Tampilkan postingan dengan label tholabul ilmi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tholabul ilmi. Tampilkan semua postingan

2/05/2020

Madinah Kota Ilmu dan Iman

* APABILA ISLAM SUDAH MEMBINGUNGKAN TIDAK TAU MANA YANG BENAR MANA YANG SALAH CARILAH ILMU SYAR'I DIMADINAH KARENA *

Keimanan Akan Kembali Ke Kota Madinah...
Diantara keutamaan yang lain dari kota Madinah adalah iman akan kembali ke Madinah....
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ... :

إنَّ الإِيْماَنَ لَيَأْزِرُ إِلَى الْمَدِيْنَةِ كَمَا تأْزِرُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا

" Sesungguhnya iman akan kembali ke kota Madinah sebagaimana ular kembali kelubang atau sarangnya."
[HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Nabi ﷺ mensifati kota Madinah bahwasanya:

* Kota Madinah memakan negeri-negeri... 
Beliau ﷺ bersabda...:

أُمِرْتُ بِقرية تَأْكُل الْقُرَى. يَقُولُونَ: يَثْرِبُ، وَهِي الْمَدِينَة

"Aku diperintahkan untuk berhijrah ke sebuah kota yang memakan kota-kota yang lain, mereka menamakannya kota tersebut adalah Yatsrib, padahal namanya adalah Al-Madinah." 
(HR Al-Bukhari dan Muslim)

* Kota Madinah menggugurkan dosa dan kesalahan karena keutamaannya, atau karena cobaan yang dihadapi oleh seorang hamba di kota Madinah....
Rasulullah ﷺ bersabda...:

إنها طيبةٌ تَنْفِي الذُّنوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خبث الفِضَّة

"Sesungguhnya Madinah adalah Toibah, ia menghilangkan dosa-dosa sebagaimana api yang menghilangkan kotoran-kotoran perak" 
(HR Al-Bukhari)

* Dan kota Madinah mengusir golongan buruk dari manusia, Nabi ﷺ bersabda :

تَنْفِي النَّاسَ كَمَا يَنْفِي الْكِير خبث الْحَدِيد

"Kota Madinah mengusir manusia yang buruk darinya, sebagaimana alat pandai besi yang menghilangkan karat besi." 
(HR Al-Bukhari dan Muslim)

* Dan Nabi ﷺ menyamakan kekuatan kota Madinah untuk membersihkan dari kotoran sebagaimana alat kekuatan alat pandai besi, maka beliau bersabda...:

المدينةُ كَالْكِيْرِ تَنْفِي خَبَثَهَا

"Kota Madinah seperti alat pandai besi, membersihkan dari kotorannya" 
(HR Al-Bukhari dan Muslim)

* Madinah adalah kota yang aman untuk menegakkan syi'ar-syi'at Islam, dan darinya tersebarlah agama...
Nabi ﷺ bersabda...:

إِنَّهَا حَرَمٌ آمِنٌ

"Sesungguhnya Madinah adalah tanah haram (suci) yang aman" 
(HR Muslim)

* Barangsiapa yang menghendaki keburukan di kota Madinah maka Allah akan membinasakannya....
Rasulullah ﷺ bersabda...:

مَنْ أَرَادَهَا بِسُوْءٍ أَذَابَهُ اللهُ كَمَا يَذُوْبُ الْمِلْحُ فِي المَاءِ

"Barangsiapa yang menghendaki keburukan padanya maka Allah akan meleburkannya sebagaimana garam yang melebur di air" 
(HR Ahmad)

* Dan barangsiapa yang berencana buruk kepada penduduk kota Madinah maka Allah akan membinasakannya dan Allah tidak akan menundanya....
Nabi ﷺ bersabda...:

لاَ يَكِيْدُ أَهْلَ الْمَدِينَة أحدٌ إِلَّا انْمَاعَ كَمَا يَنْمَاعُ الْمِلْحُ فِي المَاءِ

"Tidaklah seorangpun yang berencana buruk kepada penduduk kota Madinah kecuali ia akan lebur sebagaimana garam yang lebur di air" 
(HR Al-Bukhari)

* Barangsiapa yang menghendaki keburukan kepada penduduk kota Madinah maka Allah mengancamnya dengan adzab yang pedih di neraka...
Nabi ﷺ bersabda :

وَلَا يُرِيد أحدٌ أهلَ الْمَدِينَة بِسوء إِلَّا أذابه الله فِي النَّارِ ذَوْبَ الرَّصَاصِ، أَو ذَوْبَ الْمِلْحِ فِي المَاءِ

"Dan tidak seorangpun yang menghendaki keburukan kepada penduduk kota Madinah kecuali Allah akan meleburkannya di neraka sebagaimana leburnya timah, atau leburnya garam di air" 
(HR Muslim)

* Barangsiapa yang menakut-nakuti penghuni kota Madinah maka Allah akan menjadikannya takut dan mengancamnya dengan laknat...
Nabi ﷺ  bersabda... :

مَنْ أَخَافَ أَهْلَ الْمَدِيْنَةِ ظَالِمًا لَهُمْ أَخَافَهُ اللهُ وَكَانَتْ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلاَ عَدْلٌ

"Barangsiapa yang menakut-nakuti penduduk kota Madinah dengan menzolimi mereka, maka Allah akan menjadikan mereka takut, dan atas dia laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia, tidak akan diterima darinya amal wajibnya dan tidak juga amal sunnahnya" 
(HR An-Nasai)

* Karena kemuliaan kota Madinah maka Allah menjadikan daerah sekitar masjid Nabawi sebagai tanah haram, sebagaimana kota Mekah...
Nabi ﷺ bersabda :

وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ

"Sesungguhnya aku telah menjadikan Madinah sebagai tanah suci/haram sebagaimana Ibrahim menjadikan Mekah sebagai tanah haram" 
(HR Muslim)

والـلــه تعالى أعلم بالصواب

7/08/2019

7 KESALAHAN FATAL MEMBACA AL-FATIHAH

*1. BACAAN BASMALLAH*
✅BENAR.
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan Nama ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
⛔SALAH
بسم الله الرهمن الرهيم
Dengan Nama ALLAH Maha Menurunkan penyakit melalui hujan gerimis yg berkepanjangan.
Jangan menyamakan hح dengan Hه

*2. AYAT 1*
✅BENAR
الحمد لله رب العالمين
Segala Puji hanya untuk ALLAH  Tuhan Pemelihara Alam semesta.
⛔SALAH
الهمد لله رب الآلمين
Segala diam, pasif dan mati untuk ALLAH Tuhan Pemelihara segala penyakit.
Jangan menyamakan ع dengan ؤ ئ أ

*3. AYAT 2*
✅BENAR.
الرحمن الرحيم
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
⛔SALAH
الرهمن الرهيم
Maha Menurunkan penyakit melalui hujan gerimis yg berkepanjangan.
Jangan menyamakan hح dengan H

*4. AYAT 3*
✅BENAR
مالك يوم الدين
Yang Menguasai hari pembalasan.
⛔SALAH
مالكي يوم الدين
Yang Menguasaiku / Yang menjadi Tuhanku adalah hari pembalasan. (bukan ALLAH tuhanku).
Memberi spasi di MALIKI ,-, YAUMIDDIN  saat membaca ayat ini adalah sama dengan memanjangkan bacaaan مالك menjadi مالكي.

