergegas, disobeknya kertas dari buku agenda & diambilnya pena dari tasnya. Disodorkannya pada muslimah itu. "Dik", ujarnya, "Tolong tulis nama Bapak Anda & alamat lengkapnya."

Gadis itu terkejut. "Buat apa?", tanyanya dengan wajah pias lagi khawatir.

"Saya ingin menyambung ukhuwah & thalabul 'ilmi kepada beliau", ujar sang pemuda. "Amat bersyukur jika bisa belajar dari beliau bagaimana mendidik putra-putri jadi Shalih & Shalihah."

Masih ragu, gadis itupun menuliskan sebuah nama & alamat.

"Kalau ada denahnya lebih baik", sergah si pemuda.

Beberapa hari kemudian, pemuda itu mendatangi alamat yang tertulis di kertas. Diketuk pintunya, dia ucapkan salam. Seorang bapak berwajah teduh & bersahaja menyambutnya.

Setelah disilakan duduk, sang bapak bertanya, "Anak ini siapa & ada perlu apa?"

Dia perkenalkan dirinya, lalu dia berkata, "Maksud saya kemari; pertama nawaituz ziyarah libina-il ukhuwah. Saya ingin, semoga dapat bersaudara dengan orang-orang Shalih sampai ke surga."

"Yang kedua", sambungnya, "Niat saya adalah thalabul 'ilmi. Semoga saya dapat belajar pada Bapak bagaimana mendidik anak jadi Shalih dan Shalihah."

"Yang ketiga", di kalimat ini dia agak gemetar, "Jika memungkinkan bagi saya belajar langsung tentang itu di bawah bimbingan Bapak dengan menjadi bagian keluarga ini, saya sangat bersyukur. Maka dengan ini, saya beranikan diri melamar putri Bapak."

"Lho Nak", ujar si Bapak, "Putri saya yang mana yang mau Anak lamar? Anak perempuan saya jumlahnya ada 5 itu?"

"BismiLlah. Saya serahkan pada Bapak, mana yang Bapak ridhakan untuk saya. Saya serahkan urusan ini kepada Allah dan kepada Bapak. Sebab saya yakin, husnuzhzhan saya, bapak sebagai orang Shalih, juga memiliki putri-putri yang semua Shalihah."

"Lho ya jangan begitu. Lha anak saya yang sudah Anda kenal yang mana?"

"Belum ada Pak", pemuda itu nyengir.

Orangtua itu geleng-geleng kepala sambil tersenyum bijak.

"Sebentar Nak", kata si Bapak, "Lha Anda bisa sampai ke sini, tiba-tiba melamar anak saya itu ceritanya bagaimana?"

Pemuda itupun menceritakan kisah perjumpaannya dengan putri sang Bapak di Kereta. Lengkap dan gamblang.

Sang bapak mengangguk-angguk. "Ya kalau begitu", ujar beliau, "Karena yang sudah Anda nazhar (lihat) adalah anak saya yang itu; bagaimana kalau saya tanyakan padanya kesanggupannya; apakah anak juga ridha padanya?"

Pemuda itu mengangguk dengan tersipu malu.

Singkat cerita, hari itu juga mereka diakadkan, dengan memanggil tetangga kanan-kiri tuk jadi saksi. Maharnya? Pena yang dipakai pemuda itu meminta alamat sang Bapak pada gadis di kereta yang akhirnya jadi isterinya, ditambah beberapa lembar rupiah yang ada di dompetnya.

Hingga kini mereka dikaruniai 6 putra-putri. Satu putra telah wafat karena sakit setelah mengkhatamkan hafalan Qurannya. Lima yang lain, semua juga menjadi para pemikul Al Quran.

Pasangan yang tak lagi muda itu, masih suka saling menggoda hingga kini. Itu tak lain, karena sang suami memang berpembawaan lucu.

"Salim", ujarnya pada suatu hari, "Bibi'mu ini lho, cuma saya bersin saja jadi istri. Lha coba kalau saya batuk, jadi apa dia!"

Saya terkekeh, dan lebih terbahak ketika bibi mencubit perut samping suaminya. "Kalau batuk", ujar Hafizhah Qiraat Sab'ah ini, ingin bercanda tapi tak dapat menahan tawanya sendiri, "Mungkin beliau jadi sopir saya!"

Ya Allah.. jagalah mereka, sebab mereka menjaga Kitab Mu di sebuah pesantren sederhana di pelosok negeri ini..