Tampilkan postingan dengan label nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasihat. Tampilkan semua postingan

7/14/2021

Rahasia Keberkahan Waktu

فِي هَذَا الزَّمَانِ نَجِدُ الْوَقْتَ يَجْرِيْ بِسُرْعَةٍ، فَكَيْفَ يَنَالُ الْمَرْءُ الْبَرَكَةَ فِي وَقْتِهِ؟

Pada zaman sekarang, kita merasakan bahwa waktu berlalu begitu cepat, bagaimana cara seseorang mendapatkan keberkahan dalam waktunya?

الزَّمَانُ هُوَ الزَّمَانُ وَلَكِنَّ الْقَضِيَّةَ فِي الْبَرَكَةِ

Waktu, dulu dan sekarang sama saja, namun yang berbeda adalah dalam keberkahannya.

فَلَوْ تَأَمَّلْتُمْ- يَا إِخْوَةٌ- النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ فِي يَوْمِ النَّحْرِ رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ ضُحًى

Wahai saudara-saudaraku, apabila kalian merenungkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat haji Wada’, pada hari penyembelihan binatang kurban, melempar Jumrah al-‘Aqabah pada waktu duha.

ضُحَى يَوْمِ النَّحْرِ وَنَحَرَ هَدْيَهُ، نَحَرَ ثَلَاثَةً وَ سِتِّينَ بَدَنَةً بِيَدِهِ الشَّرِيْفَةِ

Waktu duha pada hari penyembelihan, kemudian beliau menyembelih binatang kurban beliau, enam puluh tiga unta disembelih dengan tangan beliau sendiri yang mulia.

وَأَكْمَلَ عَلِيٌّ رَضِيَ الله عَنْهُ مِائَةً

Kemudian Ali -Semoga Allah meridhainya- melanjutkan sembelihan beliau hingga unta ke seratus.

وَقَامَ عَلِيٌّ رَضِيَ الله عَنْهُ عَلَيْهَا فَسُلِخَتْ

Kemudian Ali -Semoga Allah meridhainya- yang melanjutkan pengurusan binatang kurban hingga dikuliti.

وَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ كُلِّ بَدَنَةٍ بِقِطْعَةٍ

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta bagian berupa sepotong daging dari tiap-tiap unta.

فَجُمِعَتْ فِي قِدْرٍ وَطُبِخَتْ

Kemudian daging-daging itu dikumpulkan dalam satu wadah kemudian dimasak.

وَتَعْرِفُونَ لَحْمَ الْإِبِلِ، يَسْتَغْرِقُ وَقْتًا

Dan kalian sudah faham tentang daging unta, butuh waktu untuk memasaknya.

فَشَرِبَ مِنْ مَرَاقِهَا وَأَكَلَ مِنْهَا وَحَلَقَ رَأْسَهُ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفَرَّقَهُ عَلَى النَّاسِ

Kemudian Nabi menikmati kuah dagingnya dan memakan sebagiannya, lantas beliau mencukur rambut beliau kemudian membagi-bagikannya kepada orang-orang.

وَرَكِبَ دَابَّتَهُ وَذَهَبَ إِلَى الْبَيْتِ الْحَرَامِ بِالْجَمَلِ

Lalu beliau menunggangi binatang tunggangan beliau menuju Masjidil Haram, dengan unta.

حَتَّى وَصَلَ إِلَى الْبَيْتِ الْحَرَامِ وَطَافَ طَوَافَ الْإِفَاضَةِ، كُلُّ هَذَا قَبْلَ أَنْ يُؤَذِّنَ الظُّهْرَ

Ketika beliau tiba di Masjidil Haram, beliau melaksanakan tawaf al-Ifadhah. Semua itu selesai dilaksanakan sebelum berkumandang azan Zhuhur.

اُنْظُرُوْا إِلَى بَرَكَةِ الْوَقْتِ

Perhatikan, itulah keberkahan waktu.