*5. AYAT 4*
✅BENAR
إيّاك نعبد و إيّاك نستعين
Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.
⛔SALAH
إيياكا نأبد و إيياكا نستئين
Kami lebih abadi dari Engkau, dan kami minta perpanjangan waktu.
Jangan memanjangkan bacaan pendek dan jangan memendekkan bacaan panjang
Jangan menukar ع dengan إ ؤ ئ / ء

*6. AYAT 5*
✅BENAR
اهدنا الصراط المستقيم
Tunjuki kami jalan yg lurus
⛔SALAH
اهدنا السرات المستكيم
Berikan kami sertifikat segundukan seperti gundukan punuk onta.
Jangan mengganti
ص dengan س
ط dengan ت
ق dengan ك

*7. AYAT 6 dan 7*
✅BENAR
صراط الّذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضآلّين
yaitu jalan orang orang yg Engkau berikan nikmat, bukan jalan orang orang yg Engkau murkai dan bukan jalan orang orang yg sesat.
⛔SALAH
سرات الذين أنئمت أليهم كير المكدوب أليهم ولا الدآلّين
yaitu sertifikat org org yg kau beri seperti auman singa yg keras dan sertifikat seujung kuku dan sertifikat yg tidak benar
Jangan menukar
ص dengan س
ع dengan ئ ؤ أ ء
غ dengan ك
ض dengan د

Dari pemaparan di atas, terlihat jelas kesalahan-kesalahan *fatal* (lahn jahl) yang bisa merubah kandungan makna di dalam setiap ayat. Mari kita sama-sama saling memperbaiki bacaan, terus menerus melakukan perbaikan dalam bacaan al Quran. Semoga kita menjadi pecinta Al Quran dan fasih di dalam membacanya!

2/17/2019

Fawaid Kajian Ilmu

*Fawaid Kajian Ust. Abdul Hakim Abdat -hafizhahullaah- (18 Muharram 1440, Masjid Jaami' Ponpes Abu Hurairah Mataram)*
-------------

Kita berkumpul di Masjid, sebaik-baik tempat di muka bumi, untuk menuntut ilmu.

Ilmu adalah kekuatan besar Islam dan kaum muslimin.

Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

_Maka *ilmuilah*, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu._ -Sura Muhammad, Ayah 19

Imam al-Bukhari berdalil dengan ayat di atas bahwa ilmu wajib ada sebelum berucap dan beramal.

Allah berfirman;

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

_Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya._ -Sura Al-Isra', Ayah 36

Sebagian ulama menafsirkan "walaa taqfu" dalam ayat di atas; "jangan kamu mengikuti siapapun juga tanpa ilmu"

Ayat ini menjelaskan bahwa Islam mendasari segala sesuatunya dengan ilmu.

Dengan demikian wajib memulai agama ini dengan ilmu. Allah memulai memperkenalkan tauhid, yaitu "Laa-ilaaha illallaah", dengan perintah untuk berilmu lebih dahulu.

*Urgensi ilmu: Tanpanya, seseorang bisa binasa*
🍒 Suatu ketika seorang sahabat terluka kepalanya, dia tengah junub. Sementara cuaca sangat dingin. Dia bertanya; adakah keringanan untukku (untuk tidak mandi junub)...??. Mereka mengatakan; tidak. Dia pun mandi, dan meninggal. Berita itu sampai kepada Nabi. Nabi ﷺ lantas bersabda;

قتلوه قاتلهم الله ألا سألوا إذا لم يعلموا
_"Mereka telah membunuhnya, semoga Allah memerangi mereka. Kenapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui??..."_

Disebabkan fatwa tanpa ilmu, nyawa seseorang melayang. Nabi ﷺ marah besar kepada mereka yang berfatwa tanpa ilmu.

🍒 Sifat Nabi yang mulia, tidak akan pernah diam akan kesalahan yang dilakukan oleh sahabat. Jika beliau diam atas suatu perbuatan Sahabat, berarti beliau setuju. Inilah yang disebut sebagai Sunnah Taqririyyah.

🍒 Dalam Sunan Abi Dawud, diriwayatkan bahwa seorang Sahabat shalat 2 rakaat setelah shalat Subuh. Nabi lantas menegur dan bertanya. Sahabat itu menjawab; itu adalah shalat Sunnah fajar yang belum sempat dia lakukan. Nabi lantas diam sebagai tanda bahwa beliau menyetujui apa yang dilakukan sahabat tersebut.

🍒 Nabi ﷺ terkadang mendengarkan para sahabat yang tengah bercerita mengenang kisah-kisah masa jahiliah. Para sahabat tertawa, lantas Nabi ﷺ hanya tersenyum. Ini juga contoh Sunnah Taqririyyah.

🍒 'Amr ibn. Al-'Ash pernah diutus dalam suatu peperangan sebagai amir. Suatu hari 'Amr janabah, dia tidak mandi, karena waktu itu sangat dingin, dia hanya tayammum. Para sahabat melaporkan hal tersebut pada Rasulullah ﷺ. Lantas Rasulullah ﷺ bertanya kepada 'Amr. Lantas 'Amr menjawab; Yaa Rasulullah ﷺ, aku mendapati Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

_Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. *Dan janganlah kamu membunuh dirimu*. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu._ -Sura An-Nisa', Ayah 29

Rasulullah ﷺ lantas tertawa sebagai tanda persetujuan dan ketakjuban atas kecerdasan 'Amr. Berbeda dengan sebagian orang zaman ini yang justru bunuh diri untuk membunuh kaum muslimin yang lain. Ini adalah kebodohan yang besar. Sekaligus menggambarkan betapa dahsyatnya akibat beramal tanpa ilmu.

Kisah-kisah di atas bermuara pada satu kesimpulan; betapa penting dan urgennya ilmu dalam Islam.

🍒 Nuntut ilmu itu penting sekali. Berbicara tanpa ilmu bisa membinasakan orang lain. Ini manhaj Rasul yang wajib kita ikuti.

🍒 Hakikat Ilmu dalam Islam adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah:

العلم معرفة الحق بالدليل

_"Ilmu adalah pengetahuan tentang kebenaran berdasarkan dalil."_ Jika tanpa dalil, maka itu taqlid.

🍒 Tanpa ilmu, orang tidak akan tahu apa itu "Laa-ilaaha illallaah".

