Tampilkan postingan dengan label tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tauhid. Tampilkan semua postingan

4/15/2020

Berdoa dengan nama Allah yang paling Agung

Allah 'azza wa jalla memiliki nama yang paling agung. 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Ismullah al-A’dzam yang bisa menjadi pengantar kemujaraban doa. Dengan menyebut Ismullah al-A’dzam, segala bentuk doa dan permohonan menjadi lebih besar peluang untuk dikabulkan. Karena diantara bagian dari adab dalam berdoa adalah memperbanyak pujian sebelum menghaturkan doa. Nama-nama yang paling Agung tersebut adalah:
  • Al-Ahad [الأَحَدُ] Maha Esa
  • As-Shamad [الصَّمَدُ] Penguasa yang Maha Sempurna dan Bergantung kepada-Nya segala sesuatu
  • Al-Mannan [الْمَنَّانُ] Maha Pemberi
  • Al-Hayyu [الْحَيُّ] Maha Hidup dan Kekal
  • Al-Qoyyum [الْقَيُّومُ] Maha Mengatur dan Maha Berdiri Sendiri
  • Badii’us samaawaati wal ardh [بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ] Pencipta Langit dan Bumi
  • Yaa dzal jalali wal ikram [ذُو الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ] Pemilik Keagungan dan Kemuliaan 

Dalil:

1. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنِّى أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِى لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu karena aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Esa, yang menjadi tempat bergantung semua makhluk-Nya, tidak beranak dan tidak dilahirkan. Dan tidak ada seorangpun yang sepadan dengan-Nya."

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar ada orang yang membaca kalimat di atas. Kemudian beliau bersabda menyebutkan keutamaannya,

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh orang ini telah meminta kepada Allah dengan ismullah al-a’dzam (nama Allah yang paling agung), dimana, ketika seseorang berdoa dengan menyebut nama itu, maka doanya akan diijabahi. Dan apabila dia meminta kepada Allah dengan menyebut nama itu, maka dia akan diberi." (HR. Ahmad 23654, Abu Daud 1495, Turmudzi 3812,  dan disahihkan Syuaib al-Arnauth).

2. اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu bahwa sesungguhnya segala pujian hanya milik-Mu, tiada sembahan yang benar kecuali Engkau, Yang Maha Pemberi karunia, Pencipta langit dan bumi, wahai Yang Maha Memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.”

Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh dia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang jika seseorang berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkannya, dan jika dia meminta kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan memenuhi permintaannya. (HR. Ahmad 12946, Abu Daud 1497, Nasai 1308, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

3. Dari Asma bintu Yazid, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya pada dua ayat ini, [اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ] dan ayat [الم اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ] terdapat Ismullah al-A’dzam." (HR. Ahmad 27611, ad-Darimi 3456 dan dihasankan al-Albani)

4. Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

"Ismullah al-A’dzam, apabila orang berdoa dengan menyebut namanya itu maka doanya akan dikabulkan, ada di tiga surat: Al-Baqarah, Ali imran, dan Thaha." (HR. Ibnu Majah 3988, dan dishahihkan al-Albani). Abu Abdurrahman al-Qosim pun mencarinya dalam al-Quran; 

1. Al-Baqarah ada di awal ayat kursi,

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

2. Ali Imran ada di ayat kedua,

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

3. Thaha ada di ayat 111:

وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ

(Silsilah as-Shahihah, 2/371).

1/23/2020

Kisah Tauhid dan Tawakkal seorang Hamba Allah

Dari Abdul Wahid bin Zaid, beliau berkata,

Kami pernah berlayar di atas sebuah kapal. Lalu angin laut menghempaskan kami ke sebuah pulau. Kemudian kami turun. Tiba tiba ada seseorang yang sedang beribadah kepada sebuah patung. Kami pun menemuinya dan berkata kepadanya,

"Wahai pemuda, siapakah yang sedang kamu sembah?" Lalu dia menunjuk kepada sebuah patung berhala. Kami pun mengatakan, "Kalau ini bukan tuhan yg boleh disembah."

Dia pun berkata, "Kalau kalian, siapa yang kalian sembah ?" Kami menjawab, "Kami menyembah Allah." Dia menjawab, "Apa itu Allah." Kami mengatakan, "Allah adalah yang Arsy-Nya ada di langit, Dia menguasai bumi dan ketetapan-Nya berlaku bagi makhluk, baik yg hidup ataupun yang mati."

"Lalu bagaimana Dia memberitahu kalian akan hal itu?" Tanya dia. Kami menjawab, "Rabb Yang Maha Merajai lagi Maha Agung, Maha Pencipta yang Mulia menganugerahkan kepada kami seorang Rasul yang mulia, dan Rasul itulah yang mengabarkan kepada kami."

"Lalu apa yang dilakukan Rasul tersebut?" Tanyanya. Kami menjawab, "Menyampaikan risalah (ajaran Allah). Lalu Allah mewafatkannya."

"Apakah dia meninggalkan sebuah tanda untuk kalian?" Tanyanya. "Ya." Jawab kami.

"Apa yang dia tinggalkan?" Tanyanya lagi. Kami menjawab, "Beliau meninggalkan untuk kami sebuah kita suci dari Rabb Yang Maha Memiliki."

"Tunjukkan kepadaku kitab dari Rabb kalian itu." Pintanya.

"Biasanya kitab-kitab nya para Raja itu bagus-bagus." Timpalnya lagi. Lalu kami memberikan kepadanya mushaf Al-Qur'an. Dia berkata, "Aku tidak tahu apa ini."

Lalu kami membacakan kepadanya sebuah surat dari Al-Qur'an. Ketika kami sedang membacanya tiba tiba dia menangis dan terus menangis sampai kami selesai membaca hingga akhir surat.

Dia berkata, "Pemilik perkataan ini seharusnya tidak boleh ditentang dan dimaksiati."

Kemudian dia masuk Islam lalu kami mengajarkan syariat-syariat Islam dan surat-surat dari Al-Qur'an.

Lalu kami pun membawanya ke atas kapal kami untuk melakukan pelayaran lagi. Ketika kami sedang dalam pelayaran dan malam yang gelap telah menyelimuti dan kami telah bersiap-siap untuk tidur, dia berkata, "Wahai kaum, Sesembahan yang kalian tunjukkan kepadaku apakah Dia tidur ketika gelap di malam hari?"

Kami menjawab, "Tidak wahai hamba Allah. Dia Maha Hidup Maha bersendiri dan maha Agung yang tidak pernah tidur."

Dia mengatakan, "Kalau begitu kalian adalah hamba-hamba yang buruk. Kalian tidur dalam keadaan Sesembahan kalian tidak tidur."

Lalu dia pun beribadah dan meninggalkan kami tidur.

Ketika kami sudah tiba di negeri kami maka aku berkata kepada teman-temanku, "Ini adalah orang yang baru masuk Islam dan orang yang asing di negeri kita."

Lalu kami mengumpulkan dinar dan dirham untuknya dan kami berikan kepadanya. Dia berkata "Untuk apa ini?"

Kami berkata, "Ini adalah harta yang dapat engkau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu."

Dia menjawab, "Laa ilaha illallah, dahulu aku tinggal di sebuah pulau di tengah lautan dan menyembah selain-Nya namun Dia tidak membuat hidupku sengsara. Apakah Allah akan membuat hidupku menjadi sengsara setelah aku mengenal-Nya (dan menyembah-Nya)...!?"

Lalu dia pergi dan mencari kerja untuk dirinya sendiri. Setelah itu dia menjadi orang shaleh yang terkenal sampai dia wafat.

[At-Tawwaabun karya Ibnu Qudamah rahimahullah, hal. 179]

6/06/2019

Fawaid Ramadhan 1440 H

Bismillah tlg dicatat nasihat indah ulama ini dibuku2 kita sebagai bekal, tidak lah seseorang bisa berkata seperti demikian kecuali karena kedalaman ilmunya dan keberkahan lisannya.

