Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan

2/22/2023

Kisah Seorang Muslimah

Pernah dalam perjalanan pulang suatu malam saya mendengar Ust. Fariq Gasim Anuz حفظه الله membacakan cuplikan beberapa kisah nyata penuh hikmah yang amat menguncang batin saya.. Serasa jiwa ini bergejolak tidak karuan. Bumi yang saya pijaki serasa berayun-ayun tanpa henti...

Sesampainya dirumah saya langsung mencari arsip rekaman audio tersebut, dengan berbagai kata kunci saya ketik lalu enter lalu ketik lalu enter lalu ketik lalu enter dan terus... sampai saya sadar pencarian tersebut tidak menemukan hasil, entah materi kajian tersebut tidak untuk dipublikasikan, atau memang saya belum dapat menemukannya saat ini.

Namun, setidaknya saya menemukan satu diantaranya yang bisa dituliskan kembali disini..

-------------------

Ini kisah seorang wanita yang bernama ‘Abiir yang sedang dilanda penyakit kanker. Ia mengirimkan sebuah surat berisi kisahnya ke acara keluarga mingguan “Buyuut Muthma’innah” (Rumah Idaman) di Radio Qur’an Arab Saudi, lalu menuturkan kisahnya yang membuat para pendengar tidak kuasa menahan air mata mereka.

Kisah yang sangat menyedihkan ini dibacakan di salah satu hari dari sepuluh terakhir di bulan Ramadhan tahun 2011.

Berikut ini kisahnya –sebagaimana dituturkan kembali oleh sang pembawa acara DR Adil Alu Abdul Jabbaar- :

Ia adalah seorang wanita yang sangat cantik jelita dan mengagumkan, bahkan mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kecantikannya merupakan tanda kebesaran Allah. Setiap lelaki yang disekitarnya berangan-angan untuk memperistrikannya atau menjadikannya sebagai menantu putra-putranya. Hal ini jelas dari pembicaraan ‘Abiir tatkala bercerita tentang dirinya dalam acara Radio Qur’an Saudi “Buyuut Muthma’innah”.

Ia bertutur tentang dirinya: “Umurku sekarang 28 tahun, seorang wanita yang cantik dan kaya raya, ibu seorang putri yang berumur 9 tahun yang bernama Mayaa’. Kalian telah berbincang-bincang tentang penyakit kanker, maka izinkanlah aku untuk menceritakan kepada kalian tentang kisahku yang menyedihkan. Dan bagaimana kondisiku dalam menghadapi pedihnya kankerku dan sakitnya yang berkepanjangan, dan perjuangan keras dalam menghadapinya.

Bahkan sampai-sampai aku menangis akibat keluhan rasa sakit dan kepayahan yang aku rasakan. Aku tidak akan lupa saat-saat dimana aku harus menggunakan obat-obat kimia, terutama tatkala pertama kali aku mengkonsumsinya karena kawatir dengan efek/dampak buruk yang timbul. Akan tetapi aku sabar menghadapinya.

Meskipun hatiku teriris-iris karena gelisah dan rasa takut. Setelah beberapa lama mengkonsumsi obat-obatan kimia tersebut mulailah rambutku berguguran. rambut yang sangat indah yang dikenal oleh orang yang dekat maupun yang jauh dariku. Sungguh, rambutku yang indah tersebut merupakan mahkota yang selalu aku kenakan di atas kepalaku. Akan tetapi penyakit kankerlah yang menggugurkan mahkotaku…helai demi helai berguguran di depan kedua mataku.

Pada suatu malam datanglah Mayaa’ putriku duduk di sampingku. Ia membawa sedikit manisan (kue). Kamipun mulai menyaksikan sebuah acara di salah satu stasiun televisi, lalu iapun mematikan televisi, lalu memandang kepadaku dan berkata, “Mama…engkau dalam keadaan baik?”

Aku menjawab, “Ya.”

Lalu putriku memegang uraian rambutku. Ternyata uraian rambut itupun berguguran di tangan putriku. Iapun mengelus-negelus rambutku ternyata berguguran beberapa helai rambutku di hadapannya.

Lalu aku berkata kepada putriku, “Bagaimana menurutmu dengan kondisiku ini wahai Mayaa’..?”

Ia pun menangis. Lalu mengusap air matanya dengan kedua tangannya, seraya berkata, “Wahai mama, rambutmu yang gugur ini adalah amalan-amalan kebaikan.”

Lalu iapun mulai mengumpulkan rambut-rambutku yang berguguran tadi dan meletakkannya di secarik tisu.

Akupun menangis melihatnya hingga teriris-iris hatiku karena tangisanku, lalu aku memeluknya di dadaku, dan aku berdoa kepada Allah agar menyembuhkan aku dan memanjangkan umurku demi Mayaa’ putriku ini, dan agar aku tidak meninggal karena penyakitku ini, dan agar Allah menyabarkan aku menahan pedihnya penyakitku ini.

Keeseokan harinya akupun meminta kepada suamiku alat cukur, lalu akupun mencukur seluruh rambutku di kamar mandi tanpa diketahui oleh seorangpun, agar aku tidak lagi sedih melihat rambutku yang selalu berguguran, di ruang tamu, di dapur, di tempat duduk, di tempat tidur, di mobil. Tidak ada tempat yang selamat dari bergugurnya rambutku.

Setelah itu akupun selalu memakai penutup kepala di rumah, akan tetapi Mayaa putriku mengeluhkan akan hal itu lalu melepaskan penutup kepalaku. Iapun terperanjak melihat rambutku yang tercukur habis. Ia berkata, “Mama..kenapa engkau melakukan ini? Apakah engkau lupa bahwa aku telah berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu, dan agar rambutmu tidak berguguran lagi? Tidakkah engkau tahu bahwasanya Allah akan mengabulkan doaku…Allah akan menjawab permintaanku, Allah tidak menolak permintaanku! Aku telah berdoa untukmu mama dalam sujudku agar Allah mengembalikan rambutmu lebih indah lagi daripada sebelumnya. Lebih banyak dan lebih cantik. Mama…sudah sebulan aku tidak membeli sarapan pagi di sekolah dengan uang jajanku, aku selalu menyedekahkan uang jajanku untuk para pembantu yang miskin di sekolah, dan aku meminta kepada mereka untuk mendoakanmu.” “Mama…tidakkah engkau tahu bahwasanya aku telah meminta kepada sahabatku Manaal agar meminta neneknya yang baik untuk mendoakan kesembuhanmu? Mamaa…aku cinta kepada Allah…dan Dia akan mengabulkan doaku dan tidak akan menolak permintaanku…dan Dia akan segera menyembuhkanmu…”

Mendengar tuturan putriku akupun tidak kuasa untuk menahan air mataku. Begitu yakinnya ia, begitu kuat dan berani jiwanya, lalu akupun memeluknya sambil menangis.”

Putriku lalu duduk bertelekan kedua lututnya menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya berdoa agar Allah menyembuhkanku sambil menangis. Ia menoleh kepadaku dan berkata, “Mama..hari ini adalah hari jum’at, dan saat ini adalah waktu mustajaab (terkabulnya doa)…aku berdoa untuk kesembuhanmu. Ustadzah Nuuroh hari ini mengabarkan aku tentang waktu mustajab ini.”

