[3]- TUJUAN PERNIKAHAN
[4]- HAK ISTRI YANG WAJIB DIPENUHI OLEH SUAMI
[5]- KEWAJIBAN UNTUK MENDIDIK ANAK
[6]- HAK SUAMI YANG WAJIB DIPENUHI OLEH ISTRI
-ditulis dengan ringkas oleh: Ahmad Hendrix hafidzahullaah.
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menyeru kepada petunjuk dan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikuti atau mengerjakannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. (HR.Muslim 4831, Kitab Ilmu, Bab Barangsiapa membuat contoh baik)
Dia pergi untuk melamar seorang wanita.
Disaat dia melakukan nazhar syar'i (melihat calon istrinya ). Calon istrinya bertanya : "Berapa hafalan Al-Quranmu ?" Dia menjawab : "Saya tidak hafal banyak tapi SAYA INGIN MENJADI LELAKI YANG SHALIH"
Dia lalu berkata kepada calon istrinya : "Kalau kamu ?" Calonnya menjawab : "Saya hafal juz amma"
Calonnya kemudian sepakat untuk menikah karena merasa dia (laki-laki yg datang melamar ini ) jujur.
Setelah menikah...
Sang Istri lalu memintanya untuk membantunya menghafal AlQuran.
Sang suami berkata : "Mengapa kita tidak saling membantu dalam menghafal bersama-sama?"
Mereka lalu memulai menghafal dengan Surat Maryam kemudian berikutnya dan berikutnya
sampai hafalan Qurannya selesai dan mereka berdua mendapat Ijazah hafalan Quran.
Kemudian istrinya menawarkan : "Mungkin kita juga bisa memulai menghafal Hadits-hadits Bukhari.."
Di sebuah kesempatan ketika dia berziarah kerumah mertuanya, sang suami mengabarkan kepada mertuanya kalau anaknya sekarang sudah hafal AlQuran Al Karim, Alhamdulillah.
Mertuanya kaget dengan apa yg dikatakan menantunya, dia lalu masuk ke kamar anaknya seraya memperlihatkan banyak kertas kepada menantunya.
Sontak dan alangkah kaget dan bingungnya sang suami, Istrinya ternyata memiliki ijazah hafalan Alquran dan Kutub Sittah (kumpulan kitab2 hadits) bahkan sebelum dia menikah dengannya.
SUBHANALLAH....dia tidak mempermasalahkan dari awal sedikitnya ilmu yang dimiliki sang calon suami, dan dia kemudian membantunya menghafalkan Al Quran sebagaimana dia telah menghafalnya disaat dia merasa kalau memang sang suami adalah orang Shalih (Dia juga tidak berdusta ketika dia berkata saya hafal juz amma karena dia tidak menafikan bahwa dia juga hafal surat yg lainnya).
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد
Saudaraku yang dirahmati oleh Allãh Subhânahu wa Ta'âla,
Apabila saya bertanya kepada Anda:
"Apakah Anda mencintai Allāh dan Rasul-Nya?"
Saya pastikan Anda akan mengatakan:
"Ya, saya mencintai Allāh dan Rasul-Nya."
Bukankah cinta itu butuh pembuktian?
Dan salah satu pembuktian, benar atau tidaknya kita mencintai Allāh dan Rasul-Nya adalah apa yang dikatakan oleh 'Abdullāh bin Mas'ūd radhiyallāhu Ta'āla 'anhu.
Beliau pernah menyatakan:
"Barangsiapa yang ingin mengetahui sedalam apa cintanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka tanya kepada dirinya; seperti apa ia memperlakukan Al Qurānul Karīm."
⇒ Seperti apa ketertarikannya dengan Al Qurānul Karīm?
⇒ Sebanyak apa ayat yang ia baca?
⇒ Dan seberapa besar animonya dalam mempelajari tafsir dari ayat-ayat tersebut?
Dan begitu juga:
"Barangsiapa ingin mengetahui sedalam apa cintanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka coba tanya dirinya; sedalam apa ambisinya utuk mempelajari hadits-hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. "
⇒ Semenarik apa hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam itu di matanya?