مِنَ الضُّحَى لَيْسَ مِنَ الْفَجْرِ، لَا مِنَ الضُّحَى نِصْفَ الْوَقْتِ إِلَى أَذَانِ الظُّهْرِ فَعَلَى كُلَّ هَذَا

Dari waktu duha, bukan dari waktu subuh, bukan! Dari duha, dari pertengahan waktu pagi hingga azan Zhuhur, beliau bisa melakukan semua ini.

ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مِنَى فَوَجَدَ بَعْضَ أَصْحَابِهِ لَمْ يُصَلُوْا ظُهْرًا بَعْدُ، فَصَلَّى بِهِمُ الظُّهْرَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kemudian beliau kembali ke Mina dan mendapati sebagian sahabat beliau belum menunaikan salat zuhur, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami mereka untuk salat Zhuhur dan menyampaikan khutbah untuk mereka yang hadir.

وَسِرُّ الْبَرَكَةِ الصِّدْقُ مَعَ الله

Dan rahasia keberkahan adalah jujur dengan Allah.

اصْدُقْ مَعَ الله يُبَارَكْ لَكَ فِي وَقْتِكَ

Jujurlah kepada Allah, niscaya akan diberkahi waktu Anda.

فَمَنْ صَدَقَ اللهَ وَعَلِمَ الله مِنْ قَلَبِهِ الصِّدْقَ وَ الْإقْبَالَ سَيُبَارِكُ الله عَزَّ وَجَلَّ لَهُ فِي وَقْتِهِ

Barangsiapa jujur kepada Allah dan Allah mengetahui bahwa dia memang jujur dari dalam hatinya dan sungguh-sungguh, niscaya Allah akan memberikan keberkahan waktu kepadanya.

ثُمَّ الْحِرْصُ عَلَى عَدَمِ تَضْيِيْعِ الْوَقْتِ

Rahasia berikutnya adalah kesungguhan untuk tidak membuang-buang waktu.

نَحْنُ فِي الْحَقِيقَةِ نُضَيِّعُ الْوَقْتَ ثُمَّ نَقُولُ: مَا فِي وَقْت

نَحْنُ الَّذِينَ أَضَعْنَاهُ

Sebenarnya kita sendiri yang membuang-buang waktu kita, kemudian kita beralasan, “Tidak ada waktu.” Padahal kita sendiri yang membuang-buang waktu tersebut.

وَلَوْ اغْتَنَمْنَاهُ فِيمَا شَرَعَ الله لَوَجَدْنَا وَقْتًا كَثِيرًا وَلَبَارَكَ الله لَنَا فِي الْوَقْتِ

Jikalau kita memanfaatkan waktu kita pada hal-hal yang diperintahkan oleh Allah, niscaya kita akan memiliki banyak waktu luang dan Allah akan memberkahi waktu kita.

وَمِمَّا يَدُلُّ لِهَذَا قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَجَلِهِ

فَلَيَصِلْ رَحِمَهُ

رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ

Dan di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya, dan diperpanjang usianya, maka hendaknya dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ

يَعْنِيْ أَنْ يُوَسِّعَ لَهُ فِي رِزْقِهِ

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya,” maksudnya diperbanyak rezekinya.

وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَجَلِهِ

طَبْعًا هُنَا بَعْضُ أهْلِ الْعِلْمِ قَالَ مَعْنَى يُنْسَأَ لَهُ فِي أَجَلِهِ أَنْ يُبَارَكَ لَهُ فِي الْوَقْتِ حَتَّى يَعْمَلَ فِي الْوَقْتِ الْقَلِيلِ الْعَمَلَ الْكَثِيرَ

“Dan diperpanjang usianya,” Tentu, di sini sebagian ulama berkata bahwa makna “Diperpanjang usianya…” adalah diberkahi waktunya sehingga dalam waktu yang sedikit dia bisa melakukan banyak amal perbuatan.

فَكَأَنَّهُ عَاشَ عُمْرًا طَوِيلًا

Sehingga seolah-olah dia hidup dengan umur yang panjang.

