Tampilkan postingan dengan label akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akhlak. Tampilkan semua postingan

1/27/2019

ILMU DIPELAJARI UNTUK DIAMALKAN

Ilmu dipelajari untuk diamalkan, bukan hanya sekedar menambah wawasan dan kepintaran, apalagi jika diniatkan untuk membodoh-bodohi orang lain.

Malik bin Dinar berkata,

من طلب العلم للعمل وفقه الله ومن طلب العلم لغير العمل يزداد بالعلم فخرا

“Barangsiapa yang mencari ilmu (agama) untuk diamalkan, maka Allah akan terus memberi taufik padanya. Sedangkan barangsiapa yang mencari ilmu, bukan untuk diamalkan, maka ilmu itu hanya sebagai kebanggaan (kesombongan)” (Hilyatul Auliya’, 2: 378).

Dalam perkataan lainnya, Malik bin Dinar berkata,

إذا تعلم العبد العلم ليعمل به كسره علمه وإذا تعلم العلم لغير العمل به زاده فخرا

“Jika seorang hamba mempelajari suatu ilmu dengan tujuan untuk diamalkan, maka ilmu itu akan membuatnya semakin merunduk. Namun jika seseorang mempelajari ilmu bukan untuk diamalkan, maka itu hanya akan membuatnya semakin sombong (berbangga diri).” (Hilyatul Auliya’, 2: 372).

Wahb bin Munabbih berkata,

مثل من تعلم علما لا يعمل به كمثل طبيب معه دواء  لا يتداوى به

“Permisalan orang yang memiliki ilmu lantas tidak diamalkan adalah seperti seorang dokter yang memiliki obat namun ia tidak berobat dengannya.” (Hilyatul Auliya’, 4: 71).

Ibrahim Al Harbi berkata,

حملني أبي الى بشر بن الحارث فقال يا أبا نصر ابني هذا مشتهر بكتابة الحديث والعلم فقال لي يا بني هذا العلم ينبغي أن يعمل به فان لم يعمل به كله فمن كل مائتين خمسة مثل زكاة الدراهم

“Ayahku pernah membawaku pada Basyr bin Al Harits, lanta ia berkata, “Wahai Abu Nashr (maksudnya: Basyr bin Al Harits), anakku sudah masyhur dengan penulisan hadits dan ia terkenal sebagai orang yang berilmu.” Lantas Basyr menasehatiku, “Wahai anakku, namanya ilmu itu mesti diamalkan. Jika engkau tidak bisa mengamalkan seluruhnya, amalakanlah 5 dari setiap 200 (ilmu) seperti halnya hitungan dalam zakat dirham -perak- (yaitu 1/40 atau 2,5%).” (Hilyatul Auliya’, 8: 347)

Syaqiq Al Balkhi berkata,

الدخول في العمل بالعلم والثبات فيه بالصبر والتسليم إليه بالإخلاص فمن لم يدخل فيه بعلم فهو جاهل

“Masuk dalam amalan hendaklah diawali dengan ilmu. Lalu terus mengamalkan ilmu tersebut dengan bersabar. Kemudian pasrah dalam berilmu dengan ikhlas. Siapa yang tidak memasuki amal dengan ilmu, maka ia jahil (bodoh).” (Hilyatul Auliya’, 8: 69).

Sufyan bin ‘Uyainah berkata,

ما شيء أضر عليكم من ملوك السوء وعلم لا يعمل به

“Tidak ada sesuatu yang lebih memudhorotkan kalian selain dari raja yang jelek dan ilmu yang tidak diamalkan.” (Hilyatul Auliya’, 7: 287).

‘Abdul Wahid bin Zaid berkata,

من عمل بما علم فتح الله له ما لا يعلم

“Barangsiapa mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, maka Allah akan membuka untuknya hal yang sebelumnya ia tidak tahu.” (Hilyatul Auliya’, 6: 163).

Ma’ruf Al Karkhi berkata,

إذا أراد الله بعبد خيرا فتح الله عليه باب العمل وأغلق عنه باب الجدل وإذا أراد بعبد شرا أغلق عليه باب العمل وفتح عليه باب الجدل

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba, Dia akan membuka baginya pintu amal dan akan menutup darinya pintu jidal (suka berdebat atau bantah-bantahan). Jika Allah menginginkan kejelekan pada seorang hamba, Dia akan menutup baginya pintu amal dan akan membuka baginya pintu jidal (suka berdebat)” (Hilyatul Auliya’, 8: 361).

Abu Qilabah pernah berkata kepada Ayyub As Sakhtiyani:

“Apabila kamu mendapat ilmu, maka timbulkanlah ibadah padanya. Jangan sampai keinginanmu hanya untuk menyampaikan kepada manusia.” (Al Adab Asy Syar’iyyah 2/45)

Sebuah pelajaran berharga ...

Tujuan ilmu bukan hanya untuk disampaikan saja. Namun yang terpenting adalah untuk diamalkan.

Di jejaring-jejaring sosial.
Di BBM, FB, WA dan media lainnya.
Kita berlomba menyampaikan ilmu.
Baik dengan copas ataupun cara lainnya.

Namun kita sering lupa ...

Untuk meraih tujuan ilmu ...
Sehingga rasa ujub sering menghinggapi hati. Merasa senang bila yang berkomentar banyak. Merasa sedih ketika tidak ada yang koment

Padahal bukan itu tujuan ilmu.
Tapi tujuan ilmu adalah untuk menambah rasa takut kepada Allah.
Dan menambah keikhlasan kepadaNya.

10/01/2018

SABAR ketika dicela

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah, dan jika seseorang mencelamu dengan sesuatu yang dia ketahui memang ada pada dirimu, maka engkau jangan membalas mencelanya dengan sesuatu yang engkau ketahui memang ada pada dirinya, niscaya akibat buruknya akan menimpa dirinya sendiri, sedangkan engkau mendapatkan pahalanya, dan jangan sekali-kali engkau mencaci-maki seorangpun!"

📚 Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, no. 98

RESEP BAHAGIA

Imam Ibnu Hazm mengatakan:
"Kecerdasan dan ketentraman itu adalah dengan tidak terlalu menghiraukan komentar manusia. Namun peduli dengan firman Sang Pencipta.  Inilah resep kebahagiaan.
Barangsiapa yang merasa bisa selamat dari omongan orang maka dia telah gila".

(Al Akhlak wa Siyar 1/17)

Jangan sebarkan aib saudaramu walau kau tau memang benar ada!

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

"Perkara-perkara umum jika sampai kepadamu tentang saudaramu berupa kekurangan atau celaan, maka engkau jangan mempedulikannya, tahanlah dirimu! walaupun faktanya memang benar, tetap jangan engkau sebarkan!"

9/07/2018

Menilai Seseorang

Jangan pernah menilai seseorang dengan melihat masa lalunya….

💦 Betapa banyak diantara kita yang memiliki masa lalu yang kelam…jauh dari sunnah…jauh dari hidayah…tenggelam dalam dunia yang menipu…terombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista…

❓ Bukankah banyak sahabat radhiallahu ‘anhum yang dahulunya pelaku kemaksiatan…, peminum khomr…, bahkan pelaku kesyirikan…?