Hadiah ini saya dapatkan di malam terakhir Ramadhan 1440 H.

-------

Terkadang sebagian orang memandangmu sebagai orang yang bertakwa…

Sebagian lainnya memandangmu sebagai orang yang berlumur dosa..

Dan sebagian yang lain memandangmu begini.. begini.. dan begitu..

Namun pada hakikatnya, engkaulah yang paling tahu tentang dirimu sendiri.

 

Satu-satunya rahasia yang tidak diketahui oleh orang lain selainmu

Ialah "Rahasia hubunganmu dengan Robbmu”

Maka janganlah terperdaya dengan orang-orang yang memujimu,

Dan jangan pula resah terhadap orang-orang yang mencelamu,

Karena sejatinya {بل الإنسان على نفسه بصيرة - Al Qiyamah : 14}

(Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri)

 

Hidup itu diantara dua pilihan : Antara Taat dan Maksiat.

Sesungguhnya engkau juga tak akan tahu diantara kedua itu mana titik akhirnya?

Bertaatlah dengan penuh keikhlasan, bukan pelarian,

Jagalah amalan sunnah untuk terus mendekatkan diri dengan Allah ‘azza wa jalla bukan untuk mendapat sanjungan,

Demi Allah engkau lebih membutuhkan ketaatan, sedangkan Robbmu Subhaanahu tidak membutuhkan itu.

 

Jangan jadikan ambisimu agar dicintai manusia, sementara hati mereka selalu berubah-ubah.

Bisa jadi hari ini mereka begitu mencintaimu, namun keesokan harinya mereka sangat membencimu.

Karena yang seharusnya menjadi ambisimu adalah bagaimana caranya meraih cintanya Robb seluruh manusia, karena bila Ia mencintaimu maka Dia akan buat hati-hati manusia mencintaimu.

 

Perkara haram tetaplah haram walaupun semua orang mengerjakannya...

Maka janganlah engkau merubah pendirianmu, tinggalkan saja mereka,

karena pada akhirnya nanti engkau akan dihisab seorang diri..

Oleh karena itu Istiqomahlah sebagaimana yang diperintahkan padamu, bukan berdasarkan seleramu.

 

Jadikanlah rahasia kebaikanmu tiada yang mengetahuinya kecuali Allah La ilaaha illallah.

Sebagaimana dosa yang tersembunyi bisa menjadi penyebab kebinasaan,

Demikian pula kebaikan yang tersembunyi bisa membawa pada keselamatan.

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبً

“Sesungguhnya Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).”

Ketahuilah bahwa konferensi terbesar sepanjang sejarah adalah konferensi yang berlangsung dibawah pohon (janji setia perang khaibar)..

Ya Allah, sungguh aku pasrahkan segala urusanku padamu..

 

Salah seorang ulama pernah berkata, “Sesungguhnya aku berdoa kepada Allah untuk suatu kebutuhan, Jika Ia mengabulkan doaku maka bahagiaku hanya sekali, dan jika tidak dikabulkan maka kebahagianku justru sepuluh kali lipat.

Karena pengabulan yang pertama adalah pilihanku, sedangkan yang kedua adalah pilihan Allah yang maha mengetahui hal ghaib yang tidak kita ketahui.”

 

Yang dinamakan keindahan itu adalah keyakinan kepada Tuhan seluruh hamba

Allah subhanahu wa ta’ala maha mengetahui, sedangkan kita tidak mengetahui

Itulah jawaban yang tepat atas pertanyaan “Mengapa hal itu terjadi padaku?”

 

Bahwa orang-orang yang keluar masuk dalam hidupmu merupakan rahmat dari Tuhanmu..

Kita juga tidak akan menyadari sebuah rahmat kecuali oleh sebab waktu..

Waktu dapat merubah banyak hal, bahkan merubah bentuk gunung,

Bukan hal mustahil juga waktu akan merubah kepribadian seseorang.

 

Jikalau kita belajar bagaimana rasanya saat kita mendapat bayaran diganti dengan balasan

Niscaya kita tidak mengharapkan cepatnya sebuah kenyamanan

Karena tidak ada satu hal yang diambil dari kita kecuali untuk diberikan kembali

Maka terimalah takdir Allah terhadap kita dengan perkataan kita “Alhamdulillah..”

 

Para ulama salafush shalih terdahulu mewasiatkan tiga kalimat yang jikalau ditimbang dengan emas, pasti lebih berat timbangannya daripada emas :

1.       Barang siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah ta’ala, niscaya Ia akan memperbaiki hubungannya dengan orang lain.

2.       Barang siapa yang memperbaiki perbuatannya sendiri, Niscaya Allah ‘azza wa jalla memperbaiki perbuatannya yang terlihat oleh orang lain.

3.       Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai prioritasnya, Niscaya Allah robbul alamin menjaminkan / melapangkan urusan dunia dan akhiratnya.

 

Kerugian terbesar adalah bahwa surga yang luasnya tak terkira melebihi langit dan bumi, akan tetapi tidak ada tempat (walau sejengkal) didalamnya bagimu..

Manfaatkanlah hidupmu sebagai bekal akhiratmu…

Semoga Allah mengampuni dosaku dan juga kalian.. Shalawat beserta salam selalu tercurah kepada junjungan Nabi yang mulia Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

 

📚 Al Muntada Asy Syaikh Fawwaz Al Madkholy Hafidzohullah Ta'ala.

5/09/2018

ALLAH MENCINTAI MU

Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam_ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

*_“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.”_*
```(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah At Tirmidzi berkata bahwa hadits ini Hasan Ghorib)```

Dari _Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya_ berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

_*“Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya?”*_

Beliau _shallallahu ‘alaihi wasallam_ menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

_*“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka dia akan mendapat ujian begitu kuat. Apabila agamanya lemah, maka dia akan diuji sesuai dengan agamanya. Senantiasa seorang hamba akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”*_
```(HR. Tirmidzi. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)```

*Semoga kita yang sedang mendapat ujian atau musibah* merenungkan hadits-hadits di atas. Sungguh ada sesuatu yang *tidak kita ketahui* di balik musibah tersebut. Maka *bersabarlah dan berusahalah ridho dengan taqdir ilahi.* Sesungguhnya *para Nabi dan orang sholeh dahulu juga telah mendapatkan musibah* sebagaimana yang kita peroleh.

*💔 Kenapa Kita Harus Bersedih, Mengeluh dan Marah?⚡*

Bahkan orang sholeh dahulu *-sesuai dengan tingkatan keimanan mereka-,* mereka malah memperoleh ujian lebih berat.

Cobalah kita perhatikan perkataan ulama berikut,
Al Manawi _rahimahullah_ mengatakan,
*“Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta (tertutupi). Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan.*

*Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya _Nabi Allah Yahya bin Zakariya,_ terbunuhnya _tiga Khulafa’ur Rosyidin,_ terbunuhnya _Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir._*

*Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah _Abu Hanifah_ yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, _Imam Malik_ yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga _lepaslah bahunya,_ begitu juga kisah _Imam Ahmad_ yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. Dan masih banyak kisah lainnya.”*
```(Faidhul Qodhir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/518, Asy Syamilah)```

*Semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar ketika menghadapi musibah, baik dengan hati lisan atau pun anggota badan..*

*Ya Allah..*
*Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang selalu ridho dengan taqdir-Mu..*
*________________________________*

*_✒Ustadz Azhar Khalid bin Seff, MA_*

*📖 Sumber Rujukan Utama :*
```[Syarh Qowaidil Arba, Syaikh Sholih bin ‘Abdillah Al Fauzan]```

9/23/2017

Hakikat Mencintai Karena Allah

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri (161 H) berkata:

إذا أحب الرجل الرجل في الله ، ثم أحدث حدثا ؛ فلم يبغضه عليه ؛ فلم يحبه لله

“Jika seseorang mencintai orang lain karena Allah, kemudian orang yang dicintainya itu membikin bid'ah dalam beragama, lalu dia tidak membencinya maka sungguh dia tidak mencintainya karena Allah." (Riwayat Ibnu Abi Hatim dalam “Al-Jarh Wat Ta’dil” 1/52 sanadnya shahih)

Yakni membiarkan penyimpangannya, tidak menyampaikan nasehat kepadanya, maka pada hakikatnya dia mencintai saudaranya itu karena hawa nafsu.