Sungguh hatiku teriris-iris melihat sikap putriku kepadaku… Akupun pergi ke kamarku dan tidur. Aku tidak merasa dan tidak terjaga kecuali saat aku mendengar lantunan ayat kursi dan surat Al-Fatihah yang dibaca oleh putriku dengan suaranya yang merdu dan lembut. Aku merasakan ketentaraman…aku merasakan kekuatan…aku merasakan semangat yang lebih banyak.

Sudah sering kali aku memintanya untuk membacakan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas kepadaku jika aku tidak bisa tidur karena rasa sakit yang parah. Akupun memanggilnya untuk membacakan al-Qur’an untukku.

Sebulan kemudian—setelah menggunakan obat-obatan kimia—akupun kembali periksa di rumah sakit.

Para dokter mengabarkan kepadaku bahwa saat ini aku sudah tidak membutuhkan lagi obat-obatan kimia tersebut, dan kondisiku telah semakin membaik. Akupun menangis karena saking gembiranya mendengar hal ini. Dan dokter marah kepadaku karena aku telah mencukur rambutku dan ia mengingatkan aku bahwasanya aku harus kuat dan beriman kepada Allah serta yakin bahwasanya kesembuhan ada di tangan Allah.

Lalu aku kembali ke rumah dengan sangat gembira…dengan perasaan sangat penuh pengharapan…putriku Mayaa’ tertawa karena kebahagiaan dan kegembiraanku. Ia berkata kepadaku di mobil, “Mama…dokter itu tidak mengerti apa-apa, Robku yang mengetahui segala-galanya.”

Aku berkata, “Maksudmu?”

Ia berkata, “Aku mendengar papa berbicara dengan sahabatnya di HP, papa berkata padanya bahwasanya keuntungan toko bulan ini seluruhnya ia berikan kepada yayasan sosial panti asuhan agar Allah menyembuhkan uminya Mayaa.”

Akupun menangis mendengar tuturannya, karena keuntungan toko tidak kurang dari 200 ribu real (sekitar 500 juta rupiah), dan terkadang lebih dari itu.

Sekarang kondisiku—Alhamdulillah—terus membaik, pertama karena karunia Allah, kemudian karena kuatnya Mayaa putriku yang telah membantuku dalam perjuangan melawan penyakit kanker yang sangat buruk ini. Ia telah mengingatkan aku kepada Allah dan bahwasanya kesembuhan di tangan-Nya, sebagaimana aku tidak lupa dengan jasa suamiku yang mulia yang telah bersedekah secara diam-diam tanpa mengabariku yang merupakan sebab berkurangnya rasa sakit yang aku rasakan.

Aku berdoa kepada Allah agar menyegerakan kesembuhanku dan juga bagi setiap lelaki atau wanita yang terkena penyakit kanker. Sungguh kami menghadapi rasa sakit yang pedih yang merusak tubuh kami dan juga jiwa kami, akan tetapi rahmat Allah dan karuniaNya lebih besar dan lebih luas sebelum dan sesudahnya...”

11/20/2020

Menyimpang Setelah Mendapat Hidayah

لماذا ينتكس البعض بعد استقامته على طريق الهداية ؟؟

Mengapa ada sebagian orang yang justru berbalik (menyimpang) setelah ia konsisten di atas jalan hidayah (bahkan sebelumnya ia mendakwahkan sunnah)…??

قيل للشيخ ابن باز :

Syaikh Bin Baz pernah ditanya:

ياشيخ ، فلان انتكس،

Wahai Syaikh; si fulan berbalik (menyimpang)

قال الشيخ :

Syaikh berkata;

(لعل انتكاسته من أمرين :

Boleh jadi dia berbalik menyimpang karena dua hal:

إما أنه لم يسأل الله الثبات ، أو أنه لم يشكر الله على الإستقامة) .

Pertama, dia mungkin tidak pernah meminta kepada Allah agar diteguhkan (di atas alhaq), atau yang kedua, ia tidak bersyukur setelah diberikan keteguhan dan keistiqomahan oleh Allah.

فحين اختارك الله لطريق هدايته،

Maka tatkala Allah telah memilihmu berjalan di atas jalan hidayah-Nya,

ليس لأنك مميز أو لطاعةٍ منك ،

camkanlah bahwa itu bukan karena keistimewaanmu atau karena ketaatanmu,

بل هي رحمة منه شملتك ،

melainkan itu adalah rahmat dari-Nya yang meliputimu

قد ينزعها منك في أي لحظة ،

Allah bisa saja mencabut rahmat tersebut kapan saja darimu

لذلك لا تغتر بعملك ولا بعبادتك

Oleh karena itu, jangan engkau tertipu dengan amalanmu, jangan pula disilaukan oleh ibadahmu

ولا تنظر باستصغار لمن ضلّ عن سبيله

Jangan engkau memandang remeh orang yang tersesat dari jalan-Nya

فلولا رحمة الله بك لكنت مكانه .

Kalau bukan karena rahmat Allah padamu, niscaya engkau akan tersesat pula, posisimu akan sama dengan orang yang tersesat itu.

أعيدوا قراءة هذه الآية بتأنٍّ

Ulang-ulang lah membaca ayat berikut ini dengan penuh penghayatan

﴿ ولوﻵ أن ثبتناك لقد كدت تركن إليهم شيئا قليلا ﴾

“Andai Kami tidak meneguhkanmu (wahai Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam), sungguh engkau hampir-hampir saja akan sedikit condong kepada mereka (orang-orang yang tersesat itu).”

إياك أن تظن أن الثبات على الإستقامة أحد إنجازاتك الشخصية …

Jangan pernah engkau menyangka, bahwa keteguhan di atas istiqomah, merupakan salah satu hasil jerih payahmu pribadi.

تأمل قوله تعالى لسيد البشر..

Perhatikan firman Allah kepada Pemimpin segenap manusia (Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam):

“ولولا أن ثبتناك”

“Kalau bukan Kami yang meneguhkanmu (wahai Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam)…”

فكيف بك !!؟.

Maka apalagi engkau…!!?

نحنُ مخطئون عندما نتجاهل أذكارنا،

Kita sering keliru, manakala kita melupakan dzikir-dzikir kita

نعتقد أنها شيء غير مهم وننسى

Kita menyangka bahwa dzikir-dzikir itu tidak penting, sehingga kita pun melupakannya.

بأن الله يحفظنا بها، وربما تقلب الأقدار..

Kita lupa bahwa Allah akan menjaga kita karena dzikir-dzikir tersebut. Boleh jadi takdir Allah akan berbalik.

يقول ابن القيم:

Ibnu al-Qayyim berkata:

حاجة العبد للمعوذات أشدُ من حاجته للطعام واللباس..!

Kebutuhan hamba akan do’a dan dzikir (agar Allah memberikan perlindungan), melebihi kebutuhannya akan makanan dan pakaian.

داوموا على أذكاركم لتُدركوا معنى:

Maka rutinkanlah membaca do’a dan dzikir kalian, agar kalian meraih apa yang dijanjikan dalam sabda Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam

احفظ الله يحفظك..

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjaga kalian”

تحصنوا كل صباح ومساء ؛

Niscaya kalian akan mendapatkan perlindungan pagi dan petang.

