5/04/2015

KEBAHAGIAAN DAN KESEMPURNAAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwanī rahimakumullāh, saudara-saudaraku yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla...

Janganlah anda pernah mengharap kesempurnaan didunia ini. Kenapa?

Karena barangsiapa yang mengharapkan kesempurnaan diatas muka bumi ini maka dia tidak akan pernah bahagia, karena dia akan mengharapkan sesuatu yang mustahil (sesuatu yang tidak mungkin dia raih).

Diantara hikmah Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah Allāh menciptakan semua yang ada di atas muka bumi ini tidak ada yang sempurna, termasuk kenikmatan-kenikmatan yang Allāh sediakan bagi hamba-hambaNya diatas muka bumi ini, apa saja pasti terkontaminasi dengan hal-hal yang mengurangi kesempurnaan kenikmatan tersebut.

Selain kenikmatan yang tidak sempurna, juga terbatas tidak abadi.

Oleh karenanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam Al-Qurān :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu." (Al-Hadīd 20)

Sebagaimana kita lihat tumbuh-tumbuhan hijau yang terkena air hujan maka nampaklah indah dengan warna hijaunya tersebut yang menjadikan para penanam menjadi senang memandang.

Akan tetapi apa hakikatnya?

Kemudian rusaklah tumbuhan tersebut, berubah menjadi warna kuning dan akhirnya kering dan hancurlah tumbuhan tersebut.

Itulah hakikat daripada kenikmatan dunia.

Oleh karenanya kalau kita renungkan bahwa segala kenikmatan yang ada di atas muka bumi ini tidak ada yang sempurna.

Contohnya masalah makanan;
√ Ada makanan yang lezat, seperti kepiting, cumi, udang. Ternyata makanan ini Allāh ciptakan lezat tapi tidak sempurna; itu mengandung kolesterol yang tinggi sehingga tidak setiap orang bisa makan sebanyak-banyaknya.

√ Contoh lain yaitu buah durian. Allāh ciptakan buah durian dalam kulit yang banyak duriny, sulit untuk mengambil dan membukanya. Dan tidak mungkin juga kita makan sepuasnya karena kesehatan kita bisa terganggu.

√ Contoh lain khamr, khamr rasanya lezat sehingga banyak yang minum khamr. Akan tetapi kelezatan khamr tersebut menyebabkan hal yang tidak enak seperti kepala pening, perut sakit dan lainnya.

Berbeda dengan kenikmatan-kenikmatan yang ada disurga.

Oleh karena itu, diantara hikmah menjadikan tidak ada yang sempurna di atas muka bumi ini adalah agar setiap mu'min senantiasa rindu untuk mencari kesempurnaan dan dia tidak akan memperoleh kesempurnaan kenikmatan kecuali di akhirat kelak.

Dia akan mendapatkan kenikmatan sempurna yang telah Allāh sediakan;
· Khamr ada tetapi tanpa menyebabkan mabuk dan sakit pening.
· Buah-buahan tanpa ada musim, senantiasa ada, tidak perlu kita manjat pohon untuk mengambilnya karena mudah untuk diraih.
· Bidadari yang penuh dengan kesempurnaan.

Tatkala kita sadar akan hal ini maka hati kita senantiasa rindu untuk menuju surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Barangsiapa yang mengharap kesempurnaan dia atas muka bumi maka dia tidak akan pernah bahagia.

Lalu bagaimana sikap kita menghadapi kenikmatan yang tidak akan pernah sempurna ini?

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sejak dahulu telah memberikan jalan yany baik agar kita bisa menikmati kenikmatan yang tidak sempurna tersebut.

Diantara sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :

لا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

"Janganlah seorang suami mu'min membenci istrinya yang mu'minah, jika dia membenci suatu perangai/akhlaq dari istrinya maka dia akan ridha/senang dengan perangai yang lain dari istrinya."

Ini sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang luar biasa.

Meskipun berbicara khusus tentang istri tetapi ini merupakan kaidah yang umum bahwasanya jika kita membenci salah satu perangai istri kita maka ingatlah masih ada kebaikan-kebaikannya yang lain.

Dan ingatlah tatkala seseorang mensetting pola pikirnya dengan tidak melupakan kebaikan-kebaikan istrinya maka dia tidak akan benci kepada istrinya.

Dia tahu bahwasanya tidak ada kenikmatan yang sempurna, istrinya pun tidak akan pernah sempurna. Kalau dia mengharapkan istri yang sempurna maka tidak akan dia peroleh.

Oleh karenanya Syaik Bin Bāz sering ditanya oleh orang yang mengeluhkan istrinya, maka kata Beliau: "Bidadari itu disurga, kalau ingin istri yang sempurna ada disurga."

Didunia tidak ada yang sempurna, kalau engkau mengharapkan kesempurnaan didunia maka engkau tidak akan pernah bahagia.

Seseorang yang merenungkan hal ini kemudian mengambil ajaran Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwa tidak ada yang sempurna dan harus memandang yang positif (jangan sampai ada yang negatif menjadikan lupa akan kebaikan yang ada), maka orang ini tidak akan pernah bahagia.