💫 Akan tetapi tatkala cahaya hidayah menyapa hati mereka, jadilah mereka generasi terbaik yang pernah ada di atas muka bumi ini.

⚠ Bisa jadi anda salah satu dari mereka para akhwat yang memiliki masa lalu yang kelam…yang mungkin saja kebanyakan orang tidak mengetahui masa lalu kelam anda.

❗ Sebagaimana anda tidak ingin orang lain menilai anda dengan melihat masa lalu kelam anda…maka janganlah anda menilai orang lain dengan melihat masa lalunya yang buruk…..

📌 Yang menjadi patokan adalah kesudahan seseorang… kondisinya tatkala akan meninggal, bukan masa lalunya.

💫 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Amalan-amalan itu tergantung akhirnya”

Oleh Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

11/13/2017

Allah Mencintai Kelembutan

Dari 'Aisyah rodhiyallahu 'anha, dia berkata, "Ada sekelompok orang Yahudi yang minta izin menemui Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam, lalu mereka mengucapkan, "Assaamu 'alaikum" (Semoga kematian menimpamu). 'Aisyah berkata, "Bal 'alaikumussaam wal la'nah" (Bahkan kalianlah yang semoga mendapat kematian dan laknat). Maka Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam berkata:

مهلا ياعائشة ، فإن الله يحب الرفق في الأمر كله

"Tenanglah wahai 'Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam semua perkara." Aku berkata, "Wahai Rosulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan? Berkata Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam:

فقد قلت: وعليكم

"Aku sudah membalasnya dengan ucapan, "Wa 'alaikum" (Juga atas kalian)." (HR. Muslim 2165)

Faidah yang dapat diambil dari hadits ini:

1. Perkataan Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, "Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam semua perkara", menunjukkan keagungan akhlaq beliau shollallahu 'alaihi wasallam dan kesempurnaan perangai beliau yang mampu menahan marah.

2. Anjuran berlaku lembut, sabar, menahan marah dan santun terhadap orang lain selama tidak ada alasan untuk bersikap keras.

3. Celaan 'Aisyah terhadap orang-orang Yahudi menunjukkan bolehnya membela diri dari kejahatan orang yang zalim.

4. Membela orang yang baik dari siapa saja yang menyakitinya.

5. Dianjurkan tidak meladeni kebodohan orang selama tidak menimbulkan bahaya dan kerusakan. Al-Imam Asy-Syafii berkata, "Orang yang cerdas lagi berakal adalah yang tidak menghiraukan perbuatan bodoh orang lain." (Syarh Shohih Muslim 14/209-210)

Betapa indahnya kelembutan. Bila sifat lembut dan menahan amarah ada pada diri seseorang, maka hal itu akan menghiasi dirinya di pandangan manusia dan juga di pandangan Allah.

Fikri Abul Hasan

Channel Telegram
https://t.me/manhajulhaq

11/05/2017

Saya Lebih Baik Daripada Dia?

"Ana Khoirun Minhu" (Saya Lebih Baik Daripada Dia)?

Merasa benar tidak melazimkan seseorang merasa lebih baik, lebih suci, paling bertaqwa, pemegang kunci surga. Merasa benar dan merasa lebih baik adalah dua hal yang berbeda. Walhasil jika Anda dikritik lantaran terbukti menyelisihi kebenaran, maka janganlah Anda picik menyebut orang yang mengkritik dengan tudingan merasa lebih baik, "ana khoirun minhu" (saya lebih baik daripada dia), seperti yang dinyatakan Iblis terhadap Adam.

Camkan nasehat pendahulu umat ini, imamnya ahli hadits, Al-Imam Auza'i (157 H) rohmatullah 'alaih:

عليك بالأثر وإن رفضك الناس وإياك وأراء الرجال وإن زخرفوه بالقول فإن الأمر ينجلي وأنت فيه على طريق مستقيم

“Wajib atas engkau berpegang dengan atsar (cara beragama Nabi shollallahu 'alaihi wasallam dan para Shohabat) sekalipun orang-orang menolakmu. Hati-hatilah engkau dari logika dalam beragama meskipun mereka menghiasinya dengan berbagai omongan. Karena perkara agama ini telah sangat jelas dengan atsar dan jika engkau beragama atas dasar atsar itu, maka engkau telah berjalan di atas jalan yang lurus.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah - Al-Imam Ibnu Muflih 2/70)

9/24/2017

Lisan adalah cermin agama seseorang

Al-Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busti berkata, “Lisannya orang yang berakal ada di belakang hatinya, setiap kali ingin mengatakan sesuatu, dia rujukkan kepada hatinya, jika pantas maka ia utarakan, jika tidak maka ia diam. Sedangkan hatinya orang yang jahil (bodoh) berada di ujung lisannya, apa saja yang sampai kepada lisannya maka langsung ia utarakan. Sungguh tidaklah paham agama orang yang tidak menjaga lisannya. (Roudhotul 'Uqola' wa Nuz-hatul Fudhola' hal. 49)

9/23/2017

JIKA INGIN HATIMU LEMBUT

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu :
"Bahwasanya ada seseorang pernah mengadukan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang kerasnya hatinya. Maka Beliau bersabda :

إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِيْنَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمِ اْلمـِسْكِيْنَ وَ امْسَحْ رَأْسَ اْليَتِيْمِ

“Jika kamu ingin melembutkan hatimu maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim." (HR Ahmad II : 263)

Dalam riwayat lain Beliau Shalallahu alaihi wasallam juga bersabda :

أَدْنِ اْليَتِيْمَ وَ امْسَحْ رَأْسَهُ وَ أَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنْ  قَلْبُكَ وَ تُقْدَرْ عَلَى حَاجَتِكَ

“Mendekatlah kepada anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu niscaya hatimu akan lembut dan terpenuhi segala kebutuhanmu." (HR. Ibnu Asakir)

Bagi seorang muslim yang menanggung dan menjamin kehidupan anak yatim dengan memberi makan, pakaian, pendidikan dan selainnya maka kelak ia berada di dalam surga dan tinggal berdampingan dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalamnya..

كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ

“Pemelihara anak yatim, baik dari kerabatnya atau orang lain, aku dan dia (kedudukannya) seperti dua jari ini di surga nanti.” (HR Muslim 2983)

أنا وَ كَافِلُ اليَتِيْمِ في الجَنَّةِ هكَذَا

“Aku dan pemelihara anak yatim di surga nanti, kedudukannya seperti (dua jari) ini”. Dan Beliau memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan memisahkan keduanya." (HR. Bukhori 5304)

Jadi saudaraku, Salah satu kutamaan yang sangat besar jika kita terus berusaha hingga akhir hayat sehingga kita termasuk orang-orang yang senantiasa membantu anak yatim dan fakir miskin..

مَنْ خُتِمَ لَهُ بِإِطْعَامِ مِسْكِيْنٍ مُحْتَسِبًا عَلَى اللهِ عز و جل دَخَلَ اْلجَنَّةَ

“Barangsiapa yang diakhir (hidupnya) dengan memberi makan kepada orang miskin dalam rangka mencari keridhoan Allah Azza wa Jalla maka ia akan masuk surga." (HR. Ahmad V/ 391)

Semoga kita termasuk orang-orang yang Allah mudahkan memiliki kelembutan hati, baik dalam memberi, maupun mensikapi..