🍒 *Asas tauhid ada dua;*
1. U'budullaah; ibadahi hanya Allah saja. Ini meliputi pembahasan tentang; Iman, Aqidah yang shahiihah, manhaj, firqoh yang selamat, dan seterusnya. Ini adalah asas yang pertama.

2. Ijtanib at-Thaaguut; jauhi segala hal yang diibadahi selain Allah. Masuk dalam pembahasan ini adalah syirik (lawan dari tauhid), aqidah-aqidah yang sesat, firqoh-firqoh yang menyimpang, dll.

Jika dakwah tanpa 2 asas tersebut, maka Islam yang Haq ini tidak tampak (dengan tampilan yang seharusnya).

Hadits berikut ini menjelaskan 2 asas di atas.

🍒 Ibnu Mas'ud mengisahkan bahwa Nabi ﷺ menggaris satu garis lurus. Lalu membuat garis di samping kiri-kanan garis yang banyak. Kemudian Nabi menunjuk satu garis lurus tersebut sambil bersabda; _hadza sabiilullaah mustaqiiman_ (inilah jalan Allah yang lurus). Berarti jalan yang benar itu hanya satu, tidak berbilang.

Kemudian Nabi ﷺ menunjuk garis-garis di samping itu seraya bersabda; _haadzihi subuulun mutafarriqoh_ (ini adalah jalan-jalan Syaithan yang memecah belah). Berarti jalan kesesatan itu banyak jumlahnya dan beragam, juga pasti mengakibatkan perpecahan. Lantas Nabi ﷺ menukil firman Allah:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

_Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa._ -Sura Al-An'am, Ayah 153

🍒 Hadits di atas menjelaskan 2 asas dalam dakwah; menyampaikan jalan yang Haq (Tauhid, Sunnah, dan amal shalih), dan juga dibarengi dengan menyampaikan jalan yang batil (syirik, bid'ah dan maksiat). Tidak bisa dalam dakwah hanya mengambil salah satu asas, tapi harus kedua-duanya. Tidak bisa hanya menjelaskan tauhid atau Sunnah saja, tanpa menjelaskan syirik dan bid'ah.**

🍒 Hadits di atas menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ telah menerangkan kepada para Sahabat manhaj dalam beragama. Bagaimana metode yang benar dalam mengambil ilmu agama, dan bagaimana metode yang menyesatkan.

🍒 Mujahid menafsirkan subul dalam ayat di atas sebagai; al-bida' (kebid'ahan-kebid'ahan).

🍒 Yang membuat umat ini berpecah adalah perbedaan dalam masalah manhaj dan aqidah.

🍒 Perpecahan umat saat ini lebih parah daripada perpecahan di zaman salaf. Dulu jahimyah jelas, khawarij jelas. Sekarang, jahmiyyah dan khawarij malah mengaku ahlussunah.

🍒 Menyibukkan diri dalam pembahasan politik yang tidak syar'i, bagi penuntut ilmu, adalah perbuatan sia-sia. Pembahasan politik itu ada dalam Islam, tapi politik yang syar'i. Politik yang sekarang, tidak syar'i. Menyibukkan diri di dalamnya, berarti sama saja dengan orang awam di warung kopi.

🍒 Jangan dengarkan orang yang mengatakan; nanti akan terjadi begini, nanti begitu, ini lebih mirip peramal. Padahal tidak terjadi apa-apa. Ini adalah omongan orang-orang politik. Untuk itu, sibukkan diri dengan firman-firman Allah dan sabda-sabda Rasulullah ﷺ. Saya melihat sebagian penuntut ilmu sibuk membahas politik, jadilah dia pengamat politik.

🍒 Politik yang syar'i harus terpenuhi 2 unsur syarat;
1. Berdasarkan Wahyu (al-Quran, al-Hadits) dan ijma'.
2. Tidak bertentangan dengan wahyu dan ijma'.

_________
** _Ringkasan di atas ditulis secara bebas untuk memudahkan penyampaian makna._

✍️ Johan Saputra Halim, M.H.I (Abu Ziyan)

1/27/2019

ILMU DIPELAJARI UNTUK DIAMALKAN

Ilmu dipelajari untuk diamalkan, bukan hanya sekedar menambah wawasan dan kepintaran, apalagi jika diniatkan untuk membodoh-bodohi orang lain.

Malik bin Dinar berkata,

من طلب العلم للعمل وفقه الله ومن طلب العلم لغير العمل يزداد بالعلم فخرا

“Barangsiapa yang mencari ilmu (agama) untuk diamalkan, maka Allah akan terus memberi taufik padanya. Sedangkan barangsiapa yang mencari ilmu, bukan untuk diamalkan, maka ilmu itu hanya sebagai kebanggaan (kesombongan)” (Hilyatul Auliya’, 2: 378).

Dalam perkataan lainnya, Malik bin Dinar berkata,

إذا تعلم العبد العلم ليعمل به كسره علمه وإذا تعلم العلم لغير العمل به زاده فخرا

“Jika seorang hamba mempelajari suatu ilmu dengan tujuan untuk diamalkan, maka ilmu itu akan membuatnya semakin merunduk. Namun jika seseorang mempelajari ilmu bukan untuk diamalkan, maka itu hanya akan membuatnya semakin sombong (berbangga diri).” (Hilyatul Auliya’, 2: 372).

Wahb bin Munabbih berkata,

مثل من تعلم علما لا يعمل به كمثل طبيب معه دواء  لا يتداوى به

“Permisalan orang yang memiliki ilmu lantas tidak diamalkan adalah seperti seorang dokter yang memiliki obat namun ia tidak berobat dengannya.” (Hilyatul Auliya’, 4: 71).

Ibrahim Al Harbi berkata,

حملني أبي الى بشر بن الحارث فقال يا أبا نصر ابني هذا مشتهر بكتابة الحديث والعلم فقال لي يا بني هذا العلم ينبغي أن يعمل به فان لم يعمل به كله فمن كل مائتين خمسة مثل زكاة الدراهم

“Ayahku pernah membawaku pada Basyr bin Al Harits, lanta ia berkata, “Wahai Abu Nashr (maksudnya: Basyr bin Al Harits), anakku sudah masyhur dengan penulisan hadits dan ia terkenal sebagai orang yang berilmu.” Lantas Basyr menasehatiku, “Wahai anakku, namanya ilmu itu mesti diamalkan. Jika engkau tidak bisa mengamalkan seluruhnya, amalakanlah 5 dari setiap 200 (ilmu) seperti halnya hitungan dalam zakat dirham -perak- (yaitu 1/40 atau 2,5%).” (Hilyatul Auliya’, 8: 347)

Syaqiq Al Balkhi berkata,

الدخول في العمل بالعلم والثبات فيه بالصبر والتسليم إليه بالإخلاص فمن لم يدخل فيه بعلم فهو جاهل

“Masuk dalam amalan hendaklah diawali dengan ilmu. Lalu terus mengamalkan ilmu tersebut dengan bersabar. Kemudian pasrah dalam berilmu dengan ikhlas. Siapa yang tidak memasuki amal dengan ilmu, maka ia jahil (bodoh).” (Hilyatul Auliya’, 8: 69).