Bersahabatlah dengan orang-orang yang mencintai kita karena Allah, karena dia akan mengingatkan kita kepada Allah. Al-Imam Dzun Nun Al-Mishri (245 H) berkata, "Bila engkau lupa, dia akan mengingatkanmu. Jika engkau ingat (Allah) dia akan menolongmu." (Shifatus Shofwah 4/315)

https://t.me/manhajulhaq

12/25/2016

LISAN SYIRIK

Saudaraku... Diantara malapetaka lisan yg paling dahsyat, yg dapat membinasakan di dunia dan akhirat adalah mengucap kan perkataan syirik...

Hati- hatilah... Terkadang kalimat syirik keluar dari lisan kita sementara kita tidak sadar...

I. DIANTARA BAHAYA SYIRIK DI DUNIA

*ALLAH TIDAK AKAN MENGAMPUNI YG MATI DI ATAS KESYIRIKAN*

(إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا)

_"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya."_
[Surat An-Nisa' 116]

*AMALAN MEREKA DI HAPUS DAN SIA-SIA*

(وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ)

_"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi."_
[Surat Az-Zumar 65]

II. DIANTARA ANCAMAN AKHIRAT

*HARAMNYA SURGA BAGI MEREKA*

( إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ)

_"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun."_
[Surat Al-Ma'idah 72]

III. DIANTARA LISAN YG SYIRIK

❌ Berdoa kpd selain Allah dan menyambat nama selain Nya, baik Nabi, Malaikat atau orang 2 shalih.

❌ Meminta perlindungan dan pertolongan  kpd Jin, seperti yg dilakukan para dukun dan tukang sihir.

❌ Bersumpah dengan selain nama Allah. Seperti : Demi Nabi, Demi malaikat,  demi wali, dll

❌ Mengucapkan anggapan sial terhadap waktu atau tempat atau lainnya (Tathoyyur), Seperti ucapan akan sialnya bulan shafar, sialnya suara burung di malam hari, dll.

❌Mencela waktu atau masa tertentu, Seperti mengatakan، ini bulan sial, atau hari sial dll..

❌ Mengatakan
ماشاءالله ثم شئت
(Ini kehendakmu kemudian kehendak Allah )

❌ Menyandarkan Nimat kpd selain Allah, seperti perkataan : Klu tidak ada dokter /obat aku mati tadi malam, klu tidak ada satpam  pasti maling masuk, dll..

❌Memuji Nabi atau orang shalih dgn Ghuluw (melampaui batas),  seperti shlawat badar, nariah, dll.

❌ Menamai atau menggelari atau menyifati  seseorang dgn kekhususan nama, gelar dan sifat kekhususan Allah, sehingga dia di panggil dgn itu, seperti gelar RAJA DI RAJA, ALHAKAM (PENENTU HUKUM),  dll.

Saudaraku... Setelah kita tahu maka hati hatilah dan jagalah lisan dr mengucapkan kesyirikan...

Dari: Abu Ismail.Ma'had Riyadhusshlihiin, Pandeglang.

2/24/2016

ENAM PERKARA PENTING DALAM AGAMA

1.    Ikhlas dalam agama dan melawan kemusyrikan

Ikhlas menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin yaitu beribadah kepada Allah semata-mata hanya untuk taqarub (mendekatkan diri) kepadaNya dan untuk memperoleh apa yang ada disisiNya. Hal ini dilakukan dengan cara memurnikan tujuan, cinta dan pengagungan hanya hanya kepada Allah juga memurnikan seluruh apa saja yang bersifat lahir maupun batin dalam beribadah tidak dikehendaki dan diharapkan dari semua itu kecuali hanya ridhaNya. Allah berfirman:

Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta Alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). [Qs. Al-An'am: 162-163]

Tauhid dan ikhlas ini telah diwujudkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersih dari segala sesuatu yang bisa mengotorinya, tidak cukup itu saja bahkan setiap yang membuka peluang untuk masuknya syirik maka beliau sumbat rapat-rapat. Seperti larangan beliau kepada orang yang mengucapkan:

"Atas kehendak Allah dan kehendak Anda." beliau bersabda: "Apakah kamu hendak menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah?" tapi (ucapkan): "Atas kehendak Allah saja!"

Beliau juga melarang sumpah dengan selain Allah karena disitu ada unsur pengagungan terhadap makhluk yang ia gunakan bersumpah. Sebagai lawan dari tauhid dan ikhlas yaitu syirik, Allah berfirman:

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun." [An-Nisaa': 36]

Oleh karena itu hendaklah kita berhati-hati dan waspada terhadap segala bentuk kemusyrikan, baik itu yang besar (akbar) dan dapat menyebabkan pelakunya keluar dari Islam, yang kecil (asghar) maupun yang tersembunyi (khafiy).

2.    Bersatu dalam agama dan tidak berpecah belah

Perkara ini diperintahkan dalam Al-Qur'an, As-Sunnah serta merupakan jalan hidup para shahabat dan salafus shalih. Firman Allah:

"Dan berpenganglah kamu semua kepada tali agama Allah dan jangan kamu bercerai-berai" [Qs. Ali Imran : 103]

Sabda Rasulullah: "Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, maka tidak boleh salah satu menzhalimi yang lain, tidak pula merendahkan dan menghinanya." [HR. Bukhari].

"Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan lain" [HR. Bukhari].

Demikian ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya agar saling mengasihi dan mencintai serta melarang bermusuhan dan bercerai berai.

Memang para shahabat pernah berbeda pendapat, akan tetapi tidak menyebabkan perpecahan, permusuhan dan saling benci karena hakikatnya mereka sama-sama berjalan diatas hukum yang dicantumkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. Seperti ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari perang Ahzab Jibril as memerintahkan agar segera ke Bani Quraidhah karena mereka melanggar perjanjian, maka Rasulullah bersabda:

"Kalian semua jangan shalat Ashar dulu, kecuali kalau sudah sampai di Bani Quraidhah." [HR. Bukhari].

Akhirnya mereka meninggalkan Madinah menuju Bani Qudraidhah dan bersamaan dengan itu tiba waktu Ashar, maka sebagian sahabat ada yang shalat Ashar dulu dan sebagian lagi ada yang tidak. Hal ini tidak dicela oleh Rasullah dan dengan kasus ini para shahabt tidak lantas saling bermusuhan atau benci antara satu dengan lain. Demikian pula para salafus shalih ketika berbeda pendapat, selagi dalam masalah ijtihadiyah yang disitu berlaku hukum ijtihad maka perbedaan itu tidak menyebabkan permusuhan dan lain benci, bahkan dalam perbedaan yang sangat tajam sekalipun. Inilah salah satu kaidah pokok Ahlussunnah dalam masalah khilafiyah.