Mungkin anda bertanya, "Apa korelasinya?"
Saya akan memberikan analogi sederhana tentang masalah ini.
Misalnya:
Apabila seseorang mendapatkan pesan dari orang yang ia cintai yang sedang tinggal di luar daerahnya atau sedang dinas di kota lain, kemudian ia mendapatkan SMS atau pesan singkat yang lain.
Pertanyaan saya:
"Apakah ia langsung antusias dan membacanya?
Atau akan ia pending, mungkin 3 minggu lagi kalau ingat, baru ia buka pesan itu?"
"Bagaimana perasaan seorang ibu atau seorang ayah, ketika anaknya yang ia cintai & rindukan sedang studi di luar negri, lalu anak itu menyampaikan pesan kepadanya.
Apakah dia akan langsung membacanya?
Atau dia akan pending dan kalau dia ingat baru ia buka pesan dari anaknya tersebut?"
Saya rasa kita semua sepakat jawabannya:
"Dia akan langsung membuka, membaca dan akan langsung menikmati pesan dari orang yang ia cintai tersebut."
Seorang ibu ketika mendapatkan pesan singkat dari anaknya dia langsung buka pesannya.
Seorang istri ketika mendapatkan email dari suaminya dia akan buka email tersebut.
Kenapa?
Karena mereka mencintai orang yang menulis surat itu kepadanya.
Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,
Itulah yang dilakukan seseorang atas nama cinta.
Lalu, mari kita tanya diri kita:
"Apakah Allāh pernah memberikan pesan kepada kita?
Dan pernahkah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan pesan kepada kita?"
Jawabannya, "Banyak."
Bukankah ayat Al Qurān adalah pesan-pesan Allāh kepada kita?
Dan bukankah hadits-hadits Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah pesan-pesan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada kita?
Maka apabila kita benar-benar mencintai Allāh dan Rasul-Nya, maka pasti kita akan tertarik membaca pesan-pesan tersebut.
Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,
Coba kita kembangkan analogi di atas.
Apabila pasangan kita sedang bekerja di Timur Tengah, lalu dia menulis surat dengan bahasa Arab.
Ketika kita buka email atau pesan tersebut, kita tidak paham apa makna dari kata demi kata tersebut.
Apakah kita pasrah?
Atau kita akan cari orang yang bisa men-translate (menterjemahkan) agar kita mengerti apa maksud dari bahasa atau pesan dengan bahasa Arab itu?
Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,
Pesan Allāh dan Nabi-Nya shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan bahasa Arab.
Ketika kita membaca:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Lalu kita tidak paham maknanya apakah kita akan pasrah?
Atau kita cari orang yang bisa menjelaskan dan menafsirkan "Iyyāka na' budu wa iyyāka nasta'īn" ?
Ketika kita membaca:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ
Lalu kita tidak paham apa itu "Ash Shamad", apa itu "Qul huwallāhu ahad", apakah atas nama cinta kita akan pasrah?
Atau kita akan berusaha mencari makna dan tafsir dari ayat tersebut?
Terapkanlah demikian.
Orang yang sedang jatuh cinta punya tabiat ingin mengetahui segala hal dari orang yang ia cintai.
Bagaimana dengan orang yang jatuh cinta dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam?
Tidakkah ia penasaran dengan apa yang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam suka dan apa yang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam benci?
◆ Apa yang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam suka adalah perintah-perintahnya dan apa yang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam benci adalah larangan-larangannya.
Ketika kita mencintai Allāh Subhānahu wa Ta'āla, tidakkah kita ingin tahu apa yang Allāh suka dan apa yang Allāh benci?
◆ Apa yang Allāh suka adalah perintah-Nya dan yang Allāh benci adalah larangan-larangan-Nya.
Kalau kita tidak punya ketertarikan, tidak punya rasa penasaran, kita tidak tertarik untuk membaca pesan dan mempelajari hal-hal itu semua, maka:
"Kita tidak cinta kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan Rasul-Nya shallallāhu 'alayhi wa sallam."