Sebagai contoh;
❶ Seorang yang berguru kepada seorang ustadz.

Jika ustadz nya ini seorang yang sempurna, tidak pernah berdosa, tidak pernah menyelisi perkataannya maka dia tidak akan mendapatkan seorang ustadz (guru) dimanapun dia cari di atas muka bumi maka tidak akan dia dapatkan.

Karena tidak ada yang ma'shum, tidak akan mendapatkan guru kalau caranya demikian. Dan dia senantiasa akan gelisah dan protes "Kenapa ustadz fulan demikian", dia sendiri menyusahkan hatinya karena dia mengharapkan kesempurnaan.

Bagaimana cara agar dia bahagia?

Harus dirubah settingan pola pikirnya.

Dia harus menyadari bahwa tidak ada ustadz yang sempurna dan pasti melakukan kesalahan. Yang penting ustadz tersebut masih dominan kebaikannya dan secara umum ustadz itu baik maka belajarlah dari ustadz tersebut.

❷ Contoh lain, seorang yang mencari sahabat yang sempurn.

Maka tidak akan dia dapatkan, namanya sahabat pasti ada kesalahan yang dia lakukan.

Oleh karenanya Syaikh Albani rahimahullāh sering menyampaikan suatu syair:

ﺗُﺮِﻳْﺪُ ﺻَﺎﺣِﺒًﺎ ﻻَ ﻋَﻴْﺐَ ﻓِﻴْﻪِ..؟
ﻓَﻬَﻞِ ﺍﻟْﻌُﻮْﺩُ ﻳَﻔُﻮْﺡُ ﺑِﻼَ ﺩُﺧَﺎﻥِ..؟

"Kau inginkan seorang sahabat yang tidak ada aibnya? (maka mustahil)
"Apakah engkau berharap kayu gaharu harum tanpa ada asapnya?"

Oleh karenanya jika engkau memiliki seorang sahabat yang secara dominan dia adalah sahabat yang baik tapi terkadang menyelisihi janji, lupa dan tidak membantu saat kita butuhkan maka terimalah dia, demikian sahabat yang ada didunia.

Kalau ingin cari kesempurnaan maka tempatnya di akhirat.

❸ Contoh lain yang seorang menyekolahkan anaknya di pondok.

Dia ingin pondok tersebut menciptakan anaknya menjadi seorang santri yang luar biasa dan tidak ada kekurangannya, atau pondok tersebut pelayananya kurang.

Seharusnya dia tahu bahwa tidak ada yang sempurna. Sebuah pondok, tatkala berusaha memberikan pengajaran kepada santrinya maka tidak akan sempurna, pasti ada kekurangannya (guru, pelayanan dan muamalahnya kurang bagus, dan lain-lain).

Selama anaknya belajar di pondok itu dan hafalan bertambah, akhlaqnya berubah menjadi lebih baik maka dia harus menerima dan merubah pola pikirnya bahwa tidak ada pondok yang sempurna.

❹ Begitu juga misalnya seorang yang bekerja dikantor.

Jika dia berharap kesempurnaan dikantornya, ingin bosnya yang sempurna dan pekerjaannya sempurna maka dia tidak akan pernah bisa bahagia.

❺ Demikian juga dalam hal dakwah.

Seseorang tatkala berdakwah, dia ingin dakwahnya sempurna, tidak ada kekurangan dan lika-liku dakwah, ingin dakwahnya senantiasa mulus dan tidak ada gangguan maka mustahil akan dia raih.

Oleh karenanya, sejak sekarang marilah kita rubah settingan pola pikir kita, jangan pernah kita berharap kesempurnaan.

Kapan anda mengharap kesempurnaan maka anda tidak akan pernah bahagia dan puas karena anda mengharapkan suatu kemustahilan.

Ingatlah bahwasanya kesempurnaan menanti kita di akhirat, Allāh yang menyediaka. Dan sengaja menjadikan kenikmatan dunia tidak sempurna agar setiap mu'min merasa rindu untuk meraih kesempurnaan di akhirat kelak.

والله تعالى  أعلم بالصواب
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Dari Materi Tematik "Kebahagiaan dan Kesempurnaan" oleh Ustadz Firanda Andirja, MA

5/03/2015

Bila Benar Aku Mencintaimu

Dalam sebuah majelis, Syekh Nashiruddin Al-Albani rahimahuLLah, pernah ditanya: "Syekh, apakah seseorang yang mencintai karena ALLah, wajib mengatakan kepada orang yang dicintainya: "Aku mencintaimu karena ALLah?"

Syekh Albani menjawab: "Iya. Akan tetapi cinta karena ALLah memiliki harga yang sangat tinggi, sedikit sekali yang mampu membayarnya. Apakah kalian mengetahui berapa harga cinta karena ALLah? Siapa yang mengetahui, silakan menjawab."

Mulailah para hadirin memberikan jawaban..