فالدنيا مخيفة .. وفي جوفها مفاجأت .. والله هو الحافظ لعباده

Dunia ini benar-benar menakutkan…. di lorongnya ada banyak hal yang menyentakkan… Allah, Dialah yang Maha Menjaga hamba-hamba-Nya.

https://bbg-alilmu.com/

2/27/2020

Matinya Hati karena 10 Perkara

Dari al Ustad Dzulqarnain bin Muhammad sunusi حفظه الله

Suatu hari, Ibrahim bin Adham rahimahullah berlalu melewati pasar Bashrah. Manusia pun berkumpul kepadanya seraya berkata, “Wahai Abu Ishaq, sesungguhnya Allah berfirman dalam kitab-Nya, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagi kalian’. Sudah sekian lama kami berdoa tapi tidak dikabulkan?”

Beliau menjawab,

يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ، مَاتَتْ قُلُوبُكُمْ فِي عَشَرَةِ أَشْيَاءَ، أَوَّلُهَا: عَرَفْتُمُ اللَّهَ ولَمْ تُؤَدُّوا حَقَّهُ، الثَّانِي: قَرَأْتُمْ كِتَابَ اللَّهِ ولَمْ تَعْمَلُوا بِهِ، وَالثَّالِثُ: ادَّعَيْتُمْ حُبَّ رَسُولِ اللَّهِ وَتَرَكْتُمْ سُنَّتَهَ، وَالرَّابِعُ: ادَّعَيْتُمْ عَدَاوَةَ الشَّيْطَانِ وَوَافَقْتُمُوهُ، وَالْخَامِسُ: قُلْتُمْ نُحِبُّ الْجَنَّةَ ولَمْ تَعْمَلُوا لَهَا، وَالسَّادِسُ: قُلْتُمْ نَخَافُ النَّارَ وَرَهَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِهَا، وَالسَّابِعُ: قُلْتُمْ إِنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ وَلَمْ تَسْتَعِدُّوا لَهُ، وَالثَّامِنُ: اشْتَغَلْتُمْ بِعُيُوبِ إِخْوَانِكُمْ وَنَبَذْتُمْ عُيُوبَكُمْ، وَالتَّاسِعُ: أَكَلْتُمْ نِعْمَةَ رَبِّكُمْ ولَمْ تَشْكُرُوهَا، وَالْعَاشِرُ: دَفَنْتُمْ مَوْتَاكُمْ وَلَمْ تَعْتَبِرُوا بِهِمْ

“Wahai penduduk Bashrah, hati kalian telah mati pada sepuluh perkara,

1. Pertama, kalian mengenal Allah tapi tidak menunaikan hak-Nya.

2. Kedua, kalian membaca Al-Qur’an, tapi kalian tidak mengamalkannya.

3. Ketiga, kalian mengaku mencintai Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, tapi kalian meninggalkan sunnahnya.

4. Keempat, kalian mengaku memusuhi syaithan, tapi kalian mencocokinya.

5. Kelima, kalian mengatakan bahwa kami mencintai surga, tapi kalian tidak beramal untuk (memasuki) nya.

6. Keenam, kalian mengatakan bahwa kami takut dari neraka, tapi kalian menggadai diri-diri kalian untuk neraka.

7. Ketujuh, kalian mengatakan bahwa kematian adalah benar adanya, tapi kalian tidak bersiap untuknya.

8. Kedelapan, kalian sibuk membicarakan aib-aib saudara-saudara kalian, sedang kalian mencampakkan aib-aib kalian sendiri.

9. Kesembilan, kalian memakan nikmat-nikmat Rabb kalian, tapi kalian tidak menunaikan kesyukuran kepada-Nya.

10. Kesepuluh, kalian telah mengubur orang-orang mati kalian, tapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya.”

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilayatul Auliyâ` 8/15-16. Disebutkan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi Bayân Al-‘Ilm no. 1220, Asy-Syâthiby dalam Al-I’tishâm 1/149 (Tahqîq Masyhûr Hasan), dan Al-Absyîhy dalam Al-Mustathraf 2/329.

1/16/2020

Kisah Langka Wanita Shalihah

Prof. Dr. Khalid al-Jubair penasehat spesialis bedah jantung dan urat nadi di rumah sakit al-Malik Khalid di Riyadh mengisahkan sebuah kisah pada sebuah seminar dengan tajuk Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan). Mari sejenak kita merenung bersama, karena dalam kisah tersebut ada nasihat dan pelajaran yang sangat berharga bagi kita.

Sang dokter berkata:
Pada suatu hari -hari Selasa- aku melakukan operasi pada seorang anak berusia 2,5 tahun. Pada hari Rabu, anak tersebut berada di ruang ICU dalam keadaan segar dan sehat.

Pada hari Kamis pukul 11:15 -aku tidak melupakan waktu ini karena pentingnya kejadian tersebut- tiba-tiba salah seorang perawat mengabariku bahwa jantung dan pernafasan anak tersebut berhenti bekerja. Maka akupun pergi dengan cepat kepada anak tersebut, kemudian aku lakukan proses kejut jantung yang berlangsung selama 45 menit. Selama itu jantungnya tidak berfungsi, namun setelah itu Allah Subhanaahu wa Ta’ala menentukan agar jantungnya kembali berfungsi. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta’ala.

Kemudian aku pergi untuk mengabarkan keadaannya kepada keluarganya, sebagaimana anda ketahui betapa sulit mengabarkan keadaan kepada keluarganya jika ternyata keadaannya buruk. Ini adalah hal tersulit yang harus dihadapi oleh seorang dokter. Akan tetapi ini adalah sebuah keharusan. Akupun bertanya tentang ayah si anak, tapi aku tidak mendapatinya. Aku hanya mendapati ibunya, lalu aku katakan kepadanya: “Penyebab berhentinya jantung putramu dari fungsinya adalah akibat pendarahan yang ada pada pangkal tenggorokan dan kami tidak mengetahui penyebabnya. Aku kira otaknya telah mati.”

Coba tebak, kira-kira apa  jawaban ibu tersebut?
Apakah dia berteriak? Apakah dia histeris? Apakah dia berkata: “Engkaulah penyebabnya!”
Dia tidak berbicara apapun dari semua itu bahkan dia berkata: “Alhamdulillah.” Kemudian dia meninggalkanku dan pergi.
Sepuluh hari berlalu, mulailah sang anak bergerak-gerak. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta’ala serta menyampaikan kabar gembira sebuah kebaikan yaitu bahwa keadaan otaknya telah berfungsi.

Pada hari ke-12, jantungnya kembali berhenti bekerja disebabkan oleh pendarahan tersebut. Kami pun melakukan proses kejut jantung selama 45 menit, dan jantungnya tidak bergerak. Maka akupun mengatakan kepada ibunya: “Kali ini menurutku tidak ada harapan lagi.” Maka dia berkata:

“Alhamdulillah, ya Allah jika dalam kesembuhannya ada kebaikan, maka sembuhkanlah dia wahai Rabbi.”

Maka dengan memuji Allah, jantungnya kembali berfungsi, akan tetapi setelah itu jantung kembali berhenti sampai 6 kali hingga dengan ketentuan Allah Subhanaahu wa Ta’ala spesialis THT berhasil menghentikan pendarahan tersebut, dan jantungnya kembali berfungsi.

Berlalulah sekarang 3,5 bulan, dan anak tersebut dalam keadaan koma, tidak bergerak. Kemudian setiap kali dia mulai bergerak dia terkena semacam pembengkakan bernanah aneh yang besar di kepalanya, yang aku belum pernah melihat semisalnya. Maka kami katakan kepada sang ibu bahwa putra anda akan meninggal. Jika dia bisa selamat dari kegagalan jantung yang berulang-ulang, maka dia tidak akan bisa selamat dengan adanya semacam pembengkakan di kepalanya.