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

"Sesungguhnya Allah Maha lemah lembut yang sangat cinta kelembutan dan memberi kepada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada sifat kasar." (HR. Bukhori dan Muslim)

عَلَيْكُمْ بِالرِّفْقِ إنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِي شَيْءٍ إلاَّ زَانَهُ وَلَا يَنْزِعُ عَنْ شَيْءٍ إلاَّ شَانَهُ

"Bersikaplah lemah lembut, sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan membuatnya indah dan tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu kecuali membuatnya rusak." (HR. Muslim 2594)

مَنْ يُحْرَمْ الرِّفْقَ يُحْرَمْ الْخَيْرَ كُلَّهُ

"Barangsiapa yang tidak diberi sifat kelembutan maka ia tidak memiliki kebaikan sama sekali." (HR. Muslim 2592)

___________________________

Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن سيتب)

8/16/2017

Akhlaq Antara Tabiat & Usaha

Nabi shollallahu 'alaihi wasallam berkata kepada salah seorang shohabatnya Asaj Abd Al-Qois:

إن فيك خصلتين يحبهما الله : الحلم و الأناة ، قال : يا رسول الله ، أهما خلقان تخلقت بهما أم جبلني الله عليهما ؟ قال : بل الله جبلك عليهما فقال : الحمد لله الذي جبلني على خلقين يحبهما الله ورسوله 

"Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah, yaitu al-hilm (menahan diri ketika marah) dan al-anah (tidak tergesa-gesa). Dia berkata, "Wahai Rosulullah, apakah dua perangai itu aku yang mengusahakannya ataukah Allah yang telah menjadikannya sebagai tabiat bagiku?" Beliau bersabda, "Allah yang menjadikannya sebagai tabiat bagimu." Dia berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan dua akhlaq yang dicintai Allah dan Rosul-Nya." (HR. Abu Dawud 5220 dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Syaikh Al-'Allamah Al-'Utsaimin berkata:

فهذا دليل على أن الأخلاق الحميدة الفاضلة تكون طبعا وتكون تطبُّعًا ، ولكن – بلا شك- الطبع أحسن من التطبع ، لأن الخلق الحسن إذا كان طبيعيا صار سجية للإنسان وطبيعة له ، لا يحتاج في ممارسته إلى تكلف، ولا يحتاج في استدعائه إلى عناء ومشقة ، ولكن هذا فضل الله يؤتيه من يشاء ، ومن حرم هذا – أي من حرم الخلق عن سبيل الطبع- فإنه يمكنه أن يناله عن السبيل التطبع 

"Ini adalah dalil bahwa akhlaq yang terpuji itu ada yang terlahir dari tabiat, ada yang karena usaha untuk memperolehnya. Akan tetapi, tidak diragukan lagi, bahwa akhlaq terpuji yang lahir dari tabiat tentu lebih baik dari akhlaq terpuji yang dicapai melalui usaha. Karena jika akhlaq itu lahir dari tabiat, maka ia telah menjadi watak dan karakter bagi dirinya, dia tidak butuh usaha untuk membiasakan diri dan melatihnya. Akan tetapi yang demikian itu adalah karunia yang Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang tidak diberi tabiat yang baik akhlaqnya, maka dia dapat memperolehnya melalui jalan usaha untuk membiasakan diri berakhlaq mulia." (Makarimul Akhlaq hal. 13)

Maka akhlaq yang baik adalah perangai yang dicintai oleh Allah dan Rosul-Nya. Karena itu Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam diutus di tengah-tengah manusia juga dalam misi menyempurnakan akhlaq yang mulia.

Lalu apa perbedaan akhlaq dan adab?

Akhlaq adalah watak seseorang, ada yang baik, ada yang tercela. Akhlaq ada yang bawaan atau tabiat, dan ada yang bentukan atau diusahakan untuk memperolehnya. Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas.

Sedangkan adab adalah perkataan dan perbuatan yang diajarkan oleh syariat, seperti adab terhadap Allah, Rosul-Nya shollallahu 'alaihi wasallam, adab bertanya, adab menjawab, adab penuntut ilmu, adab bermajelis, adab terhadap guru dan adab-adab yang lain.

Akhlaq dan adab memiliki hubungan yang erat, dan baiknya akhlaq menunjukkan kesempurnaan iman (aqidah) seseorang sebagaimana sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya." (HR. At-Tirmidzi 1162)

Fikri Abul Hasan

Telegram Channel
manhajulhaq

5/04/2017

Adab Mendengar Ilmu

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

1. Diam, fokus, dan hilangkan pemikiran lain. Dengarkan dengan seksama!

2. Ingat az-Zumar 17-18, “Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya[1310] dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya[1311]. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”

3. Para sahabat Nabi, saat mendatangi majelis rasulullah, mereka duduk seakan-akan di kepala mereka bertengger seekor burung. Tidak ada gerak dan perkataan, saking khusyu’ nya.

4. Yang harus dimiliki penuntut ilmu : niat ikhlas; diam & mendengarkan dengan seksama; memahaminya; mengamalkan; mendakwahkannya.

5. Dalam Surat Al Hujurat : 2, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu[1408], sedangkan kamu tidak menyadari.”

6. Maka, saat hadits dibacakan, hukumnya sama saja dengan saat mendengar Nabi bersabda. Jika kita berbicara sendiri, sama artinya dengan meninggikan suara melebihi suara Nabi. Apalagi, jika yang dibacakan adalah Al Qur’an.

7. Di majelis Abdurrahman bin Mahdi,seorang ulama. Suasanya seakan seperti sedang shalat, hening. Tidak ada yang berbicara. Bahkan tidak ada yang berani sekedar meraut pensil, khawatir akan muncul suara yang mengganggu.

8. Suatu ketika, di majelis tersebut, ada seseorang penuntut ilmu yang tiba-tiba tertawa cekikik entah karena alasan apa. Lalu, sang ulama bertanya, “Siapa yang tertawa?”, ditunjuklah orang tersebut. Lalu apa yang dikatakan sang alim, “Anda belajar ilmu hadits, dan anda tertawa. Maka pengajian ini saya liburkan satu bulan!”. Dalam riwayat lain, beliau langsung menutup majelis, dan mengambil alas kaki untuk pergi dari majelis tersebut.

9. Khusus hal di atas, ini terjadi karena sang penuntut ilmu sudah terkondisikan sebagai orang-orang yang sangat haus akan ilmu. Maka, hukuman yang diberikan al ustadz memang dapat memberikan pelajaran berharga untuk tidak main-main di majelis ilmu. Bagaimana dengan perlakuan jaman sekarang?

10. Sang ulama tersebut memberi hukuman, bukanlah karena merasa hak-nya sebagai pembicara tidak dipenuhi, melainkan karena Allah. Marahnya karena Allah dan rasulNya. Ya, marahnya adalah karena sabda Nabi tidak didengarkan dengan seksama.  Sang ulama cemburu karena Allah tidak diperhatikan oleh para penuntut ilmu.