Seseorang menjawab: "RasuluLLah shallaLLahu 'alaYhi wa sallam bersabda: "7 golongan yang ALLah menaunginya dengan naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, salah satunya dua orang yang saling mencintai karena ALLah, bersatu karena ALLah dan berpisah karena-Nya."

Syekh berkata : "Ini adalah perkataan yang benar pada tempatnya, tapi bukan jawaban dari pertanyaanku. Ini adalah sebagian pengertian cinta karena ALLah. Adapun pertanyaanku, apakah harga yang harus dibayar oleh dua orang yang saling mencintai karena ALLah, yang satu kepada yang lain? Bukan apakah balasan akhiratnya? Maksudku, aku ingin menanyakan: Apakah bukti perbuatan bila seseorang mencintai karena ALLah? Karena kadang-kadang, dua orang saling mencintai, tetapi cintanya hanya tampak di luar, tidak benar-benar hakiki. Maka, apakah bukti cinta yang hakiki?"

Seseorang yang hadir menjawab lagi: "Seseorang mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya." 
Syekh Albani berkata: "Ini adalah sifat cinta atau salah satu sifat cinta."

Seseorang menjawab lagi: "Firman ALLah Ta'ala:

(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ)

"(Artinya) Katakanlah: apabila kalian mencintai ALLah maka ikutilah aku, maka ALLah akan mencintai kalian." (QS. Ali Imran: 31)

Syekh menjawab: "Ini adalah jawaban yang benar untuk pertanyaan yang lain."

Hadirin yang lain mencoba menjawab: "Tiga hal, yang apabila terdapat pada diri seseorang ia akan merasakan kelezatan iman, salah satunya orang yang mencintai karena ALLah."

Syeikh menjawab: "Itu adalah buah dari cinta karena ALLah, yaitu kelezatan iman dalam hati seseorang."

Seseorang menimpali lagi: "Firman ALLah Taala:

(ِوَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)

"(Artinya) Demi Masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih, dan saling berwasiat dalam kebenaran dan saling berwasiat dalam kesabaran." (QS. Al-Ashr: 1-3)

Kali ini syekh menjawab: "Ahsanta. Benar, inilah jawabannya."

Saudaraku, mari kita renungkan perkara yang agung ini. Harga sebuah cinta karena ALLah. Siapa di antara kita yang tidak mencintai orang lain? Tentu tidak ada. Setidaknya, kita pasti mencintai pasangan kita, atau anak-anak kita, atau orang tua kita, atau saudara kita. Maka apakah bukti cinta kita pada mereka?

Ternyata buktinya adalah kita menasehatinya kepada kebenaran. Terkadang mudah bagi kita memberikan segala sesuatu yang kita cintai baik berupa harta, waktu, maupun perhatian untuk orang yang kita cintai. Akan tetapi, ketika kita melihatnya melakukan kesalahan, kita diam saja, dengan alasan segan, karena dia memiliki ilmu yang lebih dari kita, atau karena takut ia menjadi marah, takut ia memutuskan hubungan, atau takut ia menjauh, dan sebagainya. Kita merasa takut kehilangannya dengan membiarkannya terjatuh pada kesalahan. Ah, ternyata bukanlah itu bukti cinta yang hakiki.

Mari kita perhatikan perkataan Syeikh selanjutnya..

"Maka, apabila benar aku mencintaimu karena ALLah, selayaknya aku memberimu nasihat, demikian juga engkau menerima nasehatku dan memberiku nasehat. Cinta karena ALLah memiliki harga yang sangat mahal. Cinta karena ALLah adalah bagian dari keikhlasan, yaitu mengikhlaskan segalanya untuk kebaikan orang yang kita cintai, dengan memberikan nasehat. Dengan senantiasa menyuruh kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran.. selalu dan selamanya."

Artikel Tematik dari Ustadzah Liz Ummu Sholih.

Keutamaan Keridhaan Orang Tua

بسم الله الرحمن الرحيم

Ikhwan & akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu Wa Ta'āla, kita lanjutkan hadits berikutnya:

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: "رِضَا اللَّهِ فِـيْ رِضَا الْوَالِدَيْـنِ، و سخط اللَّهِ فِـيْ سخط الْوَالِدَيْنِ (أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ)

Dari ‘Abdullāh bin ‘Amr bin al ‘Āsh Radhiyallāhu Ta'āla 'anhumā: dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam beliau bersabda: “Ke-ridhā-an Allāh itu berada pada ke-ridhā-an kedua orang tua, dan kemarahan Allāh itu berada pada kemarahan kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbān dan Al-Hākim)

Tidak diragukan bahwasanya agungnya hak kedua orangtua sangatlah besar dan Allāh Subhānahu Wa Ta'āla telah mengingatkan hal ini dalam banyak ayat dalam Al-Qurān.

Diantaranya:
· Luqmān ayat 14

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

"Bersyukurlah (berterima-kasihlah) kepadaKU dan bersyukurlah kepada kedua orangtua engkau dan kepadaKU lah kalian akan kembali."