Sufyan bin ‘Uyainah berkata,

ما شيء أضر عليكم من ملوك السوء وعلم لا يعمل به

“Tidak ada sesuatu yang lebih memudhorotkan kalian selain dari raja yang jelek dan ilmu yang tidak diamalkan.” (Hilyatul Auliya’, 7: 287).

‘Abdul Wahid bin Zaid berkata,

من عمل بما علم فتح الله له ما لا يعلم

“Barangsiapa mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, maka Allah akan membuka untuknya hal yang sebelumnya ia tidak tahu.” (Hilyatul Auliya’, 6: 163).

Ma’ruf Al Karkhi berkata,

إذا أراد الله بعبد خيرا فتح الله عليه باب العمل وأغلق عنه باب الجدل وإذا أراد بعبد شرا أغلق عليه باب العمل وفتح عليه باب الجدل

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba, Dia akan membuka baginya pintu amal dan akan menutup darinya pintu jidal (suka berdebat atau bantah-bantahan). Jika Allah menginginkan kejelekan pada seorang hamba, Dia akan menutup baginya pintu amal dan akan membuka baginya pintu jidal (suka berdebat)” (Hilyatul Auliya’, 8: 361).

Abu Qilabah pernah berkata kepada Ayyub As Sakhtiyani:

“Apabila kamu mendapat ilmu, maka timbulkanlah ibadah padanya. Jangan sampai keinginanmu hanya untuk menyampaikan kepada manusia.” (Al Adab Asy Syar’iyyah 2/45)

Sebuah pelajaran berharga ...

Tujuan ilmu bukan hanya untuk disampaikan saja. Namun yang terpenting adalah untuk diamalkan.

Di jejaring-jejaring sosial.
Di BBM, FB, WA dan media lainnya.
Kita berlomba menyampaikan ilmu.
Baik dengan copas ataupun cara lainnya.

Namun kita sering lupa ...

Untuk meraih tujuan ilmu ...
Sehingga rasa ujub sering menghinggapi hati. Merasa senang bila yang berkomentar banyak. Merasa sedih ketika tidak ada yang koment

Padahal bukan itu tujuan ilmu.
Tapi tujuan ilmu adalah untuk menambah rasa takut kepada Allah.
Dan menambah keikhlasan kepadaNya.

11/21/2018

Adab Menuntut Ilmu

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan tentang Islam, termasuk di dalamnya masalah adab. Seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. Dia harus mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak yang mulia, baik terhadap dirinya maupun kepada orang lain.

Berikut diantara adab-adab yang selayaknya diperhatikan ketika seseorang menuntut ilmu syar’i,

1. Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu.

Seseorang tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat jika ia tidak ikhlas karena Allah.

Orang yang menuntut ilmu bukan karena mengharap wajah Allah termasuk orang yang pertama kali dipanaskan api neraka untuknya. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

2. Rajin berdoa kepada Allah Ta’ala, memohon ilmu yang bermanfaat.

Hendaknya setiap penuntut ilmu senantiasa memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan memohon pertolongan kepadaNya dalam mencari ilmu serta selalu merasa butuh kepadaNya.

Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk selalu memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan berlindung kepadaNya dari ilmu yang tidak bermanfaat.

3. Bersungguh-sungguh dalam belajar dan selalu merasa haus ilmu.

Dalam menuntut ilmu syar’i diperlukan kesungguhan. Tidak layak para penuntut ilmu bermalas-malasan dalam mencarinya. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dengan izin Allah apabila kita bersungguh-sungguh dalam menuntutnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang: yaitu (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)

4. Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada Allah Ta’ala.

Seseorang terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat dapat menghalangi ilmu yang bermanfaat, bahkan dapat mematikan hati, merusak kehidupan dan mendatangkan siksa Allah Ta’ala.

5. Tidak boleh sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu.

Sombong dan malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu masih ada dalam dirinya.

Imam Mujahid mengatakan,

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ

“Dua orang yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq)

6. Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru.

Allah Ta’ala berfirman, “… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 17-18)

7. Diam ketika pelajaran disampaikan

Ketika belajar dan mengkaji ilmu syar’i tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat, tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang disampaikan, tidak boleh ngobrol. Allah Ta’ala berfirman, “dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204)

8. Berusaha memahami ilmu syar’i yang disampaikan.

Kiat memahami pelajaran yang disampaikan: mencari tempat duduk yang tepat di hadapan guru, memperhatikan penjelasan guru dan bacaan murid yang berpengalaman. Bersungguh-sungguh untuk mengikat (mencatat) faedah-faedah pelajaran, tidak banyak bertanya saat pelajaran disampaikan, mengulang pelajaran setelah kajian selesai dan bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

9. Menghafalkan ilmu syar’i yang disampaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR. At-Tirmidzi).

Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah Ta’ala agar Dia memberikan cahaya pada wajah orang-orang yang mendengar, memahami, menghafal, dan mengamalkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kita pun diperintahkan untuk menghafal pelajaran-pelajaran yang bersumber dari Al-Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

10. Mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan.

Ketika belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran dan poin-poin penting agar ilmu yang disampaikannya tidak hilang dan terus tertancap dalam ingatannya setiap kali ia mengulangi pelajarannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr)

11. Mengamalkan ilmu syar’i yang telah dipelajari.

Menuntut ilmu syar’i bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai pengantar kepada tujuan yang agung, yaitu adanya rasa takut kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, taqwa kepada-Nya, dan mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Dengan demikian, barang siapa saja yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, niscaya ia diharamkan dari keberkahan ilmu, kemuliaan, dan ganjaran pahalanya yang besar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani)

Referensi:
Tematik BISA. Disarikan dari berbagai sumber..

10/01/2018

Nama Asli Para Ulama Kibar

Berikut ini adalah  nama-nama ulama yang sering disebut dengan gelar, kun'ya atau laqob mereka, dan kebanyakan dari kaum muslimin tidak mengetahui nama-nama aslinya.

🌺‏ابـن تيـميـة :  أحمد بن عبدالحليم

🌷Ibnu Taimiyah : Ahmad bin Abdil Halim

🌺‏ابـن الـقيـم  :  مـحـمد بن أبـي بـكر  .

🌷Ibnul Qayyim : Muhammad bin Abi Bakr

🌺‏ابـن رجـب   :  عـبـدالرحـمـن بـن أحـمـد.

🌷Ibnu Rajab : Abdurrahman bin Ahmad

🌺‏ابـن حـزم   :  عـلـي بـن أحـمـد.

🌷Ibnu Hazm : Ali bin Ahmad

🌺‏ابـن حـجـر   :  أحـمـد بن عـلي.