Maka sang ibu berkata:

“Alhamdulillah.” Kemudian meninggalkanku dan pergi. Setelah itu, kami melakukan usaha untuk merubah keadaan segera dengan melakukan operasi otak dan urat syaraf serta berusaha untuk menyembuhkan sang anak. Tiga minggu kemudian, dengan karunia Allah Subhanaahu wa Ta’ala , dia tersembuhkan dari pembengkakan tersebut, akan tetapi dia belum bergerak.

Dua minggu kemudian, darahnya terkena racun aneh yang menjadikan suhunya 41,2oC. maka kukatakan kepada sang ibu: “Sesungguhnya otak putra ibu berada dalam bahaya besar, saya kira tidak ada harapan sembuh.” Maka dia berkata dengan penuh kesabaran dan keyakinan:

“Alhamdulillah, ya Allah, jika pada kesembuhannya terdapat kebaikan, maka sembuhkanlah dia.”

Setelah aku kabarkan kepada ibu anak tersebut tentang keadaan putranya yang terbaring di atas ranjang nomor 5, aku pergi ke pasien lain yang terbaring di ranjang nomor 6 untuk menganalisanya. Tiba-tiba ibu pasien nomor 6 tersebut menagis histeris seraya berkata:

“Wahai dokter, kemari, wahai dokter suhu badannya 37,6o, dia akan mati, dia akan mati.”

Maka kukatakan kepadanya dengan penuh heran: “Lihatlah ibu anak yang terbaring di ranjang no 5, suhu badannya 41,o lebih sementara dia bersabar dan memuji Allah.” Maka berkatalah ibu pasien no. 6 tentang ibu tersebut:

“Wanita itu tidak waras dan tidak sadar.”

Maka aku mengingat sebuah hadits Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa sallam yang indah lagi agung:
(طُوْبَى لِلْغُرَبَاِء)  “Beruntunglah orang-orang yang asing.” Sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, akan tetapi keduanya menggoncangkan ummat. Selama 23 tahun bekerja di rumah sakit aku belum pernah melihat dalam hidupku orang sabar seperti ibu ini kecuali dua orang saja.

Selang beberapa waktu setelah itu ia mengalami gagal ginjal, maka kami katakan kepada sang ibu: “Tidak ada harapan kali ini, dia tidak akan selamat.” Maka dia menjawab dengan sabar dan bertawakkal kepada Allah:

“Alhamdulillah.” Seraya meninggalkanku seperti biasa dan pergi.

Sekarang kami memasuki minggu terakhir dari bulan keempat, dan anak tersebut telah tersembuhkan dari keracunan. Kemudian saat memasuki pada bulan kelima, dia terserang penyakit aneh yang aku belum pernah melihatnya selama hidupku, radang ganas pada selaput pembungkus jantung di sekitar dada yang mencakup tulang-tulang dada dan seluruh daerah di sekitarnya. Dimana keadaan ini memaksaku untuk membuka dadanya dan terpaksa menjadikan jantungnya dalam keadaan terbuka. Sekiranya kami mengganti alat bantu, anda akan melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda..

Saat kondisi anak tersebut sampai pada tingkatan ini aku berkata kepada sang ibu: “Sudah, yang ini tidak mungkin disembuhkan lagi, aku tidak berharap. Keadaannya semakin gawat.” Diapun berkata:

“Alhamdulillah.” Sebagaimana kebiasaannya, tanpa berkata apapun selainnya.

Kemudian berlalulah 6,5 bulan, anak tersebut keluar dari ruang operasi dalam keadaan tidak berbicara, melihat, mendengar, bergerak dan tertawa. Sementara dadanya dalam keadaan terbuka yang memungkinkan bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda, dan ibunyalah yang membantu mengganti alat-alat bantu di jantung putranya dengan penuh sabar dan berharap pahala.

Apakah anda tahu apa yang terjadi setelah itu?
Sebelum kukabarkan kepada anda, apakah yang anda kira dari keselamatan anak tersebut yang telah melalui segala macam ujian berat, hal gawat, rasa sakit dan beberapa penyakit yang aneh dan kompleks?

Menurut anda kira-kira apa yang akan dilakukan oleh sang ibu yang sabar terhadap sang putra di hadapannya yang berada di ambang kubur itu? Kondisi yang dia tidak punya kuasa apa-apa kecuali hanya berdo’a, dan merendahkan diri kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala ?

Tahukah anda apa yang terjadi terhadap anak yang mungkin bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda 2,5 bulan kemudian?

Anak tersebut telah sembuh sempurna dengan rahmat Allah Subhanaahu wa Ta’ala sebagai balasan bagi sang ibu yang shalihah tersebut. Sekarang anak tersebut telah berlari dan dapat menyalip ibunya dengan kedua kakinya, seakan-akan tidak ada sesuatupun yang pernah menimpanya. Dia telah kembali seperti sedia kala, dalam keadaan sembuh dan sehat.

Kisah ini tidaklah berhenti sampai di sini, apa yang membuatku menangis bukanlah ini, yang membuatku menangis adalah apa yang terjadi kemudian:

Satu setengah tahun setelah anak tersebut keluar dari rumah sakit, salah seorang kawan di bagian operasi mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki berserta istri bersama dua orang anak ingin melihat anda. Maka kukatakan kepadanya:

“Siapakah mereka?” Dia menjawab, “tidak mengenal mereka.”

Akupun pergi untuk melihat mereka, ternyata mereka adalah ayah dan ibu dari anak yang dulu kami operasi. Umurnya sekarang 5 tahun seperti bunga dalam keadaan sehat, seakan-akan tidak pernah terkena apapun, dan juga bersama mereka seorang bayi berumur 4 bulan.

Aku menyambut mereka, dan bertanya kepada sang ayah dengan canda tentang bayi baru yang digendong oleh ibunya, apakah dia anak yang ke-13 atau 14? Diapun melihat kepadaku dengan senyuman aneh, kemudian dia berkata:

“Ini adalah anak yang kedua, sedang anak pertama adalah anak yang dulu anda operasi, dia adalah anak pertama yang datang kepada kami setelah 17 tahun mandul. Setelah kami diberi rizki dengannya, dia tertimpa penyakit seperti yang telah anda ketahui sendiri.”

Aku tidak mampu menguasai jiwaku, kedua mataku penuh dengan air mata. Tanpa sadar aku menyeret laki-laki tersebut dengan tangannya kemudian aku masukkan ke dalam ruanganku dan bertanya tentang istrinya. Kukatakan kepadanya:

“Siapakah istrimu yang mampu bersabar dengan penuh kesabaran atas putranya yang baru datang setelah 17 tahun mandul? Haruslah hatinya bukan hati yang gersang, bahkan hati yang  subur dengan keimanan terhadap Allah Subhanaahu wa Ta’ala .”

Tahukah anda apa yang dia katakan?
Diamlah bersamaku wahai saudara-saudariku, terutama kepada anda wahai saudari-saudari yang mulia, cukuplah anda bisa berbangga pada zaman ini ada seorang wanita muslimah yang seperti dia.