Disini Allāh menggandengkan perintah untuk bersyukur kepada Allāh dengan perintah untuk bersyukur/berbakti/berterima kasih kepada kedua orangtua. Dan Allāh tutup ayat tersebut dengan mengatakan:

"Ingatlah, kalian akan dikembalikan kepadaKU"

Artinya kalian akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allāh Subhānahu Wa Ta'āla, apakah kalian sudah bersyukur kepada kedua orangtua atau tidak?

· Al-Isrā ayat 23

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ

"Dan Rabbmu telah menetapkan agar tidaklah beribadah kecuali hanya kepada Allāh Subhānahu Wa Ta'āla dan berbaktilah kepada kedua orangtua kalian."

Dalam ayat ini, Allāh menggandengkan antara hak tauhid Allāh Subhānahu Wa Ta'āla dengan hak berbakti kepada kedua orangtua. Dan ini menunjukkan agungnya hak berbakti kepada kedua orangtua.

Dan barangsiapa yang mengerti bahasa arab, kalimat "إِحْسَانًا" adalah maf'ul muthlaq yang didatangkan untuk "penekanan", seakan-akan taqdirnya (kalimat yang dimaksudkan)

"وَ أَحْسِنُ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا"

"Berbaktilah kepada kedua orangtua dengan sebakti-baktinya."

Allāh tidak memerintahkan kita hanya sekedar berbakti sewajarnya, tidak. Tetapi Allāh menyuruh untuk berbakti sebakti-baktinya kepada kedua orangtua. Ini menunjukkan akan agungnya berbakti kepada kedua orangtua.

Oleh karenanya, barangsiapa yang tidak menggunakan kesempatan untuk berbakti kepada kedua orangtua maka dia adalah orang yang celaka.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abū Hurayrah, dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, beliau bersabda:

رغم أنف ثم رغم أنف ثم رغم أنف قيل من يا رسول الله قال من أدرك أبويه عند الكبر أحدهما أو كليهما فلم يدخل الجنة

"Celaka, celaka, dan celaka". Dikatakan kepada Nabi, "Wahai Rasulullah, siapakah yang celaka?". Nabi berkata, "Siapa yang menemui kedua orang tuanya di masa tua, salah satunya atau keduanya, lalu ia tidak masuk surga."

Celaka dan celaka dan celaka orang yang mendapati kedua orangtuanya dimasa kedua orangtuanya dalam masa tua (jompo) salah satunya atau keduanya kemudian orang ini tidak bisa masuk surga.

Kenapa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan "celaka" ?

Karena berbakti kepada orangtua di masa mereka dalam kondisi jompo, ini kesempatan yang sangat besar, pintu surga telah terbuka selebar-lebarnya agar kita bisa masuk dengan berbakti kepada kedua orangtua terutama tatkala mereka berdua dalam kondisi lemah lagi sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang & bantuan kita, lantas kita sia-siakan maka orang seperti ini adalah orang yang tercela, dia tidak menjadikan kesempatan ini untuk membuat dia masuk surga.

Dan hadits-hadits seperti ini sangatlah banyak.

Namun bagaimanapun, kita tidak boleh kita ta'at kepada orangtua dalam rangka bermaksiat kepada Allāh Subhānahu Wa Ta'āla. Kita hanya ta'at kepada kedua orangtua tatkala mereka berdua menyuruh kita kepada perkara yang ma'ruf.

Oleh karenanya Allāh ingatkan dalam Al-Qurān:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

"Dan jika keduanya menyuruhmu untuk berbuat syirik kepadaKU yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah engkau ta'ati keduanya, akan tetapi tetap pergaulilah mereka berdua dengan cara yang baik." (Luqmān 15)

Artinya, ayat ini menunjukkan kewajiban berbakti kepada kedua orangtua bagaimanapun kondisi kedua orangtua.

Lihat dan perhatikan ayat ini.

Ayat ini menceritakan kedua orangtua sangat parah kondisinya, orangtua musyrik, bahkan tidak hanya musyrik tetapi orangtua menyuruh sang anak untuk berbuat syirik. Kedua orangtua bukan hanya sekedar peminum khamr, pembunuh atau pencuri, tetapi kedua orangtua diatas (melakukan) kesyirikan dan bahkan memaksa anaknya untuk melakukan kesyirikan.

Maka Allāh mengatakan sang anak tidak boleh ta'at kepada kedua orangtua, akan tetapi sang anak tetap wajib untuk tetap berbakti kepada kedua orangtuanya.

Saya sering ditanya:
"Ustadz, bagaimana jika orangtua saya ternyata menzhalimi saya...

"Ustadz, bagaimana jika ternyata orangtua saya dulu tidak menafkahi saya...

"Ustadz, bagaimana dengan ayah saya, sejak kecil saya dan ibu saya ditinggalkan...

"Apakah saya wajib untuk berbakti?"