Adapun perselisihan yang tidak bisa dikompromi adalah apa saja yang menyelisihi shahabat dan tabi'in seperti dalam hal i'tiqad dan kenyakinan yang mana sebelumnya tidak pernah ada dan munculnyapun setelah qurun mufaddlalah (masa generasi terbaik)

3.    Mendengar dan patuh kepada pemegang urusan kaum muslimin (ulil amri)

Ini sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam firmanNya:

"Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri diantara kamu." [Qs. An-Nisaa': 59]

Sedangkan dari hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam diantaranya adalah:

"Hendaklah kalian semua mendengar dan taat walaupun yang memerintah kalian adalah seorang hamba habasyi" [HR. Al Bukhari]

"Barangsiapa yang melihat sesuatu (yang dibenci) pada imamnya maka hendaklah ia bersabar, karena barangsiapa yang memisahkan diri dari Al-Jama'ah sejengkal saja, kemudian mati maka matinya dalam keadaan jahilliyah." [HR. Al Bukhari]

Akan tetapi ketaatan terhadap amir tidaklah mutlak, yaitu selagi ia tidak menyuruh bermaksiat kepada Allah. Sebagaimana sabda Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam:

"Wajib seorang muslim untuk mendengar dan taat baik terhadap perkara yang ia sukai maupun yang ia benci kecuali jika disuruh untuk bermaksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat." [HR. Al Bukhari]

Dan yang dimaksud amir disini adalah bukan sebagaimana yang diklaim oleh kelompok-kelompok yang ada saat ini. Mereka semua salah dalam menerapkan hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan imamah, sehingga bukannya bersatu tapi malah memperbanyak jumlah kelompok dan makin menceraiberaikan umat.

4.    Tentang ilmu dan fuqahaa serta orang yang seperti mereka padahal bukan

Ilmu yang dimaksud disini ialah ilmu syar'i yaitu pengetahuan tentang apa-apa yang diturunkan oleh Allah berupa penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diberikan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam baik itu Al Kitab maupun Al Hikmah (As Sunnah). Allah subhanahu wata’ala berfirman:

"Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui' Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." [Qs. Az-Zumar: 9]

Adapun selain ilmu syari'i jika itu untuk tujuan kebaikan maka itu baik naum jika untuk tujuan yang buruk maka ia jadi buruk, dan jika tidak ada tujuan apa-apa maka termasuk kategori menyia-nyiakan waktu. Ilmu memiliki banyak keutamaan diantaranya adalah:

·         Bahwa orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah.

·         Ilmu adalah warisan para Rasulullah.

·         Ilmu akan tetap tinggal meskipun pemiliknya telah meninggal.

·         Salah satu iri yang dibolehkan adalah iri terhadap orang yang berilmu dan mengamalkannya.

·         Ilmu merupakan cahaya untuk menerangi jalan kehidupan.

·         Orang alim ibarat lentera yang menerangi orang-orang disekitarnya.

Yang sangat ditekankan adalah bahwa kita harus tahu siapa sebenarnya ulama dan fuqaha itu sebab ada juga orang-orang yang menyerupai ulama namun pada hakekatnya adalah bukan. Mereka mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil dan pandai menghiasi perbuatan dan ucapannya sehingga kesesatan dan kebid'ahan yang ia lakukan disangka oleh orang sebagai ilmu padahal bukan, ibarat fatamorgana yang disangka air namum ternyata kosong dan semu belaka.

5.    Mengenal wali-wali Allah yang sebenarnya

Wali Allah adalah siapa saja yang beriman kepadaNya, bertakwa dan beristiqamah diatas agamaNya, Allah berfirman:

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa". [Qs. Yunus: 62-63]

Jadi jika seseorang itu beriman dan bertakwa kepada Allah maka dia adalah waliNya. Bukan sebagaimana yang dinyakini sebagian orang bahwa wali adalah orang yang maksum (terjaga dari dosa) dan ia mempunyai jalan (tharikat) tersendiri yang langsung dari Allah, bukan syari'at yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, atau dengan kata lain bahwa wali Allah itu biasanya orangnya nyeleh (tidak wajar). Maka tidak diragukan lagi bahwa orang semacam ini tidak layak untuk disebut wali Allah, dan tidak pantas untuk mengaku bahwa dirinya adalah wali. Allah yang lebih tahu siapa yang menjadi waliNya. Dan yang pasti mereka adalah orang-orang yang selalu berpegang teguh kepada kitabNya dan sunnah RasulNya.

Allah telah menjelaskan bahwa tingkatan hambaNya yang diberi nikmat dimulai dari Rasululliahyyin (para Rasulullah), Shiddiqin (jujur dan benar imannya), syuhadaa (para syahid) kemudian shalihin (orang shalih), mereka semua ini adalah wali-wali Allah berdasarkan kesepakatan salafus shalih.

6.    Melawan shubhat yang ditanamkan syetan untuk menjauhkan kita dari Al-Qur'an dan As-Sunnah

Yaitu mereka bisikkan bahwa Al-Qur'an dan As-Sunnah hanya boleh dipelajari oleh orang yang mencapai derajat mujtahid mutlak setingkat Abu Bakar atau Umar radhiyallahu anhuma. Jikalau seseorang mempelajarinya maka akan jadi kafir atau zindik. Alhamdulillah syubhat ini dengan pertolongan Allah telah dijawab oleh para ulama dengan meletakkan dasar dan syarat-syarat dalam ijtihad serta penjelasan dari mereka tentang tidak bolehnya seseorang untuk taklid buta, namun hendaknya setiap orang berusaha untuk mengkaji Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar.

Adapun taklid dibolehkan jika seseorang memang benar-benar awam tidak tahu menahu dan tidak bisa memahami suatu hukum atau sebenarnya mampu namun mengalami kesulitan yang sangat besar maka ia boleh taklid dalam bab yang tidak mampu memahaminya.

Wallahu a'lam bis shawab.

1/22/2016

PILIHAN ALLAH YANG TERBAIK

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Yang terbaik adalah pilihan Allāh, الْخَيْرُ خِيْرَةُ اللّهِ (al khayr khīratullāh)

Sesunguhnya yang lebih mengetahui tentang kemaslahatan kita adalah Pencipta kita.

Dialah yang telah menciptakan kita dan mengetahui apa yang terbaik buat kita.

Yang mengetahui hal yang ghāib tentang masa depan, Dialah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

أَلاَ يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ

"Tidakkah yang menciptakan lebih mengetahui tentang apa yang Dia ciptakan?

Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui."

(QS. Al-Mulk: 14)

Kita terkadang berencana, menurut perasaan & perkiraan kita, ada sesuatu yang kita anggap terbaik bagi kita sehingga kita berusaha untuk meraihnya.

Namun setelah berusaha ternyata gagal, tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan.

Atau terkadang ada musibah yang menimpa kita yang membuyarkan cita-cita kita.

Namun ingatlah ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Jika seorang hamba telah berusaha dan telah berdo'a, maka yakinlah apa yang Allāh takdirkan itulah yang terbaik bagi dia.

Kenapa?

الْخَيْرُ خِيْرَةُ اللّهِ

(al-khayr khīratullāh),
"Yang terbaik adalah yang pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qurān :

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allāh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

Dalam ayat yang lain kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

"Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allāh menjadikan padanya kebaikan yang banyak."

(QS. An-Nisā 19)

Bisa jadi kalian membenci istri-istri kalian, akan tetapi dibalik kebencian kalian, Allāh menghadirkan banyak kebaikan (shālihāh).

Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah memberikan beberapa contoh dalam Al-Qurān tentang pilihan Allāh adalah yang terbaik yang terkadang di luar imajinasi, perkiraan atau khayalan kita.

Contohnya seperti kisah Nabi Yūsuf 'alayhissalām.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan dalam Al-Qurān tentang kisah Nabi Yūsuf yang sangat luar biasa.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ أَحۡسَنَ ٱلۡقَصَصِ

"(Wahai Muhammad) Kami kisahkan kepada engkau kisah yang terbaik."

(QS. Yusuf: 3)

Kisah siapa?

Kisah Nabi Yūsuf yang penuh dengan perkara yang menakjubkan.

Bagaimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan anugerah kepada Nabi Yūsuf dalam bentuk ujian-ujian.

Oleh karenanya kata para ulama, diantaranya Ibnul Qayyim rahimahullāh, terkadang Allāh berikan anugrah & karunia dalam bentuk ujian.

