7/16/2012

Beyond the Inspiration

Felix Siauw, pertama kali saya mengetahuinya saat mengisi kajian di masjid plaza 89 rasuna said kuningan, ramadan 1432H tahun lalu, beliau adalah seorang ustad mualaf yang berdarah tiong hoa, dari sekian banyak nilai positif mengenai dirinya yang dapat kita cari dengan meng-googling namanya, saya tertarik dengan gaya bicaranya yang lugas, kecepatan yang mengagumkan antara lisan (ucapan) dan otak (pikiran) nya, menurut saya beliau merupakan ustad yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata alias jenius! Oleh karena itu saya tertarik untuk membuat sinopsis dari buah pikir dan karya tulis pertama beliau yang berjudul “BEYOND THE INSPIRATION”..


Islam muncul pertama kali pada tahun 623 di madinah oleh Rasulullah saw, dengan semangat juang diiringi building character seorang muslim sejati yang diajarkan Rasul, perlahan namun pasti, Islam mampu menaklukan dunia pada tahun 1453, dan bertahan hingga tahun 1924 dengan Turki sebagai kekhalifahan Islam terakhir. Sepanjang kurun waktu kurang lebih 1300 tahun (623-1924) itu Islam banyak memberikan kontribusi besar dalam perkembangan peradaban manusia hingga seperti sekarang ini, dengan pemikir dan saintis besar seperti Al-Khawarizmi dibidang matematika, Ibnu Sina dibidang kedokteraan, Al Mazindarani dengan cikal bakal teori akuntansinya, dan masih banyak lagi hingga kemajuan dibidang IPTEK, ekonomi, hukum, keadilan dan kesejahteraan sama-sama dirasakan  bukan hanya oleh kaum muslim, namun juga non-muslim diseluruh belahan bumi. Sebuah riwayat dari Al-Wadliyah bin Artha yang menceritakan dikota madinah ada 3 guru yang mengajar anak-anak, Khalifah Umar bin Khathab memberi gaji mereka masing-masing sebesar 15 dinar (sekitar Rp.31,875,000! dengan asumsi 1 gram emas = 500,000). Atau pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dimana tidak ditemukan warga negara yang miskin sehingga tidak ada yang dikategorikan sebagai mustahiq zakat! Subhanallah..

Pertanyaannya sekarang, mengapa ada satu masa dimana Islam adalah the inspirator, begitu dielu-elukan dan menjadi sumber kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, namun dimasa yang lain Islam begitu terbelakang dan dipandang rendah? Why?
Nah.. inti dari buku beyond the inspiration atau disingkat BTI ini adalah arti dari BEYOND THE INSPIRATION itu sendiri. Apakah itu? …
“See what eyes cannot see” -- melihat apa yang tidak dilihat oleh mata, melihat jauh kedepan (be visioner), yaitu melihat dengan iman, inilah kekuatan yang melebihi apapun, kekuatan yang menurut sejarah penaklukan kota konstantinopel adalah yang bisa menjaga semangat, persatuan, dan kesabaran selama 54 hari perang dalam lintas generasi selama 825 tahun! Kekuatan yang bisa memindahkan 72 kapal perang melalui perbukitan dalam waktu semalam! Kekuatan yang dapat menjadikan anak muda berumur 21 tahun (Muhammad Al-Fatih) menaklukkan sebuah peradaban besar! Apa sesungguhnya yang dilihat Al-Fatih? Apa sesungguhnya rahasia para penakluk dalam Islam? dan apa rahasia generasi terbaik dalam Islam?


>> Janji Allah dan Bisyarah <<
“Dan telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan yang lain atas negeri-negeri yang kamu belum dapat menguasainya, yang sungguh Allah telah menentukannya. Dan Allah adalah maha kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-fath 48:21).
Bisyarah adalah sebuah kabar gembira yang Allah turunkan kepada hamba-Nya, baik melalui Al-Quran ataupun melalui ucapan Rasulullah saw. 825 tahun sebelum penaklukan konstantinopel Rasulullah menyampaikan sebuah bisyarah ketika ditanya para sahabat, kota manakah yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, konstantinopel atau roma? Jawab beliau, “Kota Heraklius (Konstantinopel) ditaklukkan terlebih dahulu.” “Kalian pasti akan membebaskan konstantinopel, sehebat-hebat amir (panglima perang) adalah amirnya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya.” (HR. Ahmad). 
Apa yang terjadi kemudian? Pada 29 Mei 1453 seorang pemuda kebanggaan Islam, Muhammad Al-Fatih membuktikan kebenaran Bisyarah tersebut. Dan ingatlah! Masih ada bisyarah Rasul tentang pembebasan kota Roma, sebagai tonggak kejayaan Islam yang kedua. Pembebasan Roma sebenarnya telah terjadi karena Rasul telah menyampaikannya, hanya tinggal menunggu waktu saja. Kapankah itu? Siapakah yang akan merealisasikan bisyarah itu? 