وَبَعْضُ أهْلِ الْعِلْمِ قَالُوْا لَا الْمَقْصُودُ فِي أَجَلِهِ بِالنِّسْبَةِ لِلْأَجَلِ الَّذِيْ فِيْ أَيْدِي الْمَلَاَئِكَةِ

Dan sebagian ulama yang lain berkata, “Bukan demikian! Maksud umur di sini, adalah umur yang masih berada di tangan malaikat.

وَلَكِنَّ أَجَلَهُ الَّذِي فِي اللَّوْحِ هُوَ بِحَسْبِ عَمَلِهِ

Akan tetapi umur dia yang tertulis di Lauh Mahfuz akan bersesuaian dengan amal perbuatannya.”

فَيَكُونُ عِنْدَ الْمَلَاَئِكَةِ مَثَلًا أَنَّهُ يَمُوتُ فِي السِّتِّيْنَ، يُقْبَضُ عَلَى رَأْسِ السِّتِّيْنَ

Sehingga, misalnya, di tangan malaikat, seseorang tertulis bahwa dia akan meninggal pada usia enam puluh tahun, dia akan dicabut nyawanya pada penghujung usia enam puluh tahun.

هَذَا الَّذِي عِنْدَ الْمَلَاَئِكَةِ فَإِذَا وَصَلَ رَحِمَهُ فَإِنَّهُ يُقْبَضُ عِنْدَ السَّبْعِيْنَ

Ini yang ada di tangan malaikat. Ketika dia menyambung silaturahmi, maka dia akan dicabut nyawanya pada usia tujuh puluh tahun.

لَيْسَ مَعْنَى هَذَا أَنَّ أَجَلَهُ الَّذِي فِي الْقَدَرِ فِي الْأَزَلِ عَلِمَهُ الله وَ كَتَبَ يَتَغَيَّرُ، لَا

Dan ini tidak berarti bahwa ketetapan umurnya yang telah ditakdirkan untuknya secara azali, yang sudah Allah ketahui dan sudah Allah tulis berubah, tidak!

الَّذِيْ يَتَغَيَّرُ الَّذِي فِي أَيْدِي الْمَلَاَئِكَةِ

أَمَّا الَّذِي فِي اللَّوْحِ فَهُوَ مُطَابِقٌ، عَلِمَ الله أَنَّهُ سَيَصِلُ رَحِمَهُ وَ يَبْلُغُ السَّبْعِيْنَ

Adapun takdir yang tertulis di Lauh Mahfuz pasti terjadi, Allah tahu bahwa dia akan menyambung silaturahmi yang dengannya usianya akan mencapai tujuh puluh tahun.

فَالْمَكْتُوبُ أَنَّهُ يَبْلُغُ السَّبْعِيْنَ، وَهَذَا الْقَوْلُ قَوِيُّ

Maka yang menjadi ketetapan takdirnya adalah dia usianya mencapai tujuh puluh tahun, dan ini adalah pendapat yang kuat.

لَكِنَّ بَعْضَ أهْلِ الْعِلْمِ وَ هَذَا وَجْهُ الشَّاهِدِ الَّذِي أَوْرَدْتُهُ يَرَوْنَ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِزِيَادَةِ الْأَجَلِ الْبَرَكَةُ فِي الْعُمْرِ

Namun sebagian ulama berpendapat, dan pendapat ini yang menjadi penguat apa yang tadi saya sampaikan, bahwa maksud dari bertambahnya umur adalah keberkahan usia.

حَتَّى يَعْمَلَ الْإِنْسَانُ فِي الْعُمْرِ يَعْنِي مَا لَا يَعْمَلُهُ مِثْلُهُ مِمَّنْ كَانَ مُقَارِبًا لَهُ فِي الْعُمْرِ

Sehingga seseorang dalam rentang usianya bisa melakukan amalan yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain yang memiliki rentang usia tidak jauh beda dengannya.