Ingat kembali perkataan Ibnu Mas'ūd di atas:
◆ Barangsiapa yang ingin mengetahui sedalam apa cintanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka tanya kepada dirinya seperti apa ia memperlakukan Al Qurānul Karīm.
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______________________________
Materi Tematik
Ustadz Nuzul Zikri, Lc
Ceramah Singkat | Atas Nama Cinta
⬇ Download audio:
https://drive.google.com/file/d/0B1e0BM9z9hzYdzZ4di1EOGM5c0U/view?usp=docslist_api
Sumber:
https://youtu.be/8ATtlf39xTo
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و بعد
Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,
Apakah Anda orang baik?
Dan apakah kita ingin menjadi orang yang baik?
Ini adalah sebuah harapan semua orang, terlepas seperti apa pengalamannya, latar belakangnya & kehidupannya.
Semua orang ingin mendapatkan titel & predikat baik.
Oleh karena itu, jangan meng-klaim diri kita baik sebelum kita mendengar sebuah hadits Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam At Tirmidzi, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan salah satu tolok ukur orang agar dikatakan sebagai orang yang baik.
Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan dalam sabda singkatnya:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dengan istri dan keluarga dan aku adalah orang yang paling baik dengan istriku.”
Saudaraku yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Hadits ini menarik dan hadits ini menjadi bahan evaluasi kita.
Sudahkah kita menjadi orang yang baik?
Bukan klaim yang kita ucapkan dengan lisan kita, namun ini adalah titel yang diberikan oleh Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Apa standar Beliau?
Diantara standar Beliau adalah apa yang disebutkan di dalam hadits di atas.
Sebuah hadits yang terkesan sederhana namun tidak.
Hadits ini sarat akan makna, karena ini salah satu tolok ukur kebaikan seseorang.
Mengapa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menjadikan sikap seorang suami terhadap istri sebagai tolok ukur kebaikan?
Mengapa "istri" yang diangkat dalam hadits ini?
Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak mengatakan:
"Yang paling baik dengan atasannya."
"Yang paling baik dengan bosnya."
"Yang paling baik dengan ustadznya."
"Yang paling baik dengan mertuanya."
(Akan tetapi) Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan, "Yang paling baik dengan istrinya."
Ini sebuah tanda tanya besar yang harus kita jawab, yang harus dijawab oleh orang yang ingin mendapatkan gelar "BAIK" oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Dan pertanyaan di atas telah dijawab oleh para ulama kita, diantaranya Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhāni.
Beliau menjelaskan (dalam kitab Al Mau’izhah Al Hasanah fi Al Akhlāq Al Hasanah hal. 77-79):
Ada dua rahasia mengapa sikap terhadap istri yang dijadikan tolok ukur:
■ Pertama | Karena istri adalah sosok yang tinggal bersama kita dalam satu atap.
Bahkan bukan dalam satu atap, (tetapi) dalam satu kamar.
Bahkan bukan hanya dalam satu kamar, (tetapi) satu tempat tidur/ranjang.
Dan kita tidak mungkin bersandiwara dengan orang yang hidup dan tinggal bersama kita dengan cara seperti itu.
Seseorang bisa bersandiwara di hadapan orang luar rumahnya, tapi tidak dengan orang rumahnya.
Di hadapan orang-orang rumah dia akan memperlihatkan dirinya sebenarnya.
Dia akan menampakkan kelebihan atau kekurangannya.
Semuanya akan dia perlihatkan di hadapan istrinya tersebut.
Karena kehidupan di dalam rumah bukan panggung sandiwara dan bukan lokasi shooting.
Aktor sehebat apapun itu, tidak bisa memperlihatkan akting sebagai orang baik di dalam rumahnya sendiri.
Di dalam rumahlah kita akan memperlihatkan seluruh sisi di dalam diri kita.
✓Ketika seseorang itu emosional, (maka) dia akan emosi di dalam rumahnya.
✓Ketika seseorang itu kasar, (maka) dia akan bentak dan dia akan maki istrinya.
✓Ketika seseorang itu ringan tangan, (maka) dia akan melakukan KDRT kepada pasangannya.
Seseorang tidak bisa berakting di hadapan istri yang senantiasa menemaninya, yang tinggal satu atap dengannya dan tinggal satu kamar dengannya.