Jawaban:
Wajib tetap berbakti bagaimanapun kondisi orangtua. Dia (orangtua) merupakan sebab engkau ada di dunia ini.  Seandainya kedua orangtuamu tidak ada atau salah satunya tidak ada maka engkau tidak akan muncul di atas muka bumi ini.
Maka bagaimanapun kondisi orangtua tetap wajib bagi engkau untuk berbakti kepadanya. Jangankan hanya sekedar orangtua tidak memberi nafkah, bahkan orangtua diatas kesyirikan wajib bagi kita untuk berbakti kepada orangtua.

Akan tetapi, perhatikan disini, jika orangtua menyuruh kepada kemaksiatan maka tidak boleh kita ta'ati. Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لاَ طاَعَة لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الخَالِقٍ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam rangka bemaksiat kepada Allāh Subhānahu Wa Ta'āla."

(Shahih, HR Ahmad, at Thabrani, al Hakim dan yang lain dengan lafadz at Tabrani disahihkan oleh Syaikh al Albani; Lihat As-Shahihah No. 179).

Disini ada kaidah yang perlu kita perhatikan yaitu:

❶ Jika ternyata orangtua memerintahkan untuk melakukan kemaksiatan maka tidak boleh kita ta'ati. Jangan kita hendak menyenangkan orangtua tetapi kita mendatangkan kemurkaan Allāh Subhānahu Wa Ta'āla.

❷ Orangtua menyuruh kita untuk meninggalkan suatu yang wajib (wajib bagi kita) maka tidak boleh juga ta'at kepada orangtua. Akan tetapi yang wajib kita ta'at adalah jika orangtua menyuruh kita kepada perkara-perkara yang mubah (diperbolehkan).

Bahkan sebagian ulama menyebutkan jika ada perkara ilmu agama yang wajib kita pelajari, misalnya:

• Seorang hendak melaksanakan ibadah haji dan tidak tahu bagaimana cara berhaji maka dia harus belajar ilmu tentang berhaji dan dia belajar dan tidak perlu izin orangtuanya.

• Dia tidak tahu cara shalat yang benar maka dia tetap belajar fiqh shalat dan tidak perlu izin kedua orangtuanya.

• Ingin menikah dan dia harus mengetahui ilmu tentang menikah maka dia pun belajar dan tidak perlu izin orangtuanya.

Kenapa? Karena itu fardhu 'ain. Karena dia ingin menikah maka dia harus tahu fiqh-fiqh yang berkaitan dengan menikah, maka tidak perlu izin orangtuanya.

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu Wa Ta'āla,

Pertanyaan:
Bagaimana jika orangtuanya menyuruh dia untuk menceraikan istrinya?

Hal ini sering terjadi dan pernah ditanyakan kepada para ulama. Bahkan para ulama menjelaskan permasalahan ini secara khusus karena sering terjadi. Misalnya orangtua benci dengan istri kita kemudian ayah atau ibu kita menyuruh kita untuk menceraikan istri kita, maka apa yang harus kita lakukan?

Jawaban :
Bahwasanya menceraikan istri adalah perkara yang buruk dan dicintai oleh syaithan, maka jika ternyata kita disuruh menceraikan istri kita tanpa ada alasan yang syar'i, hanya sekedar mungkin ada persinggungan masalah antara istri dengan orangtua maka tidak boleh kita menuruti/menta'ati perkataan orangtua, baik ibu maupun ayah. Karena istri punya hak, kita telah menikahinya dan dia telah berkorban untuk kita. Kecuali kalau memang ada alasan yang syar'i.

Adapun kalau alasannya tidak syar'i dan hanya sekedar masalah duniawi atau masalah yang biasa timbul antara menantu dengan mertua maka tidak boleh bagi seorang suami untuk menceraikan istrinya.

Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullāh: "Sesungguhnya ayahku memerintahkan aku untuk menceraikan istriku".

Maka kata Imam Ahmad "Jangan engkau ceraikan istrimu".

Maka orang ini berkata: "Bukankah 'Umar bin Khaththab radhiyallāhu Ta'āla 'anhu pernah memerintahkan putranya 'Abdullāh bin 'Umar untuk menceraikan istrinya?".

Maka kata Imam Ahmad rahimahullāh: "Kalau ayahmu sudah seperti 'Umar bin Khaththab lalu memerintahkanmu untuk menceraikan istrimu, maka lakukanlah."

Artinya ini fiqh yang dalam dari Imam Ahmad.

Tatkala 'Umar bin Khaththab menyuruh 'Abdullah Ibnu 'Umar menceraikan istrinya tentunya bukan sembarangan, karena 'Umar bin Khaththab adalah seorang yang bertaqwa dan mengetahui tentang masalah fiqh cerai.

Demikianlah, ingatlah betapa agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Jika anda menjadikan orangtua ridhā berarti anda telah mendatangkan keridhāan Allāh kepada anda. Namun jika anda menjadikan orangtua murka maka sesungguhnya anda telah mendatangkan kemurkaan Allāh bagi anda sendiri.