الشَّاهِدُ الصِّدْقُ مَعَ الله وَصَرْفُ الْأَوْقَاتِ فِي طَاعَةِ الله سَبَبٌ لِنَيْلِ بَرَكَةِ الْوَقْتِ

Kesimpulannya adalah bahwasanya jujur kepada Allah dan menggunakan waktu dalam ketaatan kepada Allah adalah sebab untuk mendapatkan keberkahan waktu.

Nasihat Syaikh Dr. Sulaiman ar-Ruhaily -- https://youtu.be/D6bWe13R3CI

11/20/2020

Menyimpang Setelah Mendapat Hidayah

لماذا ينتكس البعض بعد استقامته على طريق الهداية ؟؟

Mengapa ada sebagian orang yang justru berbalik (menyimpang) setelah ia konsisten di atas jalan hidayah (bahkan sebelumnya ia mendakwahkan sunnah)…??

قيل للشيخ ابن باز :

Syaikh Bin Baz pernah ditanya:

ياشيخ ، فلان انتكس،

Wahai Syaikh; si fulan berbalik (menyimpang)

قال الشيخ :

Syaikh berkata;

(لعل انتكاسته من أمرين :

Boleh jadi dia berbalik menyimpang karena dua hal:

إما أنه لم يسأل الله الثبات ، أو أنه لم يشكر الله على الإستقامة) .

Pertama, dia mungkin tidak pernah meminta kepada Allah agar diteguhkan (di atas alhaq), atau yang kedua, ia tidak bersyukur setelah diberikan keteguhan dan keistiqomahan oleh Allah.

فحين اختارك الله لطريق هدايته،

Maka tatkala Allah telah memilihmu berjalan di atas jalan hidayah-Nya,

ليس لأنك مميز أو لطاعةٍ منك ،

camkanlah bahwa itu bukan karena keistimewaanmu atau karena ketaatanmu,

بل هي رحمة منه شملتك ،

melainkan itu adalah rahmat dari-Nya yang meliputimu

قد ينزعها منك في أي لحظة ،

Allah bisa saja mencabut rahmat tersebut kapan saja darimu

لذلك لا تغتر بعملك ولا بعبادتك

Oleh karena itu, jangan engkau tertipu dengan amalanmu, jangan pula disilaukan oleh ibadahmu

ولا تنظر باستصغار لمن ضلّ عن سبيله

Jangan engkau memandang remeh orang yang tersesat dari jalan-Nya

فلولا رحمة الله بك لكنت مكانه .

Kalau bukan karena rahmat Allah padamu, niscaya engkau akan tersesat pula, posisimu akan sama dengan orang yang tersesat itu.

أعيدوا قراءة هذه الآية بتأنٍّ

Ulang-ulang lah membaca ayat berikut ini dengan penuh penghayatan

﴿ ولوﻵ أن ثبتناك لقد كدت تركن إليهم شيئا قليلا ﴾

“Andai Kami tidak meneguhkanmu (wahai Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam), sungguh engkau hampir-hampir saja akan sedikit condong kepada mereka (orang-orang yang tersesat itu).”

إياك أن تظن أن الثبات على الإستقامة أحد إنجازاتك الشخصية …

Jangan pernah engkau menyangka, bahwa keteguhan di atas istiqomah, merupakan salah satu hasil jerih payahmu pribadi.

تأمل قوله تعالى لسيد البشر..

Perhatikan firman Allah kepada Pemimpin segenap manusia (Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam):

“ولولا أن ثبتناك”

“Kalau bukan Kami yang meneguhkanmu (wahai Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam)…”

فكيف بك !!؟.

Maka apalagi engkau…!!?

نحنُ مخطئون عندما نتجاهل أذكارنا،

Kita sering keliru, manakala kita melupakan dzikir-dzikir kita

نعتقد أنها شيء غير مهم وننسى

Kita menyangka bahwa dzikir-dzikir itu tidak penting, sehingga kita pun melupakannya.

بأن الله يحفظنا بها، وربما تقلب الأقدار..

Kita lupa bahwa Allah akan menjaga kita karena dzikir-dzikir tersebut. Boleh jadi takdir Allah akan berbalik.