Seluruh rahasianya akan dilihat oleh mata kepala istrinya, bahkan mendengkur kitapun istri kita tahu.
Dan pakaian apapun kita perlihatkan di dalam rumah di hadapan istri kita.
Seseorang mungkin tidak akan berani memakai kaos kutang di hadapan bosnya, tetapi memakai kaos kutang dihadapan istri?
Saya rasa hampir semua suami melakukannya.
Kalau pakaian saja demikian, begitu juga dengan sikap, karakter dan emosi.
Seseorang tidak bisa bersandiwara dan menutupi kelemahan menutupi keburukannya di hadapan istrinya.
Maka apabila dia baik dengan istri maka in syā Allāh dia orang baik
■ Kedua | Karena secara umum istri itu lebih lemah dari pada suami; secara fisik, secara kedudukan.
Allāh berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
"Laki-laki itu pemimpin bagi para wanita/istri."
(QS An Nisā: 34)
Pembagian tugas yang sangat sempurna dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla, bukan merendahkan salah satu pihak.
Para istri secara umum lebih lemah dari suami.
Dan kita tidak bisa jaga image (bersandiwara) dengan orang yang lebih lemah dari pada kita.
Kita mungkin bisa menebar senyum atau tebar pesona di hadapan manajer kita atau komisaris kita, tapi kita akan tampil apa adanya di hadapan bawahan kita.
Oleh karena itu sebagian orang mengatakan:
"Jika kita menilai apakah orang tersebut baik atau tidak, lihat bagaimana ia berinteraksi dengan bawahannya."
⇒ Bagaimana dia menyikapi pembantunya.
⇒ Bagaimana berbicara dengan supirnya; kasar atau tidak, suka bentak atau tidak.
Karena seseorang akan menampilkan gaya bahasa apa adanya di hadapan orang-orang yang berada di bawahnya.
Ini yg perlu kita camkan.
Dan ini yang menjadikan Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam menjadikan sikap seorang suami terhadap istrinya sebagai salah satu tolok ukur kebaikan.
Para suami, marilah kita menjaga sikap kepada istri kita, takutlah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
"Nasehati dan bersikaplah baik terhadap istri-istri kalian."
(HR Al Bukhari III/1212 no 3153 dan V/1987 no 4890 dari hadits Abū Hurairah)
Mungkin kita bisa mengasari mereka di dunia yang fana ini, tapi ingat adzab Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Dan ingat sehebat apapun qiyamulail dan puasa Nabi Daud kita, sebanyak apapun dzikir kita, kalau standar yang satu ini tidak kita penuhi maka kita belum bisa dikatakan orang baik.
Dua alasan itu membuka mata kita dan inilah yang dimiliki oleh Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Oleh karena itu 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā pernah ditanya dalam hadits yg diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dalam Ādabul Mufrād (tentang) bagaimana akhlaq Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam, beliau mengatakan :
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlaq Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah Al Qurān."
Mungkin hadits ini sederhana dan pernah kita mendengar, namun tidak demikian bagi orang yang memahami.
Ini adalah pujian dari seorang istri, seorang istri memuji suaminya.
"Akhlaq suamiku (Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam) adalah Al Qurān."
⇒ Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah Al Qurān berjalan.
Sudahkah istri kita memberikan komentar positif tentang kita?
Sudahkah istri kita memuji kita di hadapan teman-temannya?
Sudahkah istri kita memuji kita di hadapan ibunya atau sahabat teman curhatnya?
Kalau istri kita sudah memuji kebaikan kita, kedermawanan kita, kelembutan kita, maka in syā Allāh kita orang yang baik.
Lalu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah dipuji pembantunya Anas bin Mālik, beliau mengatakan:
"Aku pernah melayani Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam selama 10 tahun dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah mengatakan 'ah' sama sekali.
Dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah mengatakan, 'Kenapa engkau melakukan ini? Harusnya itu begini'. "
(HR Muslim)
Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah mengucapkan kata-kata itu di hadapan pembantunya yang melayani dia selama 10 tahun.