Melalui buku BTI-nya ini, Felix Siauw mengajak sekaligus mengingatkan kita semua untuk bersama-sama melihat apa yang tidak terlihat, untuk bersama-sama melihat jauh kedepan, dengan kekuatan iman dan dengan keyakinan atas bisyarah Rasullullah akan kejayaan Islam kedua tersebut. But how? Rasanya mustahil jika melihat kondisi saat ini, apalagi bagi kita kaum muslimin Indonesia yang semua sudah tahulah sangat paradoks! Terbesar jumlahnya didunia namun yang paling terpuruk di hampir semua aspek kehidupan! Kenapa ini bisa terjadi? Jawabannya adalah, bahwa kita sebagai umat muslim tidak melaksanakan Islam secara kaffah / secara menyeluruh! Bagaimana melaksanakan Islam secara kaffah tersebut? Yaitu dengan mengaplikasikan hukum yang terdapat di Al-Quran secara murni dan tepat, termasuk mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah dalam aktivitas keseharian. Bagaimana tata cara berdagang menurut islam, bagaimana tata cara bersosialisasi menurut islam, dan bagaimana-bagaimana yang lainnya untuk seluruh aspek kehidupan. Sudahkah kita terapkan? Satu contoh sederhana adalah ketika Rasul mencontohkan keutamaan untuk shalat berjamaah dimasjid pada waktu subuh, luar biasa sulitnya bagi kita bukan? Nah.. kalau begitu jangan ngeluh ya kenapa bangsa ini menjadi sedemikian terpuruknya... Disinilah gunanya beyond the inspiration… Sekali lagi dicamkan! memang tampak mustahil dan sangat sulit mempraktekannya. 

But all of you have to know! With great choice, comes great investment, consequences & risk! Hal inilah yang menjadikan Islam berjaya dalam periode 623-1924. Sejarah telah membuktikannya, kini tinggal reaksi kita akan berulangnya sejarah tersebut.
“Hai orang-orang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhannya.” (QS Al-Baqarah 2:208). 
Wallahualam.

*note: mohon maaf jika ada salah dalam penulisan atau jika ada salah tafsir mohon juga dikoreksi.

7/03/2012

Reaksi Pasar Modal Indonesia ketika Menghadapi Fenomena Krisis Amerika (Event Study: Jatuhnya Lehman Brothers 2008)

Judul diatas adalah final title dari skripsi saya yang dibuat pada tahun 2010 sebagai pintu keluar yang mengakhiri masa-masa kuliah saya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pada tulisan saya kali ini, saya akan mengutip abstraksi sebagai pengantar dan gambaran umum serta kesimpulannya. Jika tertarik mengetahui lebih dalam mengenai tinjauan pustaka, metodologi penelitian, dan hipotesis yang saya buat dalam "event study" ini, silahkan search judul skripsi diatas dan nama saya di perpusatakaan FE UI.


Abstrak
Pasar modal memiliki peranan penting didalam perekonomian suatu negara, terutama dalam proses alokasi dana masyarakat. Sebagai suatu instrumen keuangan, pasar modal tidak lepas dari berbagai pengaruh lingkungan disekitarnya, baik lingkungan ekonomi maupun lingkungan non-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap suatu event yang berskala internasional yaitu peristiwa pengumuman pengajuan perlindungan kebangkrutan Lehman Brothers di Amerika pada tanggal 15 September 2008. Penelitian ini berjenis event study melalui pendekatan stock price, abnormal return dan trading volume activity dengan uji beda terhadap emiten yang mengikuti survei CGPI award dan emiten yang tidak mengikuti mengikuti survei  CGPI award tersebut untuk yang berkategori LQ-45. Dengan uji non parametrik wilcoxon signed ranks test menggunakan confidence level sebesar 90%, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara stock price, abnormal return, dan trading volume activity sebelum dan sesudah tanggal peristiwa (event date), dan tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan diantara kedua emiten CGPI dan non-CGPI tersebut, kecuali untuk trading volume activity.


Kesimpulan
Tujuan saya melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui reaksi pasar modal di Bursa Efek Indonesia ketika dihadapkan pada fenomena jatuhnya lehman brothers yang memicu terjadinya krisis di Amerika dan global tahun 2008. Penulis melakukan pengujian tiga hipotesis terhadap tiga variabelnya yaitu stock price (harga saham), abnormal return (return tidak normal), dan trading volume activity (volume perdagangan saham). Adapun kesimpulan yang dihasilkan penulis dari hasil penelitian ini adalah:

1.        Terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata stock price sebelum dan sesudah pengumuman kebangkrutan Lehman Brothers, pada level confidence interval 90%, dan tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan diantara kedua emiten CGPI dan non-CGPI tersebut.

2.    Terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata abnormal return sebelum dan sesudah pengumuman kebangkrutan Lehman Brothers, pada level confidence interval 90%, dan tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan diantara kedua emiten CGPI dan non-CGPI tersebut.

3.        Terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata trading volume activity sebelum dan sesudah pengumuman kebangkrutan Lehman Brothers, pada level confidence interval 90%, dan terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan diantara kedua emiten CGPI dan non-CGPI tersebut.

Bahwa kesulitan likuiditas keuangan global dan dan perilaku risk aversion dari pemodal asing mendorong terjadinya realokasi dan rekomposisi struktur aset para pemodal asing, dari asset yang dipandang berisiko ke aset yang dianggap lebih aman (flight to quality), yang memicu outflows dari negara emerging markets dan meningkatnya yield bond rate negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Fan faktor seperti CGPI (Corporate Governance Persumption Index) yang diperoleh emiten sebagai bentuk awareness mereka terhadap penerapan prinsip GCG (Good Corporate Governance) di Indonesia tidak menjamin bahwa emiten-emiten tersebut lebih stabil saat dihadapkan pada situasi krisis, nyatanya tidak terdapat perbedaan signifikan pada harga saham dan return diantara emiten CGPI dan non-CGPI berdasarkan penelitian ini, jika aktivitas perdagangannya terdapat perbedaan yang signifikan hal ini dikarenakan perbedaan keaktifan saham dan tingkat kapitalisasi emiten yang mengikuti survei lebih besar dari pada yang tidak.