Dan ini yang pernah dialami oleh Nabi Yūsuf 'alayhissalām.

Kita tahu bagaimana Nabi Yūsuf akhirnya menjadi seorang Al-'Azīz, seorang mentri yang mulia, yang dimuliakan, yang dihormati oleh penduduk negri Mesir.

Bagaimana ceritanya Nabi Yūsuf 'alayhissalām bisa menjadi seorang yang mulia?

Ternyata dengan berbagai macam ujian. Dari awal ujian Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah sebutkan dalam kisah Surat Yūsuf.

• Ujian Pertama•

Tatkala saudara-saudara Nabi Yūsuf hasad kepada Nabi Yūsuf, kemudian mereka melemparkan ke dalam sumur, ini ujian pertama, namun Nabi Yusuf sabar menghadapinya.

Dipisahkan dari ayahnya, Nabi Ya'qūb 'alayhissalām yang sangat mencintai Nabi Yūsuf.

Sehingga membuat sedih sang ayah dan juga Nabi Yūsuf 'alayhissalām.

Ayah yang mencintai, mengayomi dan membelanya selama ini harus terpisah dari dia, diuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dilemparkan ke dalam sumur.

Tapi ternyata ini adalah anugerah tetapi memang ceritanya harus berupa ujian-ujian .

• Ujian Kedua •

Kemudian yang kedua, setelah itu Nabi Yūsuf diselamatkan oleh orang yang datang dan lewat ingin mengambil air dari sumur, mereka melihat Nabi Yusuf.

Bukannya Nabi Yusuf diselamatkan kemudian dibebaskan, malah dijadikan budak untuk dijual.

Bayangkan, seorang yang merdeka dijadikan budak, jadi barang dagangan untuk dijual.

Ini musibah kedua yang dialami Nabi Yūsuf 'alayhissalām.

Akan tetapi ternyata, justru tatkala Nabi Yūsuf menjadi budak inilah merupakan langkah menuju kebahagiaan.

Nabi Yūsuf dibeli oleh pembesar negri Mesir, kemudian dirawat di istana mereka, akhirnya tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat tampan.

• Ujian Ketiga •

Kemudian Nabi Yūsuf dirayu oleh sang permaisuri yang mengajaknya berzina.

Nabi Yūsuf 'alayhissalām menolak dan akhirnya dipenjara, ini ujian berikutnya.

Bayangkan, ujian setelah ujian.

Nabi Yūsuf bersabar dalam penjara tersebut dan tidak lama kemudian datanglah dua orang yang ingin ditafsirkan mimpinya.

Setelah menafsirkan mimpi ke-2 orang tersebut, kemudian Nabi Yūsuf mengatakan bahwa salah satunya akan dibunuh dan yang lain akan selamat akan menjadi pelayan sang raja dan akan menuangkan minuman bagi sang raja.

Kemudian, kata Nabi Yusuf kepada salah seorang penghuni penjara yang menurut beliau akan selamat:

وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ

"Jangan lupa kau sebut-sebut kebaikanku di sisi tuanmu (raja)."

(QS. Yūsuf : 42)

Apa maksud Nabi Yūsuf 'alayhissalām?

Agar jika sang raja tahu bahwasanya Nabi Yūsuf adalah seorang yang shālih yang bisa menafsirkan mimpi maka Nabi Yūsuf akan dibebaskan dari penjara.

Akan tetapi apa kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla?

فَأَنسَٮٰهُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ ذِڪۡرَ رَبِّهِ

"Maka syaithān menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yūsuf) kepada tuannya."

(QS. Yūsuf : 42)

Ternyata Allāh mentaqdirkan lain, orang yang telah selamat ini lupa untuk menyebutkan kebaikan-kebaikan Nabi Yūsuf di sisi sang raja.

Akhirnya bertambah lagi bertahun-tahun Nabi Yūsuf harus dipenjarakan karena orang itu lupa.

Subhanallāh, ini musibah dan ditambah dengan musibah, karena kelupaan orang tersebut.

Akan tetapi ternyata Allāh punya skenario/cerita yang lain, ternyata kelupaan orang ini adalah anugerah.

Sampai kapan?

Sampai akhirnya sang raja sendiri yang bermimpi.

Di dalam mimpinya, dia melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus dan ada sunbulat (bulir gandum) yang kering dan sunbulat yang hijau.

Sang raja akhirnya bertanya:

"Siapakah yang bisa menfasirkan mimpiku?"

Ternyata tidak ada yang mampu. Tatkala itu ingatlah pelayan raja yang telah dibebaskan dari penjara.

Kata Allāh:

وَٱدَّكَرَ بَعۡدَ أُمَّةٍ أَنَا۟ أُنَبِّئُڪُم بِتَأۡوِيلِهِۦ فَأَرۡسِلُونِ

"Aku akan memberitakan kepadamu tentang|orang yang pandai) mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)."

(QS. Yūsuf : 45)

Ternyata Allāh menjadikan orang ini baru ingat tatkala sang raja yang bermimpi langsung.

Maka kemudian Nabi Yūsuf 'alayhissalām menafsirkan mimpi sang raja, baru ketahuanlah bahwa Nabi Yūsuf 'alayhissalām adalah orang yang hebat.

Maka akhirnya Nabi Yūsuf diangkat menjadi seorang mentri yang mulia.

Lihatlah berbagai macam ujian yang dihadapi Nabi Yūsuf, ternyata semua itu kesimpulannya adalah anugrah/karunia.

Allāh ingin mengangkat Nabi Yūsuf menjadi seorang raja, bahkan bukan cuma itu, akhirnya Nabi Yūsuf bisa mendatangkan ayah dan keluarganya untuk dipindahkan ke Mesir, dari kehidupan yang sulit menjadi kehidupan yang lapang.

Ini adalah anugerah yang luar biasa, akan tetapi ceritanya tidak seperti yang kita bayangkan.

Tidak semua anugerah datang dalam keadaan penuh kenikmatan.

Anugrah yang dialami oleh Nabi Yūsuf ternyata malah melewati berbagai macam ujian.

Oleh karenanya, jika kita terkena musibah dan jika kita sudah berusaha dan berdo'a ternyata ada sesuatu hal yang membuyarkan cita-cita kita, tidak sesuai dengan keinginan kita, maka yakinlah bahwa di balik segala sesuatu pasti ada hikmahnya.

Terkadang hikmah tersebut Allāh buka seketika itu juga atau terkadang setelah bertahun-tahun atau bahkan terkadang tersembunyi tidak ada yang tahu, hanya Allāh akan tampakkan di akhirat kelak.
Allāh menghendaki kebaikan bagi hamba-hamba-Nya.
_______________

Dan di akhir dari apa yang saya sampaikan ini, ada suatu ilustrasi yang disebutkan dalam sebagian kisah.

Hanya sekedar ilustrasi, kita tidak tahu tentang kebenaran kisah ini.

Tentang seorang raja dengan seorang menteri.

Menterinya ini senantiasa berkata:

الْخَيْرُ خِيْرَةُ اللّهِ

"Al-khayr khīratullāh", yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Setiap ada orang yang terkena musibah maka diapun mendatangi dan menasihati dengan mengatakan:

"Yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Suatu saat sang raja terkena musibah, jarinya terpotong (terputus).

Maka datanglah sang menteri dengan penuh semangat mengatakan:

"Wahai Sang Raja, yang terbaik adalah pilihan Allāh, jarimu yang terputus itu adalah yang terbaik."

Maka sang raja pun tersinggung dan marah, dia mengatakan:

"Jari saya putus ini yang terbaik? Penjarakan orang ini."

Akhirnya sang menteri pun dipenjarakan.

Tatkala sang menteri dipenjara dengan mudah dia berkata, "Yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Ternyata benar.

