Tampilkan postingan dengan label amal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amal. Tampilkan semua postingan

4/27/2017

5 Catatan Tentang Puasa Senin-Kamis

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

-- Pertama, keutamaan puasa senin kamis

Puasa senin kamis, termasuk puasa sunah yang menjadi kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالخَمِيسِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan puasa di hari senin dan kamis. (HR. Turmudzi 745 dan dishahihkan Al-Albani).

Kemudian disebutkan dalam hadis dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa puasa setiap senin dan kamis. Ketika beliau ditanya alasannya, beliau bersabda,

إِنَّ أَعْمَالَ الْعِبَادِ تُعْرَضُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ

“Sesungguhnya amal para hamba dilaporkan (kepada Allah) setiap senin dan kamis.” (HR. Abu Daud 2436 dan dishahihkan Al-Albani).

Inilah yang menjadi alasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkan puasa senin dan kamis. Beliau ingin, ketika amal beliau dilaporkan, beliau dalam kondisi puasa.

-- Kedua, apakah niat puasa senin kamis harus dimulai sejak sebelum subuh?

Ada dua pendapat ulama terkait niat posisi niat puasa sunah, apakah wajib dilakukan sebelum subuh, ataukah boleh baru dihadirkan di siang hari.

Kita simak keteragan di Ensiklopedi Fiqh,

ذهب جمهور الفقهاء – الحنفية والشافعية والحنابلة – إلى أنه لا يشترط تبييت النية في صوم التطوع، لحديث عائشة رضي الله تعالى عنها قالت: دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال: هل عندكم شيء؟ فقلنا: لا، فقال: فإني إذا صائم . وذهب المالكية إلى أنه يشترط في نية صوم التطوع التبييت كالفرض. لقول النبي صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له. فلا تكفي النية بعد الفجر، لأن النية القصد، وقصد الماضي محال عقلا

Mayoritas ulama – Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambali – berpendapat bahwa tidak disyaratkan, niat puasa sunah harus dihadirkan sebelum subuh. Berdasarkan hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuiku pada suatu hari. Lalu beliau bertanya, “Apakah kamu memiliki makanan?” Kami jawab, ‘Tidak.’

Lalu beliau mengatakan, “Jika demikian, saya puasa saja.”

Sementara Malikiyah berpendapat bahwa dalam puasa sunah disyaratkan harus diniatkan sejak sebelum subuh, sebagaimana puasa wajib. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang tidak berniat puasa di malam hari (sebelum subuh) maka tidak ada puasa baginya.” Sehingga tidak boleh niat setelah subuh. Karena inti niat adalah keinginan untuk beramal. Sementara menghadirkan keinginan amal yang sudah lewat itu mustahil. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 28/88)

Sebagai contoh kasus, ketika hari senin, si A tidak ada keinginan untuk puasa. Sehingga dia tidak sahur. Namun sampai jam 7.00, dia belum mengkonsumsi makanan maupun minuman apapun. Ketika melihat istrinya puasa, si A ingin puasa. Bolehkah si A puasa?

Jawab: Jika kita mengambil pendapat jumhur, si A boleh puasa. Karena sejak subuh dia belum mengkonsumsi apapun.

-- Ketiga, Bolehkah puasa senin saja atau puasa kamis saja

Berdasarkan hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkan puasa hari senin dan kamis.

Lalu apakah ini satu kesatuan, dua ibadah puasa yang berbeda?.

Para ulama menegaskan, puasa di dua hari ini bukan satu kesatuan. Artinya, orang boleh puasa senin saja atau kamis saja. Karena tidak ada perintah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dua hari itu harus dipasangkan, demikian pula tidak ada larangan dari beliau untuk puasa senin saja atau kamis saja.

Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

ويستحب صيام الخميس من كل أسبوع في المحرم وغيره، وليس استحباب صيامه مرتبطا بصيام الاثنين قبله , بل يشرع لك أن تصومه وإن لم تصم الاثنين؛ لأن الأعمال تعرض يوم الخميس، وقد روى أبو داود في سننه: أن نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، وَسُئِلَ عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: إِنَّ أَعْمَالَ الْعِبَادِ تُعْرَضُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ . اهــ

Dianjurkan untuk berpuasa sunah hari kamis di setiap pekan, baik ketika bulan muharram maupun di luar muharram. Dan anjuran puasa hari kamis tidak ada kaitannya dengan puasa senin sebelumnya. Bahkan anda dianjurkan untuk puasa hari kamis, sekalipun anda tidak puasa hari senin. Karena amal manusia dilaporkan di hari kamis. Diriwayatkan Abu Daud dalam sunannya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa puasa setiap senin dan kamis. Ketika beliau ditanya alasannya, beliau bersabda, “Sesungguhnya amal para hamba dilaporkan (kepada Allah) setiap senin dan kamis.”

(Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 192137)

Keterangan lain juga disampaikan Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi,

لا بأس يفرد الاثنين أو الخميس، فالمنهي عن إفراده الجمعة لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “لا تخصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي ولا يومها بصيام من بين الأيام” رواه مسلم

Tidak masalah puasa senin saja atau kamis saja. Karena yang dilarang adalah puasa hari jumat saja, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian khususkan malam jumat dengan shalat tahajud sementara di malam-malam lain tidak, dan jangan khususkan hari jumat dengan puasa, sementara di hari-hari lainnya tidak puasa.” HR. Muslim

Selanjutnya beliau kembali menegaskan,

أما الاثنين لا بأس تفرد الاثنين تفرد الخميس تفرد الأربع لا بأس، هذا إنما خص بالجمعة

“Adapun hari senin, tidak masalah senin saja atau kamis saja, puasa empat hari saja tidak masalah. Larangan ini hanya khusus untuk puasa hari jumat saja.”

-- Keempat, Bolehkah niat puasa senin kamis digabungkan dengan puasa sunah lain

Para ulama membahas masalah ini dalam kajian at-Tasyrik bin Niyat ‘menggabungkan niat’.

Batasannya, apa ada amal yang statusnya laisa maqsudan li dzatih, tidak harus ada wujud khusus, artinya dia hanya berstatus sebagai wasilah atau bisa digabungkan dengan yang lain, maka niatnya bisa digabungkan dengan amal lain yang sama.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فجمع أكثر من نية في عمل واحد هو ما يعرف عند أهل العلم بمسألة التشريك، وحكمه أنه إذا كان في الوسائل أو مما يتداخل صح، وحصل المطلوب من العبادتين، كما لو اغتسل الجنب يوم الجمعة للجمعة ولرفع الجنابة فإن جنابته ترتفع ويحصل له ثواب غسل الجمعة

Menggabungkan beberapa niat ibadah dalam satu amal, dikenal para ulama dengan istilah ‘at-Tasyrik’. Hukumnya, jika amal itu terkait wasilah, atau bisa digabungkan, maka dia boleh digabungkan. Dan dia bisa mendapatkan dua ibadah.

Seperti orang yang mandi junub pada hari jumat, untuk mandi jumat dan sekaligus untuk menghilangkan hadats besarnya, maka status hadats besar junubnya hilang, dan dia juga mendapatkan pahala mandi jumat.

Selanjutnya, tim Fatwa Syabakah menyatakan,

فإذا تقرر هذا فاعلم أنه لا حرج في الجمع بين صيام الإثنين والخميس وبين أي صوم آخر، لأن الصوم يوم الإثنين والخميس إنما استحب لكونهما يومين ترفع فيهما الأعمال

Dengan memahami ini, anda bisa menyatakan bahwa tidak masalah menggabungkan antara puasa senin kamis dengan puasa sunah lainnya. Karena puasa senini kamis, dianjurkan karena posisinya di dua hari yang menjadi waktu dilaporkannya amal kepada Allah. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 103240).

-- Kelima, Pahala tetap mengalir, sekalipun tidak puasa

Bagian ini untuk memotivasi kita agar istiqamah dalam menjalankan amal sunah.

Ketika anda memiliki kebiasaan amalan sunah tertentu, baik bentuknya shalat, puasa, atau amal sunah lainnya, dan anda tidak bisa melakukannya karena udzur sakit atau safar, maka anda akan tetap mendapatkan pahala dari rutinitas amal sunah yang anda kerjakan.

Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba itu sakit atau bepergian maka dicatat untuknya (pahala) sebagaimana (pahala) amalnya yang pernah dia lakukan ketika di rumah atau ketika sehat.” (HR. Bukhari 2996).

Al Hafidz al-‘Aini mengatakan,

هذا فيمن كان يعمل طاعة فمنع منها، وكانت نيته لولا المانع أن يدوم عليها

”Hadis ini bercerita tentang orang yang terbiasa melakukan amal ketaatan kemudian terhalangi (tidak bisa)

mengamalkannya karena udzur, sementara niatnya ingin tetap merutinkan amal tersebut seandainya

tidak ada penghalang.” (Umdatul Qori, 14/247)

Dan itulah keistimewaan orang yang beriman. Pahala rutinitas amal baiknya diabadikan oleh Allah.

Al Muhallab mengatakan,

“Hadis ini sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,

إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

”Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh mereka mendapatkan pahala yang tidak pernah terputus.” (QS. At Tin:6)

maksudnya mereka (orang-orang yang beriman) mendapatkan pahala ketika mereka sudah tua dan lemah

sesuai dengan amal yang dulu pernah mereka kerjakan ketika masih sehat, tanpa terputus. Oleh karena itu,

setiap sakit yang menimpa, selain yang akut dan setiap kesulitan yang dialami ketika safar dan sebab lainnya, yang menghalangi seseorang untuk melakukan amal yang menjadi kebiasaannya, maka Allah telah memberikan kemurahannya dengan tetap memberikan pahala kepada orang yang tidak bisa melakukan amal tersebut karena kondisi yang dialaminya.” (Syarh Shaih Al Bukhari oleh Ibn Batthal, 3/146).

Untuk itu, carilah amal sunah yang ringan, yang memungkinkan untuk anda lakukan secara istiqamah sampai akhir hayat, selama fisik masih mampu menanggungnya. Karena amal yang istiqamah meskipun sedikit, lebih dicintai Allah, dari pada banyak namun hanya dilakukan sekali dua kali.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا ، وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ

“Wahai para manusia, beramal-lah sesuai dengan kemampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak

akan bosan sampai kalian bosan. Sesungguhnya amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang paling rutin dikerjakan meskipun sedikit.” (HR. Bukhari 5861 )

Allahu a’lam.

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits
https://konsultasisyariah.com/24479-5-catatan-tentang-puasa-senin-kamis.html

3/20/2017

SEMANIS MADU

Syaikh Al-Albani -rahimahullah- seringkali mendoakan orang yg telah berbuat baik kepada beliau dengan ucapan:
ﻋﺴّﻠﻚ ﺍﻟﻠﻪ
"Assalakallah" (Semoga Allah menjadikanmu semanis madu)".
.
Beliau mengambil doa ini dari hadits Nabi -shallallãhu 'alaihi wa sallam- yg berbunyi:

" ﺇﺫﺍ ﺃﺣﺐَّ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﺒﺪﺍً ﻋﺴّﻠَﻪ ! "
ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻣﺎ ﻋﺴّﻠَﻪ ؟ . ﻗﺎﻝ : " ﻳﻔﺘﺢ ﺍﻟﻠّﻪ - ﻋﺰ ﻭﺟﻞ - ﻟﻪ ﻋﻤﻼً ﺻﺎﻟﺤﺎً ﻗﺒﻞ ﻣﻮﺗﻪ ﺛﻢّ ﻳﻘﺒﻀﻪ ﻋﻠﻴﻪ ." [ ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ‏( ١٧٨١٩ ‏) ] .