6/28/2012

Pendapatan Jasa Konstruksi / Revenue under construction progress (PSAK 34)

Pada kesempatan kali ini saya coba untuk merewind salah satu karya tulis yang pernah saya buat beberapa tahun yang lalu. Berawal dari kunjungan saya ke mantan dosen pembimbing skripsi sekitar seminggu lalu, sekedar untuk bersilaturahmi sekalian menyerahkan hardcopy yg belum sempat saya serahkan, dan kebetulan memang saya sedang ada waktu available di kantor.

Laporan magang saya waktu kuliah D3 dulu yaitu mengenai pendapatan jasa konstruksi, dimana saya magang disebuah KAP dan ditugaskan untuk mengaudit perusahaan kontraktor BUMN.

Pada dasarnya yang membedakan pendapatan / revenue biasa dengan pendapatan jasa konstruksi ini adalah interval waktunya, pendapatan biasa untuk jangka pendek (1 periode akuntansi), sedangkan pendapatan jasa konstruksi untuk jangka panjang (> 1 periode akuntansi), dan menurut kitabnya akuntan indonesia, masing2 dituangkan dalam PSAK no 23 & 34. Pendapatan menurut PSAK 23 adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu periode bila arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal, contoh: pendapatan dari jualan buku. Sedangkan pendapatan jasa konstruksi menurut PSAK 34 adalah suatu kontrak yang dinegosiasikan secara khusus untuk konstruksi suatu asset atau kombinasi asset yang berhubungan erat satu sama lain atau saling tergantung dalam hal rancangan, teknologi dan fungsi / tujuan atau penggunaan pokok, contoh: yang akan kita bahas dalam paragraf dibawah ini.


Dalam akuntansi kontrak konstruksi, alokasi pendapatan menitikberatkan pada waktu dan biaya kontrak pada periode dimana pekerjaan konstruksi tersebut dilaksanakan, dan untuk itu dibutuhkan suatu sistem pengukuran yang tepat & andal. Karena karakteristik industri konstruksi yang pada umumnya adalah proses pelaksanaan pekerjaan melebihi satu periode akuntansi, sehingga kondisi ini menimbulkan pertanyaan:
a) kapan pendapatan (revenue) harus diakui, dan 
b) bagaimana mengukur pendapatan (revenue).

Sebagaimana diakui prinsip umum dalam pengakuan pendapatan (general rule of revenue recognition) adalah pendapatan diakui pada saat barang atau jasa diserahkan. Karena penyerahan barang dalam industri konstruksi umumnya lebih dari satu periode akuntansi maka sebagian para akuntan berpendapat bahwa pendapatan dalam industri konstruksi juga baru diakui pada saat barang diserahkan. Para pendukung pendapat ini adalah mereka yang mendukung teori Asset Valuation Approach yang melahirkan konsep pengakuan pendapatan “Completion Method”. (1) Ilustrasi jurnal standarnya sbb:
Tagihan atas Konstruksi Dalam Proses (Progress Billing)         xxxx
Pendapatan dari Kontrak Jangka Panjang                                        xxxx
Biaya Konstruksi                                                                    xxxx
Konstruksi Dalam Proses (CIP)                                                      xxxx

Namun sebagian akuntan berpendapat perlu adanya pengakuan pendapatan (revenue) dan biaya (cost) dalam setiap periode akuntansi agar aktivitas atau transaksi dalam satu siklus produksi dapat terukur di dalam satu siklus akuntansi yang tercermin dalam laporan keuangan. Para akuntan yang mendukung pendapat ini adalah pendukung teori Transaction Approach yang melahirkan konsep pengakuan pendapatan “Percentage of Completion Method”. (2) 

Teori ini beranggapan dalam konstruksi jangka panjang pihak pemberi kerja mempunyai hak hukum (legal right) untuk memperoleh kemajuan pekerjaan tertentu dari kontraktor sesuai dengan perjanjian sehingga mempunyai hak kepemilikan dalam konstruksi dalam proses (Construction In Progress). Demikian pula dengan kontraktor mempunyai hak untuk memperoleh pembayaran selama periode konstruksi sesuai dengan perjanjian. Ilustrasi jurnal standarnya sbb:
o   Pengakuan Biaya
CIP                                               xxxx
      Inventory / Kas / Hutang                          xxxx

o   Pengakuan Penagihan
Piutang Usaha                                xxxx
Progress Billing                                         xxxx

o   Pengakuan Penerimaan
Kas / Bank                                     xxxx
      Piutang Usaha                                     xxxx

o   Pengakuan Pendapatan & Laba Kotor
CIP                                                xxxx
Beban Konstruksi                           xxxx
      Pendapatan Konstruksi                        xxxx

o   Penyelesaian Kontrak (To reverse progress billing and CIP)
Progress Billing                               xxxx
      CIP                                                     xxxx

Dari kedua metode diatas, yang mana yang relevan kita terapkan?
International Accounting Standard (IAS 11) mengakui hanya percentage of completion method sebagai metode akuntansi untuk kontrak konstruksi, termasuk Inggris, Australia, China, dan New Zealand. Sedangkan Amerika, Canada, dan Jepang mengakui percentage of completion dan completion method. Dan didalam pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 34 “Akuntansi Kontrak Konstruksi” paragraph 20 : “Bila hasil kontrak konstruksi dapat diestimasi secara andal pendapatan kontrak dan biaya kontrak yang berhubungan dengan kontrak konstruksi harus diakui masing-masing sebagai pendapatan dan beban dengan memperhatikan tahap penyelesaian aktivitas kontrak pada tanggal neraca (Percentage of Completion).”