Suatu saat sang raja keluar bersama anak buahnya dalam rangka berburu atau suatu keperluan.

Mereka terjebak pergi ke tempat yang jauh dan ditangkap oleh orang-orang penyembah dewa atau ruh.

Kemudian mereka disembelih satu persatu untuk tumbal bagi tuhan mereka.

Ketika giliran sang raja mereka dapati jarinya putus, cacat, dan mereka mengatakan bahwa orang ini tidak pantas untuk diserahkan bagi dewa mereka.

Akhirnya dibebaskanlah sang raja dan tatkala itu sang raja pun sadar bahwa yang dikatakan sang mentri betul.

Jari yang putus merupakan kebahagiaan, anugrah, sehingga ia tidak jadi dibunuh.

Dia pulang dengan begitu semangat kemudian membebaskan sang menteri dan berkata:

"Benar perkataanmu, yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Namun sang raja bertanya:

"Kenapa kau (menteri) ketika dipenjara mengatakan bahwa yang terbaik adalah pilihan Allāh? Apa kebaikan engkau dipenjara?"

Kata sang menteri:

"Seandainya saya tidak dipenjara maka saya pun akan berburu dengan engkau, ditangkap dan akan disembelih oleh mereka, oleh karenanya saya dipenjara adalah yang terbaik."

Demikianlah, semoga kita senantiasa berhusnuzhan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Setelah kita berusaha dan berdo'a, yakinlah bahwa segala ketetapan Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah yang terbaik.

والله تعالى أعلم بالصواب
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
_______________

Materi Tematik | Pilihan Allāh Yang Terbaik
Ustadz Firanda Andirja,  MA
▶ Download Audio: https://drive.google.com/file/d/0B1e0BM9z9hzYb3ZmVFNkZ2ZFUms/view?usp=docslist_api
Video Source: http://yufid.tv/kisah-kisah-menakjubkan-pilihan-allah-yang-terbaik-ustadz-firanda-andirja-ma/

1/12/2016

ATAS NAMA CINTA

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Saudaraku yang dirahmati oleh Allãh Subhânahu wa Ta'âla,

Apabila saya bertanya kepada Anda:

"Apakah Anda mencintai Allāh dan Rasul-Nya?"

Saya pastikan Anda akan mengatakan:

"Ya, saya mencintai Allāh dan Rasul-Nya."

Bukankah cinta itu butuh pembuktian?

Dan salah satu pembuktian, benar atau tidaknya kita mencintai Allāh dan Rasul-Nya adalah apa yang dikatakan oleh 'Abdullāh bin Mas'ūd radhiyallāhu Ta'āla 'anhu.

Beliau pernah menyatakan:

"Barangsiapa yang ingin mengetahui sedalam apa cintanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka tanya kepada dirinya; seperti apa ia memperlakukan Al Qurānul Karīm."

⇒ Seperti apa ketertarikannya dengan Al Qurānul Karīm?

⇒ Sebanyak apa ayat yang ia baca?

⇒ Dan seberapa besar animonya dalam mempelajari tafsir dari ayat-ayat tersebut?

Dan begitu juga:

"Barangsiapa ingin mengetahui sedalam apa cintanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka coba tanya dirinya; sedalam apa ambisinya utuk mempelajari hadits-hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. "

⇒ Semenarik apa hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam itu di matanya?

Mungkin anda bertanya, "Apa korelasinya?"

Saya akan memberikan analogi sederhana tentang masalah ini.

Misalnya:

Apabila seseorang mendapatkan pesan dari orang yang ia cintai yang sedang tinggal di luar daerahnya atau sedang dinas di kota lain, kemudian ia mendapatkan SMS atau pesan singkat yang lain.

Pertanyaan saya:

"Apakah ia langsung antusias dan membacanya?

Atau akan ia pending, mungkin 3 minggu lagi kalau ingat, baru ia buka pesan itu?"

"Bagaimana perasaan seorang ibu atau seorang ayah, ketika anaknya yang ia cintai & rindukan sedang studi di luar negri, lalu anak itu menyampaikan pesan kepadanya.

Apakah dia akan langsung membacanya?

Atau dia akan pending dan kalau dia ingat baru ia buka pesan dari anaknya tersebut?"

Saya rasa kita semua sepakat jawabannya:

"Dia akan langsung membuka, membaca dan akan langsung menikmati pesan dari orang yang ia cintai tersebut."

Seorang ibu ketika mendapatkan pesan singkat dari anaknya dia langsung buka pesannya.

Seorang istri ketika mendapatkan email dari suaminya dia akan buka email tersebut.

Kenapa?

Karena mereka mencintai orang yang menulis surat itu kepadanya.

Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Itulah yang dilakukan seseorang atas nama cinta.

Lalu, mari kita tanya diri kita:

"Apakah Allāh pernah memberikan pesan kepada kita?

Dan pernahkah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan pesan kepada kita?"

Jawabannya, "Banyak."

Bukankah ayat Al Qurān adalah pesan-pesan Allāh kepada kita?

Dan bukankah hadits-hadits Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah pesan-pesan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada kita?

Maka apabila kita benar-benar mencintai Allāh dan Rasul-Nya, maka pasti kita akan tertarik membaca pesan-pesan tersebut.

Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Coba kita kembangkan analogi di atas.

Apabila pasangan kita sedang bekerja di Timur Tengah, lalu dia menulis surat dengan bahasa Arab.

Ketika kita buka email atau pesan tersebut, kita tidak paham apa makna dari kata demi kata tersebut.

Apakah kita pasrah?

Atau kita akan cari orang yang bisa men-translate (menterjemahkan) agar kita mengerti apa maksud dari bahasa atau pesan dengan bahasa Arab itu?

Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Pesan Allāh dan Nabi-Nya shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan bahasa Arab.

Ketika kita membaca:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ 

Lalu kita tidak paham maknanya apakah kita akan pasrah?

Atau kita cari orang yang bisa menjelaskan dan menafsirkan "Iyyāka na' budu wa iyyāka nasta'īn" ?

Ketika kita membaca:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ

Lalu kita tidak paham apa itu "Ash Shamad", apa itu "Qul huwallāhu ahad", apakah atas nama cinta kita akan pasrah?

Atau kita akan berusaha mencari makna dan tafsir dari ayat tersebut?

Terapkanlah demikian.

Orang yang sedang jatuh cinta punya tabiat ingin mengetahui segala hal dari orang yang ia cintai.

Bagaimana dengan orang yang jatuh cinta dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam?

Tidakkah ia penasaran dengan apa yang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam suka dan apa yang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam benci?

◆ Apa yang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam suka adalah perintah-perintahnya dan apa yang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam benci adalah larangan-larangannya.

Ketika kita mencintai Allāh Subhānahu wa Ta'āla, tidakkah kita ingin tahu apa yang Allāh suka dan apa yang Allāh benci?

◆ Apa yang Allāh suka adalah perintah-Nya dan yang Allāh benci adalah larangan-larangan-Nya.

Kalau kita tidak punya ketertarikan, tidak punya rasa penasaran, kita tidak tertarik untuk membaca pesan dan mempelajari hal-hal itu semua, maka:

"Kita tidak cinta kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan Rasul-Nya shallallāhu 'alayhi wa sallam."

Ingat kembali perkataan Ibnu Mas'ūd di atas:

◆ Barangsiapa yang ingin mengetahui sedalam apa cintanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka tanya kepada dirinya seperti apa ia memperlakukan Al Qurānul Karīm.

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______________________________

�� Materi Tematik
�� Ustadz Nuzul Zikri, Lc
�� Ceramah Singkat | Atas Nama Cinta
⬇ Download audio:
https://drive.google.com/file/d/0B1e0BM9z9hzYdzZ4di1EOGM5c0U/view?usp=docslist_api

Sumber:
https://youtu.be/8ATtlf39xTo

11/12/2015

TUJUAN HIDUP

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أَمَّا بَعْدُ:

Ma'āsyiral muslimīn, bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudariku, rahimanī wa rahimakumullāh..