🌷Ibnu Hajar : Ahmad bin Ali

🌺‏ابـن كـثيـر   :  إسـمـاعيـل بـن عـمر  .

🌷Ibnu Katsir : Ismail bin Umar

🌺‏ابـن الـجـوزي:  عبـدالرحـمن بـن عـلـي  .

🌷Ibnul Jauzi : Abdurrahman bin Ali

🌺البـخـاري     :  محـمـد بـن إسـمـاعيـل  .

🌷Al Bukhari : Muhammad bin Ismail

🌺‏أبـو داود     :  سـليـمـان بـن الأشـعـث  .

🌷Abu Daud : Sulaiman bin Al Asy'ats

🌺‏الـتـرمـذي    :  مـحمـد بـن عـيسى  .

🌷At Tirmidzi : Muhammad bin 'Isa

🌺‏الـنسـائـي    :  أحـمـد بـن شـعيـب  .

🌷An Nasa'i : Ahmad bin Syuaib

🌺‏ابـن مـاجـه  :  مـحمـد بـن يـزيـد  .

🌷Ibnu Majah : Muhammad bin Yazid

🌺‏أبـوحـنيفـة :  الـنعـمان بـن ثـابـت  .

🌷Abu Hanifah : An Nu'man bin Tsabit

🌺‏الـشـافـعـي    :  مـحمـد بـن إدريـس  .

🌷Asy Syafi'i : Muhammad bin Idris

🌺‏الـذهـبي     :  مـحمـد بـن أحمـد  .

🌷Adz Dzahabi : Muhammad bin Ahmad

🌺‏الـقـرطـبي   :  مـحمـد بـن أحـمد  . 

🌷Al Qurthubi : Muhammad bin Ahmad

🌺‏السـيـوطـي  :  عبـدالرحـمـن بـن أبـي بـكر  .

🌷As Suyuthi : Abdurrahman bin Abi Bakr.

‏🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃

Sumber : Asy-Syamil.com

Sulit menerima ilmu?

Merasa sulit menerima ilmu? Atau justru ilmu yg dipelajari cepet hilangnya? Mungkin karna kita tidak mengamalkan ilmu yg sudah kita pelajari.

Syaikh Sholeh 'Abdullah Fauzan - Hafidzhohullah - menukil didalam kitabnya perkataan sebagian ahli ilmu :
"Barangsiapa yang beramal dengan ilmunya maka akan Allah berikan ia anugerah keilmuan yang tidak ia ketahui, dan barangsiapa yang tidak beramal dengan ilmunya maka akan Allah cabut ilmu itu dari dalam dirinya"

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah - Rahimahullah - menjelaskan makna "Allah akan memberikan nya ilmu yg tidak ia ketahui" :
"Allah akan menambah keimanannya, memberikannya cahaya (keilmuan), dan membukakan baginya cabang-cabang pintu keilmuan."

Syaikh Abdullah Fauzan melanjutkan :
"Maka engkau akan temukan orang berilmu yg beramal, Allah ta'ala berikan baginya keberkahan dalam waktu dan ilmunya."

Dinukil dari husulul ma'mul fi syarh tsalatil ushul, 19-20

12/17/2017

Manfaat Duduk dengan Orang Sholeh

👤 Imam Ibnul Qoyyim _rahimahullah Ta'ala_ berkata :

"مجالسة الصالحين تحولك من ستة إلى ستة :
1- من الشك إلى اليقين،
2- ومن الرياء إلى الإخلاص،
3- ومن الغفلة إلى الذكر،
4- ومن الرغبة في الدنيا إلى الرغبة في الآخرة،
5- ومن الكبر إلى التواضع،
6- ومن سوء النية إلى النصيحة.
رزقنا الله وإياكم الصحبة الصالحة."

"Duduk bersama orang-orang baik itu akan merubahmu dari 6 hal kepada 6 hal;

1. Dari keragu-raguan kepada keyakinan,
2. ‎Dari suka riya' kepada keikhlasan,
3. ‎Dari kelalaian kepada mengingat,
4. ‎Dari cinta dunia kepada cinta akhirat,
5. ‎Dari sombong kepada tawadhu',
6. ‎Dari niat yang jelek kepada nasihat.

Semoga Allah menganugerahi kita teman-teman yang baik."

📚[Kitab Ighotsah al-Lahfan: 1/136

11/13/2017

Adab Bertanya

Di antara adab-adab bertanya yang harus diperhatikan oleh para tholabatul 'ilmi adalah sebagai berikut:

1. Tujuan bertanya untuk mencari kebenaran dan ingin beramal, bukan untuk mencari-cari keringanan maupun tujuan-tujuan jelek yang lain. (Al-Ushul min 'Ilmil Ushul - Syaikh Al-'Utsaimin) 

Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan para Ulama, atau ingin bersilat lidah dengan orang-orang bodoh, atau ingin menarik perhatian manusia maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka jahannam.” (HR. Ibnu Majah dan dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albani)

Maka sudah semestinya seorang tholibul 'ilmi meluruskan niatnya agar ikhlas karena Allah sehingga ilmu yang dipelajarinya barokah.

2. Tidak bertanya kecuali kepada orang yang berilmu atau menurut dugaannya yang kuat mampu untuk menjawab. Allah berfirman:

"Maka bertanyalah kalian kepada ahlul 'ilmi apabila kalian tidak mengetahui." (Al-Anbiya': 7)

Yakni ahlul ilmi yang dikenal baik manhajnya dan  lurus aqidahnya.

3. Bertanya dengan penuh penghormatan dan meyakini keahlian pihak yang ditanya. Bertanya bukan untuk menguji yang ditanya. Ini adab yang sangat jelek yang harus dijauhi oleh seorang tholibul 'ilmi.

Al-Imam An-Nawawi berkata, “Hendaklah seorang murid memperhatikan gurunya dengan penuh penghormatan. Dia meyakini keahlian gurunya itu dibandingkan yang lain. Adab seperti itu akan membawa dirinya mengambil faidah yang banyak dari sang guru, dan hal itu akan lebih membekas dalam hati dari pesan-pesan yang didengarnya." (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab)

4. Sampaikanlah pertanyaan dengan baik dan benar, sebab hukum terhadap sesuatu adalah cabang dari gambaran permasalahannya. Adakalanya seseorang mendapat jawaban yang sifatnya kondisional, namun diberlakukan secara mutlak di setiap situasi dan kondisi. Inilah sesungguhnya yang menjadi sebab fitnah dan kesimpangsiuran.

5. Hindari penyebutan nama ketika menanggapi jawaban dari sang guru, karena perbuatan semacam itu dapat mengadu domba keduabelah pihak. Seperti ucapan, "Sedangkan Syaikh Fulan berkata begini dan begitu!", "Kalau kata Ustadz Fulan begini dan begitu!"