"Apabila Allah mencintai seorang hamba-Nya, maka Dia menjadikannya semanis madu."
Para sahabat pun bertanya, "(Ya Rasulullah) Apa maksud: Dia menjadikannya semanis madu?"
Beliau bersabda, “Allah bukakan baginya (pintu taufiq) untuk beramal soleh sebelum ia meninggal, kemudian Allah cabut nyawanya (dalam keadaan husnul khatimah).” [HR. Ahmad No. 17819]
.
Ketika membawakan hadis ini, Syaikh Al-Albani menjelaskan,
ﻭﺃﻣﺎﺭﺓ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﻌﺴﻴﻞ ، ﺑﺄﻥ ﻳﺮﺿﻰ ﻋﻨﻪ ﻣﻦ ﺣﻮﻟﻪ ﻟﻤﺎ ﺛﺒﺖ ﻓﻲ ﺯﻳﺎﺩﺓٍ ﻣﺮﻓﻮﻋﺔٍ ﻟﻠﻨّﺒﻲّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
“Di antara tanda Allah menjadikannya semanis madu adalah: Allah jadikan orang yang berada di sekitarnya menjadi ridha kepadanya. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“. [Silsilah as-Shahĩhah, keterangan Hadis No. 1114].
.
Adapun menurut Imam Al-Munawi rahmatullah 'alaihi,
ﻋﺴﻠﻪ ؛ ﺃﻱ ﻃﻴﺐ ﺛﻨﺎﺀﻩ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ
Menjadikannya semanis madu, maksudnya: "Allah jadikan ia terpuji/terhormat di tengah masyarakat." [At-Taisĩr bi Syarh Jãmi’ ash-Shaghĩr, 1/126].

5/16/2016

Beberapa amalan penghapus dosa

1- Menyempurnakan wudhu dan berjalan ke masjid
“Jika seseorang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian berangkat sholat dengan niatan hanya untuk sholat, maka tidak melangkah satu langkah kecuali Allah angkat satu derajat dan hapus satu dosa” (HR. Al Tirmidzi)

2-  Puasa hari Arafah dan A’syura’
“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

3- Shalat Tarawih di bulan Ramadhan
“Siapa yang menegakkan ramadhan (shalat tarawih) dengan iman dan mengharap pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘Alaihi)

4- Menjaga shalat lima waktu dan jum’at serta puasa Ramadhan
“Shalat lima waktu dan jum’at ke jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa diantara keduanya selama menjauhi dosa besar” (HR Muslim)

5- Mengumandangkan adzan
“Seorang Muadzin diampuni dosanya sepanjang (gema) suaranya” (HR Ahmad)

6- Shalat wajib
”Apa pendapat kalian sekiranya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, dia mandi setiap hari 5 kali, apakah tersisa kotorannya? Mereka (para Sahabat) berkata:”Tidak tersisa dari kotorannya sedikit pun.”Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ”itu seperti shalat lima waktu, menjadi sebab Allah hapus dosa-dosa.”(HR. Bukhari dan Muslim)

7- Memperbanyak sujud
“Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu sekali sujud kepada Allah kecuali Allah mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu kesalahanmu (dosa)” (HR Muslim)

8- Shalat malam
“Hendaklah kalian sholat malam, karena ia adalah adat orang yang sholeh sebelum kalian dan amalan yang mendekatkan diri kepada Robb kalian serta penghapus kesalahan dan mencegah dosa-dosa” (HR. Al Hakim)

9- Berjihad dijalan Allah
“Semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutang” (HR Muslim)

10- Mengiringi haji dengan umrah
“Iringi haji dengan umroh, karena mengiringi antara keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana Al Kier (alat pembakar besi) menghilangkan karat besi” (HR Ibnu Majah)

11- Shadaqah
“Shadaqah menghapus dosa seperti air memadamkan api” (HR Ahmad, Tirmidzi)

12- Menegakkan hukum pidana sesuai syariat Islam
“Siapa saja yang melanggar larangan Allah kemudian ditegakkan padanya hukum pidana maka dihapus dosa tersebut” (HR. Hakim)

13- Membaca doa setelah mendengar adzan
”Barang siapa yang ketika mendengar adzan lalu membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا
maka akan diampuni dosanya.(HR. Muslim)

14- Dzikir setelah shalat
“Barang siapa yang bertasbih selesai shalat 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 33 kali maka itu 99 kali dan menggenapkannya seratus dengan kalimat:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
diampunilah dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di laut.”(Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 5/99)