Coba kita tinjau diri kita, apakah kita sudah bisa melakukan demikian?
Kita punya pembantu 10 tahun lalu kita tidak pernah mengatakan "ah", kita tidak pernah mengkomplain, kita tidak pernah menghardik dan mencaci?
Kalau dia salah, (maka) kita luruskan dengan baik.
Inilah alasannya.
Maka sekali lagi,
⑴ Istri kita lebih lemah dari kita.
⑵ Istri kita hidup bersama satu atap dengan kita.
Sehingga kita tidak bisa bersandiwara, maka:
✓Jagalah sikap kita dengannya.
✓Perbaiki tutur kata di hadapannya.
✓Dengarkan curahan-curahan hatinya.
✓Jadi teman yang baik dengan istri kita, bukan hanya sekedar memuaskan nafsu syahwat kita.
✓Santunlah di hadapannya.
Karena dia adalah ibu dari anak-anak kita dan teman hidup kita.
Dan utama nya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dengan istri dan aku adalah orang yang paling baik (di hadapan) istriku."
Ini saja yang bisa disampaikan
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
______________________________
Materi Tematik
Ustadz Nuzul Zikri, Lc
Ceramah Singkat | Apakah Anda Orang Baik ?
⬇️ Download Audio:
https://drive.google.com/file/d/0B1e0BM9z9hzYcDdpT1FJc1FCUDg/view?usp=docslist_api
Sumber:
http://yufid.tv/ceramah-singkat-apakah-anda-orang-baik-ustadz-muhammad-nuzul-zikri-lc/
Seorang ibu setengah baya pd sebuah pengajian rutin bertanya kpd ustadnya; "Ustad bgmn membangun romantisme dlm keluarga" pertanyaan yg membuat keringat sang ustad mengalir deras....namun tetap mencoba menjawab;
✅_Romantisme itu....
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. “Sayang.. bangun.. saatnya shalat.”
Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.
✅_Romantis itu…
Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang..”
Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang; dan itu lebih baik dari dunia dan seisinya.
✅_Romantis itu…
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang... kami lebih siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal”
✅_Romantis itu…
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”
✅_Romantis itu…
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan WA dan SMS cinta.
“Apapun makanan di rumah makan, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu.” Lalu sang istri pun membalasnya, “Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”
✅_Romantis itu…
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya tiba.
✅_Romantis itu…
Ketika suami mengucap salam, sang istri menjawabnya disertai senyuman. Bertemu saling mendoakan. Istri mencium tangan suami, dan suami mengecup kening istri lalu saling mengecup pipi kanan dan kiri bergantian.
✅_Romantis itu…
Ketika suami tiba di rumah, istri menyambutnya dengan wajah cerah dan bibir merekah. Maka hilanglah segala penat dan lelah. Beban kerja di pundak mendadak menghilang, terbang melayang.
✅_Romantis itu…
Ketika syukur selalu menghiasi makan bersama. Meski menunya sederhana, nikmat begitu terasa, keberkahan pun memenuhi seluruh keluarga.
✅_Romantis itu…
Ketika suami istri kompak mengajar anaknya mengaji. Meski telah ada TPQ, sang ayah dan sang ibu tidak berlepas diri dari tanggung jawab untuk mencetak generasi Rabbani.
Kelak, merekalah yang akan mendoakan sang orang tua, saat perpisahan selamanya telah tiba masanya.
✅_Romantis itu…
Ketika sang istri tidak berat melepas suami. Keluar rumah. Untuk mengaji, atau aktifitas da'wah. Sebab sang istri ingin suaminya menjadi imam baginya, juga bermanfaat bagi Islam dan umatnya...,
بارك الله فيكم
✏ Ustadz Zainal Abidin, Lc
Dalam sebuah majelis, Syekh Nashiruddin Al-Albani rahimahuLLah, pernah ditanya: "Syekh, apakah seseorang yang mencintai karena ALLah, wajib mengatakan kepada orang yang dicintainya: "Aku mencintaimu karena ALLah?"