والله تعالى أعلم بالصواب

Dari Kitābul Jāmi' | Bab Al-Birru (Kebaikan) Wa Ash-Shilah (Silaturahim)
Hadits ke-4 | Keutamaan Keridhaan Orang Tua | Ustadz Firanda Andirja, MA

SUMBER BAHAGIA DUNIA AKHIRAT

Setiap orang ingin hidup bahagia...

Setiap manusia mendambakan kehidupannya penuh dengan kedamaian dan ketenangan dalam menjalani semua urusannya dalam kehidupan di dunia...

Tetapi...

Tahukah kita bahwa sebenarnya kebahagiaan kita itu dekat?

Hanya kita yang kurang memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Allāh Subhānahu Wa Ta'āla berfirman dalam Al-Qurān:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allāh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allāh-lah hati menjadi tenteram." (Ar-Ra'd : 28)

Ketahuilah hanya dengan mengingat Allāh, menyebut namaNya, mempelajari petunjukNya dan mengamalkannya maka hati manusia akan menjadi tenang & jiwanya menjadi damai.

Dalam ayat lain Allāh Subhānahu Wa Ta'āla berfirman;

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَر أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِن فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاة طَيِّبَة وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Barangsiapa yang melakukan amalan shalih dari kalangan laki-laki dan perempuan dalam keadaan dia beriman, maka sungguh Kami akan berikan untuknya KEHIDUPAN yang INDAH yang PENUH dengan KEBAHAGIAAN di dunia dan akhirat dan Kami akan memberikan balasan yang lebih baik baginya daripada apa yang dikerjakannya di dunia." (An-Nahl 97)

Subhānallāh...

AL-QURĀN ADALAH SUMBER KEBAHAGIAAN KITA.

Ta'at kepada Allāh, belajar petunjukNya dan mengamalkannya merupakan sumber kebahagiaan yang sangat dekat dalam kehidupan kita.

Tapi sayang....

Kita kurang memanfaatkannya.

Coba camkan perkataan imam ahli sunnah yang terkenal berikut ini...

Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh Ta'āla berkata:

إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لم يدخل جنة الآخـــرة

"Sesungguhnya di dunia ini ada surga, barangsiapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia ini maka dia tidak akan masuk surga di akhirat nanti."

Apakah arti surga dunia tersebut?

Surga dunia yang Beliau maksudkan adalah KENIKMATAN, KEBAHAGIAAN HIDUP, KETENANGAN JIWA & KEDAMAIAN HATI ketika seseorang belajar petunjuk Allāh, memahaminya dan mengamalkannya ke dalam kehidupannya.

Inilah yang disebut kenikmatan surga yang Beliau ungkapkan dengan istilah SURGA DUNIA.

Yang barangsiapa belum merasakannya di dunia, maka dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti.

Berarti, kenikmatan yang akan didapatkan oleh manusia di sisi Allāh Subhānahu Wa Ta'āla disurgaNya nanti, tergantung dari kenikmatan yang dia rasakan sewaktu di dunia, yaitu ketika dia belajar petunjuk Allāh, belajar tentang keimanan, tauhid dan keyakinan kepada Allāh kemudian mengamalkannya dalam kehidupannya.

Semoga Allāh Subhānahu Wa Ta'āla mudahkan segala kebaikan untuk diri kita dan untuk seluruh kaum muslimin dengan taufiq dan karuniaNya.

Dari:
Artikel Tematik | Motivasi Islam
Ustadz Abdullāh Taslim, MA

5/01/2015

Agama Para Nabi Adalah Islam

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“Para Nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
〰〰〰〰〰〰〰〰〰

AGAMA PARA NABI ADALAH ISLAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Islam yang  artinya penyerahan ibadah hanya kepada Allāh Subhānahu Wa Ta'āla adalah agama para nabi.

Agama mereka satu yaitu Islam.

Berkata Nabi Ibrāhīm 'Alaihissalām:

أَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ

“Aku ber-Islam meyerahkan diriku kepada Rabbul ‘ālamīn.”

(Al-Baqarah 131)

Beliau dan juga Nabi Ya'qub berwasiat kepada anak-anaknya.

يَـٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

“Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allāh Subhānahu Wa Ta'āla telah memilih agama bagi kalian, maka janganlah kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan sebagai orang Islam.”

(Al-Baqarah 132)

Berkata murid-murid Nabi 'Isa 'Alaihissalām kepada beliau;

وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ

“Dan saksikanlah bahwasanya kami adalah orang-orang Islam.”

(Ali 'Imrān 52)

Nabi Musa 'Alaihissalām, beliau pernah berkata kepada kaumnya;

فَعَلَيۡهِ تَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّسۡلِمِينَ

“Maka hendaklah kalian hanya bertawakal kepada Allāh kalau kalian benar-benar orang Islam.”

(Yūnus 84)

Di dalam suratnya, Nabi Sulaiman 'Alaihissalām berkata kepada Ratu Balqis dan juga para pengikutnya;

أَلَّا تَعۡلُواْ عَلَىَّ وَأۡتُونِى مُسۡلِمِينَ

“Hendaklah kalian jangan sombong kepadaku dan datanglah kalian kepadaku dalam keadaan sebagai orang Islam.”