15- Berdzikir sehari semalam
"Dan barangsiapa yang membaca:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
dalam sehari 100 kali, dihapuskan kesalahannya walaupun seperti buih di lautan." (HR. Bukhari dan Muslim)

16- Tertimpah musibah
”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

17- Dzikir setelah bangun tidur
“Tidak ada seorang pun yang telah dikembalikan ruhnya (bangun tidur) kemudian membaca,

لااله الاالله وحده لاشريك له، له الملك وله الحمد وهوعلى كل شيءقدير

(Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Mahaesa. Tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan, dan bagi-Nya segala puji. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu),

melainkan segala dosanya diampuni oleh Allah walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ibnu Sunni)

18- Berdoa ketika mengenakan pakaian baru
“Barangsiapa yang mengenakan pakaian baru lalu membaca,

الحمدلله الذي كسانى هذاورزقنيه من غيرحول منى ولاقوة

segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah memberi pakaian ini kepadaku dan memberi rezeki kepadaku tanpa daya dan upaya dariku), (maka) Allah Ta’ala mengampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Ibnus Sunni)

19- Taubat nasuha
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat nashuha, niscaya Rabb kalian akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (QS. At-Tahrim [66]: 8)

20- Berwudhu sesuai dengan tuntunan Nabi & shalat khusyu'
"Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, lalu ia shalat dua raka’at (dengan khusyu’) tanpa berbicara dengan dirinya sendiri (memikirkan hal selain shalat, edt), niscaya dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. (HR. Bukhari no. 159 dan Muslim no. 226)

21- Shalat berjamaah di masjid
"Barangsiapa berwudhu dengan sempurna untuk melaksanakan shalat, kemudian ia berjalan kaki menuju shalat wajib, sehingga ia melaksanakan shalat wajib tersebut bersama masyarakat, atau berjama’ah, atau di masjid, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya." (HR. Muslim no.232)

5/11/2016

Berbaik-Sangkalah Kepada Saudaramu

Ketika dia mengingatkanmu agar jangan melakukan ritual yang tidak dituntunkan oleh nabi tercinta shallalahu ‘alaihi wasallam, itu bukan karena dia melarangmu beribadah. Tapi agar anda selamat dari kerugian, akibat ibadah yang tidak berpahala, karena nabi shallalahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Barangsiapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan kami, maka amalan itu ditolak (percuma, tanpa pahala).” [HR. Muslim]

Ketika ada orang lain mengingatkan anda agar jangan membeli emas, karena itu sebenarnya emas palsu, pantaskah anda membencinya ?

Seharusnya anda sangat berterima kasih kepadanya, dan berusaha mencari dan membeli emas yang asli. Begitu pula dalam masalah ibadah, harusnya anda berterimakasih lalu mencari dan melakukan ibadah yang benar-benar ada tuntunannya dari nabi shallalahu ‘alaihi wasallam.

Jika kita harus berhati-hati dalam masalah dunia, tentunya kita harus lebih berhati-hati lagi dalam masalah akhirat.

Semoga bermanfaat.

��Sumber:  http://bbg-alilmu.com/archives/17642.                                                   
✒Ditulis oleh Ust. Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى
                                                    
***

4/05/2016

Lebih baik mana?

"Wahai Syaikh..!"ujar seorang pemuda,

"Manakah yang lebih baik, seorang muslim yang banyak ibadahnya tetapi akhlaqnya buruk ataukah seorang yang tak beribadah tapi amat baik perangainya pada sesama."

"Subhaanallah, keduanya baik", ujar sang Syaikh sambil tersenyum.

"Mengapa bisa begitu?"

"Karena orang yang tekun beribadah itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk berakhlaq mulia bersebab ibadahnya. Dan karena orang yang baik perilakunya itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk semakin taat kepadaNya."

"Jadi siapa yang lebih buruk?", desak si pemuda.

Airmata mengalir di pipi sang Syaikh. "(Yang buruk itu) Kita wahai Anakku", ujar beliau. "Kitalah yang layak disebut buruk sebab kita gemar sekali menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri."

Beliau terisak-isak. "Padahal kita akan dihadapkan pada Allah dan ditanyai tentang diri kita, bukan tentang orang lain.