يقول ابن القيم:

Ibnu al-Qayyim berkata:

حاجة العبد للمعوذات أشدُ من حاجته للطعام واللباس..!

Kebutuhan hamba akan do’a dan dzikir (agar Allah memberikan perlindungan), melebihi kebutuhannya akan makanan dan pakaian.

داوموا على أذكاركم لتُدركوا معنى:

Maka rutinkanlah membaca do’a dan dzikir kalian, agar kalian meraih apa yang dijanjikan dalam sabda Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam

احفظ الله يحفظك..

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjaga kalian”

تحصنوا كل صباح ومساء ؛

Niscaya kalian akan mendapatkan perlindungan pagi dan petang.

فالدنيا مخيفة .. وفي جوفها مفاجأت .. والله هو الحافظ لعباده

Dunia ini benar-benar menakutkan…. di lorongnya ada banyak hal yang menyentakkan… Allah, Dialah yang Maha Menjaga hamba-hamba-Nya.

https://bbg-alilmu.com/

7/08/2019

7 Nasihat Rumah Tangga

Nasihat singkat ini disampaikan oleh Al Ustadz Yazid hafizahullah sebagai penutup dari Tabligh Akbar waktu Ahad, 27 Syawwal 1440 H / 30 Juni 2019 di Masjid Jakarta Islamic Centre :
  1. Wajib Menegakkan Rumah Tangga Diatas Agama Allah (Bertaqwa kepada Allah, Menegakkan Tauhid, Sunnah, Solat 5 waktu, dll.) 
  2. Ingatkan dari awal pasca akad nikah kepada istri agar taat kepada suami, bahwa suami adalah surga atau neraka istri.
  3. Wajib Menegakkan Akhlak Mulia dalam Rumah tangga.
  4. Tolong menolong dalam Rumah Tangga.
  5. Berlomba-lomba dalam Kebaikan.
  6. Banyak berdzikir, Tilawah Qur'an, Baca Buku.
  7. Banyak berdoa' untuk kebaikan Rumah Tangga.

12/19/2015

3 doa yang janganlah engkau lupakan dalam sujudmu

بسم الله الرحمن الرحيم

Syeikh Abdul Aziz Bin Baaz rahimahullah berkata :

Merupakan 3 doa yang janganlah engkau lupakan dalam sujudmu...:

1). Mintalah diwafatkan dalam keadaan Husnul Khotimah.

١. اللهم إني أسألك حسن الخاتمة

Allahumma inni as'aluka husnal khotimah

Artinya : "Ya Allah aku meminta kepada-MU husnul khotimah."

2). Mintalah agar kita diberikan kesempatan Taubat sebelum wafat.

٢. اللهم ارزقني توبتا نصوحا قبل الموت

Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal maut

Artinya: "Ya Allah aku berilah aku rezeki taubat nasuha (atau sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat."

3). Mintalah agar hati kita ditetapkan di atas Agama-Nya.

٣. اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

Allahumma yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi 'ala diinik

Artinya: "Ya Allah wahai sang pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku pada agama-MU."

Kemudian saya sampaikan, jika kau sebarkan perkataan ini, dan kau berniat baik denganya, maka semoga menjadikan mudah urusan urusanmu di dunia dan akhirat.

Lakukanlah kebaikan walau sekecil apapun itu, karena tidaklah engkau ketahui amal kebaikan apakah yang dapat menghantarkanmu ke Surga Allah.

Dan berkata Syeikh Khalid : Ulangilah...

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الذي لا إله الا هو الحيى القيوم و وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِه

Astagh-firullahulladzi laa ilaaha illa huwal khayyul qoyyumu wa atuubu ilaih ، ‘adada kholqih wa ridhoo nafsih. wa zinata ‘arsyih, wa midaada kalimaatih.

Artinya : “Aku memohon ampun kepada Allah yang mana tiadalah sesembahan dialah yang maha hidup dan abadi dan aku bertobat kepada-Nya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya.”