Sang suami berkata: “Aku menikahi wanita tersebut 19 tahun yang lalu, sejak masa itu dia tidak pernah meninggalkan shalat malam kecuali dengan udzur syar’i. Aku tidak pernah menyaksikannya berghibah (menggunjing), namimah (adu domba), tidak juga dusta. Jika aku keluar dari rumah atau aku pulang ke rumah, dia membukakan pintu untukku, mendo’akanku, menyambutku, serta melakukan tugas-tugasnya dengan segenap kecintaan, tanggung jawab, akhlak dan kasih sayang.”

Sang suami menyempurnakan ceritanya dengan berkata: “Wahai dokter, dengan segenap akhlak dan kasih sayang yang dia berikan kepadaku, aku tidak mampu untuk membuka satu mataku terhadapnya karena malu.” Maka kukatakan kepadanya: “Wanita seperti dia berhak mendapatkan perlakuan darimu seperti itu.” Kisah selesai.

Kukatakan:
Saudara-saudariku, kadang anda terheran-heran dengan kisah tersebut, yaitu terheran-heran terhadap kesabaran wanita tersebut, akan tetapi ketahuilah bahwa beriman kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala dengan segenap keimanan dan tawakkal kepada-Nya dengan sepenuhnya, serta beramal shalih adalah perkara yang mengokohkan seorang muslim saat dalam kesusahan, dan ujian. Kesabaran yang demikian adalah sebuah taufik dan rahmat dari Allah Subhanaahu wa Ta’ala .
Allah Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥)الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦)أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَحُزْنٍ وَلاَ أَذىً وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا خَطاَيَاهُ
“Tidaklah menimpa seorang muslim dari keletihan, sakit, kecemasan, kesedihan tidak juga gangguan dan kesusahan, hingga duri yang menusuknya, kecuali dengannya Allah Subhanaahu wa Ta’ala akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari (5/2137))

Maka, wahai saudara-saudariku, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala , minta dan berdo’alah hanya kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala terhadap berbagai kebutuhan anda sekalian.

Bersandarlah kepada-Nya dalam keadaan senang dan susah. Sesungguhnya Dia Subhanaahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik pelindung dan penolong.
Mudah-mudahan Allah Subhanaahu wa Ta’ala membalas anda sekalian dengan kebaikan, serta janganlah melupakan kami dari do’a-do’a kalian.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ (١٢٦
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raf: 126) (AR)*

Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi
Dari Kaset Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan)

11/12/2019

JANGANLAH IRI

Sufyan Ats-Tsauri -rahimahullah- mengatakan:

Wahai saudaraku, JANGANLAH IRI kepada ahli maksiat dengan kemaksiatan mereka

Dan jangan pula iri kepada mereka dengan GELIMANGAN NIKMAT yang ada pada mereka. 

Karena di hadapan mereka; ADA SEBUAH HARI yang kaki-kaki mereka akan terpleset, jasad-jasad mereka akan gemetar, rona wajah mereka akan berubah (pucat), waktu berdiri (menanti hisab) akan panjang, proses hisab amalan mereka akan SANGAT KERAS, dan hati-hati mereka di hari itu akan beterbangan hingga sampai ke kerongkongan-kerongkongan mereka!

Maka, bagaimana besarnya PENYELASAN mereka (ketika itu), atas maksiat-maksiat yang telah mereka lakukan dahulu. 

[Hilyatul Aulia: 7/24]

10/01/2018

MENJAGA ISTIQOMAH

Agar tetap teguh di atas istiqamah maka seseorang harus melakukan hal-hal berikut ini, diantaranya adalah :

➡1). Taubat nasuha.
➡2). Senantiasa mentauhidkan Allâh dan menjauhkan syirik.
➡3). Selalu berusaha untuk selalu konsekuen dan konsisten dalam ketaatan kepada Allâh danRasul-Nya.
➡4). Muraqabatullâh, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allâh Ta’ala baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.
➡5). Muhasabah, yaitu menginstrospeksi segala amal perbuatan yang telah dikerjakan.
➡6). Mujâhadah, yaitu berjuang sungguh-sungguh menggembleng jiwa di atas ketaatan kepada Allâh Ta’ala.
➡7). Ikhlas dalam beramal dan mutaba’ah (mengikuti contoh Rasûlullâh).
➡8). Berpegang teguh kepada Sunnah dan menjauhi bid’ah.
➡9). Menjaga shalat lima waktu dengan berjama’ah di masjid.
➡10). Berani dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.
➡11). Senantiasa menuntut ilmu syar’i.
➡12). Takut kepada Allâh Ta’ala dengan mengingat pedihnya siksa neraka.
➡13). Mencari teman yang shâlih.
➡14). Menjaga hati, lisan, dan anggota badan serta sabar dari hal-hal yang diharamkan.
➡15). Mengetahui langkah-langkah setan.
➡16). Senantiasa berdzikir dan berdo’a agar diteguhkan di atas istiqamah. Diantara do’a yang sering Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baca ialah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

"Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu." [HR at-Tirmdizi (no. 3522) dan Ahmad (VI/302, 315) dari Ummu Salamah radhiyallâhu ’anha]

📋 Diringkas dari Pembahasan "Keutamaan Istiqomah"

✍ Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas

Kisah Sepotong Roti

Dahulu..
ada seorang lelaki yang beribadah selama 60 tahun lamanya..
lalu ia terfitnah oleh seorang wanita..
dan berzina dengannya selama enam hari..
lalu ia sadar dan bertaubat..
ia pun pergi meninggalkan tempat ibadahnya..
lalu ia singgah di sebuah masjid..
dan tinggal di sana selama tiga hari tak ada makanan..

Suatu ketika, ada orang yang memberinya roti..
ketika ia hendak memakannya..
ia melihat dua orang yang amat membutuhkan..
ia pun memotong roti..
dan memberikannya kepada keduanya..
sementara ia tak makan..

Maka Allah memerintahkan malaikat untuk menimbang..
antara amalannya selama 60 tahun dan zinanya selama 6 hari..
ternyata lebih berat zina selama 6 hari..

Lalu Allah memerintahkan menimbang zinanya 6 hari dengan dua potong roti..
ternyata lebih berat dua potong roti
diriwayatkan oleh Nadlr bin Syumail dari perkataan ibnu Mas'ud..
dan ibnu Abu Nuaim meriwayatkan juga kisah yang sama dari Abu Musa Al Asy'ari dengan sanad yang shahih..

Lihatlah..
ibadah 60 puluh tahun dikalahkan oleh zina 6 hari..
tidakkah menjadi takut hati kita untuk berbuat maksiat..

Lihat juga..
ternyata berinfak di saat kita butuh..
melebihi ibadah selama 60 tahun..

Namun..
itu tak mudah..
karena jiwa amat mencintai harta..
kecuali orang yang Allah berikan kekuatan padanya..

Sumber : SalamDakwahCom

9/07/2018

Menilai Seseorang

Jangan pernah menilai seseorang dengan melihat masa lalunya….

💦 Betapa banyak diantara kita yang memiliki masa lalu yang kelam…jauh dari sunnah…jauh dari hidayah…tenggelam dalam dunia yang menipu…terombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista…

❓ Bukankah banyak sahabat radhiallahu ‘anhum yang dahulunya pelaku kemaksiatan…, peminum khomr…, bahkan pelaku kesyirikan…?

💫 Akan tetapi tatkala cahaya hidayah menyapa hati mereka, jadilah mereka generasi terbaik yang pernah ada di atas muka bumi ini.