Seorang, yang ketika dia keluar dari rumahnya, dia pasti memiliki tujuan, kemana dia akan melangkah.

Kita pasti yakin, orang yang ketika melangkah keluar dari rumahnya tanpa tujuan maka langkahnya akan jauh dari impian yang dia inginkan.

Orang yang hidup di dunia jika tanpa tujuan maka dia akan banyak tersesat, dia akan menyimpang dari jalan yang sebenarnya.

Oleh karena itulah, sungguh sangat amat penting untuk seorang hamba mengetahui kemana tujuan sebenarnya dia hidup.

Ketika orang itu tahu tujuan hidupnya maka semua aktifitasnya akan terarah kepada tujuan tersebut.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."

(QS Adz Dzariyāt: 56)

Inilah, ma'āsyiral muslimīn, tujuan hidup yang sebenarnya..

Untuk kita menghambakan diri kepada Allāh, untuk kita beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

✓Allāh yang menciptakan kita.

✓Allāh yang menghidupkan kita.

Allāh telah mengatakan bahwasannya tujuan Allāh menciptakan kita adalah untuk beribadah hanya kepada-Nya.

Allāh juga berfirman:

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

"Apakah manusia mengira mereka hidup begitu saja di dunia (tanpa ada tujuan yang sebenarnya)?"

(QS Al Qiyāmah: 36)

Apakah manusia mengira dia hidup di dunia ini sia-sia begitu saja?

Tentu jawabannya, tidak.

Manusia bukan sebagaimana binatang (hewan); mereka hidup, makan, minum, bekerja, bersenang-senang melampiaskan syahwatnya kemudian mati begitu saja.

Tidak, manusia lebih mulia daripada itu semuanya.

Manusia, Allāh ciptakan dengan hikmah yang sangat mulia, yaitu untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan dengan rahmat dan kasih sayang Allāh Subhānahu wa Ta'āla, (ketika) Allāh memberitahukan kepada manusia (tentang) tujuan hidupnya (yaitu) untuk beribadah kepada-Nya.

Allāh pun memberikan rambu-rambu, memberikan aturan, kemana dia atau dengan apa dia beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Syaikhul Islām Muhammad At Tamimi rahimahullāh Ta'āla berkata:

الله خلقنا ورزقنا ولم يتركنا هملا بل أرسل إلينا رسولاً، فمن أطاعه دخل الجنة، ومن عصاه دخل النار.

"Allāh yang menciptakan kita, Allāh yang memberi rizki kepada kita, namun Allāh tidak membiarkan kita begitu saja sia-sia hidup di atas muka bumi ini.

Bahkan Allāh mengutus kepada kita seorang rasul;

• Barang siapa mentaati rasul maka, dia akan masuk surga.

• Dan barang siapa menyelisihi (memaksiati) rasul, maka dia masuk ke dalam api neraka."

Inilah, ma'āsyiral muslimīn rahimanī wa rahimakumullāh..

Suatu hal yang sangat prinsip (urgen) untuk kita ketahui, yaitu bahwasanya:

◆ Tujuan hidup kita di atas muka bumi ini untuk beribadah kepada Allāh.

Marilah kita bersama-sama melangkahkan kaki kita menuju kepada tujuan yang satu yaitu beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Marilah kita bersama-sama melangkahkan kaki kita untuk menelusuri jejak Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengakhirkan kita dengan khusnul khātimah.

أقول قولي هذا وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______________________________

Materi Tematik:
Ustadz Abdurrahman Thoyib,  Lc

⬇️ Download audio:
https://drive.google.com/file/d/0B1e0BM9z9hzYWm9lRENVWnpUeXM/view?usp=docslist_api

Sumber:
https://youtu.be/nFr1Jj1KxVk

11/07/2015

TAKUT KEPADA ALLĀH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Halaqah yang ke-22 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang "Takut Kepada Allāh".

Ayyuhal ikhwah,

Di antara keyakinan seorang muslim adalah bahwasanya manfaat dan mudharat adalah di tangan Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata.

Seorang Muslim tidak takut kecuali kepada Allāh dan tidak bertawakal kecuali kepada Allāh.

✓ Takut kepada Allāh yang dibenarkan adalah takut yang membawa pelakunya untuk:

⑴ Merendahkan diri di hadapan Allāh.

⑵ MengagungkanNya.

⑶ Membawanya untuk menjauhi larangan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

⑷ Melaksanakan perintahNya.

✘ Bukan takut :

⑴ Yang berlebihan yang membawa kepada keputusasaan terhadap rahmat Allāh.

⑵ Yang terlalu tipis yang tidak membawa pemiliknya kepada keta'atan kepada Allāh .

Takut seperti ini adalah ibadah.

Tidak boleh sekali-sekali seorang Muslim menyerahkan takut seperti ini kepada selain Allāh.

Dan barangsiapa menyerahkannya kepada selain Allāh, maka dia telah terjerumus ke dalam syirik besar, yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

Seperti orang yang takut (terkena) mudharat (dengan) wali fulan yang sudah meninggal kemudian takut tersebut menjadikan dia merendahkan diri di hadapan kuburannya dan juga mengagungkannya.

Hendaknya seorang Muslim meneladani Nabi Ibrāhīm 'Alaihissalām ketika beliau berkata yang artinya:

"Dan aku tidak takut dengan sesembahan kalian, mereka tidak memudharati aku kecuali apabila Rabbku menghendakinya."

(QS Al An'ām: 80)

Di antara takut yang diharamkan adalah takutnya seseorang kepada makhluq yang melebihi takutnya kepada Allāh, sehingga takut tersebut membuat dia meninggalkan perintah Allāh atau melanggar larangan Allāh.

Seperti:

• Orang yang meninggalkan jihad yang wajib atasnya karena takut kepada orang-orang kafir.

Atau,

• Tidak melarang kemungkaran karena takut celaan manusia padahal dia mampu.

Allāh berfirman yang artinya:

"Sesungguhnya itu hanyalah syaithān yang menakut-nakuti kalian, wahai orang-orang yang beriman, dengan wali-walinya (penolong-penolongnya).

Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kalian kepadaKu jika kalian benar-benar orang yang beriman."

(QS Āli 'Imrān: 175 )

Di antara cara menghilangkan rasa takut kepada makhluq yang diharamkan adalah:

⑴ Berlindung kepada Allāh dari bisikan syaithan.

⑵ Mengingat sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang artinya:

"Ketahuilah bahwa seandainya umat semuanya berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali dengan apa yang sudah Allāh tulis.

Dan seandainya mereka berkumpul untuk memberikan mudharat kepadamu niscaya mereka tidak bisa memberikan mudharat kecuali dengan apa yang sudah Allāh tulis."

(HR Tirmidzi dan dishahihkan Syaikh Al Albani Rahimahullāh)

Diperbolehkan takut yang merupakan tabiat manusia, seperti:

⑴ Takut kepada panasnya api.

⑵ Takut kepada binatang buas.

Dan takut seperti ini bukanlah takut yang merupakan ibadah dan juga bukan takut yang membawa seseorang meninggalkan perintah atau melanggar larangan Allāh.

Ini adalah takut yang tabiat, yang para Nabi pun tidak terlepas darinya.

Itulah halaqah yang ke-22 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

و صلى الله على نبينا محمد و على آل نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

______________________________

Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 22 | Takut Kepada Allāh
⬇ Download Audio:
https://drive.google.com/open?id=0B1e0BM9z9hzYc3Q4NjFzSnc0TlU

11/06/2015

Misteri Kunci Surga

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pada suatu hari Nabi Nūh 'alaihissalām, menjelang wafatnya, beliau menyampaikan sebuah wasiat kepada kedua putranya.