Dari : Abu Muhammad Asep

2/13/2016

Solusi Konkrit Menyatukan Umat

SATUKAN HATI UMAT ISLAM

بسم اللّه والصلاة والسلام على رسول الله
   
Ada satu fenomena yang mungkin semua kita melihatnya, yaitu fenomena perpecahan & pertikaian yang terjadi diantara umat Islam yang terjadi di negeri kita ini.

Kalau kita berbicara tentang penyebab terjadinya, maka akan banyak dan solusinya pun akan beragam.

Tapi ada satu hal yang in syā Allāh kalau kita menyelesaikan satu masalah ini, maka perpecahan dan pertikaian yang terjadi yang begitu besarnya niscaya akan menjadi kecil.

Masalah apa?

Yaitu masalah shaf pada waktu shalat.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ أَوْ بَيْنَ قُلُوبِكُم

"Kalian ini benar-benar luruskan/rapihkan shaf kalian atau kalau tidak, kita akan bertikai atau hati kita akan berselisih."

Kalian ini benar-benar luruskan shaf kalian, rapihkan shaf kalian atau kalau tidak, apa yang akan terjadi?

Hati kita akan bertikai, hati kita akan berselisih.

Shalat berjama'ah itu diperintahkan agar kita melaksanakannya.

Tapi yang jadi masalah dan yang kita lihat di masjid-masjid kita, yaitu ketika orang-orang berada di rumah Allāh, ternyata di situ mereka belum bisa meluruskan shaf mereka.

Kalau tidak lurus dan rapih shaf kita (kadangkala renggang-renggang), maka hati kitapun akan bertikai.

Tatkala shalat ada salah satu diantara kita yang maju ke depan sedikit dan yang lain ke belakang sedikit, kemudian kadangkala ada yang renggang.

Bahkan ada yang membawa sajadah besar sehingga kalau ada orang yang ingin merapatkan shafnya ke dia, diapun melihatnya karena mungkin sajadahnya harganya mahal.

Oke, kita ini sedang shalat berjama'ah, kita sedang menghadap Allāh Jalla Jalāluh.

Kita sama rata dan satu pangkat di hadapan Allāh, hamba semuanya...

Maka semua titel, semua jabatan, semua kedudukan, tatkala berada di hadapan Allāh, ditanggalkan semuanya...

Yang ada adalah (predikat) hamba Allāh Jalla Jalāluh.

Karena terus terang, ada beberapa teman yang ketika hendak meluruskan shafnya, imam masjid malah mengatakan:

"Bagi yang ingin rapat-rapat shafnya maka jangan shalat disini !"

Subhanallāh..

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah Nabi kita, kita semua adalah umatnya Muhammad Shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Siapa panutan kita?

Yaitu Nabi kita Muhammad Shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Bagaimana Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala akan shalat?

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala akan shalat itu tidak sembrono, tidak langsung masuk dan langsung bertakbir "Allāhu akbar", tidak !

Akan tetapi Beliau luruskan terlebih dahulu shafnya.

Bahkan dalam hadits Ibn 'Umar Radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

أَقِيْمُوُا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلاَئِكَةِ, وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسَدُّوْا الْخَلَلَ وَلِيْنُوْا بِأَيْدِيْ إِخْوَانِكُمْ وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ. وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Luruskanlah shaf-shaf, sejajarkanlah pundak dengan pundak, isilah bagian yang masih renggang, bersikap lembutlah terhadap lengan teman-teman kalian (ketika mengatur shaf), dan jangan biarkan ada celah untuk (dimasuki oleh) syaithan.

Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allāh akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya), dan barangsiapa yang memutus shaf maka Allāh akan memutuskannya (dari rahmat-Nya).”

(HR Ahmad, Abū Dāwūd, An Nasā’iy dan lainnya. Dishahihkan oleh Al Albaniy dalam Silsilah Al Ahādits Ash Shahīhah (743))

⇒Nabi berkata:

"Luruskan shaf kalian itu, pundak kalian ini lurus, jangan ada yang lebih, jangan ada yang kurang, mundur luruskan, itu yang renggang-renggang dirapatkan !"