⚠ Bisa jadi anda salah satu dari mereka para akhwat yang memiliki masa lalu yang kelam…yang mungkin saja kebanyakan orang tidak mengetahui masa lalu kelam anda.

❗ Sebagaimana anda tidak ingin orang lain menilai anda dengan melihat masa lalu kelam anda…maka janganlah anda menilai orang lain dengan melihat masa lalunya yang buruk…..

📌 Yang menjadi patokan adalah kesudahan seseorang… kondisinya tatkala akan meninggal, bukan masa lalunya.

💫 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Amalan-amalan itu tergantung akhirnya”

Oleh Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Andai Mereka Tahu

Jika saya tinggalkan dunia hitam ini lalu saya mau kemana?
Jika saya keluar dari bidang haram ini lalu saya mau kerja dimana?
Jika saya tinggalkan geng saya dengan segala maksiatnya, memangnya ada yang mau berteman dengan saya?

Andai mereka tahu bahwa Pencipta dan Pemilik kehidupan ini telah berfirman:

‏﴿١٠٠﴾ ۞ وَمَن يُهَاجِرْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدْ فِى ٱلْأَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ ...

"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan kelapangan yang banyak..."

(An Nisaa: 100)

Ternyata...
Ada kehidupan lain yang penuh dengan kehangatan siap menyambut kita. 
Banyak bidang dan lapangan pekerjaan yang menunggu kita.
Banyak teman shalih/shalihah yang mau berpijak bersama.

Hanya saja kita belum tahu dan mengenal mereka.

Saudaraku..
ALLAH memastikan bahwa dibalik hijrah ada banyak tempat yang indah, ada banyak kelapangan, rizki, ketenangan serta kebahagian.

Maka jangan ragu untuk berhijrah dari dosa.

Yang perlu anda lakukan adalah terus melangkah, lalu bersabar dan bertahan, niscaya pertolongan ALLAH dan kelapangan itu pasti menyapa anda.

Disadur dari Tafsir Ath Thabari dan Al Qurthubi QS. An Nisa ayat 100, oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikry, Lc حفظه الله تعالى

8/19/2018

Waktu dan Hati

1. Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

"Semua bencana yang menimpa seorang hamba maka sebabnya adalah menyia-nyiakan waktu dan rusaknya hati."

📚 Risalah Ibnil Qayyim ila Ahadi Ikhwanih, hlm. 3

2. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

"Termasuk perkara yang akan mengeraskan hati adalah banyak bercanda, tertawa, terlalu gembira, dan banyak main-main. Maka wajib atas seorang muslim untuk mewaspadai perkara-perkara ini."

📚 Al-Khuthab al-Mimbariyyah, jilid 2 hlm. 78

3. "Sesungguhnya hari ini adalah hari beramal, dan tidak ada perhitungan (hisab), sedangkan hari esok adalah hari perhitungan, dan tidak ada amal."

Hilyah al-auliya 1/76, fadhail ash-shahabah 1/530, az-zuhd ibn hanbal 1/130

5/09/2018

ALLAH MENCINTAI MU

Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam_ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

*_“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.”_*
```(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah At Tirmidzi berkata bahwa hadits ini Hasan Ghorib)```

Dari _Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya_ berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

_*“Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya?”*_

Beliau _shallallahu ‘alaihi wasallam_ menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

_*“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka dia akan mendapat ujian begitu kuat. Apabila agamanya lemah, maka dia akan diuji sesuai dengan agamanya. Senantiasa seorang hamba akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”*_
```(HR. Tirmidzi. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)```

*Semoga kita yang sedang mendapat ujian atau musibah* merenungkan hadits-hadits di atas. Sungguh ada sesuatu yang *tidak kita ketahui* di balik musibah tersebut. Maka *bersabarlah dan berusahalah ridho dengan taqdir ilahi.* Sesungguhnya *para Nabi dan orang sholeh dahulu juga telah mendapatkan musibah* sebagaimana yang kita peroleh.

*💔 Kenapa Kita Harus Bersedih, Mengeluh dan Marah?⚡*

Bahkan orang sholeh dahulu *-sesuai dengan tingkatan keimanan mereka-,* mereka malah memperoleh ujian lebih berat.

Cobalah kita perhatikan perkataan ulama berikut,
Al Manawi _rahimahullah_ mengatakan,
*“Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta (tertutupi). Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan.*

*Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya _Nabi Allah Yahya bin Zakariya,_ terbunuhnya _tiga Khulafa’ur Rosyidin,_ terbunuhnya _Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir._*

*Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah _Abu Hanifah_ yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, _Imam Malik_ yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga _lepaslah bahunya,_ begitu juga kisah _Imam Ahmad_ yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. Dan masih banyak kisah lainnya.”*
```(Faidhul Qodhir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/518, Asy Syamilah)```

*Semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar ketika menghadapi musibah, baik dengan hati lisan atau pun anggota badan..*

*Ya Allah..*
*Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang selalu ridho dengan taqdir-Mu..*
*________________________________*

*_✒Ustadz Azhar Khalid bin Seff, MA_*

*📖 Sumber Rujukan Utama :*
```[Syarh Qowaidil Arba, Syaikh Sholih bin ‘Abdillah Al Fauzan]```

2/28/2018

Cinta buta anak

Dari Khaulah binti Hukaim, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari rumah sedang menggendong salah seorang cucunya, maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

والله إنَّكُمْ لَتُبَخِّلُوْنَ وَتُجَبِّنُوْنَ وَتُجَهِّلُوْنَ وَ إنَّكُمْ لَمِنْ رَيْحَانِ الله.

Dan demi Allah, sesungguhnya kalian membuat bakhil, membuat pengecut dan membuat bodoh (orang tua). Dan kalian laksana bunga raihan karunia dari Allah. (HR.Ahmad, 2/409 dan Tirmidzi, 1910)

Ada beberapa komentar ulama tentang makna hadits di atas. Zamakhsyary berkata, ”Anak menjatuhkan orang tua kepada sifat bakhil dalam masalah harta benda dengan alasan masa depan anak. Orang tua menjadi bodoh karena sibuk mengurus anak hingga lalai mencari ilmu. Orang tua menjadi pengecut hingga takut terbunuh, khawatir nanti anaknya terlantar. Dan orang tua dibuat sedih karena berbagai masalah dan problem yang timbul dari anak. Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Kalian laksana bunga raihan karunia dari Allah”, karena orang tua mencium dan memeluk anak, bagaikan mencium bunga raihan yang ditumbuhkan Allah.” (Manhaj Tarbawiyyah Nubuwah Lithafal, 198)

1/21/2018

Tertawa

Bakr bin Abdullah al-Muzani Rahimahullah berkata :

عن بكر بن عبد الله المزني، قال: من يأت الخطيئة وهو يضحك دخل النار وهو يبكي

“Barangsiapa melakukan kesalahan dalam keadaan tertawa, maka dia akan masuk neraka dalam keadaan menangis.” (Hilyatul Auliya 6/185)
Teguran bagi orang yang bangga dengan perbuatan dosanya..

Tertawa saat menggibah

Tertawa saat berdusta

Tertawa saat mengadu domba

Tertawa saat melakukan dosa

Tertawa saat menyakiti teman dan tetangga. 

Ini merupakan pemandangan yang lazim kita saksikan.. 

Mengapa engkau tertawa? Padahal Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menangis saat mengingat akan menjadi saksi atas kesalahan-kesalahanmu di hadapan Allah…

Semoga kita diselamatkan dari adzab an-naar (neraka).