11. Mengeraskan volume suara di hadapan hadits dibacakan adalah sama saja mengeraskan suara di hadapat rasulullah. Bukankah itu dilarang? Rasul saja tidak dihargai, apalagi ustadznya.

12. Diam atau mendengarnya kita dengan seksama adalah menunjukkan pengagungan dan penghormatan kita pada Allah dan rasulnya.

13. Jenuh, biasa. Tapi, bagaimana kita jangan sampai terpancing untuk berbicara sendiri atau melakukan hal-hal yang tidak penting. Ibarat kita sedang berada duduk di kursi VIP di hadapan presiden dan jajarannya. Lalu sang presiden menyampaikan pidato kenegaraan. Apakah kita berani untuk sekedar memutar badan karena pegal, apalagi berbincang sendiri, atau sms-an/BBM-an?

14. Teringat kisah Imam Malik yang menahan rasa sakit di kakinya, ketika suatu majelis masih berlangsung. Dan nyatanya, rasa sakit itu adalah karena gigitan berkali-kali dari seekor kalajengkin yang masuk ke dalam sepatu boatnya.

15. Saat ditanya oleh seorang murid, “Apa yang mencegah Al Imam untuk berteriak atau menyampaikan permasalahan itu saat gigitan kalajengking yang pertama?”

16. Apa kata sang Imam, “Aku malu dengan Rasul. Aku sungkan ketika hadits Nabi dibacakan, tetapi justru aku potong karena rasa sakit yang aku rasakan!”. Itu sama saja memotong pembicaraan nabi yang sedang berbicara di hadapan kita. Memotong pembicaraan atasan saja kita tidak berani. Apalagi rasul?

17. Ingat, perintah Allah yang kita hadapi sekarang bukanlah perintah menumpahkan darah di medan perang, atau hal yang lain, melainkan hanya perintah untuk diam di dalam majelis ilmu.

18. Di antara alasan kita diam tersebut adalah agar tidak mendzalimi orang lain, yaitu dengan mengajak berbincang sehingga ia terganggu tidak mendengarkan, atau dengan merusak konsentrasinya. Yang lebih parah jika ada penjelasan yang terpotong karena konsentrasinya teralihkan pada kita. Padahal, mendzalimi orang yang beraktivitas mubah saja tidak diperbolehkan. Apalagi mengganggu orang yang nyata-nyata sedang beribadah (yaitu mencari ilmu)

19. Terakhir, kita diperintahkan untuk menjaga anak-anak kita supaya tidak mengganggu saat kajian berlangsung. Membawa anak ke majelis ilmu sangat dianjurkan, tapi kewajiban kita pula adalah menjaganya agar tidak mendzalimi yang lain.

# Catatan dari mendengar kajian radio sunnah.

3/20/2017

SEMANIS MADU

Syaikh Al-Albani -rahimahullah- seringkali mendoakan orang yg telah berbuat baik kepada beliau dengan ucapan:
ﻋﺴّﻠﻚ ﺍﻟﻠﻪ
"Assalakallah" (Semoga Allah menjadikanmu semanis madu)".
.
Beliau mengambil doa ini dari hadits Nabi -shallallãhu 'alaihi wa sallam- yg berbunyi:

" ﺇﺫﺍ ﺃﺣﺐَّ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﺒﺪﺍً ﻋﺴّﻠَﻪ ! "
ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻣﺎ ﻋﺴّﻠَﻪ ؟ . ﻗﺎﻝ : " ﻳﻔﺘﺢ ﺍﻟﻠّﻪ - ﻋﺰ ﻭﺟﻞ - ﻟﻪ ﻋﻤﻼً ﺻﺎﻟﺤﺎً ﻗﺒﻞ ﻣﻮﺗﻪ ﺛﻢّ ﻳﻘﺒﻀﻪ ﻋﻠﻴﻪ ." [ ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ‏( ١٧٨١٩ ‏) ] .

"Apabila Allah mencintai seorang hamba-Nya, maka Dia menjadikannya semanis madu."
Para sahabat pun bertanya, "(Ya Rasulullah) Apa maksud: Dia menjadikannya semanis madu?"
Beliau bersabda, “Allah bukakan baginya (pintu taufiq) untuk beramal soleh sebelum ia meninggal, kemudian Allah cabut nyawanya (dalam keadaan husnul khatimah).” [HR. Ahmad No. 17819]
.
Ketika membawakan hadis ini, Syaikh Al-Albani menjelaskan,
ﻭﺃﻣﺎﺭﺓ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﻌﺴﻴﻞ ، ﺑﺄﻥ ﻳﺮﺿﻰ ﻋﻨﻪ ﻣﻦ ﺣﻮﻟﻪ ﻟﻤﺎ ﺛﺒﺖ ﻓﻲ ﺯﻳﺎﺩﺓٍ ﻣﺮﻓﻮﻋﺔٍ ﻟﻠﻨّﺒﻲّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
“Di antara tanda Allah menjadikannya semanis madu adalah: Allah jadikan orang yang berada di sekitarnya menjadi ridha kepadanya. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“. [Silsilah as-Shahĩhah, keterangan Hadis No. 1114].
.
Adapun menurut Imam Al-Munawi rahmatullah 'alaihi,
ﻋﺴﻠﻪ ؛ ﺃﻱ ﻃﻴﺐ ﺛﻨﺎﺀﻩ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ
Menjadikannya semanis madu, maksudnya: "Allah jadikan ia terpuji/terhormat di tengah masyarakat." [At-Taisĩr bi Syarh Jãmi’ ash-Shaghĩr, 1/126].

12/25/2016

Peran Akhlaq Mulia

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

((أنا زعيم ببيت في ربض الجنة لمن ترك المراء وإن كان محقًّا، وببيت في وسط الجنة لمن ترك الكذب وإن كان مازحًا، وببيت في أعلى الجنة لمن حسن خلقه))

"Aku menjamin sebuah rumah di pinggir Surga bagi seorang yang meninggalkan perdebatan dalam agama walaupun dia yang benar, dan aku menjamin sebuah rumah di tengah Surga bagi seorang yang meninggal dusta walaupun ia sedang bercanda, dan aku menjamin sebuah rumah di tempat tertinggi di Surga bagi seorang yang baik akhlaqnya."

(HR. Abu Daud, no. 4800, ath-Thabraniy dalam al-Kabïr: 8/98, al-Baihaqiy dalam as-Sunan al-Kubra: 10/420, dishahihkan oleh al-Albaniy dalam Shahih at-Targhib, no. 2648)

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu- (beliau) berkata,

((سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أكثر ما يدخل الناس الجنة فقال: تقوى الله وحسن الخلق، وسئل عن أكثر ما يدخل الناس النار فقال: الفم والفرج))

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Surga, beliau menjawab,
'Ketakwaan kepada Allah dan ahklaq yang baik', dan beliau ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Neraka, beliau menjawab, 'mulut dan kemaluan'."