Begitulah kira-kira ringkasan dan gambaran umum dari isi laporan magang saya mengenai "Pendapatan jasa kontrak konstruksi (PSAK 34)", hal-hal lain yang lebih mendetail bisa dicari arsipnya di perpusatakaan FEUI depok.

6/15/2012

Gain or Loss on Foreign Exchange

Bagi perusahaan di era globalisasi seperti sekarang ini tentu saja transaksi dalam mata uang asing antar negara sudah menjadi rutinitas harian. Dimana ketika proses translation (perubahan dari satuan mata uang tertentu uang ke mata uang lainnya) terdapat keuntungan / kerugian selisih kurs yang harus diakui oleh perusahaan. Jika tidak maka laporan keuangan yang disajikan menjadi bias dan unrealiable, serta tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan dalam penyajian laporan keuangan di Indonesia (PSAK 1). Kenapa bisa terdapat selisih kurs? Menurut buku intermediate accounting nya kieso yang pernah saya pelajari diwaktu kuliah dulu terdapat 2 istilah, yaitu functional currency & reporting currency. Functional currency disini maksutnya adalah mata uang yang digunakan dalam lingkup operasional sehari-hari perusahaan yang bersangkutan, dan reporting currency adalah mata uang yang digunakan perusahaan tersebut untuk keperluan financial statements (laporan keuangan). Sebagai contoh paling mudahnya adalah perusahaan-perusahan lokal tanah air yang dimiliki oleh investor dari luar, reporting currency nya adalah USD (Dollar) sedangkan functional currency nya adalah IDR (Rupiah). Nah biasanya tiap akhir bulan saat perusahaan melakukan reporting ataupun saat pelunasan hutang / piutang akan dilakukan penyesuaian (adjustment) antara kurs current, yaitu kurs pada saat pelaporan / settlement tersebut ke kurs historis, kurs yang pertama kali didapatkan saat asset diterima atau kewajiban muncul. Dalam hal ini tentu akan timbul perbedaan / selisih kurs diantara keduanya.
*) Sebagai catatan: pada saat proses penyesuaian mata uang ini biasa menggunakan group rate, yaitu rate antar mata uang asing yang berlaku bagi perusahaan-perusahaan didalam group tersebut, biasanya menggunakan kurs tengah bank indonesia bulanan (BI middle rate) yang bisa kita akses di http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/BI+Rate/Data+BI+Rate/

Berdasarkan pengalaman saya dalam mengaudit area forex ini kita juga  mengenal istilah realised & unrealised gain or loss forex. Perbedaannya terletak pada status nya yang masih outstanding untuk unrealised atau yang sudah settle untuk realised, yang masih outstanding misalnya hutang / piutang kita (unrealised), sedangkan yang settle misalnya dari transaksi purchase / sales yang sudah dilunasi (realised).

Akun-akun mana dalam laporan keuangan yang diadjust karena efek unrealised forex gain or loss ini? Adalah akun-akun di neraca (balance sheet). Lalu bagaimana mengidentifikasi / membedakan seluruh akun di neraca yang terkena dampak unrealised dan yang tidak? logikanya adalah, yang mana yang berpotensi menghasilkan arus kas keluar / masuk di masa mendatang? Jika ada pertanyaan, apakah advance terkena dampak forex adjustment? Tentu kita bisa menjawabnya donk..?

Dan terakhir dimanakah letak forex adjustment ini didalam laporan keuangan?
Menurut kitab nya akuntan indonesia PSAK 10, didalam laporan laba rugi (profit & loss) terdapat akun forex gain / loss dibawah pos non-operating expense, kenapa di non-opex? karena naturenya yang merupakan penerimaan / pengeluaran perusahaan diluar dari aktivitas operasional normalnya.

That's it! Happy working :)

5/04/2012

Tax art 26 (PPH pasal 26)

Pengalaman PPh pasal 26 ini saya dapatkan ketika mengaudit area equity (share capital) di sebuah perusahaan yang memiliki induk diluar negeri.

Jadi pada sebuah tahun berjalan, perusahaan membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya, nah kebetulan pemegang sahamnya disini ada yang berdomisili di luar negeri dan ada juga yang berdomisili di dalam negeri. Untuk yang didalam negeri tentu saja merupakan subjek PPh ps 23 dengan tarif 15 %. (sesuai UU No 36 tahun 2008 dan PMK  No.244/PMK.03/2008).

Nah untuk yang pemegang saham diluar negeri ini merupakan subjek PPh ps 26 dengan tarif normal 20% dari jumlah bruto.

Pada waktu saya mereview, perusahaan yang membagikan dividen ini memotong pajak sebesar 10% (witholding tax) kepada pemilik sahamnya yang berasal dari luar negeri itu. lho? kenapa bukan 20%??