12/15/2017

Tanda Kebaikan

Sebahagian orang mengira, bahwa ketika bertambah kuantitas dari harta dan keturunannya, adalah indikasi kebaikan untuknya, padahal hal itu belum tentu. Karena ketika kita membaca dan menela'ah, Al-Qu'anul karim, maupun Al-hadits an-nabawiah ash shohihah, niscaya tidak akan kita temukan sepotong pun ayat dan hadits yang memuji dan menyanjung dunia.

Namun hakikat kebaikan yang SEJATI adalah semakin bertambahnya kuantitas dan kualitas ilmu, akhlak, ibadah, syukur dan istighfar kepada Allah Dzul Jalali wal Ikram.

🏷 Abu Darda radiyallahu anhu menuturkan :
"Kebaikan itu bukan dengan semakin bertambahnya harta dan putra-putri anda, namun kebaikan adalah anda semakin santun, bertambah ilmu, menyeru manusia agar beribadah kepada Allah,  jika berbuat baik, anda memuji Allah, dan jika berbuat jelek, anda memohon ampunan Allah"

📚Tarikh Dimasyq : 47/158.

11/05/2017

Saya Lebih Baik Daripada Dia?

"Ana Khoirun Minhu" (Saya Lebih Baik Daripada Dia)?

Merasa benar tidak melazimkan seseorang merasa lebih baik, lebih suci, paling bertaqwa, pemegang kunci surga. Merasa benar dan merasa lebih baik adalah dua hal yang berbeda. Walhasil jika Anda dikritik lantaran terbukti menyelisihi kebenaran, maka janganlah Anda picik menyebut orang yang mengkritik dengan tudingan merasa lebih baik, "ana khoirun minhu" (saya lebih baik daripada dia), seperti yang dinyatakan Iblis terhadap Adam.

Camkan nasehat pendahulu umat ini, imamnya ahli hadits, Al-Imam Auza'i (157 H) rohmatullah 'alaih:

عليك بالأثر وإن رفضك الناس وإياك وأراء الرجال وإن زخرفوه بالقول فإن الأمر ينجلي وأنت فيه على طريق مستقيم

“Wajib atas engkau berpegang dengan atsar (cara beragama Nabi shollallahu 'alaihi wasallam dan para Shohabat) sekalipun orang-orang menolakmu. Hati-hatilah engkau dari logika dalam beragama meskipun mereka menghiasinya dengan berbagai omongan. Karena perkara agama ini telah sangat jelas dengan atsar dan jika engkau beragama atas dasar atsar itu, maka engkau telah berjalan di atas jalan yang lurus.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah - Al-Imam Ibnu Muflih 2/70)

9/23/2017

Hakikat Mencintai Karena Allah

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri (161 H) berkata:

إذا أحب الرجل الرجل في الله ، ثم أحدث حدثا ؛ فلم يبغضه عليه ؛ فلم يحبه لله

“Jika seseorang mencintai orang lain karena Allah, kemudian orang yang dicintainya itu membikin bid'ah dalam beragama, lalu dia tidak membencinya maka sungguh dia tidak mencintainya karena Allah." (Riwayat Ibnu Abi Hatim dalam “Al-Jarh Wat Ta’dil” 1/52 sanadnya shahih)

Yakni membiarkan penyimpangannya, tidak menyampaikan nasehat kepadanya, maka pada hakikatnya dia mencintai saudaranya itu karena hawa nafsu.

Bersahabatlah dengan orang-orang yang mencintai kita karena Allah, karena dia akan mengingatkan kita kepada Allah. Al-Imam Dzun Nun Al-Mishri (245 H) berkata, "Bila engkau lupa, dia akan mengingatkanmu. Jika engkau ingat (Allah) dia akan menolongmu." (Shifatus Shofwah 4/315)

https://t.me/manhajulhaq

8/20/2017

Penghilang Rasa Sakit

"Jika ridha kepada ALLAH itu kuat, niscaya hilanglah semua rasa sakit."
(Ibnu Rojab, Jaami' 'Ulum wal Hikam 488)

Bukan kongkow,
Bukan sebatas curhat dengan makhluk,
Bukan obat penenang,
Namun ridha pada Sang Pencipta yang mentaqdirkan dengan penuh hikmah dan kasih sayang.

‏﴿٥٩﴾ وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا۟ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ سَيُؤْتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ وَرَسُولُهُۥٓ إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رٰغِبُونَ

(59) Kalau saja mereka sungguh-sungguh *ridha* dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami". *niscaya Allah akan memberikan karunia-Nya* dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah," (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).
(At Taubah: 59)

✏ Ust. Muhammad Nuzul Dzikri LC

4/27/2017

Baru Seminggu Buka Usaha Langsung Tutup

Bismillah,

Tidak sulit mendapati orang buka usaha tempat makan, toko, warung kelontong, properti atau usaha lainnya, baru berjalan hitungan hari atau minggu ternyata sudah tutup karena tidak laku. Ada juga yang membuka usaha tapi bangkrut akhirnya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa begitu sulit mencari rezeki?

Sebenarnya ada banyak faktor yang menyebabkan hal itu, seperti kurang matangnya konsep sebelum memulai usaha, manajemen yang kurang baik dalam menjalankan rodanya, dan berbagai sebab lainnya.

Dalam tulisan ini, penulis hanya akan menyebutkan satu sebab saja, mengapa rezeki begitu sulit terbuka untuk mereka, melalui beberapa hadits berikut ini:

إن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه

“Sesungguhnya seseorang benar-benar terhalang rezekinya akibat dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad)

مطل الغني ظلم

“Menunda-nunda pembayaran bagi orang kaya (yang mampu melakukannya) adalah kezaliman (dosa).” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud)

Mengkompromikan dua dalil di atas, kita tidak bisa pungkiri, bahwa seseorang akan susah menembus pintu rezeki, jika dia melakukan kezaliman dengan menahan hak orang lain yang ada pada dirinya, padahal dia mampu memberikan atau mengembalikannya.

Di antara bentuk nyatanya adalah:
Menunda, berpura-pura lupa atau bahkan sengaja tidak membayar cicilan/utangnya.
Menunda, berpura-pura lupa atau bahkan sengaja tidak membayar gaji karyawannya.
Menunda, berpura-pura lupa atau bahkan sengaja tidak membayarkan bagi hasil kepada rekan usahanya, bahkan curang dengan membagi tidak sesuai kesepakatan, agar dirinya mendapatkan lebih.

Begitulah sebagian orang. Mereka sibuk membangun usaha baru, toko baru, cabang baru, tapi tidak sibuk memikirkan orang lain yang menunggu-nunggu pengembalian uang dan pembayaran gajinya. Orang kadang bertanya, “Mengapa antum buka usaha ini, kredit ruko ini, beli pick up ini, beli perabot ini, buka cabang disini, sementara keuntungan usaha untuk saya belum antum bayarkan?”

Parahnya, orang akhirnya pulang dengan mengatakan, “Semoga Allah tidak memberikan keberkahan pada perdaganganmu! Semoga Allah bangkrutkan usahamu!”

Jadilah doa orang itu dikabulkan Allah karena memang doa orang yang terzalimi tidak ditolak-Nya. Camkan wahai pembaca!