(HR. Tirmidziy, no. 2004, Ahmad: 2/442, Ibnu Hibban: 2/224, dihasankan oleh al-Albaniy dalam kitab Shahih at-Targhib, no. 2642)

Selain merupakan sebab masuk Surga, akhlak mulia memiliki peran yang sangat penting dalam berdakwah di jalan Allah. Jika ada seorang yang menyangka bahwasanya manusia masuk ke dalam Islam hanya karena agama Islam itu rasional dan mudah dicerna oleh akal, maka tidak ragukan jika orang tersebut telah keliru.

Banyak manusia yang masuk ke dalam Islam karena melihat akhlak pemeluk agama ini, demikian pula karena para dai yang mengajak manusia untuk taat kepada Allah memiliki akhlak yang mulia, dan bukti tentang perkara ini sangat banyak. Oleh karenanya, konsisten di atas akhlak yang mulia memiliki efek dan manfaat yang sangat besar, dan cukuplah sejarah kenabian menjadi bukti konkrit akan hal ini, berupa akhlak Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam yang sangat dikagumi oleh kaum musyrikin sebelum diutusnya beliau menjadi seorang nabi, sehingga mereka mempersaksikan beliau adalah seorang yang jujur dan menjaga amanah.

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu 'anhu-, beliau berkata, "tatkala ayat ini turun;

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ

"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabat dekatmu." (Asy-Syu'ara: 214)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Apa pendapat kalian jika aku kabarkan kepada kalian bahwasanya seekor kuda akan keluar dari dasar gunung ini, apakah kalian akan membenarkanku?' mereka menjawab, 'kami tidak pernah mendapatimu berdusta', beliau lalu berkata: 'Sesungguhnya aku memberikan peringatan untuk kalian tentang adzab yang sangat (pedih)'."

(HR. Al-Bukhariy, no. 4971, Muslim, no. 208)

Dari keterangan di atas, selain ilmu dan semangat dalam menyampaikan kebenaran, akhlak yang mulia juga harus menyertai keduanya. Tidak sedikit manusia yang lari dari sebuah kebenaran yang disampaikan, hanya karena akhlak buruk orang yang menyampaikan kebenaran tersebut. Dan sebaliknya, betapa banyak manusia yang menerima dan mengikuti kebathilan dan kesesatan, hanya karena penyeru kebathilan dan kesesatan memiliki tutur kata yang baik dan akhlak yang terpuji.

Semoga Allah Ta'aala menganugerahkan kepada kita semua akhlak yang baik lagi terpuji, āmīn.

Dari: Muhammad Tamrin Abu Zakariyya at-Tawawiy. Bojong Kulur, Gunung Putri, Bogor.

5/23/2016

Selalu mencari kebenaran, diantara sumber / pendapat yang paling benar, tanpa merasa diri yang paling benar

"Selalu mencari kebenaran, diantara sumber (dalil) / pendapat yang paling benar (rajih), tanpa merasa diri yang paling benar."

5/11/2016

Berbaik-Sangkalah Kepada Saudaramu

Ketika dia mengingatkanmu agar jangan melakukan ritual yang tidak dituntunkan oleh nabi tercinta shallalahu ‘alaihi wasallam, itu bukan karena dia melarangmu beribadah. Tapi agar anda selamat dari kerugian, akibat ibadah yang tidak berpahala, karena nabi shallalahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Barangsiapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan kami, maka amalan itu ditolak (percuma, tanpa pahala).” [HR. Muslim]

Ketika ada orang lain mengingatkan anda agar jangan membeli emas, karena itu sebenarnya emas palsu, pantaskah anda membencinya ?

Seharusnya anda sangat berterima kasih kepadanya, dan berusaha mencari dan membeli emas yang asli. Begitu pula dalam masalah ibadah, harusnya anda berterimakasih lalu mencari dan melakukan ibadah yang benar-benar ada tuntunannya dari nabi shallalahu ‘alaihi wasallam.

Jika kita harus berhati-hati dalam masalah dunia, tentunya kita harus lebih berhati-hati lagi dalam masalah akhirat.

Semoga bermanfaat.

��Sumber:  http://bbg-alilmu.com/archives/17642.                                                   
✒Ditulis oleh Ust. Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى
                                                    
***

4/05/2016

Lebih baik mana?

"Wahai Syaikh..!"ujar seorang pemuda,

"Manakah yang lebih baik, seorang muslim yang banyak ibadahnya tetapi akhlaqnya buruk ataukah seorang yang tak beribadah tapi amat baik perangainya pada sesama."

"Subhaanallah, keduanya baik", ujar sang Syaikh sambil tersenyum.

"Mengapa bisa begitu?"

"Karena orang yang tekun beribadah itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk berakhlaq mulia bersebab ibadahnya. Dan karena orang yang baik perilakunya itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk semakin taat kepadaNya."

"Jadi siapa yang lebih buruk?", desak si pemuda.

Airmata mengalir di pipi sang Syaikh. "(Yang buruk itu) Kita wahai Anakku", ujar beliau. "Kitalah yang layak disebut buruk sebab kita gemar sekali menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri."

Beliau terisak-isak. "Padahal kita akan dihadapkan pada Allah dan ditanyai tentang diri kita, bukan tentang orang lain.

Dari : Abu Muhammad Asep

3/20/2016

Sebaik-Baik Manusia Adalah...

SIAPA SAJAKAH YANG TERMASUK GOLONGAN DARI SEBAIK-BAIK MANUSIA YANG DIKABARKAN OLEH NABI  صلى الله عليه وسلم ?

1. Pertama, TIDAK INGKAR MELUNASI HUTANG

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عن رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أنه فَقَالَ « خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً » متفق عليه
Artinya: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.”
(Muttafaqun ‘Alaihi)

2. Kedua, MEMPELAJARI AL-QUR'AN DAN MENGAJARKANNYA

عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري
Artinya: “Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.”
(HR. Al-Bukhari)

3. Ketiga, YANG PALING DIHARAPKAN KEBAIKANNYA DAN PALING JAUH KEBURUKANNYA

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَفَ عَلَى أُنَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ ». قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ « خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ …» رواه الترمذى
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di hadapan beberapa orang, lalu bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan sebaik-baik dan seburuk-buruk orang dari kalian?” Mereka terdiam, dan Nabi bertanya seperti itu tiga kali, lalu ada seorang yang berkata: “Iya, kami mau wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami sebaik-baik dan buruk-buruk kami,” beliau bersabda: “Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan sedangkan keburukannya terjaga…”
(HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’;no. 2603)

4. Keempat, MENJADI SUAMI YANG PALING BAIK TERHADAP KELUARGANYA

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam berasabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”
(HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah; no. 285)

5. Kelima, YANG PALING BAIK AKHLAQNYA DAN MENUNTUT ILMU

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «خَيْرُكُمْ إِسْلاَماً أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً إِذَا فَقِهُوا» رواه أحمد
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian islamnya adalah yang paling baik akhlaq jika mereka menuntut ilmu.”
(HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’; no. 3312)

6. Keenam, YANG MEMBERIKAN MAKANAN

عَنْ حَمْزَةَ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنه قَالَ: فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ» رواه أحمد
Artinya: “Hamzah bin Shuhaib meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.”
(HR. Ahmad dan dihasankan oleh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’; no. 3318)

7. Ketujuh, YANG PANJANG UMUR DAN BAIK PERBUATANNYA

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رضي الله عنه أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ» رواه الترمذى
Artinya: “Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” beliau menjawab: “Siapa yang paling panjang umurnya dan baik amalannya.”
(HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib; no. 3363)

8. Kedelapan, YANG PALING BERMANFAAT BAGI MANUSIA

عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Jabir radhiyallau ‘anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’; no. 3289)

* Forward dari Abu Abdillah Ahmad Zainudin, Islamic Cultural Center 1430 H, Dammam KSA

1/12/2016

APAKAH ANDA ORANG BAIK ?