Isi wasiat tersebut kata beliau,

آمُرُكُمَا بِلا إِلٰهَ إِلا اللَّهُ

"Aku wasiatkan kepada engkau berdua wahai putraku agar engkau berdua setia dengan Lā ilāha illallāh."

Kemudian Nabi Nūh 'alaihissalām menjelaskan apa keistimewaan Lā ilāha ilallāh.

Kata beliau:

لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَا فِيْهِمَا فِي كِفَّةِ الْمِيزَانِ وَوُضِعَتْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ فِي الْكِفَّةِ الأُخْرَى كَانَتْ أَرْجَحَ

"Seandainya langit beserta bumi dan isi dari keduanya diletakkan di sebuah anak timbangan, kemudian Lā ilāha illallāh diletakkan di anak timbangan yang lainnya, niscaya kalimat Lā ilāha illallāh itu akan lebih berat daripada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi beserta kedua isinya."

(HR Imām Ahmad rahimahullāh dan hadist ini dinilai shahīh oleh Syaikh Al Albāni)

Dalam hadist ini, Nabi Nūh menjelaskan betapa istimewanya kalimat Lā ilāha illallāh.

Karena kalimat tersebut seandainya ditimbang dengan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi beserta penghuni keduanya, tentunya selain Allāh Subhānahu wa Ta'āla, niscaya kalimat tersebut akan jauh lebih berat daripada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.

Jadi, dalam hadist ini Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan kepada kita betapa berbobotnya kalimat tahlīl.

Yang jadi pertanyaan, kalimat tahlil yang sedemikian istimewanya, mungkinkah kalimat itu adalah merupakan kalimat yang kosong tanpa makna?
Yang hanya dikeluarkan dari lisan saja tanpa mengandung makna yang begitu dalam?

Mungkinkah kalimat tersebut adalah merupakan kalimat yang hanya dijadikan, maaf, oleh sebagian orang "lipstik"?

Dijadikan sebagai penghias bibir belaka?

Oh tentu tidak !

Kalimat tersebut bukanlah kalimat yang hanya sekedar diucapkan di lisan.

Namun kalimat itu adalah kalimat yang mengandung kandungan yang sangat dalam.

Makanya, pernah suatu saat Imām Wahhab Ibnu Munabbih di datangi oleh salah seorang kaum muslimin dan berkata:

أَلَيْسَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: بَلَى وَلَكِنْ لَيْسَ مِفْتَاحٌ إِلاَّ لَهُ أَسْنَانٌ فَإِنْ جِئْتَ بِمِفْتَاحٍ لَهُ

"Wahai Imam, bukankah Lā ilāha illallāh itulah kuncinya surga?"

⇒ Artinya orang yang sudah mengucapkan Lā ilāha illallāh itu pasti akan masuk surga.

Maka beliau menjawab:

"Betul, Lā ilāha illallāh adalah kunci surga. Tetapi, bukankah setiap kunci pasti memiliki gerigi?"

Jadi kalau kita perhatikan kunci, tidak ada kunci yang tidak ada geriginya (namanya kunci pasti akan memiliki gerigi).

Kata Imam Wahhab Ibnu Munabbih, setiap kunci pasti ada geriginya.

Kalau engkau membawa kunci pakai gerigi lengkap dengan geriginya maka engkau bisa membuka pintu tersebut.

Tapi seandainya kunci yang kamu bawa adalah kunci yang tidak ada geriginya, niscaya engkau tidak akan bisa membuka pintu.

Jadi, di sini Imām Wahhab Ibnu Munabbih menjelaskan kepada kita bahwa kalimat Lā ilāha illallāh adalah sebuah kalimat yang memiliki hak dan kewajiban yang harus kita penuhi, kalimat yang harus kita tunaikan syarat-syaratnya.

Dan tidak usah merasa heran, darimana kok ada syarat-syarat Lā ilāha illallāh.

Kenapa Anda heran?

Bukankah kita senantiasa melakukan shalat lima waktu?

Dan yang namanya shalat tidak akan diterima Allāh Subhānahu wa Ta'āla kalau tidak memenuhi syarat-syaratnya.

Bukankah haji itu juga merupakan ibadah yang tidak akan diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla kalau kita tidak memenuhi syarat-syarat haji?

Misalnya orang berhaji, harus berakal.

Kalau ada orang gila berangkat berhaji, apakah akan diterima hajinya oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla ?

Tidak!

Begitu juga shalat, salah satu syarat sah shalat adalah kita harus berwudhū' (dalam keadaan suci).

Kalau misalnya ada orang shalat tanpa berwudhū', apakah akan diterima shalatnya?

Tidak akan diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Jadi tidak perlu heran ketika kita mengatakan bahwasanya Lā ilāha illallāh pun ada syarat-syaratnya.

Lā ilāha illallāh adalah merupakan Rukun Islam yang pertama.

Seandainya Rukun Islam yang kedua shalat, kemudian puasa, zakat, haji dan seterusnya itu ada syarat-syaratnya, kenapa Lā ilāha illallāh tidak ada syarat-syaratnya?

Maka ini yang harus difahami oleh kaum muslimin bahwa kalimat Lā ilāha illallāh bukanlah sekedar kalimat yang diucapkan dengan lisan kita.

Kalimat tahlil bukanlah sekedar kalimat yang hanya dijadikan sebagai "lipstik" di lisan kita tanpa kita memahami isi yang ada atau kandungan yang ada di dalamnya.

Kalimat Lā ilāha illallāh, syarat yang pertama kita mengucapkannya (adalah):

"Kita harus faham makna dari Lā ilāha illallāh sendiri."

Banyak di antara kaum muslimin tidak tahu arti dari Lā ilāha illallāh, (dan) apa konsekwensinya.

Ketika dia mengucapkan kalimat tersebut, apa yang dia harus tunaikan?

Lā ilāha illallāh adalah merupakan bentuk pengikhlasan seluruh ibadah kita hanya untuk Allāh Jallā Wa 'Ala.

Lā ilāha illallāh berarti tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Jadi manakala seorang hamba mengucapkan kalimat ini, maka seharusnya tingkah lakunya harus disesuaikan dengan kalimat tersebut .

Dia mengikhlaskan seluruh ibadahnya hanya untuk Allāh Jallā wa 'Ala.

Puasa dia, dia serahkan untuk Allāh..

Shalat dia, dia persembahkan untuk Allāh Jallā Wa 'Ala..

Haji dia, dia khususkan untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla..

Sedekahnyapun juga seperti itu..

Diapun juga berdo'a hanya kepada Allāh Jallā Wa 'Ala..

Berkurban (menyembelih) hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan itu semuanya adalah bentuk dari konsekwensi dan praktek dari Lā ilāha illallāh.

Jadi, kalimat Lā ilāha illallāh bukan sembarang tahlil yang hanya diucapkan dengan lisan.

Tapi kalimat Lā ilāha illallāh adalah sebuah kalimat yang sangat berat kandungannya dan sangat dalam isinya.

Yang ini, kita sebagai seorang Muslim harus terus untuk mempelajari isi dari Lā ilāha illallāh.

Kita tunaikan hak-hak dan kewajibannya dan kita berusaha untuk memenuhi syarat-syaratnya sehingga kita termasuk orang-orang yang In syā Allāh mengakhiri hidup kita dengan kalimat ini.

Sehingga kita diperkenankan oleh Allāh Jallā Wa 'Ala untuk masuk ke surgaNya.

Allāhumma āmīn.

والله تعالى أعلم

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
----------------------------------------------------

Materi Tematik:
Ustadz 'Abdullāh Zaen, MA

Download Audio: https://drive.google.com/file/d/0B1e0BM9z9hzYQlA3V3ZZMU8tSDQ/view?usp=docslist_api

Sumber:
http://yufid.tv/ceramah-singkat-misteri-kunci-surga-ustadz-abdullah-zaen-ma/