Ya! dalam kasus ini kita juga perlu memperhatikan tax treaty nya, jika ada tax treaty, maka tarif pajaknya refer ke treaty tersebut. Sebagai catatan: Tax treaty adalah perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam rangka meminimalisir pemajakan berganda dan berbagai usaha penghindaran pajak.
Untuk mengetahui tarif tax treaty masing-masing negara dapat kita lihat di http://www.infopajak.com/treatyrate.htm . Jadi dalam kasus saya ini tax treaty untuk negara pemilik sahamnya adalah 10%, oleh karena itu perusahaan memotongnya sebesar tarif treaty tersebut.

Sekian share ilmu dan pengalaman saya untuk masalah tarif pajak ini. Sampai jumpa di sharing berikutnya.

5/02/2012

Backflush Costing (Raw Material in Process)

Metode pencatatan biaya untuk COGS / Inventory ini saya dapatkan saat mengaudit di sebuah perusahaan manufaktur, seperti kita ketahui bahwa di era teknologi saat ini dimana mesin-mesin pabrik mampu memproduksi dengan cepatnya tanpa mampu diikuti dengan pencatatan akuntansi yang memadai.

Sebagai contoh ketika akuntansi baru mencatat proses pembelian bahan baku, namun disaat yang bersamaan barang baku tersebut sudah selesai diproduksi bahkan dijual ke pasar. Untuk itulah digunakan pendekatan berupa penyingkatan proses yang semula (umumnya) dimulai dari:


1. "RM (Raw Material) - WIP (Work In Process) - FG (Finished Goods)"

menjadi

2. "RIP (Raw Material in Process) - (Finished Goods)"

Ilustrasi diatas sangat masuk diakal dan tentunya menjadi solusi dari permasalahan yang sedang dibahas, namun penyederhanaan dan deviasi dari sistem biaya tradisional ke modern berarti bahwa penetapan biaya "mungkin" tidak selalu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP). Kelemahan lain dari sistem ini adalah tidak adanya jejak audit berurutan.


Ilustrasi Jurnal Entry:

1. Bahan baku yang diterima dari pemasok, dicatat di debet akun RIP ( Raw and in Process )

Dr. RIP (Inventory)

Cr.         AP

2. Penggunaan tenaga kerja langsung, dicatat di debet akun Harga Pokok Penjualan

Dr. Salaries Expense (COGS portion)

Cr.         AP

3. Komponen biaya bahan baku atas produk selesai di backflush dari RIP

Dr. FG (Inventory)

Cr.         RIP (Inventory)

4. Komponen biaya bahan baku atas produk terjual di backflush dari Barang Jadi

Dr. COGS

Cr.          FG (Inventory)

Dr. Sales

Cr.          COGS


FYI, untuk menghitung COGS bisa dengan rumus:
DM + DL + FOH + beg WIP - end WIP + Beg FG - end F.


Oleh karenanya metode backflush costing ini sangat tepat digunakan dalam kondisi JIT (Just in time), yaitu suatu filosofi tepat waktu yang dirancang untuk mendapatkan kualitas, menekan biaya, dan mencapai waktu penyerahan seefisien mungkin dengan menghapus seluruh jenis pemborosan yang terdapat dalam proses produksi sehingga perusahaan mampu menyerahkan produknya (baik barang maupun jasa) sesuai kehendak / permintaan konsumen. Sistem ini dirintis oleh Toyota Motor Corporation dan dikenal juga dengan Sistem Produksi Toyota, yang kemudian dikenal juga dengan istilah Sistem Produksi Ramping (Lean Production System) dan sistem kanban.

Secara umum itulah konsep dari backflush costing berdasarkan teori dan praktek yang saya alami, saya belum memiliki kapasitas untuk membahasnya lebih mendalam sekarang. Mungkin dilain kesempatan.

jakarta people must read!!!

sumber :
(http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/27/saya-takut-hidup-di-jakarta/)
 