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و بعد

Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Apakah Anda orang baik?

Dan apakah kita ingin menjadi orang yang baik?

Ini adalah sebuah harapan semua orang, terlepas seperti apa pengalamannya, latar belakangnya & kehidupannya.

Semua orang ingin mendapatkan titel & predikat baik.

Oleh karena itu, jangan meng-klaim diri kita baik sebelum kita mendengar sebuah hadits Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam At Tirmidzi, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan salah satu tolok ukur orang agar dikatakan sebagai orang yang baik.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan dalam sabda singkatnya:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dengan istri dan keluarga dan aku adalah orang yang paling baik dengan istriku.” 

Saudaraku yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Hadits ini menarik dan hadits ini menjadi bahan evaluasi kita.

Sudahkah kita menjadi orang yang baik?

Bukan klaim yang kita ucapkan dengan lisan kita, namun ini adalah titel yang diberikan oleh Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Apa standar Beliau?

Diantara standar Beliau adalah apa yang disebutkan di dalam hadits di atas.

Sebuah hadits yang terkesan sederhana namun tidak.

Hadits ini sarat akan makna, karena ini salah satu tolok ukur kebaikan seseorang.

Mengapa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menjadikan sikap seorang suami terhadap istri sebagai tolok ukur kebaikan?

Mengapa "istri" yang diangkat dalam hadits ini?

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak mengatakan:

"Yang paling baik dengan atasannya."

"Yang paling baik dengan bosnya."

"Yang paling baik dengan ustadznya."

"Yang paling baik dengan mertuanya."

(Akan tetapi) Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan, "Yang paling baik dengan istrinya."

Ini sebuah tanda tanya besar yang harus kita jawab, yang harus dijawab oleh orang yang ingin mendapatkan gelar "BAIK" oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan pertanyaan di atas telah dijawab oleh para ulama kita, diantaranya Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhāni.

Beliau menjelaskan (dalam kitab Al Mau’izhah Al Hasanah fi Al Akhlāq Al Hasanah hal. 77-79):

Ada dua rahasia mengapa sikap terhadap istri yang dijadikan tolok ukur:

■ Pertama | Karena istri adalah sosok yang tinggal bersama kita dalam satu atap.

Bahkan bukan dalam satu atap, (tetapi) dalam satu kamar.

Bahkan bukan hanya dalam satu kamar, (tetapi) satu tempat tidur/ranjang.

Dan kita tidak mungkin bersandiwara dengan orang yang hidup dan tinggal bersama kita dengan cara seperti itu.

Seseorang bisa bersandiwara di hadapan orang luar rumahnya, tapi tidak dengan orang rumahnya.

Di hadapan orang-orang rumah dia akan memperlihatkan dirinya sebenarnya.

Dia akan menampakkan kelebihan atau kekurangannya.

Semuanya akan dia perlihatkan di hadapan istrinya tersebut.

Karena kehidupan di dalam rumah bukan panggung sandiwara dan bukan lokasi shooting.

Aktor sehebat apapun itu, tidak bisa memperlihatkan akting sebagai orang baik di dalam rumahnya sendiri.

Di dalam rumahlah kita akan memperlihatkan seluruh sisi di dalam diri kita.

✓Ketika seseorang itu emosional, (maka) dia akan emosi di dalam rumahnya.

✓Ketika seseorang itu kasar, (maka) dia akan bentak dan dia akan maki istrinya.

✓Ketika seseorang itu ringan tangan, (maka) dia akan melakukan KDRT kepada pasangannya.

Seseorang tidak bisa berakting di hadapan istri yang senantiasa menemaninya, yang tinggal satu atap dengannya dan tinggal satu kamar dengannya.

Seluruh rahasianya akan dilihat oleh mata kepala istrinya, bahkan mendengkur kitapun istri kita tahu.

Dan pakaian apapun kita perlihatkan di dalam rumah di hadapan istri kita.

Seseorang mungkin tidak akan berani memakai kaos kutang di hadapan bosnya, tetapi memakai kaos kutang dihadapan istri? 

Saya rasa hampir semua suami melakukannya.

Kalau pakaian saja demikian, begitu juga dengan sikap, karakter dan emosi.

Seseorang tidak bisa bersandiwara dan menutupi kelemahan menutupi keburukannya di hadapan istrinya.

Maka apabila dia baik dengan istri maka in syā Allāh dia orang baik

■ Kedua | Karena secara umum istri itu lebih lemah dari pada suami; secara fisik, secara kedudukan.

Allāh berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ 

"Laki-laki itu pemimpin bagi para wanita/istri."

(QS An Nisā: 34)

Pembagian tugas yang sangat sempurna dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla, bukan merendahkan salah satu pihak.

Para istri secara umum lebih lemah dari suami.

Dan kita tidak bisa jaga image (bersandiwara) dengan orang yang lebih lemah dari pada kita.

Kita mungkin bisa menebar senyum atau tebar pesona di hadapan manajer kita atau komisaris kita, tapi kita akan tampil apa adanya di hadapan bawahan kita.

Oleh karena itu sebagian orang mengatakan:

"Jika kita menilai apakah orang tersebut baik atau tidak, lihat bagaimana ia berinteraksi dengan bawahannya."

⇒ Bagaimana dia menyikapi pembantunya.
⇒ Bagaimana berbicara dengan supirnya; kasar atau tidak, suka bentak atau tidak.

Karena seseorang akan menampilkan gaya bahasa apa adanya di hadapan orang-orang yang berada di bawahnya.

Ini yg perlu kita camkan.

Dan ini yang menjadikan Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam menjadikan sikap seorang suami terhadap istrinya sebagai salah satu tolok ukur kebaikan.

Para suami, marilah kita menjaga sikap kepada istri kita, takutlah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا 

"Nasehati dan bersikaplah baik terhadap istri-istri kalian."

(HR Al Bukhari III/1212 no 3153 dan V/1987 no 4890 dari hadits Abū Hurairah)

Mungkin kita bisa mengasari mereka di dunia yang fana ini, tapi ingat adzab Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan ingat sehebat apapun qiyamulail dan puasa Nabi Daud kita, sebanyak apapun dzikir kita, kalau standar yang satu ini tidak kita penuhi maka kita belum bisa dikatakan orang baik.

Dua alasan itu membuka mata kita dan inilah yang dimiliki oleh Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Oleh karena itu 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā pernah ditanya dalam hadits yg diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dalam Ādabul Mufrād (tentang) bagaimana akhlaq Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam, beliau mengatakan :

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlaq Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah Al Qurān."

Mungkin hadits ini sederhana dan pernah kita mendengar, namun tidak demikian bagi orang yang memahami.

Ini adalah pujian dari seorang istri, seorang istri memuji suaminya.