Maka dengan izin Allah kau akan lihat keajaiban dari diredakannya kekhawatiranmu dan dimudahkanya urusanmu,

Janganlah kau sembunyikan keutamaan (dzikir). Setiap nafas pada menit kehidupan kita, tidaklah akan kembali. Maka Jadikanlah dirimu merasakan manisnya beristighfar.

Yaa Allah Jadikanlah nasehatku ini shodaqoh jariyah bagiku dan kedua orang tuaku dan untuk seluruh umat muslimin.

والله أعلم. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Dari: Group Permata Sunnah

3/14/2015

Mutiara Salaf


ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ :
“ﺇﺫﺍ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ ،ﻓﻼ ﺗﻨﻈﺮ ﻟﻠﻨﺎﺋﻤﻴﻦ ﻧﻈﺮﺓ
ﺍﺯﺩﺭﺍﺀ …
ﻭﺇﺫﺍ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ، ﻓﻼ ﺗﻨﻈﺮ ﻟﻠﻤﻔﻄﺮﻳﻦ ﻧﻈﺮﺓ
ﺍﺯﺩﺭﺍﺀ …
ﻭﺇﺫﺍ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ، ﻓﻼ ﺗﻨﻈﺮ ﻟﻠﻘﺎﻋﺪﻳﻦ ﻧﻈﺮﺓ ﺍﺯﺩﺭﺍﺀ

ﻓﺮﺏ ﻧﺎﺋﻢ ﻭﻣﻔﻄﺮ ﻭﻗﺎﻋﺪ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﻚ .
ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : “ﻭﺇﻧﻚ ﺃﻥ ﺗﺒﻴﺖ ﻧﺎﺋﻤﺎً ﻭﺗﺼﺒﺢ ﻧﺎﺩﻣﺎً ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺗﺒﻴﺖ ﻗﺎﺋﻤﺎً
ﻭﺗُﺼﺒﺢ ﻣﻌﺠﺒﺎً ، ﻓﺈﻥَّ ﺍﻟﻤُﻌﺠَﺐ ﻻ ﻳﺼﻌﺪ ﻟﻪ ﻋﻤﻞ .”
ﻣﺪﺍﺭﺝ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ‏( ١٧٧ / ١ ‏)

⭐Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah,
“Jika Allah membukakan untukmu pintu
sholat malam, janganlah kau memandang
orang yang tidur dengan pandangan
merendahkan.

⭐Jika Allah membukakan untukmu pintu
puasa, jangan kau memandang orang yang tak berpuasa dengan pandangan
merendahkan.

⭐Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, jangan kau memandang orang yang tak berjihad dengan pandangan merendahkan.

☀Bisa saja orang yang tidur, yang tak berpuasa dan yang tak berjihad lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu.”

⛅Kemudian beliau melanjutkan,
“Engkau berpagi hari bangun dari tidur lalu menyesal lebih baik dari pada berpagi hari
dalam keadaan terjaga lalu berbangga

✂Karena orang yang sombong, amalannya
tidak akan naik ke sisi Allah.”

(Dinukil dari Kitab Madarijus Salikin:1/17)

2/17/2015

Wasiat Nabi kepada Abdullah bin Abbas

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ الله ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ، كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ، يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتْ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ (رواه الترمذي)

Dari Abu Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahu'anhu, ‘Saya pernah berada di belakang Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam pada suatu hari, beliau bersabda, ‘Wahai ananda, saya hendak mengajarimu beberapa kalimat; 1. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu; jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya bersamamu; 2. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah; jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, jika umat manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.’ (HR. Turmudzi)

Takhrij Hadits:
1. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dalam Kitab Shifatil Qiyamah War Raqa’iq Wal Wara’ ‘An Rasulillah, hadits no 2440.
2. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya, dalam bidayah musnad Ibni Abbas RA, hadits no 2537.