Benarkah Negeri ini bangsa yang ramah tamah? Dulu iya mungkin, tapi sekarang? Liat aja berita di TV, isinya cuma bentrok, rusuh, amuk dan tawuran. Saya kadang suka sengaja ga mau liat berita untuk beberapa waktu sebab enerji negatif dari berita kerusuhan selalu membuat saya depresi.
Saya jauh lebih suka nonton Kick Andy di Metro TV. Program ini memberi enerji positif sekaligus mengingatkan kita bahwa ternyata masih ada loh orang baik di negeri ini.  Acara seperti ini harusnya diperbanyak karena berfungsi sebagai balance terhadap berita-berita kisruh yang membuat kita muak dan capek hati ngedengernya.
Sayangnya, walau berenti ngeliat berita, hidup kita belum tentu menjadi lebih tenang. Ke mana pun kita pergi, kita harus waspada. Bukan sekali dua kali saya terjebak berjam-jam dalam kemacetan luar biasa gara-gara ada demo.
Pernah juga saya lagi asyik di kafe, tau-tau ada ormas islam menyerang dan menghancurkan isi kafe sambil berteriak-teriak, “Allahu Akbar!” Untunglah saya diam-diam berhasil menyelinap dan pergi dari tempat itu tanpa kurang suatu apapun.
Yang terakhir, saya kejebak di antara tawuran anak-anak SMA yang mengakibatkan mobil saya penyok-penyok akibat lemparan batu. Buset deh! Mana mobil saya ga diasuransi pula. Alhamdulillah sampe sekarang saya belum pernah ketemu sama gank motor….jangan sampe deh!
Dulu saya kira, masyarakat kita cuma sok jagoan kalo mereka lagi berkelompok, tapi ternyata pikiran saya salah. Ceritanya begini:
Peristiwa 1.
Setelah makan siang di restoran di bilangan Sudirman, saya jalan kaki pulang ke kantor bersama seorang temen sekantor. Kami memutuskan untuk jalan kaki karena selain tempatnya ga terlalu jauh, jam makan siang di Jalan Jenderal Sudirman selalu macetnya parah.
Nah, lagi asyik-asyiknya jalan sambil ngobrol ngalor ngidul, tiba-tba terdengar klakson motor kenceng banget di belakang kami. Karena merasa aman sudah berjalan di trotoar, kami ga ambil pusing dengan suara klakson itu. Sekonyong-konyong suara klakson dan gas ditekan sangat kenceng sudah berada beberapa senti di belakang kami.
“Wooi!!! Minggir! Mau mati lo?!!! teriak si pengendara motor.
Rupanya karena terlalu macet, banyak motor naik ke atas trotoar untuk mencari jalan. Karena ga merasa bersalah, kami pura-pura ga denger dan juga ga mau minggir. Begitu juga para pejalan kaki yang lain. Dan apa yang terjadi?
Brak! Pengendara motor itu tiba-tiba menghantamkan helmya ke punggung saya keras banget. Saya tentu saja marah bukan main dan menghampiri pengendara motor tersebut.
“Heh ngapain lo mukul gue?” bentak saya.
“Kenapa lo ga minggir? Lo mau mampus ya? Udah tau gue mau lewat.” Habis bekata begitu dia memasang posisi berantem dengan helm sebagai senjata.
“Eh Tong, ini trotoar. Lo udah salah kenapa malah lo yang marah?” Saya bales membentak.
“Lo kan liat jalanan macet. Ngalah dikit dong sama motor yang mau lewat.” Dia malah ngebalas lebih galak lagi.
“Hei Tong. Yang namanya trotoar itu buat pejalan kaki, sana lo balik lagi ke jalan.” sahut saya kesel banget.
“Lo mau jadi jagoan ya? Lo ga tau siapa gue ya?” Orang itu semakin murka dan mendorong tubuh saya, tapi kali ini saya udah siap. Saya ngeles ke samping lalu balas ngedorong badannya. Si pengendara motor terhuyung lalu menyerang lagi dengan helmnya. Dan ga lama kemudian terjadilah perkelahian di atara kami.
Beberapa orang dari kerumunan berusaha memisahkan kami. Dan ga lama kemudian ada polisi dateng dan turut membantu memisahkan kami. setelah suasana reda, polisi menanyakan penyebab perkelahian pada semua orang. Setelah itu dia menghampiri si pengendara motor.
“Kamu yang salah!” hardik Si Polisi, “Udah tau trotoar buat pejalan kaki, kamu bisa saya tilang tau?”
“Silakan kalo mau tilang tapi bapak juga harus menilang mereka semua.” kata Si Pengendara motor seraya menunjuk puluhan motor yang juga ada di atas trotoar.
Si Polisi keliatan kebingungan.
“Jangan main-main sama saya. saya ini pengacara!!” kata orang itu lagi menggeretak Si Polisi.
Lucunya bukannya menindak orang itu,  Si Polisi malah nyamperin saya, “Kamu yang salah. Kenapa kamu ga membiarkan orang lain lewat?”
Lah? Gimana sih ini polisi? Bukannya polisi yang bikin peraturan berlalu-lintas? Saya yang ga ngelanggar aturan kok ikut-ikutan disalahin?
“Loh bukannya Bapak yang bilang tadi kalo trotoar buat pejalan kaki?”
“Iya betul tapi kalo kamu ngalah sedikit, keributan ini tidak perlu terjadi. Jadi kamu yang menyebabkan keributan.” sahut polisi ini lagi.
Sontoloyo! Kalo penegakan hukum harus diselipin sama kompromi ya pantes aja hukum ga jalan. Pantes aja orang ga takut melanggar peraturan dan undang-undang.
Peristiwa 2.
Kali ini peristiwanya terjadi hari minggu. Saya mau berkunjung ke rumah temen saya di daerah Kebayoran Lama. Letaknya cukup mudah dicapai, ditambah hari minggu pula, jadinya perjalanan dapat ditempuh sangat cepat. Nah, ketika saya mau belok ke jalan satu arah, saya langsung belok tanpa menginjak rem.