"Akhlaq suamiku (Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam) adalah Al Qurān."

⇒ Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah Al Qurān berjalan.

Sudahkah istri kita memberikan komentar positif tentang kita?

Sudahkah istri kita memuji kita di hadapan teman-temannya?

Sudahkah istri kita memuji kita di hadapan ibunya atau sahabat teman curhatnya?

Kalau istri kita sudah memuji kebaikan kita, kedermawanan kita, kelembutan kita, maka in syā Allāh kita orang yang baik.

Lalu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah dipuji pembantunya Anas bin Mālik, beliau mengatakan:

"Aku pernah melayani Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam selama 10 tahun dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah mengatakan 'ah' sama sekali.

Dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah mengatakan, 'Kenapa engkau melakukan ini? Harusnya itu begini'. "

(HR Muslim)

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah mengucapkan kata-kata itu di hadapan pembantunya yang melayani dia selama 10 tahun.

Coba kita tinjau diri kita, apakah kita sudah bisa melakukan demikian?

Kita punya pembantu 10 tahun lalu kita tidak pernah mengatakan "ah", kita tidak pernah mengkomplain, kita tidak pernah menghardik dan mencaci?

Kalau dia salah, (maka) kita luruskan dengan baik.

Inilah alasannya.

Maka sekali lagi,

⑴ Istri kita lebih lemah dari kita.
⑵ Istri kita hidup bersama satu atap dengan kita.

Sehingga kita tidak bisa bersandiwara, maka:

✓Jagalah sikap kita dengannya.

✓Perbaiki tutur kata di hadapannya.

✓Dengarkan curahan-curahan hatinya.

✓Jadi teman yang baik dengan istri kita, bukan hanya sekedar memuaskan nafsu syahwat kita.

✓Santunlah di hadapannya.

Karena dia adalah ibu dari anak-anak kita dan teman hidup kita.

Dan utama nya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dengan istri dan aku adalah orang yang paling baik (di hadapan) istriku."

Ini saja yang bisa disampaikan

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
______________________________

Materi Tematik
Ustadz Nuzul Zikri, Lc
Ceramah Singkat | Apakah Anda Orang Baik ?
⬇️ Download Audio:
https://drive.google.com/file/d/0B1e0BM9z9hzYcDdpT1FJc1FCUDg/view?usp=docslist_api

Sumber:
http://yufid.tv/ceramah-singkat-apakah-anda-orang-baik-ustadz-muhammad-nuzul-zikri-lc/

12/11/2015

Hakikat Baik dan Buruk (II)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

عَنِ النَّوَّاسِ ابْنِ سَمْعَانَ رضي اللّه عنه قَالَ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللّهِ صلّى اللّه عليه وسلّم عَنِ الْبِرِّ وَ اْلأِثْمِ فَقَالَ اَلْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَ اْلأِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ (أخرجه مسلم)

Dari shahābat Nawās bin Sam'ān radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu, dia berkata: Aku bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang kebajikan dan tentang dosa. Kebajikan adalah akhlaq yang mulia. Dan dosa adalah apa yang membuat hatimu gelisah dan engkau tidak suka kalau orang-orang melihat apa yang engkau lakukan tersebut. (HR. Imam Muslim dalam Shahīhnya).

Telah kita bahas pada pertemuan sebelumnya tentang makna al-birru husnul khulūq (kebajikan adalah akhlaq yang mulia).

Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas potongan hadits yang ke-2 yaitu tentang dosa.

وَاْلأِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Dosa adalah apa yang menggelisahkan engkau dihatimu. Dan engkau tidak suka jika orang-orang melihat kau melakukannya.

Hadits ini menjelaskan tentang barometer untuk mengenal dosa. Tentunya, dosa-dosa adalah melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Untuk mengenal dosa, kita bisa melihat dengan mempelajari Al-Qurān dan sunnah-sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam;

■ Apa yang dilarang oleh Allāh dalam Al-Qurān maka itu adalah dosa.
■ Apa yang dilarang oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadits-haditsnya maka itu adalah dosa.

Namun terkadang, ada perkara yang kita lakukan yang kita tidak sempat untuk melihat/mengecek dalilnya atau kita tidak tahu dalilnya. Tetapi tatkala kita hendak melakukannya muncul kegelisahan dalam dada kita dan muncul ketidaktenangan dalam hati kita tatkala kita hendak melakukannya, ingatlah ini merupakan ciri dosa.

Karena dalam hadits ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan barometer dan indikator untuk mengenal dosa, Beliau menyebutkan 2 ciri, yaitu :

⑴ Menjadikan dadamu gelisah
⑵ Engkau tidak suka untuk dilihat oleh orang lain

Kalau anda melakukan suatu perkara kemudian anda merasa tenang, hati tidak merasa gelisah dan kalau orang lain tahu pun tidak jadi mengapa, maka ini bukan dosa.

Tapi tatkala anda melakukan sesuatu, kemudian ternyata hati anda gelisah atau tidak tenang dan tidak ingin orang lain (tetangga/sahabat/istri atau ustadz kita) tahu, maka ini merupakan ciri dosa, maka berhati-hatilah. Dan sebaiknya kita meninggalkan perkara yang menimbulkan ketidaktenangan tersebut.

Namun ingat kata para ulama, hadits (sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam) ini berkaitan dengan orang yang hatinya masih sesuai dengan fitrah, bukan orang-orang yang melakukan kemaksiatan yang fitrahnya sudah rusak, yang membanggakan kemaksiatan-kemaksiatan yang mereka lakukan, tidak punya malu. Tentu hadits ini tidak berlaku bagi mereka, seperti:

• orang-orang yang memamerkan aurat mereka
• orang-orang yang minum khamr dihadapan banyak orang
• orang-orang yang bangga dengan kejahatan-kejahatan/maksiat-maksiat yang mereka lakukan
• orang-orang yang terkadang menshooting diri mereka tatkala mereka sedang bermaksiat, sedang berzina lalu mereka sebarkan di dunia-dunia maya.

Ini semua tidak berlaku bagi mereka disini karena fitrah mereka telah rusak.

Adapun hadits ini berlaku untuk orang yang masih punya rasa malu, yang fitrahnya masih baik. Maka untuk mengenal dosa atau tidak, maka dia memiliki 2 ciri/indikator:

⑴ Hatinya tidak tenang
⑵ Dia tidak suka kalau ada orang yang melihatnya

Oleh karenanya ikhwan akhwat sekalian yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Sebagian ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwasanya dosa itu pasti mendatangkan kegelisahan. Sebagaimana penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullāhu Ta'āla:

Barang siapa yang bermaksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla pasti dia gelisah, pasti dia tidak tenang. Sebagaimana kalau orang yang mengingat Allāh :

ِ ۗأَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ketahuilah dengan mengingat Allāh maka hati menjadi tenang. (Ar-Ra'du:28)

Maka kebalikannya, kalau lupa dan maksiat kepada Allāh, maka pasti mendatangkan kegelisahan & gundah gulana, hatinya tidak tenang & tidak tentram sampai dia bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjauhkan kita dari segala dosa. Dan semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tawwābīn, yaitu jika kita berdosa segera kita bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Demikianlah.