Karenanya, kami tutup tulisan ini dengan nasehat melalui kutipan hadits Nabi yang mulia,

إن روح القدس نفث في روعي أنه لن تموت نفس حتى تستكمل رزقها، فاتقوا الله وأجملوا في الطلب، فإنه لا ينال ما عند الله إلا بطاعته

“Sesungguhnya Jibril membisikkan di benakku bahwa jiwa itu tidak akan mati sampai disempurnakan rezekinya. Karenanya bertakwalah kalian kepada Allah dan perbaikilah cara mencari rezeki itu, karena rezeki yang ada di sisi Allah tidak akan didapatkan kecuali dengan menjalankan ketaatan kepada-Nya.” (HR. Al-Hakim)

Oleh: Ustadz Muflih Safitra
http://pengusahamuslim.com/5875-baru-seminggu-buka-usaha-langsung-tutup.html

1/07/2017

BUGHATS

Seorang ulama dari Suriah bercerita ttg do'a yg selalu ia lantunkan. Ia selalu mengucapkan do'a seperti berikut ini.

*ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺭﺯُﻗﻨَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺮﺯُﻕُ ﺍﻟﺒُﻐَﺎﺙََ*

"Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi rezeki kpd *bughats*"_

Apakah "bughats" itu...?
Dan bagaimana kisahnya...?

"Bughats" anak burung gagak yg baru menetas. Burung gagak ketika mengerami telurnya akan menetas mengeluarkan anak yg disebut "bughats". Ketika sdh besar dia menjadi gagak (ghurab).

Apa perbedaan antara bughats & ghurab...?

Telah terbukti secara ilmiah, anak burung gagak ketika baru menetas warnanya bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu. Kulitnya berwarna putih.

Di saat induknya menyaksikanya, ia tdk terima itu anaknya, hingga ia tdk mau memberi makan dan minum, lalu hanya mengintainya dari kejauhan saja.

Anak burung kecil malang yg baru menetas dari telur itu tdk mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang.
Lalu bgmna ia makan dan minum...?

Allah Yang Maha Pemberi Rezeki yg menanggung rezekinya, karena Dialah yg tlh menciptakannya.

Allah menciptakan AROMA tertentu yg keluar dr tubuh anak gagak yg dpt mengundang datangnya serangga ke sarangnya. Lalu berbagai macam ulat & serangga berdatangan sesuai dengan kebutuhan anak gagak, lalu ia pun memakannya...
Bismillahi Masya Allah...

Keadaannya terus seperti itu sampai warnanya berubah menjadi hitam, karena bulunya sdh tumbuh.

Ketika itu barulah gagak mengetahui itu anaknya & ia pun mau memberinya makan sehingga tumbuh dewasa & bisa terbang mencari makan sendiri.
Secara otomatis aroma yg keluar dari tubuhnya pun hilang & serangga² tdk berdatangan lagi ke sarangnya.

Dia-lah Allah, Ar Razaq, Yg Maha Penjamin Rezeki...

*... نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا .*
...Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia...
(QS. Az-Zukhruf: Ayat 32)

Rezekimu akan mendatangimu di mana pun engkau berada, selama engkau menjaga ketakwaanmu kepada Allah, sbgmn sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam:

"Sesungguhnya Malaikat Jibril membisikkan di dlm qalbuku bahwa seseorang tdk akan meninggal sampai sempurna seluruh rezekinya. Ketahuilah, bertaqwalah kpd Allah, dan perindahlah caramu meminta kpd Allah. Jgn sampai keterlambatan datangnya rezeki membuatmu mencarinya dgn cara bermaksiat kpd Allah. Sesungguhnya tdk akan didapatkan sesuatu yg ada di sisi Allah kecuali dgn menta'atinya."

Jadi...
Tidaklah pantas bagi orang-orang yang beriman berebut rezeki & seringkali tdk mengindahkan halal haramnya rezeki itu dan cara memperolehnya.

Yuk introspeksi diri, apakah muamalah dan pekerjaan yg kita lakukan ini sudah sesuai hukum الله atau belum. Mengetahui status hukum perbuatan dulu baru berbuat....itulah sikap selayaknya seorang muslim.

*اَللّٰهُمَّ اَكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.*

“Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.” (HR. Ahmad)

Selamat bekerja....semoga dipenuhi keberkahannya dan mencari karunia الله di bumi milik-Nya

TAFAKKUR FII KHOLQILLAH
SEMOGA BERMANFAAT 🙏🙏🙏

Diposting dan disebarkan kembali oleh Maa Haadzaa

Silahkan bergabung untuk mendapatkan info seputar kajian dan atau ilmu sesuai sunnah
Melalui:
Website https://www.maahaadzaa.com
Join Channel Telegram https://goo.gl/tF79wg
Like Facebook Fans Page https://goo.gl/NSB792
Subscribe YouTube https://goo.gl/mId5th
Follow Instagram https://goo.gl/w33Dje
Follow Twitter https://goo.gl/h3OTLd
Add BBM PIN:D3696C01
WhatsApp Group khusus *Ikhwan* https://goo.gl/xPQAMw
WhatsApp Group khusus *Akhwat* https://goo.gl/sH9EqA

Silahkan disebarluaskan tanpa merubah isinya. Semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita.
Jazaakumullahu khairan.

12/25/2016

Kebaikan dan Keburukan Untukmu

Saudaraku...  Manusia di dunia ini  pasti beraktifitas atau beramal, hanya saja diantara mrk ada yg beramal shalih yg di Ridhoi Allah,  ada yg  beramal  buruk yg di murkai Allah...

Ketahuilah bhw Allah tidak butuh dgn amalan kita, namun buah dr semua amalan yg kita lakukan kembali  kpd kita dan utk kita sendiri baik yg baik maupun yg buruk, yg akan di dapatkan balasannya di dunia dan akhirat...

SIMAKLAH PERNYATAAN ROBBUL ALAMIN...

(مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۖ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ)

_"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan."_
[Surat Al-Jathiya 15]

(إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ

_"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri"_
[Surat Al-Isra' 7]

JANGAN KHAWATIR...
SEMUA PASTI DI CATAT...

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لاَ يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَلاَ كَبِيْرَةً إِلاَّ أَحْصَاهَا وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًا وَلاَ يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (49)

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

SEMUA PASTI  DI BALAS...

(فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ)
(وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ)

_"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.* Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula._
[Surat Az-Zalzalah 7-8]

JANGAN ANGGAP REMEH KEBAIKAN ATAU KEBURUKAN...

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

_“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.”_ (HR. Abu Daud no. 4084.  shahih).

«اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ»

_“Jagalah diri kalian dari api neraka, meski hanya dengan bersedekah sepotong kurma”._

BUKU CATATAN AMAL PASTI DIBERIKAN... DGN TANGAN YG MANA KITA TERIMA ? ?

*BILA DI TERIMA DGN YG KANAN...*

فَأَمَّا مَنْ أُوْتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِيْنِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيْرًا (8) وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُوْرًا (9)

_“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.”_(QS. Al-Insyiqaaq: 7-9)

*BILA DI TERIMA DGN YG KIRI...*

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُوْرًا (11)

_“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang,(dengan tangan kiri) maka dia akan berteriak: “Celakalah aku.”_(QS. Al-Insyiqaaq: 10)

YA ALLAH...

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

_“Ya Allah, bantulah aku agar senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Mu”._

Dari: Abu Ismail, ma'had Riyadhusshalihiin, Pandeglang.