Ciiiiit!!!!Astaghfirullah! Ampir aja saya nabrak mobil yang datang frontal ke arah saya. Gimana nih orang? Jalan satu arah kok dilabrak seenaknya? Dan yang lebih aneh lagi, dia ngelakson saya sambil tangannya mengibas-ngibas nyuruh saya minggir. Saya bales aja ngelakson sambil ngibas-ngibasin tangan juga nyuruh dia yang minggir. Karena sama-sama ngelakson, bisinglah daerah itu dengan klakson kami berdua.
Capek ngadu klakson, akhirnya saya ke luar dari mobil dan menghampiri mobil tersebut. Ternyata pengemudinya masih muda banget, usianya sekitar 25 tahun kira-kira. Orang itu juga ke luar dari mobilnya sambil menenteng stick softball. Ga tau deh buat apa, buat ngegetok kepala saya kali.
“Mas, jalan ini satu arah, kalo mau ke jalan besar, mundur dikit terus belok di jalan yang sebelah sana.” kata saya dengan suara halus.
“Jalan ini kan cukup buat dua mobil, lo kan bisa minggir dikit supaya gue lewat.” sahut orang itu dengan suara keras.
“Ngapain gue minggir? Ini kan jalan satu arah?” jawab saya ga mau kalah karena merasa benar.
“Eh, gue anak kampung sini. Lo mau minggir atau gue ancurin mobil lo! Minggir ga?!!!” katanya mengancam sambil mengayun-ayunkan stick softballnya.
“Oh silakan kalo mau ngancurin mobil.” tukas saya sambil mundur dan memberi jalan buat dia menghantam mobil saya.
Ngeliat sikap saya, anak itu semakin emosi. Dia terus memaki-maki dengan suara memekakan telinga, sementara saya cuma menatap matanya sambil menulikan telinga,
Saking kencengnya teriakan anak itu, penduduk sekitar pada ke luar rumah dan mencari tahu apa yang terjadi. Dan bener loh, ternyata dia orang sini, buktinya semua orang pada mengenal dia. Ngeliat banyak tetangganya dateng, orang bertongkat softball itu makin mendapat angin.
“Liat nih orang sekampung udah pada dateng. Lo mau minggir apa gue ancurin mobil lo?” katanya sambil melemparkan senyum kemenangan.
“Silakan ancurin.” kata saya mempersilakan orang itu.
“Anjing lo!!! OK mobil lo gue ancurin sekarang juga.” teriaknya sambil berlari dengan beringas menghampiri mobil saya. Stick softball diangkat tinggi siap menghantam.
“Tunggu…tunggu…tunggu..!!!” Kerumunan orang juga berlari dan mencegah perbuatannya.
Orang itu terus berteriak-teriak memaki saya, untungnya penduduk terus memegangi sehingga selamatlah mobil saya dari mara bahaya.
Suasana makin tegang, beberapa orang menghampiri dan meminta saya meminggirkan mobil agar anak itu bisa lewat. Ada yang caranya membujuk dengan suara manis, ada yang mengancam dan ada pula yang netral. Tapi saya ga bergeming. Saya bingung bukan main! Kenapa ga ada satupun orang yang nyuruh anak itu mundur? Kan saya ga salah? Kan jalan ini satu jalur, kenapa saya yang harus mengalah? aneh banget kan?
Ga lama kemudian, seorang ibu mendatangi saya, “Dik, boleh ga ibu minta tolong minggirin mobil kamu?”
“Ibu siapa?” tanya saya.
“Saya isteri ketua RT, saya ga mau ada keributan di kampung saya.”
“Saya juga ga mau bikin ribut kok Bu.”
“Nah, kalau memang begitu, boleh ga kamu minggirin sedikit mobilnya supaya anak itu bisa lewat?”
“Kenapa Ibu ga minta dia yang mundur? Kan jalan ini satu jalur?” jawab saya bersikukuh.
“Saya udah minta dia mundur tapi ga mau. Maklum anak muda kan emosian…”
“Jadi karena dia emosian, saya harus mengalah?” tanya saya dengan halus.
“Saya minta kamu mundur bukan karena dia emosian, tapi karena saya merasa kamu lebih tua dan tentunya juga lebih bijak.”
“Maaf Bu, saya belum punya alasan yang tepat buat mengalah. Jalan ini satu arah. Ibu tau kan?”
Si Ibu menghela napas panjang. Dia ga ngomong apa-apa lagi tapi juga ga pergi dari hadapan saya. Dia cuma merenung seperti orang lagi berpikir keras. Beberapa orang mencoba untuk membujuk anak itu tapi makhluk keras kepala itu tetap ga mau mundur.
“Sampai kapan kamu mau bertahan di sini? Kenapa masalah mudah kamu persulit sedemikian rupa?” Si Ibu menatap saya dengan tajam.
“Minggir sedikitlah Nak. Ibu minta tolong…” kata Bu RT lagi. Kalimatnya memelas tapi cara mengucapkannya tegas tanpa nada memohon.
Sekarang saya yang menghela napas panjang lalu berucap dengan lirih, “Baiklah, saya akan minggirin mobil saya. Maaf, saya udah nyusahin Ibu.”
“Terimakasih ya Nak. Ibu sangat menghargai…” sahut Si ibu.
Setelah minggirin mobil, anak itu lewat. Sebelum lewat, sempet-sempetnya dia berenti di samping mobil saya dan berteriak, “Kalo ketemu lagi, bukan cuma mobil, tapi elonya juga gue ancurin!”
Saya cuma tersenyum ewah lalu meninggalkan tempat itu.
Peristiwa 3
Kali ini yang dapet masalah bukan saya. Tapi saya ngeliat sendiri peristiwanya dari dekat. Saya baru pulang makan malam di Restoran Nasi Goreng Kemang sama seorang temen. Pulangnya saya berenti di lampu merah yang menghadap ke arah McDonald. Di paling depan ada beberapa motor yang keliatannya merupakan satu rombongan, lalu di belakangnya sebuah mobil APV warna hitam dan mobil saya tepat setelah APV tadi.