وبالله التوفيق والهداية

Sampai bertemu pada halaqoh berikutnya.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

__________________________

Ustadz Firanda Andirja, MA
Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
Hadits ke-3 | Hakekat Kebaikan dan Dosa Bagian 2

Hakikat Baik dan Buruk (I)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

وَ عَنِ النَّوَّاسِ ابْنِ سَمْعَانَ رضي اللّه عنه قَالَ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللّهِ صلّى اللّه عليه وسلّم عَنِ الْبِرِّ وَ اْلأِثْمِ فَقَالَ اَلْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَ اْلأِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاس

Dari sahabat Nawwas bin Sam'an  radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu  beliau berkata:
Aku bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang makna AlBirr (yaitu kebajikan) dan itsm (yaitu dosa)-Apa itu kebajikan? Apa itu dosa?. Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata AlBirr (kebajikan) adalah akhlaq yang mulia. Adapun dosa yaitu apa yang engkau gelisahkan dihatimu dan engkau tidak suka kalau ada orang yang mengetahuinya.
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Ikhwan dan akhwat sekalian yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Sahabat ini bertanya kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tentunya agar dia bisa beramal dan demikianlah adab seorang yang hendak bertanya maka dia niatkan tatkala dia belajar adalah untuk diamalkan. Dan yang ditanya oleh sahabat ini adalah pertanyaan yang sangat indah, tentang apa sih hakikat kebajikan dan apa sih hakikat dari pada dosa.

Adapun jawaban Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berkaitan dengan hak kebajikan, kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam : husnul khuluq (akhlaq yang mulia).

Padahal kita tahu bahwasanya kebajikan itu mencakup banyak sekali perkara. Semua kebaikan adalah kebajikan. Tetapi kenapa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengkhususkan penyebutan husnul khuluq (akhlaq yang mulia) ? Ini menunjukkan akan keutamaan dan keistimewaan akhlaq yang mulia.

Karenanya sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ini mirip seperti sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
الْحَجُّ عَرَفَةُ
"Haji adalah arofah."

Artinya apa ? Inti daripada ibadah haji adalah wukuf di padang arofah. Bukan berarti haji cuma wukuf di padang arofah saja, tidak. Ada namanya thowaf, ada namanya sa'i, ada namanya ihram, ada namanya ibadah-ibadah yang lain (lempar jamarat, mabit di Mina, mabit di Muzdalifah). Ini semua merupakan rangkaian ibadah haji.

Tetapi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengkhususkan penyebutan wukuf di padang arofah karena dia adalah inti dari pada ibadah haji.

Sama seperti albirru husnul khuluq (kebajikan adalah akhlaq yang mulia). Artinya apa ? Akhlaq mulia memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Oleh karenanya kalau kita ingin melihat dalil-dalil tentang akhlaq yang mulia sangat banyak.

Seperti sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

لَيْسَ شَيْءٌ أَثْقَالُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

"Tidak ada suatu yang lebih berat dari pada akhlaq yang mulia dalam timbangan pada hari kiamat."

Ini menunjukkan kalau seseorang memiliki akhlaq yag mulia maka akan sangat memperberat timbangan kebajikannya.  Di hari yang sangat dia butuhkan kebaikan itu tatkala hari kiamat kelak.

Contohnya juga Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan dalam haditsnya :
إِنَّ رَجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ القَائِمِ

"Sesungguhnya seorang dengan akhlaqnya yang mulia bisa meraih derajat orang yang senantiasa berpuasa sunnah dan senantiasa shalat malam."

Orang ini mungkin dia jarang shalat malam, mungkin dia jarang puasa sunnah. Tetapi dia akhlaqnya mulia, orang senang dekat sama dia, orang bahagia duduk sama dia, orang senang mendengar wejangan-wejangannya. Orang senang mendapatkan bantuannya. Maka meskipun dia jarang shalat malam meskipun dia jarang berpuasa sunnah namun dia mendapat pahala orang-orang seperti itu. Kenapa? Bihusni khuluqihi, dengan akhlaqnya yang mulia. Dan lihatlah sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :

أَقْربكمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحاسنكمْ أَخْلَاقًا

"Orang yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baikakhlaqnya."

Jika anda ingin dekat dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pada hari kiamat, perbaiki akhlaq anda. Karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan yang paling dekat dengan aku adalah yang paling baik akhlaqnya.

Ini menunjukkan keutamaan dan keistimewaan akhkaq yang mulia, dia adalah amalan yang spesial. Jangan kita sangka amalan itu hanyalah shalat, hanyalah puasa, hanyalah zakat. Akhlaq yang mulia adalah amalan yang sangat spesial yang sangat mulia disisi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Apabila seseorang berusaha menghiasi dirinya dengan akhlaq yang mulia, jangan seorang mengatakan :

"Saya tidak bisa merubah akhlaq saya".
"Saya memang begini modelnya".
"Saya diciptakan begini modelnya, tabiat saya memang seperti ini".

Kalau akhlaq tidak bisa dirubah, buat apa hadits-hadits yang begitu banyak tentang akhlaq yang mulia?. Buat apa ayat-ayat Allah turunkan tentang memotivasi orang-orang berakhlaq mulia?

Ini menunjukkan akhlaq bisa dirubah. Seorang yang pelit bisa jadi orang dermawan. Seorang yang pemarah bisa jadi seorang yang penyabar. Jangan sampai seorang mengatakan :

"Saya memang suka marah",
"Saya memang temperamental".
Jangan!
"Saya begini tipenya".
Seperti itu orang bisa merubah akhlaqnya.

Oleh karena dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

"Aku menjamin istana di bagian atas surga bagi orang yang terindah akhlaqnya."

Dalam riwayat lain :
لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

"Bagi orang yang memperindah akhlaqnya."

Berarti akhlaq itu bisa diperoleh, bisa diraih.

Dalam hadits kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ الله

"Barangsiapa yang berusaha bersabar maka Allah akan jadikan dia penyabar."

Orang yang pemarah bisa jadi penyabar.

Karenanya para hadirin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Inilah keutamaan keistimewaan akhlaq mulia.

Para ulama menyebutkan diantara akhlaq mulia sebagaimana perkataan Ibnul Mubaarok : Akhlaq mulia terkumpul pada 3 perkara :

طَلاَقَةُ الوَجه ، وَبَذْلُ المَعروف ، وَكَفُّ الأذَى

"Yaitu wajah yang sering berseri-seri, senyum. Kemudian mudah untuk berbuat baik kepada oranglain dan tidak mengganggu oranglain."

Ini 3 rukun akhlaq :
Wajah sering berseri-seri, murah senyum kepada oranglain, artinya tidak merendahkan dan tidak menghinakan orang lain.
Ringan tangan untuk membantu orang lain.
Tidak mengganggu orang lain.

In syaa'  Allah kita akan lanjutkan lagi pada halaqoh berikutnya.

Wabillaahit taufiq.
Assalaamu'alaykum warahmatullah wabarakaatuh.
_______________________

Ustadz Firanda Andirja, MA
Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
Hadits ke-3 | Hakekat Kebaikan dan Dosa Bagian 1