Syekh Albani menjawab: "Iya. Akan tetapi cinta karena ALLah memiliki harga yang sangat tinggi, sedikit sekali yang mampu membayarnya. Apakah kalian mengetahui berapa harga cinta karena ALLah? Siapa yang mengetahui, silakan menjawab."
Mulailah para hadirin memberikan jawaban..
Seseorang menjawab: "RasuluLLah shallaLLahu 'alaYhi wa sallam bersabda: "7 golongan yang ALLah menaunginya dengan naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, salah satunya dua orang yang saling mencintai karena ALLah, bersatu karena ALLah dan berpisah karena-Nya."
Syekh berkata : "Ini adalah perkataan yang benar pada tempatnya, tapi bukan jawaban dari pertanyaanku. Ini adalah sebagian pengertian cinta karena ALLah. Adapun pertanyaanku, apakah harga yang harus dibayar oleh dua orang yang saling mencintai karena ALLah, yang satu kepada yang lain? Bukan apakah balasan akhiratnya? Maksudku, aku ingin menanyakan: Apakah bukti perbuatan bila seseorang mencintai karena ALLah? Karena kadang-kadang, dua orang saling mencintai, tetapi cintanya hanya tampak di luar, tidak benar-benar hakiki. Maka, apakah bukti cinta yang hakiki?"
Seseorang yang hadir menjawab lagi: "Seseorang mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya."
Syekh Albani berkata: "Ini adalah sifat cinta atau salah satu sifat cinta."
Seseorang menjawab lagi: "Firman ALLah Ta'ala:
(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ)
"(Artinya) Katakanlah: apabila kalian mencintai ALLah maka ikutilah aku, maka ALLah akan mencintai kalian." (QS. Ali Imran: 31)
Syekh menjawab: "Ini adalah jawaban yang benar untuk pertanyaan yang lain."
Hadirin yang lain mencoba menjawab: "Tiga hal, yang apabila terdapat pada diri seseorang ia akan merasakan kelezatan iman, salah satunya orang yang mencintai karena ALLah."
Syeikh menjawab: "Itu adalah buah dari cinta karena ALLah, yaitu kelezatan iman dalam hati seseorang."
Seseorang menimpali lagi: "Firman ALLah Taala:
(ِوَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)
"(Artinya) Demi Masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih, dan saling berwasiat dalam kebenaran dan saling berwasiat dalam kesabaran." (QS. Al-Ashr: 1-3)
Kali ini syekh menjawab: "Ahsanta. Benar, inilah jawabannya."
Saudaraku, mari kita renungkan perkara yang agung ini. Harga sebuah cinta karena ALLah. Siapa di antara kita yang tidak mencintai orang lain? Tentu tidak ada. Setidaknya, kita pasti mencintai pasangan kita, atau anak-anak kita, atau orang tua kita, atau saudara kita. Maka apakah bukti cinta kita pada mereka?
Ternyata buktinya adalah kita menasehatinya kepada kebenaran. Terkadang mudah bagi kita memberikan segala sesuatu yang kita cintai baik berupa harta, waktu, maupun perhatian untuk orang yang kita cintai. Akan tetapi, ketika kita melihatnya melakukan kesalahan, kita diam saja, dengan alasan segan, karena dia memiliki ilmu yang lebih dari kita, atau karena takut ia menjadi marah, takut ia memutuskan hubungan, atau takut ia menjauh, dan sebagainya. Kita merasa takut kehilangannya dengan membiarkannya terjatuh pada kesalahan. Ah, ternyata bukanlah itu bukti cinta yang hakiki.
Mari kita perhatikan perkataan Syeikh selanjutnya..
"Maka, apabila benar aku mencintaimu karena ALLah, selayaknya aku memberimu nasihat, demikian juga engkau menerima nasehatku dan memberiku nasehat. Cinta karena ALLah memiliki harga yang sangat mahal. Cinta karena ALLah adalah bagian dari keikhlasan, yaitu mengikhlaskan segalanya untuk kebaikan orang yang kita cintai, dengan memberikan nasehat. Dengan senantiasa menyuruh kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran.. selalu dan selamanya."
Artikel Tematik dari Ustadzah Liz Ummu Sholih.