Syarah Hadits: (oleh Rikza Maulan, Lc. MAg.)
1. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Maksud dari jagalah Allah adalah pesan untuk berpegang teguh terhadap perintah-perintah Allah dan tidak melanggar larangan-larangan Allah SWT. Atau dengan kata lain, pesan untuk senantiasa taat terhadap syariat Allah SWT. Dan apabila kita menjaga syariat dan hukum-hukum Allah SWT, maka niscaya Allah SWT akan menjaga dan memelihara kita, di manapun kita berada. Karena Allah SWT adalah sebaik-baik pemelihara dan penjaga kita. Dalam Al-Qur’an disebutkan :

قَالَ هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلاَّ كَمَا أَمِنتُكُمْ عَلَى أَخِيهِ مِن قَبْلُ فَاللّهُ خَيْرٌ حَافِظاً وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ٦٤

Berkata Ya`qub: “Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?”. Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (QS. Yusuf: 64)

2. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya bersamamu. Ini adalah benefit kedua apabila kita menjaga hukum dan syariat Allah SWT, yaitu bahwa Allah SWT akan senantiasa bersama dengan kita. Maksudnya adalah bahwa Allah SWT akan selalu menolong, membela, dan melindunginya. Dalam poin ini terdapat hikmah penting yang tersirat, yaitu bahwa pertolongan Allah SWT sangat erat kaitannya dengan aspek menjaga hukum dan syariat Allah SWT. Maka jika ingin mendapatkan nashrullah, kita harus taat terhadap hukum dan syariat Allah SWT.

3. Jika meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Dalam poin ini sangat jelas pesan Rasulullah SAW kepada ibnu Abbas dan juga kepada umatnya untuk senantiasa meminta sesuatu dan bersandar hanya kepada Allah SWT. Karena Allah SWT lah yang Maha Mengabulkan segala doa permintaan hamba-Nya. Dan larangan meminta kepada selain Allah. Allah SWT berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Ghafir: 60)

4. Jika meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Sebagaimana poin sebelumnya bahwa kita hanya boleh meminta kepada Allah, maka kita pun juga hanya boleh meminta pertolongan kepada Allah SWT. Karena jika meminta pertolongan kepada Allah, niscaya Allah SWT akan memberikan pertolongan-Nya dan menganugerahkan kemenangan. Allah SWT berfirman :

إِن يَنصُرْكُمُ اللّهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ وَإِن يَخْذُلْكُمْ فَمَن ذَا الَّذِي يَنصُرُكُم مِّن بَعْدِهِ وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكِّلِ الْمُؤْمِنُونَ ١٦٠

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal. (QS. Ali Imran: 160)

5. Yang dapat memberikan manfaat atau mudharat hanyalah Allah. Poin ini adalah “buah” dari meminta pertolongan hanya kepada Allah SWT. Karena hanya Allah lah yang bisa memberikan pertolongan dan kemenangan. Oleh karenanya, jika suatu kaum atau satu organisasi atau satu pasukan atau satu negara sekalipun berniat untuk memberikan mudharat kepada kita, niscaya itu tidak akan pernah terjadi tanpa adanya “izin” dari Allah SWT. Sebaliknya jika suatu kaum, kelompok, organisasi atau negara sekalipun berniat untuk memberikan kebaikan kepada kita, maka segala upaya mereka tidak akan pernah terjadi sama sekali, tanpa adanya “izin” dari Allah SWT. Kuasa Allah SWT meliputi segala sesuatu. Allah SWT berfirman :

وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدُيرٌ ١٧

Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (QS. Al-An’am: 17)

6. Pena telah diangkat dan kertas telah kering. Artinya segala sesuatu yang terjadi, pasti sudah tertulis di Lauhil Mahfudz sesuai dengan kehendak Allah. Maka oleh karenanya, dalam menjalani kehidupan dan perjuangan, yang terpenting dilakukan adalah ikhtiar dan usaha yang maksimal. Kita hanya diperintahkan untuk berusaha, adapun hasil adalah diserahkan kepada Allah SWT. Jika dalam perjalanan terjadi sesuatu, maka pastilah hal tersebut terdapat hikmah yang besar karena hal tersebut terjadi adalah karena izin dan kehendak Allah SWT.