(An-Naml 31)

Inilah agama para Nabi dan juga para pengikut mereka. Dan Allāh Subhānahu Wa Ta'āla tidak menerima kecuali agama Islam.

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَـٰمُ‌ۗ

“Sesungguhya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam."

(Ali-Imran :19)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَـٰمِ دِينً۬ا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِى ٱلۡأَخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ

“Dan barangsiapa yang mencari selain agama Islam maka tidak akan diterima darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”

(Ali-Imran :85)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda dalam hadits yang shahih :

الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ  لِعَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“Para Nabi adalah saudara sebapak ibu-ibu mereka berbeda, dan agama mereka satu.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

وبا لله التوفيق والهداية
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Catatan dari Halaqah 02 - Silsilah Mengenal Agama Islam - Ustadz Abdullāh Roy, MA.

3/15/2015

Ringkasan Faidah Seputar Tauhid

Dari group whatsapp:

Pemateri: Syaikh Abdurrazzaq Bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr

Tema : Tauhid (Keesaan) Allah Ta'ala

BAGIAN 1 : MUQADDIMAH

Tauhid adalah perkara yang paling agung karena ia merupan alasan manusia dan jin diciptakan. Allah berfirman:

(وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ)
" Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku" (Ad Dzariyat: 56)

Tauhid adalah alasan  kenapa nabi dan rasul diutus dan kenapa kitab diturunkan. Allah berfirman:

(وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ َ)

"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu" (Surat An-Nahl 36)

Tauhid adalah pondasi utama Islam sebagaimana akar adalah pondasi sebuah pohon. Tidaklah bermanfaat suatu amal kecali dibangun di atas dasar tauhid karena ia merupakan syarat diterimanya ibadah.

(وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ)

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi" (Surat Az Zumar: 65)

Tauhid adalah fitrah yang Allah tanamkan dalam diri manusia. Allah berfirman:

(فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ َ)

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu" [Surat Ar-Room 30]

Orang yang tidak bertauhid akan memperoleh kerugian dan kesempitan. Tidakah ketenangan, kebaikan, berkumpul kecuali dengan adanya tauhid. Orang-orang yang mencari tuhan selain Allah tidaklah diterima. Kesemuanya itu hanyalah rekaan dan buatan manusia.

(أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ)

"manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?" ( Surat Yusuf 39)

Allah juga berfirman:

(مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ َ)

"Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu" (Surat Yusuf 40)

Orang yang berakal sehat tidak mungkin akan menerima untuk menyekutukan Allah. Seperti Zaid bin Amr bin Nufail, muwahhid yang hidup di masa jahiliyah. Ia menentang penyembelihan kambing untum berhala karena ia meyakini bahwa Kambing dan juga air dan makanannanya semuanya dari Allah maka bagaimana mungkin Kita menyembelih untuk selain Allah. Maka Rasulullah pun menganggapnya sebagai ahli tauhid.

Syirik adalah kedzhaliman yang paling besar. Allah berfirman:

(وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ)

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". [Surat Luqman 13]

Tauhid Adalah kunci surga. Allah berfirman:

(إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ)

"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan" [Surat Al-Araf 40]

BAGIAN 2: HAKIKAT TAUHID

Makna Tauhid: Menjadikan Allah satu-satunya dalam nama dan sifat-sifat yang menjadi kekhususannya yang sesuai dengan ketinggian dan keagungannya. Meyakini bahwa Allah adalah pencipta, yang menghidupkan dan yang mematikan, menghinakan dan merendahkan, memberi rizqi, raja dari segala raja, seluruh urusan dikembalikan kepada Allah, tiada sekutu baginya.

Mentauhidkan Allah berarti menetapkan dan meyakini ketinggian nama dan sifat-sifat Allah. Meyakininya dengan benar sesuai dengan yang Allah tetapkan untuk dirinya tanpa menolaknya, merubah maknanya, atau menyerupakan-Nya dengan yang selain-Nya. Allah berfirman:

(هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ * هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ * هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ)

"Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
[Surat Al-Hashr 22 - 24]

Allah juga berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat" [Surat Ash-Shura 11]

Kalimat tauhid (لا إله إلا الله ) terdiri dari penafian dan istbat (penetapan). ✅Menafikan semua sesembahan selain Allah dan
✅ menetapkan bahwa tiada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja.

Tauhid ada 3:
1 Tauhid Rububiyah
Keyakinan bahwa Allah yang mengatur kehidupan: ia yang menciptakan, menghidupkan dan mematikan, memberi rizki, mengatur segala urusan manusai

2 Tauhid Uluhiyah
Keyakinan bahwa hanya Allah lah ilah yang layak untuk disembah. Mentauhidkan Allah dalam masalah ibadah dan ketaatan.