Dan bila diajak merapatkan shaf maka ikutlah, karena kita ingin bersatu, kita ingin umat Islam bersatu.

Jangan tinggalkan sela-sela untuk syaithān karena syaithān main diantara sela-sela kita, dia mempermainkan hati kita

Tapi tatkala kita tutup rapat celah syaithān, dan kalau ada seorang di samping kita dia akan merasa kalau dia saudara kita; baik kaya atau miskin, tatkala di hadapan Allāh kita bersatu, maka in syā Allāh hati kita akan bersatu.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam juga melanjutkan dalam hadits itu:

"Barangsiapa yang menyambung shaf, maka Allāh akan sambung dia."

⇒ Walaupun seseorang memiliki urusan yang susah dan memiliki berbagai problematika yang mungkin dia tidak dapat menyelesaikannya, tetapi dengan menyambung shaf maka Allāh akan menyambungkan dia.

"Barangsiapa yang memutuskan shaf, maka Allāh akan memutuskan dia."

Tolonglah Saudara-saudaraku..

Kita ini kalau ke masjid hendaknya ingat bahwa kita adalah hamba Allāh dan memang,

النَّاسُ أَعْدَاءُ مَا جَهِلُوا

"Orang itu memusuhi sesuatu yang tidak dia ketahui."

⇒ Dia berpikir bahwa meluruskan shaf adalah tidak benar, padahal ini ajaran Nabi kita.

Kalau tidak percaya, bacalah itu kitab-kitab hadits, kitab Bukhāri, kitab Muslim...

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak memulai shalatnya, kecuali Beliau sudah meluruskan shaf.

Tetapi kalau sudah mengerti semua (tentang meluruskan shaf), maka Nabi langsung shalat.

Tapi ingat, kalau kita ingin persatuan umat Islam dan meninggalkan perpecahan/pertikaian, maka luruskan shaf shalat kita dan apa yang dijanjikan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, yaitu persatuan umat akan kita dapatkan.

Kita akan saling tolong menolong, tidak ada perbedaan diantara kita karena satu perbedaanpun.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ

"Yang paling baik (mulia) diantara kalian disisi Allāh adalah yang paling bertaqwa."

(QS Al Hujurāt: 13)

Semoga kita bisa mengamalkannya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______________________________

Oleh: Ustadz DR Syafiq Reza Basalamah, MA hafidzohulloh

Jangan Terperdaya dengan Amalanmu

Jangan pernah menyangka bahwa istiqomahmu dan ketegaranmu merupakan pruduk murni keberhasilanmu dan ketaatanmu.

Sesungguhnya Allah telah berkata kpd Nabi-Nya :
وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا

“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka”
(Al-Isroo’ : 74)

Ini pernyataan Allah tentang Nabi, bagaimana lagi dengan dirimu?

Tatkala Allah memilihmu untuk menempuh jalan hidayah, bukanlah karena engkau sosok spesial karena ketaatanmu, akan tetapi karena rahmat Allah yang meliputimu. Bisa saja Allah mencabut rahmat-Nya darimu kapan saja Allah kehendaki.

Karenanya janganlah pernah bangga dan terpedaya oleh amalan dan ketaatanmu dan jangan pernah pula merendahkan orang yg tersesat…, karena kalau bukan rahmat dan kasih sayang Allah kepadamu, maka bisa jadi engkaulah yg berada di posisi orang yg tersesat tersebut.

✒️ Ustadz Firanda Andirja, MA

1/27/2016

Kabar Baik Perokok

Untuk teman yg masih  merokok. Ini ada kabar baik....
Ada tanya jawab dgn pak ustadz :

A : Maaf, ustadz, saya mau tanya . Di surga ada rokok gak?

U : Ada

A : Alhamdulillah, lega bener hati ini rasanya denger jawaban ustadz.
Kabar baik baik buat perokok

U : Tapi,

A : Kenapa ustadz?

U : Di surga gak ada api, jadi kalo mau nyalain rokok, ya mesti ke NERAKA!

(Sumber : Group WA)