Para Ulama mengajarkan hendaknya menggunakan ungkapan yang lebih umum seperti, "Wahai Syaikh bagaimana menurut engkau jika ada yang berpendapat begini?"

6. Sabar dan husnudzdzhon (baik sangka) bila pertanyaan melalui pesan singkat belum kunjung dijawab. Boleh jadi yang ditanya sedang ada kesibukan, sakit, melayani tamu, sedang safar, ataupun 'udzur-'udzur yang lain. Yahya bin Abi Katsir berkata kepada anaknya, "Sungguh ilmu itu tidak akan diperoleh dengan badan yang santai."

7. Tidak memaksa seorang guru untuk memberi jawaban secara detail dan dilengkapi dalil. Syaikh Al-Albani berkata, “Terkadang seorang 'alim belum memungkinkan baginya mendatangkan dalil atas sebuah pertanyaan. Khususnya apabila dalilnya itu berkenaan dengan kesimpulan hukum yang tidak dinashkan secara gamblang dalam Al-Qur’an was Sunnah. Dalam hal ini tidak pantas bagi penanya untuk terlalu mendalam bertanya apa dalilnya. Menyebutkan dalil memang wajib jika kondisinya menuntut demikian. Akan tetapi tidak wajib baginya setiap kali ditanya harus menjawab Allah berfirman dan Rosulullah bersabda. Terlebih dalam permasalahan fiqh yang luas dan masih diperselisihkan."

(Majalah Al-Asholah)

5/04/2017

Adab Mendengar Ilmu

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

1. Diam, fokus, dan hilangkan pemikiran lain. Dengarkan dengan seksama!

2. Ingat az-Zumar 17-18, “Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya[1310] dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya[1311]. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”

3. Para sahabat Nabi, saat mendatangi majelis rasulullah, mereka duduk seakan-akan di kepala mereka bertengger seekor burung. Tidak ada gerak dan perkataan, saking khusyu’ nya.

4. Yang harus dimiliki penuntut ilmu : niat ikhlas; diam & mendengarkan dengan seksama; memahaminya; mengamalkan; mendakwahkannya.

5. Dalam Surat Al Hujurat : 2, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu[1408], sedangkan kamu tidak menyadari.”

6. Maka, saat hadits dibacakan, hukumnya sama saja dengan saat mendengar Nabi bersabda. Jika kita berbicara sendiri, sama artinya dengan meninggikan suara melebihi suara Nabi. Apalagi, jika yang dibacakan adalah Al Qur’an.

7. Di majelis Abdurrahman bin Mahdi,seorang ulama. Suasanya seakan seperti sedang shalat, hening. Tidak ada yang berbicara. Bahkan tidak ada yang berani sekedar meraut pensil, khawatir akan muncul suara yang mengganggu.

8. Suatu ketika, di majelis tersebut, ada seseorang penuntut ilmu yang tiba-tiba tertawa cekikik entah karena alasan apa. Lalu, sang ulama bertanya, “Siapa yang tertawa?”, ditunjuklah orang tersebut. Lalu apa yang dikatakan sang alim, “Anda belajar ilmu hadits, dan anda tertawa. Maka pengajian ini saya liburkan satu bulan!”. Dalam riwayat lain, beliau langsung menutup majelis, dan mengambil alas kaki untuk pergi dari majelis tersebut.

9. Khusus hal di atas, ini terjadi karena sang penuntut ilmu sudah terkondisikan sebagai orang-orang yang sangat haus akan ilmu. Maka, hukuman yang diberikan al ustadz memang dapat memberikan pelajaran berharga untuk tidak main-main di majelis ilmu. Bagaimana dengan perlakuan jaman sekarang?

10. Sang ulama tersebut memberi hukuman, bukanlah karena merasa hak-nya sebagai pembicara tidak dipenuhi, melainkan karena Allah. Marahnya karena Allah dan rasulNya. Ya, marahnya adalah karena sabda Nabi tidak didengarkan dengan seksama.  Sang ulama cemburu karena Allah tidak diperhatikan oleh para penuntut ilmu.

11. Mengeraskan volume suara di hadapan hadits dibacakan adalah sama saja mengeraskan suara di hadapat rasulullah. Bukankah itu dilarang? Rasul saja tidak dihargai, apalagi ustadznya.

12. Diam atau mendengarnya kita dengan seksama adalah menunjukkan pengagungan dan penghormatan kita pada Allah dan rasulnya.

13. Jenuh, biasa. Tapi, bagaimana kita jangan sampai terpancing untuk berbicara sendiri atau melakukan hal-hal yang tidak penting. Ibarat kita sedang berada duduk di kursi VIP di hadapan presiden dan jajarannya. Lalu sang presiden menyampaikan pidato kenegaraan. Apakah kita berani untuk sekedar memutar badan karena pegal, apalagi berbincang sendiri, atau sms-an/BBM-an?

14. Teringat kisah Imam Malik yang menahan rasa sakit di kakinya, ketika suatu majelis masih berlangsung. Dan nyatanya, rasa sakit itu adalah karena gigitan berkali-kali dari seekor kalajengkin yang masuk ke dalam sepatu boatnya.

15. Saat ditanya oleh seorang murid, “Apa yang mencegah Al Imam untuk berteriak atau menyampaikan permasalahan itu saat gigitan kalajengking yang pertama?”

16. Apa kata sang Imam, “Aku malu dengan Rasul. Aku sungkan ketika hadits Nabi dibacakan, tetapi justru aku potong karena rasa sakit yang aku rasakan!”. Itu sama saja memotong pembicaraan nabi yang sedang berbicara di hadapan kita. Memotong pembicaraan atasan saja kita tidak berani. Apalagi rasul?

17. Ingat, perintah Allah yang kita hadapi sekarang bukanlah perintah menumpahkan darah di medan perang, atau hal yang lain, melainkan hanya perintah untuk diam di dalam majelis ilmu.

18. Di antara alasan kita diam tersebut adalah agar tidak mendzalimi orang lain, yaitu dengan mengajak berbincang sehingga ia terganggu tidak mendengarkan, atau dengan merusak konsentrasinya. Yang lebih parah jika ada penjelasan yang terpotong karena konsentrasinya teralihkan pada kita. Padahal, mendzalimi orang yang beraktivitas mubah saja tidak diperbolehkan. Apalagi mengganggu orang yang nyata-nyata sedang beribadah (yaitu mencari ilmu)

19. Terakhir, kita diperintahkan untuk menjaga anak-anak kita supaya tidak mengganggu saat kajian berlangsung. Membawa anak ke majelis ilmu sangat dianjurkan, tapi kewajiban kita pula adalah menjaganya agar tidak mendzalimi yang lain.

# Catatan dari mendengar kajian radio sunnah.

12/27/2015

JIKA AGAMA BUKAN PRIORITAS UTAMA

"Maaf syaikh, saya gak sempat membuat tugasnya minggu ini", kata brother Yusuf kepada syaikh Muhammad, guru liqo Bahasa Arab yang berasal dari Yordania.