3 Tauhid Asma dan Sifat Allah
Meyakini bahwa Allah memiliki nama dan sifat yang Allah tetapkan untuk Nya yang sesuai dengan ketinggian dan keagungannya tanpa menolaknya, merubahnya, atau menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya

Tauhid memiliki nawaqish (pengurang kesempurnaan) dan Nawaqidh (Pembatal tauhid).

Nawaqish hanya mengurama kesemperunaan tauhid seseorang adapun nawaqidh bisa membatalkan atay menggugurkan tauhid atau keislaman seseorang

Jagalah kesempurnaan tauhid dari 3 penghalang tauhid:
(1) Syirik
(2) Bidah
(3) Maksiat

Tauhid bisa gugur atau batal dengan salah 1 dari 3 penyebab:
(1) Syirik Akbar
Yaitu menyamakan selain Allah sama dengan Allah dalam perkara yang merupakan kekhususan Allah

(2) Kufur Akbar

Yaitu mendustakan kebenaran dari Allah dan  mendustakan Rasululullah. Allah berfirman:

(وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ)

"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?" [Surat Al-Ankaboot 68]

Atau sombong kepada Allah. Allah berfirman:

(وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ)

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." [Surat Al-Baqara 34]

Atau Berpaling dari ajaran Allah. Allah berfirman:

(وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ)

"Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka" [Surat Al-Ahqaf 3]

(3) Nifaq Akbar

Yaitu orang yang menampakkan keimanan dalam dzhairnya namun menyembunyikan kekufuran dalam hatinya. Allah berfirman:

(إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا)

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka." [Surat An-Nisa 145]

Mereka adalah orang yang menampilkan keimanan di sisi kaum muslimin tapi menyembunyikan kekufuran. Allah berfirman:

(ِ إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ)

"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. " [Surat Al-Munafiqoon 1]

Tauhid tidak batal dengan syrik, nifak, dan kufur yang kecil kecil. Ia hanya mengurangi kesempurnaan tauhid. Syirik kecil Seperti bersumpah atas nama selain Allah. Nifaq kecil seperti dalam hadits Rasulullah tentang 3 ciri orang munafiq, kufur kecil seperti mencela nasab.

Dikarenakan tauhid merupakan urusan yang sangat penting, maka seyogyanya kaum muslimin mempelajari dan mengamalkannya dan memperhatikannya melebihi perhatiannya untuk yang selainnya

Semoga Allah menjadikan Kita termasuk ahli tauhid.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك و أتوب إليك

⏰ Masjid Istiqlal, Ahad, 24 Jumadal Ula 1436 H / 15 Maret

3/14/2015

Mutiara Salaf


ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ :
“ﺇﺫﺍ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ ،ﻓﻼ ﺗﻨﻈﺮ ﻟﻠﻨﺎﺋﻤﻴﻦ ﻧﻈﺮﺓ
ﺍﺯﺩﺭﺍﺀ …
ﻭﺇﺫﺍ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ، ﻓﻼ ﺗﻨﻈﺮ ﻟﻠﻤﻔﻄﺮﻳﻦ ﻧﻈﺮﺓ
ﺍﺯﺩﺭﺍﺀ …
ﻭﺇﺫﺍ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ، ﻓﻼ ﺗﻨﻈﺮ ﻟﻠﻘﺎﻋﺪﻳﻦ ﻧﻈﺮﺓ ﺍﺯﺩﺭﺍﺀ
…
ﻓﺮﺏ ﻧﺎﺋﻢ ﻭﻣﻔﻄﺮ ﻭﻗﺎﻋﺪ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﻚ .
ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : “ﻭﺇﻧﻚ ﺃﻥ ﺗﺒﻴﺖ ﻧﺎﺋﻤﺎً ﻭﺗﺼﺒﺢ ﻧﺎﺩﻣﺎً ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺗﺒﻴﺖ ﻗﺎﺋﻤﺎً
ﻭﺗُﺼﺒﺢ ﻣﻌﺠﺒﺎً ، ﻓﺈﻥَّ ﺍﻟﻤُﻌﺠَﺐ ﻻ ﻳﺼﻌﺪ ﻟﻪ ﻋﻤﻞ .”
ﻣﺪﺍﺭﺝ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ‏( ١٧٧ / ١ ‏)

⭐Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah,
“Jika Allah membukakan untukmu pintu
sholat malam, janganlah kau memandang
orang yang tidur dengan pandangan
merendahkan.

⭐Jika Allah membukakan untukmu pintu
puasa, jangan kau memandang orang yang tak berpuasa dengan pandangan
merendahkan.

⭐Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, jangan kau memandang orang yang tak berjihad dengan pandangan merendahkan.

☀Bisa saja orang yang tidur, yang tak berpuasa dan yang tak berjihad lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu.”

⛅Kemudian beliau melanjutkan,
“Engkau berpagi hari bangun dari tidur lalu menyesal lebih baik dari pada berpagi hari
dalam keadaan terjaga lalu berbangga

✂Karena orang yang sombong, amalannya
tidak akan naik ke sisi Allah.”

(Dinukil dari Kitab Madarijus Salikin:1/17)