Ketika lampu hijau menyala, motor-motor yang ada di paling depan tidak juga beranjak. Kayaknya para pengendara itu terlalu asyik ngobrol satu sama lain. Setelah menunggu beberapa detik, supir APV jadi kurang sabaran dan langsung ngelakson berkali-kali. Dan apa yang tejadi?
Bukannya beranjak dari situ, para pengendara motor malah murka. Mereka menyetandard motornya di tengah jalan lalu sekitar 8 orang melepaskan helmnya. Selanjutnya terdengar suara Brak…bruk…brak…bruk!!!!
Seperti adegan di film-film Hollywood, rombongan anak muda itu menghantam mobil APV dengan ganas. Mobil malang itu penyok-penyok dan semua lampu depan dan belakang hancur berantakan. Pengemudinya ketakutan bukan main sehingga memutuskan untuk tetap tinggal di dalam mobil.
Puas menghancurkan mobil, semua anak muda itu kembali ke motornya dan meninggalkan tempat itu bagai jagoan di film-film koboy. Astaghfirullah!
Wahai Jakarta…ada apa denganmu? kenapa saya hampir ga mengenalimu lagi? Kenapa bangsa kita berubah drastis dari bangsa yang ramah tamah menjadi bangsa yang sangat pemarah?
Di negeri ini, setan pengadu domba mengintai di mana-mana. Ricuh di istana, kisruh di dalam dan di luar gedung DPR, tawuran di jalan-jalan, perang di Pilkada, perkelahian massal di lapangan sepakbola…hadoh!
Di mana kalian pernah merasa aman? Tiap bepergian ke luar rumah maut mengintai. Pesawat jatuh, kapal laut tenggelam, kereta api terguling, bis masuk jurang, perampokan di taxi, pemerkosaan di angkot. Bahkan jalan kaki di trotoar pun kita bisa mati diterjang mobil yang dikendarai pengemudi mabuk.
Negeri ini udah terlalu kacau. Saya kira perlu campur tangan Allah untuk memperbaiki negeri yang sudah amburadul ini.  Sejak semua peristiwa itu saya mencoba mendekatkan diri pada Allah. Saya jadi lebih sering ke mesjid, bukan cuma sholat jumat tapi juga waktu sholat yang lainnya.
Tiap berada di mesjid saya selalu berdoa agar bangsa kita menjadi lebih baik. Barangkali mesjid adalah satu-satunya tempat yang paling aman. Sepreman apapun seseorang, pastilah dia minimal akan bersikap baik di rumah Allah, begitulah pikiran saya.
Saya seneng banget  kalo para khatib pas sholat jumat juga membahas dan mengupas keadaan negeri yang udah mendekati chaos ini. Khutbah biasanya diakhiri dengan doa bersama. Bagus kan? Kalo berdoa ramai-ramai katanya akan lebih makbul. Insya Allah.
Nah saat itu saya sedang mendengarkan khutbah di mesjid Al Ikhlas di daerah Senopati, saya cukup antusias karena materinya cukup menarik. Pengetahuan khatib ini lumayan tinggi, analisanya cukup tajam bahkan dia juga menawarkan solusi-solusi agar negeri ini aman tenteram.
Sayangnya 3 orang yang ada di samping kanan berisik banget. Mereka ngobrol dengan suara keras. Karena sudah sangat terganggu saya mencoba menegur mereka.
“Maap Mas-mas, boleh ga suaranya dikecilin? Saya lagi denger khutbah nih. Maap ya sebelumnya.”
Ketiganya menatap saya dengan pandangan aneh tapi mereka mau juga memelankan suaranya. Alhamdulillah. Saya pun larut dalam khutbah dan melupakan ketiga orang itu sampai selesai sholat jumat.
Dalam perjalanan ke mobil, tiba-tiba ketiga orang tadi menghampiri saya, “Heh Mas, tunggu sebentar.”
“Iya kenapa ya? Ada yang bisa saya bantu?” tanya saya dengan suara ramah.
“Lo yang nyuruh kita diem di mesjid tadi kan?”
“Bukan nyuruh tapi mengimbau. Lagipula menurut ajaran islam, pas khutbah memang ga boleh ngomong.” kata saya.
“Eh nyet! Itu kan bukan mesjid lo? Gue mau ngomong apa kagak kan itu urusan gue? Lo mau berantem?” Tiba-tiba salah seorang membentak.
“Gue kemari mau sholat, bukan berantem.” sahut saya mulai kesel.
“Oh mau sholat? Kalo gue mah mau berantem,” Abis ngomong gitu, salah seorang memukul, tapi saya udah siap dan menghindar.
Ngeliat rekannya menyerang, dua yang lain tiba-tiba juga ikut menerjang. Perkelahian satu lawan tiga tentu saja membuat saya kewalahan, tapi untung tukang parkir mesjid langsung membantu. Bertahun-tahun, saya selalu sholat di mesjid ini dan selalu parkir di ujung taman sehingga saya udah cukup berteman dengan tukang parkir itu.
Mendapat tenaga bantuan membuat saya ga terlalu terdesak. Dan yang lebih mujur lagi, ngeliat tukang parkir ribut, temen-temen sesama tukang parkir langsung solider dan membantu menghajar ketiga anak tadi.
Alhamdulillah…jemaah jumat yang masih banyak keluar dari mesjid menyelamatkan ketiga pecundang tersebut. Mereka digelandang ke mobilnya dan dipaksa meninggalkan tempat itu.
Saya masih bengong dan ga habis pikir. Masya Allah! Apa yang salah dengan negeri ini? Masa abis sholat ngajak orang berantem sih? Di mana-mana kisruh, di mana-mana rusuh, di mana-mana tawuran. Bahkan rumah Tuhan pun ternyata tidak terasa aman. Astaghfirullah… Kalo keadaan begini terus-menerus, terus terang; Saya takut hidup di Jakarta.