"Why brother Yusuf? Kenapa anda tidak mengerjakan tugas bahasa Arabnya, kita kan cuma belajar sekali seminggu?" tanya Syaikh Muhammad.

"Minggu ini saya sibuk sekali syaikh di kantor, sampai lembur, pulang ke rumah, badan saya sudah capek", jawab brother Yusuf.

"Baiklah, minggu depan tolong dikerjakan tugas bahasa Arabnya ya", pinta Syaikh Muhammad.

"Insya Allah syaikh, saya akan kerjakan"

Minggu berikutnya brother Yusuf menyerahkan tugas bahasa Arabnya, sambil berkata,
"Sekali lagi saya minta maaf syaikh, tugasnya hanya setengah halaman, minggu ini anak saya mengajak jalan-jalan karena mereka sedang libur sekolah".

Syaikh Muhammad memandang mata brother Yusuf dengan kasihan sambil berkata "My brother, ana percaya dengan semua alasan yang antum bilang, tetapi kalau boleh saya katakan itu bukan alasan sebenarnya kenapa antum tidak bikin tugas bahasa Arab antum"
"Oh ya syaikh?", sepintas brother Yusuf malu dan merasa sedikit tersinggung.

Syaikh pun berkata,
"Iya, benar sekali, izinkan ana kasih tahu alasan sesungguhnya kenapa antum tidak membuat tugas, boleh kan?"
"Boleh syaikh, afwan" 
"Alasan sesungguhnya kenapa antum sampai tidak membuat tugas adalah karena belajar bahasa Arab ini bukan prioritas yang penting buat antum, itulah alasan yang sebenarnya, sesederhana itu, kalau belajar bahasa Arab ini merupakan prioritas penting buat antum, antum pasti akan menyediakan waktu sedikit dari waktu yang banyak dalam seminggu yang antum punyai... Yang diperlukan hanyalah keinginan dan perhatian", ulas Syaikh Muhammad.

"Astaghfirullah, benar sekali yang antum bilang syaikh", timpal brother Yusuf yang sadar, bahwa alasan alasan yang pernah disampaikannya kepada gurunya Syaikh Muhammad sebenarnya hanyalah alasan-alasan yang tidak ada hubungannya dengan tugas bahasa Arab.

Syaikh Muhammad meneruskan,
"Saudaraku, tahu gak, itu juga yang sebenarnya kenapa umat Islam ini sekarang ini mundur, terbelakang, dan tertindas di tengah peradaban manusia di zaman sekarang ini, sementara Allah telah menyatakan mereka sebagai umat yang terbaik (QS. Ali Imran: 110), tetapi kenyataannya pada saat ini tidaklah demikian."

"Kenapa mereka tidak lagi menjadi terbaik? Sama alasannya dengan alasan antum, karena agama ini tidak lagi menjadi prioritas paling penting buat mereka. Jangankan untuk memperjuangkan tegaknya syari'at agama ini, untuk mempelajari bahasa agama mereka sendiri, mereka sangat segan dan malas sekali. Padahal mempelajari agama mereka dan memperjuangkan tegaknya Islam dalam kehidupan adalah untuk kebaikan diri mereka sendiri, sebagai timbangan pahala bagi mereka di akhirat nanti dan alasan bagi Allah untuk ridho kepada mereka, sehingga Allah memberikan kehidupan akhirat yang baik bagi mereka."

Brother Yusuf tercenung, karena dia merasakan kebenaran apa yang disampaikan gurunya ustadz Syaikh Muhammad.

"Jadi kalau antum mempunyai banyak alasan kenapa antum tidak bisa serius mempelajari bahasa Arab ini dan agama ini, alasan antum sama dengan alasan kebanyakan saudara-saudara kita Muslim saat ini, kenapa mereka tidak ikut berdakwah. Karena sesungguhnya agama ini bukan prioritas penting bagi mereka, yang menjadi prioritas penting bagi mereka adalah mendapatkan uang lebih banyak lagi, atau mendapatkan pangkat yang lebih tinggi lagi, atau tempat tinggal yang lebih bagus, atau bersenang-senang dengan keluarga, atau kenyamanan pribadi karena tidak mau diganggu dengan urusan yang tidak menguntungkan dunia mereka. Ya itulah yang menjadi prioritas paling penting bagi mereka, kehidupan dunia ini, bukan kehidupan akhirat, dan Allah telah memberitahu tentang hamba-Nya yang bersikap demmikian di dalam firman-Nya:
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai."
(QS. Ar Ruum: 7)."

"Ketahuilah saudaraku bahwa di hari penghisaban nanti, tidak ada satupun alasan yang diterima Allah atas orang-orang yang tidak menjadikan agama-Nya menjadi prioritas paling utama, karena Allah mengetahui hati hamba-Nya masing-masing atas apa sesungguhnya yang lebih mereka prioritaskan. "

Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat)."
(QS. Al Insaan: 27).

"Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi."
(QS. Al A'laa: 16)

Brother Yusuf diam, dan hatinya menggigil membayangkan bahwa dia sesungguhnya tidak punya alasan apapun di hadapan Allah di hari penghisaban nanti kenapa dia tidak bersungguh-sungguh mempelajari firman-firman-Nya, sama halnya dengan tidak punya alasan dirinya kenapa dia tidak membela agama-Nya dan memperjuangkan tegaknya perintah-perintah-Nya. Karena sesungguhnya Allah Maha Tahu hati hamba yang tidak menjadikan Allah dan agama-Nya sebagai prioritas utamanya, dan itulah hamba yang menjadikan kesenangan nafsu diri dan dunianya yang menjadi prioritas yang lebih tinggi daripada Allah Ta'ala dan agama-Nya.

Sahabat...
Jangan sampai kita menunggu sakaratul maut dimana Malaikat Maut yg datangnya tiba2 menjemput kita, baru kita menyadari betapa pentingnya mempelajari agama kita, dimana pintu taubat telah ditutup.
Na'udzubillahi mindzalik...

Barrakallahu Fiikum...

- Dari Group WA -

12/19/2015

Sabar Menuntut Ilmu

Fase mencari ilmu adalah fase yang sangat sulit dan berat. Simpul-simpul kesabaran akan terputus sebelum meraihnya. Tekad baja manusia akan pecah di hadapannya. Yang berhasil melewatinya hanyalah orang-orang besar lagi berjiwa pahlawan, dari kalangan penggila ilmu, yang dapat merasakan kelezatannya, dan yang bertekad bulat meraihnya, walaupun demi hal itu ia harus menghadapi berbagai rintangan.

Dikutip dari Kisah-kisah kesabaran para Ulama yang paling unik dan inspiratif, karya Syaikh Abdul Fattah, penerbit zam-zam, hlm.14

12/18/2015

Kejeniusan Para Ulama

1) Jika Imam An Nawawi menulis Syarh/penjelasan  Shahih Muslim yang tebal itu sedang beliau tak punya Kitab Shahih Muslim

2) Beliau menulisnya berdasar hafalan atas Kitab Shahih Muslim yang diperoleh dari Gurunya; lengkap dengan sanad inti & sanad tambahannya.

3) Sanad inti maksudnya; perawi antara Imam Muslim sampai Rasulullah. Sanad tambahan yakni; mata-rantai dari An Nawawi hingga Imam Muslim.

4) Jadi bayangkan; ketika menulis penjabarannya, An Nawawi menghafal 7000-an hadits sekaligus sanadnya dari beliau ke Imam Muslim sekira 9-13 tingkat Gurunya; ditambah hafal sanad inti sekira 4-7 tingkat perawi.

5) Yang menakjubkan lagi; penjabaran itu disertai perbandingan dengan hadits dari Kitab lain (yang jelas dari hafalan sebab beliau tidak mendapati naskahnya), penjelasan kata maupun maksud dengan atsar sahabat, Tabi'in, & 'Ulama; munasabatnya dengan Ayat & Tafsir, istinbath hukum yang diturunkan darinya; dan banyak hal lain lagi.

7) Hari ini kita menepuk dada; dengan karya yang hanya pantas jadi ganjal meja beliau, dengan kesulitan telaah yang tak ada seujung kukunya.

8) Hari ini kita jumawa; dengan alat menulis yang megah, dengan rujukan yang garing, dan tidak malu sedikit-sedikit bertanya pada Syaikh Google.

9) Kita baru menyebut 1 karya dari seorang 'Alim saja sudah bagai langit & bumi rasanya. Bagaimana dengan kesemua karyanya yang hingga umur kita tuntaspun takkan habis dibaca?

10) Bagaimana kita mengerti kepayahan pada zaman mendapat 1 hadits harus berjalan berbulan-bulan?

11) Bagaimana kita mencerna; bahwa dari nyaris 1.000.000 hadits yang dikumpulkan & dihafal seumur hidup; Al Bukhari memilih 6000-an saja?

12) Atas ratusan ribu hadits yang digugurkan Al Bukhari; tidakkah kita renungi; mungkin semua ucap & tulisan kita jauh lebih layak dibuang?

13) Kita baru melihat 1 sisi saja bagaimana mereka berkarya; belum terhayati bahwa mereka juga bermandi darah & berhias luka di medan jihad.

14) Mereka kadang harus berhadapan dengan penguasa zhalim & siksaan pedihnya, si jahil yang dengki & gangguan kejinya. Betapa menyesakkan.

15) Kita mengeluh listrik mati atau data terhapus; Imam Asy Syafi'i tersenyum kala difitnah, dibelenggu, & dipaksa berjalan Shan'a-Baghdad.

16) Kita menyedihkan laptop yang ngadat & deadline yang gawat; punggung Imam Ahmad berbilur dipukuli pagi & petang hanya karena 1 kalimat.

17) Kita berduka atas gagal terbitnya karya; Imam Al Mawardi berjuang menyembunyikan tulisan hingga menjelang ajal agar terhindar dari puja.

18) Mari kembali pada An Nawawi & tidak usah bicara tentang Majmu'-nya yang dahsyat & Riyadhush Shalihin-nya yang permata; mari perhatikan karya tipisnya; Al Arba'in. Betapa barakah; disyarah berratus, dihafal berribu, dikaji berjuta manusia & tetap menakjubkan susunannya.

19) Maka tiap kali kita bangga dengan "best seller", "nomor satu", "juara", "dahsyat", & "terhebat"; liriklah kitab kecil itu. Lirik saja.

20) Agar kita tahu; bahwa kita belum, belum ke mana-mana, & bukan siapa-siapa. Lalu belajar, berkarya, bersahaja.
Astaghfirullah...

(Forward dari group WA Tholabul ilmi)

12/13/2015

Semangat berilmu

Bagi kita yang tidak bersemangat belajar al-Islam, perhatikanlah baik-baik perkataan shahabat yang mulia Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu berikut:

تَعَلَّمُوا العِلمَ فَأِنَّ تَعَلُّمَهُ خَشيَةٌ وَ طَلَبَهُ عِبَادَةٌ وَ مُذَاكَرَتَهُ تَسبِيحٌ وَ البَحثُ عَنهُ جِهَادٌ وَ تَعلِيمَهُ مَن لَا

يَعرِفُهُ صَدَقَةٌ وَ بَذلَهُ لِأَهلِهِ قٌربَةٌ

Belajarlah ilmu karena mempelajarinya adalah bukti rasa takut kepada Allah, mencarinya adalah ibadah, mengulang-ngulangnya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak tahu adalah shadaqah, dan mengabarkannya kepada ahlinya adalah taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah).

# Apa saja tanda-tanda kebahagiaan seseorang?

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam al-Fawaaid menyebutkan bahwa, di antara tanda-tanda kebahagiaan dan keberuntungan adalah jika ilmu seseorang bertambah, maka bertambah pula kerendahan hati dan belas kasihnya. Jika amalnya bertambah, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya. Jika umurnya bertambah, ketamakannya semakin berkurang. Jika hartanya bertambah, bertambah pula kedermawanan dan sedekahnya. Jika kekuasaan dan pangkatnya bertambah, bertambah pula kedekatannya kepada manusia, memenuhi kebutuhan mereka, dan bertambah tawaadhu' terhadap mereka.

(Fawaaid dari Ma'had 'Umar bin Khattab Jogja)
___________________

# Dampak Modal Semangat Tanpa Ilmu

Imam Malik rahimahullah :

إن أقواما ابتغوا العبادة وأضاعوا العلم فخرجوا على أمة محمد صلى الله عليه وسلم بأسيافهم، ولو ابتغوا العلم لحجزهم عن ذلك!

"Ada suatu kelompok orang yang bersemangat dalam ibadah namun meremehkan ilmu. Sehingga mereka memerangi kaum muslimin dengan pedang-pedang mereka. Seandainya mereka bersemangat dalam mencari ilmu niscaya ilmu itu akan mencegah mereka untuk melakukan hal tersebut."

(Miftaah Daar As Sa'adah, 1/119)

2/08/2015

Waktu & Penuntut Ilmu

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan dalam Muqadimah Al-Majmu : I/68,

"Seorang penuntut ilmu harus memiliki jiwa rakus untuk belajar ilmu, senantiasa menekuninya disetiap waktu, baik malam maupun siang, ketika bermukim maupun bepergian. Ia tidak boleh menyia-nyiakan sedikitpun waktunya untuk selain ilmu, kecuali karena terpaksa. Seperti untuk makan & tidur yang tak mungkin ia elakkan. Termasuk menghilangkan kejenuhan dan kebosanan, juga kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya."